Jumat, 04 Maret 2016

Live Forever Untuk Arap Paong

"Orang mana, Mas? Baru, ya?" gadis itu bertanya sembari menuliskan pesananku. Rambutnya dicat pirang seperti Courtney Love di tahun 1992. Alis matanya tegas, tidak terlalu tebal. Aku menduga ia menghabiskan 45 menit hanya untuk menggambar alis matanya dengan presisi setegas itu. Tangan kirinya memegang sebuah kertas dan daftar menu. Ada tato bunga mawar di tangan kanannya.

"Kuningan" jawabku.

"Kuningan?" Ia mengulanginya, mungkin ragu dengan Kuningan mana yang aku maksud.

"Iya, Kuningan. Jawa Barat" jelasku.

"Aku juga orang Kuningan" katanya cepat.

"Oh, ya? Di mana Kuningannya?"

"Bandorasa"

"Wah, dekat dong. Aku di Cilimus" kataku sambil tersenyum. Aku lihat ia juga balik tersenyum.

Ia kemudian mengulang pesananku ; dua bir Bintang botol kecil dan kentang goreng rasa balado.

"Mau ditulis nomor mejanya atau nama Mas?" tanyanya lagi.

"Nama saja. Arab." jawabku.

"Arab?" ia kembali mengulang perkataanku. Alis kanannya ditarik ke atas, mungkin ia ragu apakah itu nama asliku atau bukan.

"Iya, Arab" kataku sambil menahan tawa.

"Hiiiih. Nama aslinya?" ia menekan kata hiiiih dengan nada sedikit gemas.

"Fickar."

"Oke. Atas nama Fickar ya?" ia kembali mengulanginya, lalu berbalik meninggalkanku. Aku masih melihat rambut pirangnya dan tato mawar di tangan kanannya.

Hujan deras memandu gelaran Live Forever Volume 8 yang tetap di helat di tempat yang sama seperti sebelumnya, Famouz Cafe. Aku dan temanku memaksakan tetap hadir meskipun hujan. Sebenarnya, sore itu suasana hatiku sedang buruk. Aku baru saja menerima undangan pernikahan dari mantan pacarku. Aku pikir daripada menghabiskan sisa malam itu dengan bersedih lebih baik aku datang ke acara Live Forever. Kebetulan temanku menjadi MC di acara itu. Maka meskipun hujan aku tetap memaksakan berangkat.

Kami sempat berteduh sebentar di sebuah Indomart sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Sialnya, 20 meter menjelang venue, jalanan macet dan hujan semakin deras. Tubuhku basah kuyup, merembes sampai ke celana dalamku dan sisa malam itu harus aku habiskan dengan menahan rasa dingin yang menjalar di selangkanganku.

Gadis itu kembali dengan membawa pesananku. Sebenarnya aku ingin mengajaknya mengobrol tapi ia keburu pergi. Pengunjung sedang ramai dan aku merasa tidak enak hati jika ajakanku malah mengganggu pekerjaannya.

Aku membakar rokok dan menyesap bir yang baru saja datang. Dingin, sedingin selangkanganku. Acara belum dimulai meskipun para pengunjung sudah ramai. Dari obrolan panitia yang aku dengar, mereka masih menunggu beberapa penampil yang belum tiba karena terjebak hujan.

Line up Live Forever kali ini diisi dengan tiga band dari ranah musik yang berbeda-beda. Hanyaterra, dari Jatiwangi, Majalengka, memainkan musik dari instrumen yang terbuat dari genteng dan keramik. Klopediakustik, duo-folk dari Kuningan, membawakan lagu-lagu ringan tentang kisah sehari-hari. Dan Heals, rekrutan anyar FFWD, membangkitkan kembali kebisingan musik-sepatu ala My Bloody Valentine. Dan tambahan aksi live drawing dari Sautel Cago (Prancis), serta hiburan bubaran hajatan dari DJ Marine.

Acara sempat molor satu jam dari jadwal sebelum akhirnya Hanyaterra memulai aksinya. Aku merapat mendekati panggung, meskipun dengan celana basah. 

Mereka memainkan musik dengan riuh dan perkusif tapi enak didengar. Selain itu mereka juga membawa dedek-dedek gemes yang nyaman dipandang. Meskipun sesekali mataku bergerak mencari di mana gadis bertato mawar itu berada. Aku melihatnya sibuk mondar-mandir mengantar pesanan. Rambut pirangnya menyala di tempat yang minim cahaya. Ia terlihat sangat sibuk. Aku mengurungkan niatku untuk mengajaknya ngobrol dan kembali menikmati aksi Hanyaterra.

Setelah keriuhan yang dibawa Hanyaterra, Klopediakustik membuat malam berhujan itu kembali tenang dengan lagu-lagunya. Lagu-lagu mereka sederhana dan bernuansa riang, bercerita tentang kerinduan kepada rumah nenek, atau tentang permen. Aku menikmatinya dengan sebotol bir yang tinggal setengah dan celanaku yang masih tetap basah.

Acara itu selesai sekitar pukul 12 dini hari. Heals yang menjadi aksi penutup untuk malam itu. Suasana tenang ketika Klopediakustik bermain kembali berubah menjadi panas saat Heals tampil. Berbeda dengan musiknya yang serius, para personil Heals malah lebih santai. Ketika terjadi gangguan pada sound salah satu gitaris mereka, mereka malah bercanda dengan berkata akan menyanyikan lagu Sheila On 7 dan sempat memainkan 5 detik intro Semua Tentang Kita milik Peterpan.

Selama Heals bermain Sautel Cago mengiringi mereka dengan mural-mural digitalnya. Aku kembali merangsek mendekati panggung dan untuk sementara perhatianku teralihkan dari gadis bertato mawar ke pemain bass Heals. Hanya karena celana dalamku ikut basah saja aku jadi tidak bisa menikmatinya secara maksimal. Kirik!

Setelah Heals selesai DJ Marine mengisi soundtrack bubaran hajatan dari perangkat DJnya. Aku kembali duduk di kursiku, menikmati alunan musik yang merayu-rayu untuk berjoget. Sayang sekali, aku belum mabuk dan birku sudah keburu habis.

Aku kembali celingukan mencari gadis bertato mawar itu. Aku ingin memesan sebotol bir lagi dan mengajaknya mengobrol. Tapi aku tidak menemukan rambut pirangnya yang menyala-nyala. Mungkin gadis itu sudah pulang. Ah, sayang sekali. Tiba-tiba saja aku merasa sedih.

Temanku datang menghampiri dan menyodorkan sebotol bir Bintang kepadaku. Aku langsung menenggaknya. Bir merupakan teman untuk laki-laki yang sedih, begitu kata Eka Kurniawan dalam salah satu novelnya. Lumayan, pikirku. Tapi ternyata botol itu cuma kamuflase belaka. Isinya bukan bir, melainkan anggur merah. Aku ingin mabuk tapi acara sudah usai dan gadis bertato mawar itu (mungkin) sudah pulang dan minggu depan mantan pacarku akan menikah. Aah, tai!
 

SETLIST :

HANYATERRA :
1. Hidden Sound #1
2. Hanya Tanah
3. Tanah Cahaya
4. Hulu Hilir

KLOPEDIAKUSTIK :
1. Our Dream
2. Empty House
3. Apapun Mungkin
4. Hungry
5. Rain & Stars
6. Candy

HEALS :
1. MBV
2. Monolove
3. Intro + Lunar
4. Anas
5. Intro + Void
6. Azure

Rabu, 17 Februari 2016

Cerita Sedih

Aku duduk di salah satu anak tangga. Ruang ICU ada di atasku. Seorang pasien baru saja dipindah ke ruangan itu beberapa menit yang lalu. Ia baru selesai menjalani operasi untuk mengangkat laringnya, selama lebih dari lima jam. Aku ikut dalam operasi tersebut dan berdiri lebih dari lima jam membuat pinggangku terasa sakit.

Sudah pukul sepuluh malam. Pintu lift di depanku tiba-tiba saja terbuka tapi tidak ada seorang pun di dalam sana. Mungkin pintu lift itu rusak. Mungkin juga ada hantu. Entahlah, aku hanya ingin merokok tapi di sini tidak bisa merokok dan pinggangku terasa sakit.

Aku memikirkan pasien yang baru saja diangkat laringnya. Ia akan kehilangan suara untuk selamanya --sebenarnya dengan memasang sebuah alat dan mengikuti terapi, ia masih bisa bicara kembali meskipun tidak akan seperti dulu sebelum laringnya diangkat-- dan sebuah lubang akan menghiasi lehernya, juga untuk selamanya. Suster-suster senior di tempatku sering menasehatiku untuk berhenti merokok. Mereka bilang nanti laringku akan bernasib sama seperti itu dan aku akan kehilangan suaraku.

Aku hanya tersenyum menanggapi nasehat mereka. Mereka memang baik, tapi aku tidak peduli.

Aku tidak pernah menyangkal kalau merokok memang tidak baik untuk kesehatan. Tapi sederhana saja, bagiku ini hanya masalah pilihan. Aku memilih untuk merokok dan mungkin suatu hari laringku juga akan diangkat dan aku akan kehilangan suaraku (meskipun sebenarnya aku juga tidak begitu suka dengan suara cemprengku yang mirip Billy Corgan ketika bernyanyi Bullet in Butterfly Wings). Atau bisa saja aku memilih untuk tidak merokok dan menjalani hidup sehat --makan menu 4 sehat 5 sempurna, jogging setiap sore, yoga, dan berbagai anjuran hidup sehat lainnya -- dan mungkin suatu hari seorang pemuda mabuk menabrakku dengan mobil sportnya dan aku mati. Atau tiba-tiba saja ada sebuah pesawat jatuh tepat di atas atap rumahku ketika aku sedang berak dan aku tertimpa reruntuhannya dan aku mati. Atau ada orang gila yang memasang bom di tubuhnya dan meledakkan diri ketika aku sedang menikmati kopi. Ujung-ujungnya --merokok atau tidak-- aku tetap akan mati. Dan mati. Dan mati. Dan mati.

Tiga minggu yang lalu salah seorang kawanku juga mati. Ia mati karena demam berdarah. Kasihan juga, ia mati karena digigit nyamuk. Tapi setidaknya ia bisa merasa berbangga sedikit, cara matinya sama seperti Iskandar Agung dari Makedonia. Sama-sama mati karena digigit nyamuk. Untuk hal yang satu itu, selera humor Tuhan memang tidak buruk-buruk amat. Manusia yang katanya makhluk paling sempurna bisa mampus hanya karena digigit nyamuk yang katanya, sebelum menggigit, nyamuk itu akan meludahi kulit mangsanya terlebih dahulu. Lucu sekaligus menyedihkan. Hidup memang penuh cerita-cerita sedih.

Dulu, Tuhan pernah menciptakan manusia yang pandai bermain gitar bernama Jimi Hendrix. Dan demi Tuhan, manusia seperti Jimi Hendrix hanya terlahir 100 tahun sekali di dunia ini. Tidak gitaris yang sehebat Jimi Hendrix. Tapi ia keburu mati muda, usia 27, karena...tersedak muntahannya sendiri. Tai betul, memang. Tapi sumpah, aku selalu ingin tertawa sekeras-kerasnya dengan lelucon Tuhan yang satu ini.

Aku sering memikirkan tentang kematian meskipun sebenarnya aku tidak pernah suka melihat orang mati. Tidak elegan. Aku pertama kali melihat orang mati ketika masih kelas dua SD. Tetangga depan rumahku sekarat. Ia sekarat di atas tempat tidurnya dan menjadi tontonan banyak orang. Matanya melotot, nafasnya tersengal-sengal, dan ia tidak bisa bicara apa pun. Begitu terus sampai akhirnya ia mati. Beberapa tahun kemudian aku juga melihat seorang perempuan sekarat setelah ia ditabrak sebuah mobil ketika hendak menyeberang jalan. Darah menggenang dari bawah kepalanya, ia menggelepar sebentar sebelum kemudian mati. Dan menjadi tontonan banyak orang. Tidak elegan sama sekali, bukan?

Aku lebih senang membayangkan ketika manusia mati tubuhnya akan berubah menjadi ribuan kunang-kunang. Tubuhnya akan terburai --mulai dari kepala dan terus menjalar ke ujung jari kakinya-- menjadi bintik-bintik kecil bercahaya, yang berjumlah ribuan dan menyala seperti sebuah kembang api lalu lenyap di udara. Berubah menjadi kunang-kunang, menurutku, adalah cara membayangkan kematian yang lebih elegan.

Semalam kawan dekatku datang ke rumah. Ia bercerita panjang lebar kalau dirinya batal menikah. Ia bercerita sambil sesegukan menahan tangisnya. 

Kawan dekatku itu sudah berpacaran selama lima tahun dan berencana menikah tahun ini. Kedua pihak keluarga sudah setuju dan berencana menikahkan mereka di bulan Mei. Itu berarti tinggal tiga bulan lagi. Tapi rencana itu harus gagal karena uang yang kawanku tabung untuk biaya pernikahannya harus ludes semua di atas meja judi. Kalau ini sebuah lelucon lain dari Tuhan maka aku anggap leluconnya kali ini buruk sekali.

Kawanku bercerita terus sambil menangis sesegukan dan bilang kalau ia sangat menyesal sampai-sampai ingin bunuh diri saja. Aku mencegahnya, ya tentu saja. Aku bilang, "mati itu mudah, kawan. Yang sulit justru tetap bertahan hidup di tengah kehidupan yang nilai-nilai kemanusiaannya sudah mati. Hargailah hidupmu."

Aku merasa sangat keren sekali ketika mengatakan hal itu. Tapi kawanku tetap bersedih dan terus saja menangis.

Aku menjadi ikut merasa bersedih dan semalaman ikut memikirkannya. Aku bahkan sampai memimpikan kawanku itu. Di dalam mimpi aku membacakan sebuah puisi untuknya. Aku ingat satu bait dari puisi di dalam mimpiku itu, 

Segelas sekoteng cukup untuk menghangatkan tubuhmu

Tapi tidak hatimu

Hatimu mungkin jauh lebih dingin
Daripada hujan di tahun baru Imlek

Hidup memang penuh dengan cerita-cerita sedih.

Sudah pukul sepuluh lewat. Aku harus segera pulang. Aku berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celanaku untuk membersihkan debu yang menempel setelah duduk di sana beberapa menit. Pinggangku masih terasa sakit walau cuma sedikit. Aku berjalan menuju mesin absen. Di ruang tunggu pasien aku masih melihat tiga orang lelaki yang sedang duduk dengan bosan dan seorang perempuan yang sedang mendengarkan musik di ponselnya. Bibirnya bergumam ikut bernyanyi. Aku tidak bisa mendengarnya. Mungkin ia sedang bernyanyi lagu-lagu cinta atau lagu-lagu patah hati, sebab hidup penuh dengan cerita-cerita sedih.

Aku berjalan menuju motorku yang diparkir di belakang kios penjual koran. Parkiran sudah mulai sepi, hanya ada beberapa deret motor yang mengisinya. Mungkin itu motor-motor dari para penunggu pasien atau dari perawat yang kebetulan bertugas malam.

Sudah pukul setengah sebelas dan aku mulai mengantuk. Aku ingin segera sampai di rumah dan tidur. Aku menghampiri motorku dan merogoh saku celanaku. Aku tidak menemukan kunci motorku di sana. Aku merogoh saku celanaku yang lain dan aku tetap tidak menemukan kunci motorku. 

Aku mencoba mengingat-ngingat kembali di mana aku menyimpan kunci motorku. Rasanya kunci motor itu tidak pernah beranjak dari saku celanaku? Aku membuka tasku dan mengeluarkan semua isinya. Sebuah dompet, buku catatan, dua buah bolpoin, sabun cuci muka, sebuah pasta gigi dan sikatnya, beberapa struk belanjaan, kunci loker, dan tidak ada kunci motor. Ah, tai!

Aku menghampiri tukang parkir yang terlihat mengantuk di posnya dan bertanya apakah ia menemukan sebuah kunci motor atau apakah ada seseorang yang menemukan kunci motor dan menitipkan kepadanya? Ia bilang tunggu sebentar. Aku melihatnya membuka-buka laci, mencari sesuatu dan tampaknya ia tidak menemukan apa pun. Ia bilang tidak ada yang menemukan sebuah kunci motor dan menyarankanku untuk pergi menemui satpam, barangkali satpam itu menemukannya.

Aku memutar langkahku menuju pos satpam dan sudah hampir pukul sebelas. Aku mulai mengantuk dan aku lihat satpam itu juga mengantuk. Aku bertanya kepadanya apakah ia menemukan sebuah kunci motor atau ada seseorang yang menitipkan sebuah kunci motor kepadanya? Dengan malas ia membuka buku catatan berwarna hijau di depannya dan membaca beberapa baris tulisan. Ia kemudian menutup bukunya, menatap mukaku dan menggeleng. Tidak ada yang menemukan kunci motor hari ini. Tapi sebelum pergi satpam itu meminta nomor motorku dan menuliskannya di sebuah buku yang lain.

Aku kembali berjalan. Kali ini menuju lokerku. Tinggal itu satu-satunya harapanku. Aku tidak yakin kunci motorku ada di loker tapi semoga saja kunci itu betulan tertinggal di sana. Aku kembali melewati bangku penunggu pasien. Perempuan yang tadi mendengarkan musik sudah tidak ada di sana. Tinggal tiga orang lelaki yang tampaknya kebosanan mereka sudah sampai di ubun-ubun.

Aku membuka lokerku dan mengubek-ubek isinya. Tapi kunci motor sialan itu tidak ada di sana. Aku mencoba kembali mengingat-ingatnya tapi aku sama sekali tidak ingat. Sudah pukul sebelas lewat dan aku sangat mengantuk dan kunci motor sialan itu belum ketemu.

Aku kembali duduk di bawah anak tangga yang tadi aku duduki. Untuk memastikan aku kembali mengecek isi tasku. Sebuah dompet, buku catatan, dua buah bolpoin, sabun cuci muka, sebuah pasta gigi dan sikatnya, beberapa struk belanjaan, kunci loker, dan tidak ada kunci motor. Ah, tai!

Aku terduduk lemas di bawah tangga. Ruang ICU ada di atasku. Seorang pasien baru saja diangkat laringnya. Kawanku mati karena demam berdarah. Jimi Hendrix mati tersedak muntahannya sendiri dan kawanku yang lain batal menikah karena kalah judi. Dan aku kehilangan kunci motor sialan itu.

Aku ingin sekali merokok tapi di sini tidak bisa merokok. Hidup memang penuh dengan cerita-cerita sedih ya? Ah, tai!

RSCM-Tambun, 17 Februari 2016

Minggu, 14 Februari 2016

Selamat Ulang Tahun, Pak Mbeb

Antonio Nurhega


"Selamat ulang tahun, Pak Mbeb. Semoga tambah panjang.."

"HBD WYATB"

"Traktir dulu lah baru ngucapin"

"Selamat ulang tahun, Pak Mbeb, silahkan berdoa biar saya yang mengamini"

"BITCH!!"

Arief mengakhiri percakapan di grup whatsapp Garda Syndicate dengan kata bitch. Garda Syndicate adalah nama grup whatsapp mereka berlima, sekaligus nama perusahaan yang sedang mereka rintis sejak empat tahun lalu semenjak mereka lulus kuliah. Sebuah event organizer yang sering mengadakan kegiatan konser di daerah Cirebon. Terkadang mereka juga berubah menjadi sebuah wedding organizer, tergantung orderan. Kini Garda Syndicate bisa dibilang event organizer terbesar di daerah Cirebon.

Pesan pertama dari Tiago, seorang sarjana kimia. Orangnya jenius namun tidak ambisius dan jauh dari kata religius. Walaupun tidak ambisius, ada sebuah tragedi yang membuatnya menjadi ketua senat di kampusnya. Waktu ospek dia sangat menentang perpeloncoan. Menurutnya perpeloncoan adalah tradisi peninggalan masa Orba, kurikulum saja berubah kenapa budaya perpeloncoan tetap saja dipertahankan. Semua rekan-rekannya mendukung, sebagian dosen juga mendukung, maka tak pelak dia terpilih menjadi ketua senat. Satu hal yang menjadi kelebihan Tiago adalah pencitraan. Dia mempunyai citra bagus di lingkungan sekitarnya. Tidak banyak yang tahu kalo dia sebenarnya seorang pecinta bokep sejati, he’s the bandar, dia juga suka mabuk-mabukan. Tapi menurutnya, kebiasaannya itu tidak ada hubungannya dengan apa yang dipimpinnya. Dia menganalogikannya dengan desa Konohagakure, sebuah desa dalam serial komik Naruto. Pemimpin mereka atau yang disebut hokage kelima adalah seorang perempuan bernama Tsunade. Tsunade adalah seorang penabuk dan senang main judi tapi toh dia bisa memimpin desa Konoha dengan baik. Setelah Tsunade mundur, dia digantikan oleh Kakashi Hatake, ninja tekuat di Konoha yang sayangnya adalah seorang penyuka novel-novel mesum. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Kakashi adalah ninja jenius yang dipercaya penduduk Konoha untuk jadi Hokage. Analogi konyol.

Pesan kedua datang dari Yosie. Tanpa Yosie, Garda Syndicate tidak bisa sebesar ini. Ayah Yosie adalah orang terpandang, pengusaha sukses dan punya banyak relasi. Sejumlah event besar yang diadakan oleh Garda Syndicate berasal dari relasi ayah Yosie, pun demikian dengan modal awal yang tak lain dan tak bukan berasal dari kocek ayah Yosie.

Ricky Joe Armstrong, pesan ketiga berasal darinya. Jika ada yang bertanya siapa yang lebih jenius daripada Tiago, maka Ricky lah jawabannya. Sarjana matematika ini jenius keterlaluan. Sejak usia 22 tahun dia selalu jadi joki tes CPNS. Sebelum ujian CPNS berganti format CAT, dalam setahun hampir 5 kali dia jadi joki, dan semuanya lulus. Dia sendiri tidak berniat jadi PNS, ambisinya bukan itu. Sekarang format seleksi CPNS sudah berganti jadi sistem CAT, sistem berbasis komputer, yang menyulitkannya untuk jadi joki lagi, pendapatannya pun menurun drastis.

Dari kelima di antara mereka, Beny lah yang paling religius. Dia rajin jumatan seminggu sekali. Pembawaannya kalem. Dia mengerti soal permesinan. Setiap ada event dialah yang berada di belakang panggung. Mengatur sound sistem, pencahayaan, dan urusan teknis lainnya.

Yang terakhir adalah Arief, yang biasa dipanggil Pak Mbeb. Dia yang berulang tahun hari ini. Walaupun dia yang sedang ulang tahun tapi maaf saja, dia bukan tokoh utama dalam cerpen ini, makanya deskripsinya sedikit saja. Yang pasti, sebentar lagi dia melanjutkan studi S2 ke luar negeri, sesuatu yang membuat keempat temannya iri.

Hari ini adalah ulang tahun Pak Mbeb yang ke 27. Mereka berencana mengadakan sebuah acara. Setahun yang lalu, saat acara ulang tahun Pak Mbeb yang ke 26, mereka mengadakan perayaan di sebuah restoran cepat saji. Acara yang membosankan menurut Tiago, sampai-sampai dia tertidur. Ide jahil kemudian muncul di kepala keempat temannya, mereka meninggalkan Tiago yang tertidur di restoran sementara mereka semua pergi. Tiago sangat marah, dia tidak bisa dihubungi selama dua minggu dan hanya sebuah gelaran event besar yang membuat Tiago kembali mau menemui mereka berempat. Kejadian itu juga yang membuat Tiago dendam sampai sekarang. Tidak mau kejadian tahun lalu terulang kembali, tahun ini Tiago yang mengatur acara.

Rencananya, perayaan ulang tahun Pak Mbeb yang ke 27 kali ini akan diadakan di tempat Ricky. Di kaki gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Tempat yang dingin cocok buat mabuk-mabukan, kata Tiago. Ada sedikit masalah untuk acara kali ini, orang tua Ricky tidak suka kalau mereka main karena perilakunya yang suka mabuk-mabukan. Hal itu juga sangat ditentang oleh masyarakat sekitar. Tapi Tiago bisa menyakinkan mereka, Tiago akan bertanggung jawab pada semuanya. Orang tua Ricky pun setuju, dengan syarat tidak diadakan di rumah mereka, tapi di rumah kosong bekas rumah kakek Ricky yang berada di tengah hutan. Tiago malah senang jika acaranya di tempat itu. Sedari awal Tiago memang ingin acaranya diadakan di tempat yang lebih sepi.

Rumah almarhum kakek Ricky sangat indah, terletak di tengah hutan, berbentuk panggung yang terbuat dari kayu. Di belakang rumah terdapat sebuah kolam ikan yang tidak ada ikannya. Setelah seharian mereka membereskan rumah, malamnya mereka siap berpesta. Tersedia berbagai makanan, ada ayam bakar, ikan bakar, dan sebuah kue ulang tahun super besar dengan satu lilin. Sengaja hanya satu lilin, biar seperti babi ngepet, kata Tiago sambil tergelak.

"Birnya mana nih?" Ricky menagih bir kepada Tiago.

"Oke, tunggu sebentar" Tiago segera bergegas ke belakang untuk mengambil bir.

"Kali ini saya juga akan minum bir, untuk merayakan ulang tahun Pak Mbeb" ucap Beni.

"Gitu dong, Ben. Biar jadi laki" sebuah pukulan kecil Yosie hantamkan ke pundak Beni, memberikan Beni dorongan lebih untuk take a beer.

"Minuman datang" Tiago datang dengan 5 gelas bir di tangannya.

"Saya kira akan disediain bir dalam kaleng yang sudah di kocok-kocok sebelumnya, dan pas dibuka birnya akan nyembur ke muka saya" Pak Mbeb yang berulang tahun malam itu sudah berpikiran buruk, seolah-olah akan ada kejutan yang tidak menyenangkan buat dia.

"Tenang saja, kejutannya akan lebih dari ini. Mari bersulang!" Tiago mengangkat gelasnya dengan senyum menyeringai.

Pak Mbeb, Yosie dan Beni langsung meminum bir. Ricky dan Tiago saling berpandangan, Tiago mengedipkan sebelah mata, pertanda acaranya sukses. 

Gluk...glukk.. Ricky meminum dua tegukan bir.

Bruk, bruk, bruk. Pak Mbeb, Yosie dan Beni terjatuh, mulutnya mengeluarkan busa. Ricky menghampiri mereka namun bruk, dia juga terjatuh, tenggorokannya terasa panas, tubuhnya sulit digerakkan. Matanya melihat ke arah Pak Mbeb yang tadi kejang-kejang namun sekarang sudah tidak bergerak. Kaku.

Syuuuur..syuuur. Tiago menumpahkan  bir yang ada di tangannya ke muka Pak Mbeb.

"Selamat ulang tahun, Pak Mbeb, semoga kalian bahagia di neraka sana. Kalian tahu? Sudah setahun saya merencanakan semua ini, semenjak kalian meninggalkan saya sendirian di tempat buruk itu dan membuat saya malu. Kali ini bisa dilihat siapa yang menang? Gimana rasanya bir dicampur sianida? Enak, bukan? Hahahaha" tawa Tiago membelah kesunyian hutan. 

Ricky sudah tidak bisa melihat, gelap. Yosie dan Beni sudah lebih dulu merasakan kegelapan. Dan Pak Mbeb sudah terbujur kaku.

Keesokan harinya penduduk sekitar dihebohkan dengan penemuan empat orang jenazah yang sudah tidak bisa dikenali, jenazah mereka gosong. Sebuah rumah di tengah hutan terbakar api, diduga api berasal dari lilin kue ulang tahun. Hanya satu orang yang ditemukan selamat dengan luka bakar ringan, ditemukan tak sadarkan diri di kolam belakang rumah yang hangus terbakar. Kejadian tersebut dikenang oleh masyarakat sebagai azab pemuda tukang mabuk.          

Sabtu, 13 Februari 2016

Apa Yang Akan Kamu Lakukan Jika Hidupmu Tinggal Sehari?

Anggap saja suatu hari Izrail si Pencabut Nyawa sedang bermurah hati. Ia akan mendatangi manusia yang akan ia cabut nyawanya hari itu, menyapanya dengan ramah, lalu berkata "oke, kamu akan mati 24 jam lagi. Silahkan lakukan apa pun yang kamu mau --mabuk, ngentot, memaki atasanmu dengan menyebutnya lonte tua pemarah, beramal di panti asuhan, menulis surat wasiat, mewakafkan hartamu untuk yayasan anak yatim. Atau bisa saja kamu tidak melakukan apa-apa dan tidur seharian sampai kamu mati, terserahmu saja. Yang jelas 24 jam lagi kamu akan mati."

Ia juga akan berkata seperti itu kepadaku setelah sebelumnya berkata "bangunlah, pemalas" ketika melihatku menggeliat di atas kasur seperti seekor cacing yang dipanggang sinar matahari. Hari masih pagi dan aku masih mengantuk.

Aku, tentu saja, akan merasa kaget. Bagaimana mungkin seseorang bisa masuk begitu saja ke dalam kamarku dan duduk dengan santai dan seenaknya bilang kalau sebentar lagi aku akan mati. Ia pasti orang yang super edan. Zaman sekarang memang mudah sekali menemukan orang-orang edan semacam itu. Banyak hal yang bisa bikin orang-orang jadi edan dan menderita waham kebesaran seperti itu, gagal jadi anggota legislatif misalnya.

Atau bisa jadi aku hanya sedang bermimpi. Semua hal-hal ajaib bisa terjadi dalam mimpi, bukan? Melihat seseorang dengan setelan rapi seperti Jay Gatsby duduk santai bertumpang kaki sambil menggunting kuku-kuku di jari tangannya dan mengaku kalau dirinya adalah malaikat Izrail dan dengan murah hati berkata kalau aku akan mati 24 jam lagi adalah hal yang cuma bisa terjadi dalam mimpi. Ya, pasti begitu. Pasti aku sedang bermimpi.

Lalu orang itu (malaikat, maksudku) akan tertawa terbahak-bahak sambil mengejekku. Sebagai malaikat, ia tentu tahu apa yang sedang aku pikirkan meskipun aku tidak mengatakannya. Mengetahui kalau aku mengiranya orang edan dan menganggap ini semua hanya mimpi membuat tawanya meledak. Sambil terkekeh-kekeh karena tawanya ia menyebutku anak bodoh. Dan ia akan menyebutku anak bodoh sebanyak tiga kali lagi sebelum kemudian ia berdiri, merapikan celana dan setelan tuxedonya, lalu pamit pergi. Ia masih mengingatkanku kalau sebentar lagi aku akan mati dan sebaiknya aku memikirkan apa yang akan aku lakukan selama menunggu kematianku yang kurang dari 24 jam lagi. Sebagai usaha untuk membuatku semakin percaya kalau dirinya adalah malaikat maka ia akan menghilang begitu saja dari hadapanku.

Aku mungkin masih tetap tidak percaya kalau aku baru saja bertemu dengan Izrail yang sedang bermurah hati karena hal-hal semacam itu aku pikir hanya terjadi dalam mimpi. Untuk memastikannya aku melaksanakan petuah nomor 69 yang aku dapat dari tayangan sinetron tentang cara-cara memastikan apakah kamu sedang bermimpi atau tidak ; menampar pipimu sekencang mungkin.

Plaaak!

Sakit. Berarti itu bukan mimpi.

Aku mungkin tidak akan tertidur lagi di sisa pagi itu. Hal-hal ajaib seperti itu kadang ampuh untuk mengusir rasa kantuk dan membuatmu terjaga. Mungkin untuk beberapa menit aku akan bengong seperti orang bego. Maksudku, yaah jika kamu tiba-tiba tahu kalau sebentar lagi akan mati pasti fungsi otakmu akan terganggu untuk sementara waktu.

Yang jelas aku akan bangun dari kasur, pergi ke dapur, menjerang air dan menyeduh kopi lalu berjalan ke beranda rumah, duduk di kursi kayu yang ada di sana, merokok dan kembali memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan. Biasanya setelah merokok dan minum kopi otakku bisa bekerja lebih beres.

Sambil merokok aku mungkin akan berpikir bagaimana kalau aku pergi ke mesjid, memohon ampun dan bertobat kepada Tuhan untuk semua dosa-dosaku, meskipun sebenarnya aku pikir percuma saja dan rasanya tidak adil juga dengan tobat mendadak seperti itu. Katakanlah, jika tadi pagi Izrail tidak menemuiku dan memberi tahu kalau aku akan mati, apakah aku juga akan tetap bertobat? Rasanya tidak. Jadi kemungkinan besar pilihan itu tidak akan aku lakukan.

Mungkin sebaiknya aku mengerjakan hal-hal yang lebih berguna daripada tobat mendadak seperti itu. Membersihkan rumah sepertinya bukan ide yang buruk. Rumahku memang jarang sekali dibersihkan karena aku terlalu malas, jauh lebih pemalas daripada seekor koala. Setidaknya setelah aku mati rumahku sudah bersih dan rapi dan orang-orang tidak perlu repot bersih-bersih jika mereka akan menggelar tahlilan di sana. Terdengar sangat mulia sekali. Membersihkan rumah sebelum mati bahkan terdengar cocok untuk dijadikan judul sebuah sinetron religi.

Ya, itu yang akan aku kerjakan setelah kopiku habis. Tapi sebelumnya aku akan merokok sebatang lagi.

Aku akan berpikir sebaiknya aku memulai dari kamar mandi. Menguras bak air. Rasanya sudah 100 tahun lamanya bak ini tidak pernah dikuras. Ibuku pernah memberi formula yang ampuh untuk membersihkan kerak yang menempel di dalam bak mandi. Campurkan deterjen dengan minuman penambah energi lalu tambahkan air secukupnya. Dijamin semua kerak yang menempel akan luruh. Aku tidak tahu darimana ibuku tahu tentang formula ini. Tapi aku jadi khawatir jangan-jangan beliau juga bisa membuat sebuah bom atom dari bumbu-bumbu dapur. Aku semakin tidak berani melawannya.

Ah, aku jadi teringat ibuku. Mungkin setelah membersihkan rumah aku akan meminta maaf kepada ibuku. Kepada ayahku juga sih. Itu wajib aku lakukan. Bang Onay temanku, pernah bilang kalau ridho Tuhan ada pada ridho orang tua. Jadi kalau orang tuamu tidak ridho kamu masuk surga maka Tuhan pun tidak akan memasukkanmu ke dalam surga. Jangan sampai jalur masuk ke surgaku dipersulit karena kedua orang tuaku merasa menyesal sudah melahirkan dan membesarkan anak sepertiku.

Mungkin mereka akan menganggapku gila karena tiba-tiba saja meminta maaf. Tapi aku tidak peduli, aku harus tetap minta maaf dan jangan bilang kalau aku akan mati sebentar lagi, hal itu bisa bikin mereka mengira aku betul-betul gila. Cukup minta maaf saja. Meskipun aku pikir mereka pada akhirnya akan tetap memaafkanku juga. Tapi memang lebih baik kalau aku meminta maaf terlebih dahulu.

Setelah itu mungkin aku akan berpikr untuk meminta maaf kepada teman-temanku. Beberapa orang di antara mereka ada yang pernah aku isengi dan aku takut mereka menyimpan dendam dan mendoakan hal-hal buruk terjadi kepadaku. Jika rumah mereka terlalu jauh aku jangkau mungkin aku akan meminta maaf via telepon, atau via pesan singkat. Aku rasa begitu juga cukup. Dan untuk beberapa teman dekatku aku cukup berpamitan saja, bilang saja kalau selama ini aku merasa senang sudah berteman dengan mereka. Ya, cukup begitu dan jangan terlalu didramatisir.

Terakhir, mungkin aku akan meminta maaf kepada gadis itu. Aku pernah melukai perasaannya. Sebenarnya ini kejadian yang sudah lama berlalu dan aku pikir ia juga sudah melupakannya tapi karena aku merasa belum meminta maaf kepadanya secara pantas maka sekarang aku harus menemuinya lagi. Aku tahu tempatnya bekerja. Aku akan pergi ke sana, semoga ia ada di tempatnya dan aku bisa meminta maaf secara langsung. 

Ia juga pasti akan merasa keheranan karena aku tiba-tiba saja meminta maaf kepadanya. Mungkin aku akan bilang kalau sebentar lagi aku akan mati tapi hal itu pasti akan membikin ia tambah heran dan menganggapku gila. Mungkin lebih baik aku mengarang sedikit cerita, aku kebetulan lewat ke tempatnya bekerja dan memutuskan mampir untuk sekedar meminta maaf. Aneh juga sih. Atau aku bilang saja kalau aku terkena sebuah penyakit serius dan umurku tidak akan bertahan lama jadi aku memutuskan untuk datang kepadanya dan meminta maaf. Sepertinya cerita terakhir terdengar lebih masuk akal. Dan kemungkinan besar ia akan percaya.

Lalu aku akan pulang kembali ke rumah dan menunggu si Izrail datang. Aku akan mandi dan memakai pakaian kesukaanku --sebuah jersey Manchester United dan boxer bergambar Mario Bross. Aku akan membakar rokok dan bermain gitar dan menyanyikan salah satu lagu yang pernah aku tulis berjudul Berapa Harga Kroket di Rumahmu. Lagu itu aku tulis ketika masih SMA. Ceritanya tentang seorang bocah yang berjualan kroket tapi tidak ada seorang pun yang membelinya karena kroketnya tidak enak. Tapi bocah itu tetap keras kepala dan terus saja berjualan kroket yang rasanya tidak enak itu. 

Aku pikir itu lagu yang sangat bagus. Karena sebentar lagi aku akan mati maka aku mungkin akan memutuskan untuk merekamnya dan siapa tahu setelah aku mati ada seseorang di luar sana yang menemukannya lalu merilisnya.

Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang akan aku lakukan. Mungkin aku akan minum kopi lagi, merokok beberapa batang dan bernyanyi beberapa lagu cinta sampai bosan. Mungkin aku akan tertidur karena kelelahan. Aku tidak tahu. Mengetahui kalau sebentar lagi aku akan mati ternyata merepotkan. Memang sebaiknya maut itu dirahasiakan saja. Aku akan sampaikan hal ini kepada Izrail kalau ia datang nanti. Dan sebelum ia mencabut nyawaku aku akan bilang, "sebatang lagi yaa?"

Tambun Selatan, 13 Februari 2016

Selasa, 26 Januari 2016

Pemuda Pengoleksi Surat Undangan

Surat undangan pernikahan dari Antonio yang diterimanya tadi pagi menggenapi koleksinya menjadi 50. Surat undangan pernikahan yang berbentuk seperti bungkus pasta gigi itu kemudian ia jejerkan bersama dengan ke 49 surat undangan pernikahan lainnya. Ini adalah ritual yang rutin dilakukannya setiap kali ia menerima sebuah surat undangan pernikahan. Ia akan mengenang si pemberi surat undangan pernikahan tersebut, bagaimana mereka berkenalan, dan jika ia tahu, bagaimana kisah cinta si pemberi surat undangan. Setelah selesai ia akan memasukkan kembali koleksinya ke dalam sebuah kotak khusus yang ia simpan di dalam lemari kamarnya.

Pemuda Y memulai hobi ajaibnya itu --sebenarnya tidak ajaib-ajaib juga karena toh masih ada manusia lain yang mempunyai hobi yang jauh lebih ajaib darinya, memakan rambutnya sendiri, misalnya-- sejak tiga tahun lalu ketika teman-teman kuliahnya mulai menikah satu per satu. Pada awalnya ia tidak mempunyai niat sama sekali untuk mengoleksi surat undangan pernikahan tapi ketika tanpa sadar surat undangan pernikahan yang diterimanya semakin bertumpuk di atas lemari es tempat ia biasa menaruhnya tiba-tiba saja ide itu mampir di benaknya. Ia ingat ayahnya pernah bilang kalau laki-laki harus mempunyai hobi dan Pemuda Y sadar kalau kebiasaannya kentut sembarangan bukanlah ide yang bagus untuk dijadikan hobi maka mengoleksi surat undangan pernikahan terasa seperti sebuah ide segar di kepalanya.

Sejak saat itu Pemuda Y mulai menyimpan setiap undangan pernikahan yang diterimanya. Ia hanya mengoleksi undangan pernikahan yang ditujukan atas namanya sendiri. Itu artinya surat undangan pernikahan yang ditujukan selain kepadanya tidak akan ia koleksi. Ia sengaja memilih hal itu karena baginya setiap undangan pernikahan selalu memberinya sebuah cerita dan kenangan tersendiri. Dan ia sangat senang setiap kali mengenang cerita-cerita tersebut. Undangan dari Antonio yang tadi pagi ia terima misalnya ; ia pertama kali bertemu dengan bocah itu di sebuah komunitas pecinta gulat di kotanya. Mereka kemudian berkenalan karena sering bertemu dan menjadi kawan dekat. Dari perkenalannya itu ia tahu kalau Antonio adalah anak seorang kepala desa dan masih satu garis keturunan dengan Prabu Siliwangi. Antonio pernah bercerita kalau para keturunan Prabu Siliwangi mewarisi ajian Pamacan dari para leluhurnya. Konon, mereka yang mewarisi ajian itu akan berubah menjadi harimau jika sedang marah. Tidak ada orang yang berani melawan seseorang yang mempunyai ajian Pamacan. Sayangnya ajian itu hanya diwariskan sampai kepada keturunan ke 200. Antonio adalah keturunan Prabu Siliwangi ke 201.

Antonio menikah dengan teman sekelasnya ketika SMA dan mereka sudah berpacaran selama lima tahun. Rupanya, selain keturunan ke 201 dari Prabu Siliwangi dan anak seorang kepala desa, Antonio juga adalah seorang laki-laki yang setia, setidaknya kepada tiga hal : ia tetap tinggal di pondok kos yang sama selama tiga tahun, ia masih memotong rambutnya dengan gaya yang itu-itu saja, dan ia menikah dengan perempuan yang itu-itu juga. 

Begitu surat undangan pernikahan Antonio bercerita. 

Dan Pemuda Y masih mempunyai 49 cerita dan kenangan dari 49 surat undangan pernikahan lainnya.

Yang bisa menandingi kesetiaan Antonio mungkin hanya Pemuda Arief, kawannya yang lain. Surat undangan pernikahannya mungkin yang terbaik di antara semua koleksi surat undangan pernikahan milik Pemuda Y. Maklum, Pemuda Arief adalah seorang fotografer sekaligus pemilik sebuah tempat percetakan. Jadi ia tidak perlu khawatir surat undangan pernikahannya akan semahal apa.

Surat undangan penikahan berlatar hitam itu dibuat dengan kualitas kertas nomor wahid, diisi dengan foto-foto pre-wed mereka yang penuh kemesraan, dan beberapa kutipan kalimat romantis dari film-film yang pernah mereka tonton bersama. 

"Menikah adalah cara untuk mengatakan aku cinta kamu"- Shah Rukh Khan, My Name Is Khan. 

Itu adalah salah satu kutipan yang Pemuda Arief sertakan dalam surat undangannya tepat di bawah fotonya ketika sedang memainkan gitar di hadapan pasangannya.

Pemuda Arief juga adalah seorang laki-laki yang setia. Mereka sudah berpacaran selama delapan tahun, lima bulan, tiga belas hari, sebelum memutuskan untuk menikah. Meski di tahun terakhir menjelang pernikahannya, Pemuda Arief pernah hampir tergoda oleh seorang gadis berkacamata yang ia temui di sebuah acara resepsi pernikahan kawannya.

Pemuda Arief sedang mengantri mengambil nasi ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan gadis di depannya yang kebetulan juga hendak mengambil nasi. Kulit gadis itu terasa lembut di tangannya, dan ketika ia menoleh, pandangannga beradu dengan pandangan gadis itu dan "subhanallah" gadis itu semanis sirup Tjampolay. Gadis itu mengenakan kacamata berbingkai tebal tapi bola matanya terlihat jelas. Bundar, hitam, bening sekaligus begitu dalam. Membuat Pemuda Arief lupa kalau ia punya pacar yang sudah dipacarinya selama delapan tahun.

Pemuda Arief baru sadar setelah biduan dangdut berteriak kencang dari panggung dan ia ternyata belum mengambil lauk apa pun karena begitu terpesona oleh gadis berkacamata tebal yang baru dilihatnya. Jancuk, Pemuda Arief terpaksa harus kembali mengantri.

Yang tidak begitu setia mungkin kisah cintanya Aa Wowo. Ia menikah sebulan yang lalu. Pemuda Y hadir di pernikahannya meskipun hari itu hujan dan jalanan menuju ke tempat acara becek dan berlumpur.

Aa Wowo adalah kakak kelasnya ketika di sekolah menengah atas. Pemuda Y mengenalnya karena kebetulan ia pernah menjadi anggota OSIS dan Aa Wowo adalah ketua umumnya. Dan rasanya Aa Wowo selalu menjadi ketua umum dalam setiap organisasi yang ada di sekolahnya ; di Pramuka, di badan amil zakat infaq dan sodaqoh, di forum pecinta alam, forum pecinta kopi, forum pecinta dedek-dedek gemes berhijab dan diam-diam di forum pemuda pecinta Japan Adult Video.

Sewaktu sekolah Aa Wowo pernah berpacaran dengan teman sekelasnya yang bernama Hani. Seingat Pemuda Y mereka berpacaran cukup lama. Cukup lama untuk membuat Pemuda Y bosan melihat mereka berboncengan di motor setiap pulang sekolah. Mereka kemudian berpisah. Dari desas-desus yang didengarnya, mereka berpisah karena Aa Wowo berselingkuh dengan seorang gadis yang berasal dari Bandung. Entah benar atau tidak tapi yang jelas di surat undangan pernikahannya Aa Wowo tidak menikah dengan Hani atau pun dengan gadis yang berasal dari Bandung. Aa Wowo menikah dengan seorang bidan.

Begitulah, Pemuda Y sangat menyenangi ritual mengenang seseorang melalui surat undangan pernikahannya. Jika surat undangan pernikahan itu datang dari kawan lamanya maka Pemuda Y akan menggali ingatannya lebih jauh lagi. Ingatannya yang paling jauh mungkin tentang Adi Susanto, kawannya sewaktu SD.

Surat pernikahannya ia terima sekitar satu tahun yang lalu. Mereka sudah lama tidak pernah bertemu. Adi Susanto pindah ke Banyuwangi ketika kelas dua SMP. Ternyata Adi Susanto masih mengingatnya dan memberinya surat undangan pernikahan meskipun tentu saja Pemuda Y tidak bisa ikut menghadiri acara resepsinya.

Adi Susanto adalah seorang fans AC Milan, terutama Andriy Shevchenko. Ia bahkan sering sekali menuliskan namanya dengan Adi Shevchenko. Ia kawan dekat Pemuda Y. Mereka satu SD dan melanjutkan SMP di tempat yang sama. Mereka sering bermain PS bersama sepulang sekolah. Waktu itu rental PS hanya ada di kota kecamatannya jadi mereka hanya bisa bermain PS sepulang sekolah. Itu pun tidak bisa setiap hari karena sisa uang jajan mereka kadang tidak cukup untuk membayar sewa PS.

Tapi rupanya Adi Susanto begitu ketagihan bermain PS. Ia yang tadinya hanya bermain PS dua kali seminggu sepulang sekolah menjadi setiap hari. Ia bahkan lebih sering masuk rental PS daripada masuk kelas. Ia tidak naik kelas dan orang tuanya memindahkan sekolahnya ke Banyuwangi. 

Pemuda Y hanya sesekali bertemu jika libur Lebaran atau ketika liburan panjang sekolah. Mereka semakin jarang bertemu ketika Pemuda Y melanjutkan kuliahnya keluar kota. Dan mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Pemuda Y lulus kuliah. Di tahun ke empat setelah Pemuda Y lulus kuliah, Adi Susanto mengiriminya surat undangan pernikahan. Ternyata ia berjodoh dengan gadis dari Banyuwangi.

Pemuda Y sangat menyenangi hobinya. Hobi ini tidak merepotkan siapa pun. Pemuda Y bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali untuk hobinya. Kawan-kawannya yang akan menikah pasti akan dengan sangat senang hati memberinya surat undangan, bahkan tanpa perlu ia memintanya. Benar-benar hobi yang menguntungkan kedua belah pihak.

Tapi akhir-akhir ini hobinya sering menjadi bumerang buat dirinya sendiri. Ini semua gara-gara kawan-kawan kuliahnya sudah mulai menikah satu per satu dan hanya menyisakan tiga laki-laki yang belum menikah. Pemuda Y ada di antara ketiga laki-laki tersebut. 

Tapi Pemuda Y yang selalu menjadi sasaran tembak ejekan semua kawan-kawannya.

Pertama, karena di antara ketiga laki-laki lain yang belum menikah mungkin hanya dirinya yang bernasib paling sial. Kedua laki-laki lainnya sudah mempunyai pasangan dan hanya tinggal menunggu waktu saja. Laki-laki pertama sedang menunggu studi S2nya kelar, sedangkan laki-laki kedua sedang menunggu calonnya menyelesaikan kontrak kerjanya di Jepang. Pemuda Y sendiri tidak menunggu siapa-siapa dan ditunggu siapa-siapa. Asu betul, memang.

Kedua, semua ini terkait karena hobinya mengoleksi surat undangan pernikahan. Betul, hobinya memang tidak merugikan siapa pun. Tapi setiap kali ia memamerkan koleksinya kepada kawan-kawannya mereka selalu spontan bilang, "terus surat undanganmu sendiri kapan?".

Pemuda Y bahkan pernah melakukan kesalahan fatal dengan mengunggah foto koleksinya ke facebook dengan kalimat gagah "Harta Karunku" yang langsung disambar oleh 78 komentar dari kawan-kawannya. Yang pertama kali berkomentar adalah kawannya yang  akun facebooknya bernama Ubed Sukakangen, "terus undangan pernikahanmu kapan?".

Dan 77 komentar lainnya berkalimat sama.

Setiap kali mengingat hal itu, rasanya Pemuda Y seperti sedang mengunyah mangga muda. Kecut.

Mereka semua tidak tahu kalau sebenarnya Pemuda Y pernah jatuh cinta setengah mampus kepada seorang gadis. Dan gadis itu juga mencintainya. Mereka saling mencintai. Tapi Pemuda Y bukan laki-laki setia, seperti Aa Wowo. Ia meninggalkan gadis itu dan berpaling kepada gadis lain. Lalu Pemuda Y kembali kepada gadis itu, dan gadis itu masih menerimanya. Dan Pemuda Y kembali meninggalkannya demi gadis lain. Dan lagi-lagi Pemuda Y kembali  kepada gadis itu dan gadis itu masih mau menerimanya. Dan Pemuda Y kembali meninggalkannya. Begitu seterusnya sampai suatu kali gadis itu tidak bisa menerimanya lagi. Sambil sesenggukan gadis itu berkata, "kamu tahu rasanya jadi tissue toilet yang bisa kamu pakai dan buang seenaknya?! Itu aku! Brengsek!"

Setelah mengucapkan kata brengsek gadis itu pergi dan Pemuda Y dikutuk untuk terus berharap kalau suatu hari gadis itu akan kembali kepadanya.

Dan gadis itu kembali kepadanya, sembilan bulan sebelum Pemuda Y menerima surat undangan pernikahan dari Antonio. Pada suatu sore yang basah karena seminggu penuh diguyur hujan. Tapi hanya namanya saja yang datang. Di sebuah surat undangan pernikahan bersampul ungu dengan sebuah pita di ujungnya dan sebuah lirik lagu The Cure di belakangnya. Lirik lagu itu dulu sering Pemuda Y pakai untuk merayu gadis itu. Dan kini lirik lagu itu dipakai si gadis untuk mewartakan pernikahannya yang akan berlangsung hari Jum'at depan. Tembelek singa!

I don't care if Monday's blue
Tuesday's grey and Wednesday too
Thursday i don't care about you
It's Friday i'm in love

Setiap kali ia mengingatnya Pemuda Y seperti sedang mengunyah mangga muda. Kecut sekali. Tapi yang ini ratusan kali lebih kecut.

Tambun Selatan, 27 Januari 2016



 

Senin, 18 Januari 2016

Hal-hal Yang Perlu Dipersiapkan Untuk Sebuah Pernikahan Versi Saya Sendiri

Oleh : Antonio Nurhega

Pengantar : akhirnya Antonio Nurhega menikah. Ia pasti berbahagia karena bisa menikah dengan gadis yang dicintainya selama ini --sekaligus mungkin bisa mempraktekkan deep throat secara langsung. Ia ingin berbagi kebahagiannya kepada kita semua. Lebih dari itu ia juga ingin berbagi pengalamannya dalam mempersiapkan pesta pernikahannya. Sayangnya, ia lupa password blognya jadi terpaksa ia menumpang tulisannya di blog saya. Tidak apa, kata saya. Yang penting niatnya baik dan mulia. Karena itu sekarang saya posting tulisannya yang tadi sore dikirimkan olehnya via email. Selamat membaca.

Pernikahan adalah impian semua orang, tidak terkecuali Naruto. Tokoh ninja idola semua orang itu kini sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Bagi generasi 90an, generasi yang mengaku sebagai generasi paling bahagia menurut mereka sendiri, pertanyaan kapan nikah mungkin sudah tidak asing lagi dan mungkin malah menjadi sebuah pertanyaan horor, tapi percayalah perasaan itu juga dirasakan oleh orang tua ketika ditanya kapan punya mantu. Anda tidak sendirian, sob

Saya sendiri sudah melangsungkan pernikahan tanggal 16 Januari 2016 kemarin. Kecuali ijab qabul, tidak ada lagi hal yang romantis pada pernikahan saya. Konsep pernikahan saya sendiri berkonsep standar Indonesia banget ; dimulai dari datangnya mempelai pria yang diiringi oleh lengser, sambutan, ijab qabul, saweran, undangan datang silih berganti memberikan amplop diiringi alunan lagu dari wedding singer, dan malamnya ditutup dengan santapan rohani. Sebenarnya saya sendiri sudah berusaha membuat konsep pernikahan yang sangat romantis. Setelah acara saweran, saya berencana berjalan diatas karpet merah diiringi alunan musik syahdu, lalu sang MC akan membacakan biodata dan perjalanan cinta kami, tapi apa mau dikata, saat saya akan melangsungkan acara tersebut pihak keluarga malah mengadakan acara sholawatan. Bisa saja saya menghentikan acara sholawatan tersebut, tapi saya takut kualat dan timbul konflik keluarga, akhirnya saya memilih mengalah, yang penting malam itu saya bisa nyilit

Tapi tidak ada salahnya juga saya berbagi hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum mengadakan pesta pernikahan, menurut saya sendiri: 
1. Pasangan
Sebelum berbicara lebih jauh, jangan lupakan hal yang satu ini. Memilih pasangan itu kadang gampang kadang susah. Ada yang baru kenal sebentar langsung jadi, ada juga yang sudah lama berpacaran kemudian berakhir indah di pernikahan. Ada yang malah gagal sampai di pelaminan. Ingat! Pasangannya harus lawan jenis, kita tidak hidup di benua biru yang melegalkan pernikahan sesama jenis, sama pohon ataupun sama Menara Eiffel.

2. Lamaran
Setelah kita menemukan pasangan yang tepat saatnya kita melakukan lamaran. Lamaran bertujuan untuk meminta izin kepada orang tua sang putri bahwa kita ingin mempersunting putrinya. Biasanya acara lamaran dilakukan setengah sampai satu tahun sebelum pernikahan.

3. Mahar 
Jika maharnya berbentuk emas maka lebih baik beli mas kawin lebih awal, karena harga emas cenderung naik dari waktu ke waktu.

4. Seserahan
Sambil menunggu datangnya hari H, bolehlah kita nyicil buat beli seserahan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, begitu kata pepatah.

5. Pre Weddig
Hal yang menurut saya tidak terlalu penting namun sangat penting menurut Panji Pratama Saputra. Pre wedding adalah kegiatan mengabadikan foto berdua sebelum pernikahan. Proses pembuatannya sendiri memakan waktu satu bulan. Pilihlah tema sesuai dengan pernikahannya nanti agar pre wedding menjadi lebih berkesan.

6. Souvenir
Banyak jenis souvenir yang bisa dipilih, mulai dari gelas, dompet, sendok, tempat tissue, bahkan jika kita punya uang bisa menghadiahi tamu undangan dengan souvenir iPod shuflle versi 2 GB seperti pernikahan anak sekjen MA pada bulan maret 2014 lalu.

7Undangan
Pengerjaan undangan versi cetak biasanya memakan waktu 10 hari. Jika ingin memajang foto pre wedding di surat undangan kita maka undangan dikerjakan setelah proses pre wedding selesai. Di zaman serba canggih ini undangan tidak hanya lewat kertas. Bagi sahabat-sahabat kita yang jauh kita bisa mengirimkan kabar lewat medsos. Pembuatan undangan versi medsos bisa kita bikin sendiri atau bisa minta tolong sekalian pre wedding.

8. Daftar KUA
Pendaftaran ke KUA bisa melalui kesra desa setempat. Persyaratannya sendiri yaitu, akte kelahiran, ijazah terakhir, fotokopi KTP, pas foto 4x6 2 lembar, 2x3 3 lembar dengan latar belakang biru, dan surat pernyataan masih single atau duda yang ditandatangani di atas materai. Biaya akad pernikahan bila diadakan di rumah Rp 800.000,-pada hari biasa dan tambahan Rp 50.000,- jika hari libur. Jika kepengin gratis maka bisa melangsungkan akad nikah di KUA. Waktu yang tepat buat daftar KUA adalah satu bulan sebelum hari H.

9. Pesta Pernikahan
Ini yang paling ditunggu dari semuanya. Semua menunggu acara ini, keluarga, kerabat terlebih lagi kedua mempelai. Susunan acara sendiri biasanya dibentuk khusus panitia, jika ada permintaan bikin sesuatu yang berbeda bisa dikomunikasikan dengan panitia. Hal yang paling penting di sini adalah ijab qabul. Setelah seleasi ijab qabul rasanya lega sekali.

Begitulah persiapan-persiapan menjelang pernikahan yang perlu dilakukan versi saya sendiri. Bagi saya menikah itu seperti minum kopi, kopi sepuluh ribu adalah kopi, kopi seratus ribu adalah kopi, sama halnya dengan menikah, nikah sepuluh juta adalah nikah, nikah seratus juta tetap menikah. Persiapan di atas bisa lebih mudah atau malah lebih sulit. Lebih mudah apabila hanya melaksanakan hal-hal wajib aja, bisa lebih sulit jika ditambah acara siraman atau munduh mantu. Hal yang paling penting adalah kehidupan setelah menikah. Semua orang ingin pernikahannya langgeng dan bahagia. Acara penikahan yang kita persiapkan kelak akan dilupakan. Mungkin untuk satu minggu sampai satu bulan rekan-rekan kita masih membicarakan dan  memposting foto-foto acara pernikahan kita, tapi selanjutnya kehidupan kita sendirilah yang paling penting. Pesan dari saya, tak perlu muda atau tua untuk menikah, menikahlah ketika kita siap. Selamat menikah. 


Bantrangsana, 18 Januari 2014.

Minggu, 10 Januari 2016

Sleep Paralyzm

Oleh Antonio

Catatan : cerpen ini merupakan terjemahan dari cerpen berbahasa Sunda yang berjudul Dieureup-eureup karya Antonio. Cerpen ini dimuat di Majalah Mangle edisi Juni 2004.


Nama saya Antonio. Saya seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta. Malam ini
malam Jum'at dan saya mendapat giliran dinas malam. Kata orang malam Jum'at adalah malam di mana hantu-hantu senang bergentayangan dan rumah sakit adalah salah satu tempat favoritnya. Jika saja saya percaya hantu, maka malam ini bisa jadi merupakan malam yang sangat menyeramkan bagi saya. Tapi saya tidak percaya hantu apalagi setan. Saya tidak mempunyai uusan sama sekali dengan mereka. Apa urusan di dunia nyata ini kurang berat sampai kita harus mengurusi kehidupan mereka segala. Saya hanya bisa menertawakan mereka yang sehari-hari ngomongin setan, terlebih kepada acara-acara tv yang mencari-cari penampakan setan yang tayang tiap tengah malam. Sungguh orang-orang kurang kerjaan.

Saya tiba di rumah sakit lebih awal. Kali ini saya bertugas bersama Mbak Agus dan Bu Endang. Saya bertugas di ruang anak. Tangisan mereka di malam hari sudah menjadi hal yang biasa bagi saya dan bahkan sudah kewajiban saya juga untuk membantu menenangkannya.

Kerja kali ini lancar. Semua pekerjaan beres sebelum pukul satu dini hari. Kami memutuskan untuk beristirahat bersama. Biasanya kami beristirahat secara bergantian tapi karena kondisi
pasien tenang, tidak ada salahnya juga kami beristirahat bersama-sama.

Bu Endang dan Mbak Agus tidur
dengan menggelar kasur di nurse station. Saya tidur di sofa di samping mereka. Nurse station adalah
tempat berkumpulnya perawat di mana biasanya mereka membereskan pekerjaan mereka.

Karena di luar hujan deras kami pun tidur sangat lelap sampai akhirnya saya mendengar tangisan bayi. Saya terbangun. Saya melihat jam, masih pukul tiga pagi. Ketika saya mau bangun dari sofa, saya melihat Mbak Agus sudah mendahului saya dan menghampiri bayi yang menangis. Saya kembali tidur. Belum sempat saya memejamkan mata, Mbak Agus sudah membangunkan saya. Ia memberitahu kalau infusan bayi tersebut
bengkak dan saya disuruh menyiapkan peralatan infus di ruang tindakan. Sialan, kenapa tidak nanti pagi saja
pasang infusnya, maki saya dalam hati. Dengan mata terkantuk-kantuk saya bergegas ke ruang tindakan dan
menyiapkan alat.

Hawa terasa sangat dingin ketika saya menyiapkan alat. Mungkin karena di luar sedang hujan lebat, pikir saya. Saya menyiapkan alat sambil melamun sampai kemudian saya dikagetkan dengan sesosok makhluk hitam di depan saya. Tingginya sama dengan saya, matanya merah, nafasnya berbau busuk dan dia tertawa. Saya lari ke luar menuju nurse station. Belum sempat sampai ke nurse station saya berhenti, saya tidak percaya hantu, saya putuskan untuk kembali, saya berbalik, tak disangka makhluk itu sudah berada di pintu dengan wujud yang lebih mengerikan. Saya mencoba berlari kembali tapi kali ini kaki saya
terasa berat. Saya tidak bisa berlari. Saya putuskan untuk berteriak memanggil Bu Endang dan Mbak
Agus. Mereka tidak menggubris sama sekali. Saya berteriak lebih kencang, semakin kencang sampai akhirnya,

"Antonio.." Bu Endang membangunkan saya dengan memukul-mukul paha saya. Saya melihat jam, masih pukul tiga pagi. Mbak Agus masih berada di tempat bayi yang sedang menangis.

"Kamu dieureup-eureup ya?" tanya Bu Endang.

"Sepertinya begitu Bu, saya mimpi buruk." jawab saya diakhiri dengan ber-huh karena lega. 

Sejak pukul tiga itu kami tidak tidur lagi. Bu Endang cerita kalau saya tidak dibangunkan maka saya akan dibawa ke dunia mereka. Mbak Agus pun mengiyakan. Ternyata mitos itu sama di setiap daerah. Mbak Agus dari Kalimanatan dan Bu Endang dari Jakarta tapi kepercayaan mereka
terhadap hantu sama. Saya hanya bisa ber-huh lagi dalam hati mendengar kepercayaan konyol mereka.

Pukul enam pagi adalah waktu untuk mengobservasi kondisi pasien. Kami berkeliling untuk mengukur tanda-tanda vital pasien. Ketika sedang mengukur suhu salah satu anak di kamar paling ujung, anak itu bertanya,

"Om, kok sendirian?" 

"Oh, Bu Endang dan Mbak Agus lagi di kamar yang lainnya, Dek" jawab saya sambil tersenyum.

"Bukan mereka Om, tapi yang mengikuti Om terus sepanjang malam. Yang hitam dan matanya merah tuh" jelas anak itu polos.

Ohhh Tuhan, apakah dunia ini dipenuhi dengan orang-orang konyol?