Kamis, 05 November 2015

Merindukan Ibu

Ibu pernah bilang kalau di bulan ada seorang nenek yang sedang menenun kain dan seekor kucing yang setia menemaninya. Aku bertanya dari mana ia bisa tahu tentang hal itu.

"Kau bisa melihatnya saat bulan sedang purnama" jawab ibu.

Maka setiap kali purnama aku selalu memandang bulan, mencari seorang nenek dan seekor kucing yang dimaksud oleh ibu. Tapi aku tak pernah bisa menemukannya.

"Purnama sekarang tidak seterang ketika ibu kecil dulu" Ibu berkilah setiap kali aku protes karena tidak ada nenek-nenek dan kucing di bulan. Mungkin ia benar, meskipun dalam hati aku selalu berharap bisa melihat nenek dan kucing itu seperti yang ibu lihat ketika ia masih kecil.

Ketika aku sudah dewasa aku baru tahu kalau di bulan tidak ada apa-apa. Setidaknya begitu menurut pelajaran yang aku terima di sekolah. Memang pernah ada dua makhluk hidup yang pernah menginjakkan kakinya di bulan, tapi mereka bukan nenek-nenek dan seekor kucing.

Aku tidak merasa sakit hati dan menganggap ibu sudah berbohong kepadaku. Mungkin ia hanya sedang berusaha menghiburku saat itu. Mungkin juga ibu melihat permukaan bulan menyerupai bentuk seorang nenek yang sedang menenun kain dan seekor kucing. Atau mungkin ia juga hanya mendengar cerita itu dari orang lain lalu menceritakannya kepadaku. Tapi aku selalu penasaran dan berharap suatu saat aku juga bisa melihat permukaan bulan yang menyerupai seorang nenek yang sedang menenun kain dan ditemani oleh kucingnya.

Maka setiap kali purnama aku selalu memandang bulan. Dan aku tetap tidak bisa menemukan nenek dan kucing itu.

Ibu sudah lama meninggal. Ia meninggal karena sakit. Ada sebuah benjolan di leher kanannya. Awalnya hanya sebesar kelereng, lalu bertambah menjadi sebesar biji salak,  lalu sebesar biji durian. Benjolan itu seperti menyedot semua daging dan lemak di tubuhnya. Benjolan itu semakin besar dan tubuh ibu semakin kurus. Dokter pernah menyarankannya untuk operasi tapi ibu tidak mau. Ia takut dioperasi. Ia hanya menelan obat-obatan herbal dari beberapa pengobatan alternatif yang menjanjikan benjolan itu bisa hilang tanpa pembedahan. Benjolan itu malah semakin membesar dan ibu semakin kurus. 

Ibu sudah lama meninggal. Aku selalu merindukannya. Di antara beberapa kenangan yang selalu membuat aku rindu, ceritanya tentang bulanlah yang selalu aku ingat. Tentang seorang nenek yang sedang menenun kain dan ditemani oleh kucingnya.

Maka setiap kali purnama, aku selalu memandang bulan. Aku tetap tidak bisa menemukan nenek dan kucing itu. Mungkin memang nenek-nenek dan kucing itu tidak pernah ada. Tapi aku berharap ibu ada di sana. Ibu ada di bulan. Sendirian atau ditemani oleh nenek dan kucingnya, aku tidak peduli. Aku hanya berharap ibu ada di bulan sehingga aku bisa melihatnya dari sini.

Maka setiap kali aku merindukan ibu, aku akan selalu memandang bulan.


Warung Kopi Pakde, 06 November 2015

Senin, 28 September 2015

Cita-Cita Asroji

Asroji pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah shotgun. Tapi sebelum itu, ia akan membikin band, menulis lagu-lagu tentang betapa membosankannya hidup, menjadi terkenal, baru kemudian bunuh diri. Sebab sia-sia saja kau bunuh diri jika dirimu bukan siapa-siapa. Kematianmu mungkin hanya akan menghiasi sedikit halaman di pojok berita kriminal sebuah surat kabar. Esok hari berita kematianmu sudah tidak ada. Seminggu kemudian kau sudah dilupakan semua orang.

Jika ia tidak memiliki shotgun mungkin ia akan menggantung dirinya sendiri di pohon rambutan belakang rumah atau meloncat dari gedung setinggi 69 lantai. Yang penting ia mati di usia 27. Tapi sebisa mungkin ia harus mendapatkan shotgun atau senapan jenis apa pun yang bisa membikin kepalanya meledak. Dan ia harus terkenal terlebih dahulu. Supaya kematiannya mirip Kurt Cobain, tentu saja.

Waktu itu Asroji masih seorang bocah remaja yang sedang gandrung-gandrungnya bermain musik. Maklum, ia baru saja bisa bermain gitar, meskipun kord gitar yang dikuasainya hanya sebatas E minor lalu ke C lalu ke G dan terakhir ke D.

Aceng Fikri yang mengajarinya. Ia ingat betul bocah kurus itu. Aceng Fikri masih adik kelasnya di SMA tapi kemampuan bermain gitarnya bisa membikin Asroji iri setengah mampus, Aceng Fikri bisa memainkan intro lagu Sweet Child O' Mine dari Guns And Roses sambil merem. Kalau niat, Aceng Fikri bahkan bisa memainkannya sambil kayang.

"Jarimu ketuker tuh, jari tengah di senar dua, jari manis di senar tiga." kata Aceng Fikri sewaktu mengajarinya kord B minor di sebuah pos ronda di perempatan jalan. Ia mengatakannya seenteng orang berak ; sambil menghembuskan asap Djarum Super yang ia bikin-bikin seperti huruf O, sementara Asroji mati-matian menahan nyeri di jari-jari tangan kirinya karena senar gitar yang dimainkannya sudah berkarat. Bangsat betul memang.

Selain mengajari Asroji bermain gitar (ia biasa meminta Djarum Super sebagai mahar untuk kursus singkatnya) Aceng Fikri juga adalah orang pertama yang mengenalkan Kurt Cobain kepada Asroji. Ia kerap bercerita tentang Kurt Cobain sembari mengajari Asroji bermain gitar. Kisah tentang Kurt Cobain yang kabur dari rumah terus tidur di kolong jembatan, menjual senapan untuk membeli gitar, membentuk Nirvana kemudian terkenal dan mati bunuh diri di usia 27. Asroji tidak tahu dari mana Aceng Fikri mendapatkan kisah itu tapi ia akan menceritakannya dengan keyakinan setingkat penjual obat kuat di pinggir jalan yang yakin obatnya manjur atau seorang agen MLM yang percaya kalau menjadi kaya itu semudah orang kencing, tinggal buka celana lalu cuuuur begitu saja. Asroji terpesona.

Tiga bulan setelah Aceng Fikri mengajarinya bermain gitar di pos ronda, Asroji sudah berhasil mengajak beberapa temannya untuk membikin band. Ia tinggal menulis lagu tentang betapa membosankannya hidup, terkenal, lalu bunuh diri di usia 27.

***

Asroji pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah shotgun. Tentu saja setelah ia dan bandnya terkenal. Tapi di usia 22 ia sudah lupa akan cita-citanya tersebut. Selain karena ia menyadari kalau hidupnya tidak begitu menyedihkan ; ia mempunyai keluarga yang baik-baik saja, uang jajan dan kebutuhannya selalu terpenuhi, dan kisah asmaranya semulus paha Monica Belluci, ternyata band yang ia bikin umurnya tidak lebih panjang dari umur rata-rata pernikahan  para selebritis. 

Sering kali band yang ia bikin harus bubar di tengah jalan. Ada saja persoalannya. Kesibukan kuliah, dilarang orangtua, memilih untuk fokus di bisnis batu akik atau memilih untuk memperdalam agama. 

Hal-hal semacam itu diperparah dengan minimnya respon dari lagu-lagu yang ia bikin, baik dari kalangan skena maupun dari khalayak luas. Baru belakangan ia sadar kalau hal itu dikarenakan dirinya adalah penulis lagu yang buruk dan suaranya sumbang ampun-ampunan.

***

Asroji pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah shotgun. Itu cita-citanya saat masih SMA. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak saat itu dan kini, ketika mengingatnya kembali, Asroji merasa begitu konyol pernah memiliki cita-cita setolol itu.

Ingatan tentang hal itu menghampirinya begitu saja saat ia teringat kalau hari ini ia berulang tahun yang ke 27. Ia sudah lama berhenti bermain band -karena sadar ia seorang penulis lagu yang buruk dan suaranya sumbang minta ampun- dan tidak pernah terpikir untuk bunuh diri. Apalagi dengan menembak kepalanya sendiri menggunakan shotgun. Cara mati yang mengerikan. Ia malah berharap bisa hidup lebih lama, kalau perlu sampai bisa menyaksikan cucu-cucunya kelak. Kalau pun harus mati ia berharap akan mati di umur 63, biar seperti Nabi Muhammad.

Wajar saja kalau Asroji berharap hidup lebih lama, ia memang sedang berbahagia akhir-akhir ini. Istri yang dinikahinya tahun lalu kini tengah hamil tua. Menurut taksiran dokter, istrinya akan melahirkan tiga minggu lagi. Hal itu membuatnya tidak betah berlama-lama di kantor dan memilih untuk langsung pulang jika pekerjaan sudah kelar.

Kereta yang ditumpanginya baru tiba di Stasiun Jatinegara ketika ponsel di saku celananya bergetar. Istrinya menelepon.

"Aku masih di Jatinegara. Nanti kalau sudah di Bekasi aku kabarin"

Asroji memang berjanji untuk makan malam bersama istrinya sebagai perayaan ulang tahunnya yang ke 27. Tapi lalu lintas di Jakarta siapa yang bisa menebak. Tadi saja keretanya harus tertahan beberapa menit di Stasiun Cikini. Semoga saja ia tidak terlalu malam tiba di rumah.

Setelah menutup telepon dan memasukkan kembali ponsel ke saku celananya, Asroji kembali mengenang masa-masa SMAnya. Ia sudah lama kehilangan kontak dengan Aceng Fikri, temannya yang dulu mengajari ia bermain gitar. Terakhir kali ia mendengar kabar kalau Aceng Fikri akan menikah, beberapa tahun yang lalu saat ia baru saja bekerja di Jakarta. Ia sendiri tidak hadir di acara pernikahannya itu, ia lupa apa alasannya, mungkin karena ia masih pegawai baru di kantornya jadi tidak bisa mengambil cuti. Entahlah, Asroji tidak begitu ingat. Ia hanya ingin cepat-cepat tiba di rumah.

***

Asroji pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah shotgun. Ia mengingat cita-cita konyolnya itu sambil tersenyum-senyum sendiri sembari memakai helm buluknya yang berwarna kuning dengan gambar Spongebob di belakangnya. Helm itu dibelinya ketika ia masih berkuliah dan tetap ia pakai sampai sekarang. Kaca bagian depannya sudah hilang entah ke mana tapi Asroji senang memakainya.  Ia merasa tidak perlu khawatir kalau helm itu akan ada yang mencuri. Toh sudah buluk juga, pikirnya. Kalau ia yang menjadi pencuri helm ia pasti akan berpikir ribuan kali sebelum mencurinya.

Kereta baru tiba di Stasiun Bekasi ketika hari sudah gelap. Asroji terpaksa memacu motornya lebih kencang karena sudah keburu malam. Ia tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama.

Jalanan sempat macet di beberapa tempat. Tapi selepas dua lampu perlintasan lalu lintas jalanan mulai lancar. Asroji bisa memacu motornya lebih kencang lagi.

***

Asroji pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah shotgun. Ia bingung darimana dulu ia pernah punya pikiran semacam itu. Apakah dari Aceng Fikri yang sering mendongenginya kisah Kurt Cobain? Atau mungkin karena hal itu dianggap keren untuk bocah-bocah seusianya. Waktu itu ia masih SMA, membayangkan dirinya terkenal lalu menjadi pujaan jutaan orang, memang bangsat betul kerennya. Tapi apa yang dulu pernah ia anggap keren berubah seiring umurnya bertambah. Apalagi hidup menamparnya keras dengan sebuah kenyataan yang ada di depannya. Cita-cita untuk mati di usia 27 adalah hal terbodoh yang pernah dipikirkannya. Ia tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal itu. Ia tidak benci dengan dirinya sendiri dan hidupnya tidak membosankan amat, bahkan bisa dibilang bahagia.

Lamunannya harus buyar ketika motor yang dikendarainya menabrak sebuah lubang di jalan. Asroji tidak sempat melihat dan menghindari lubang itu. Motornya oleng ke arah kanan dan ia kehilangan keseimbangan.

"Bangs..." baru saja mulutnya mau mengumpat, sebuah truk sudah menghajar ban belakang motornya. Asroji terpelanting, helmya yang berwarna kuning bergambar Spongebob terlepas dari kepalanya. Untuk beberapa detik gaya gravitasi seolah-olah tidak berefek terhadap Asroji. Tapi Asroji tidak sadar kalau dirinya sedang melayang, ia hanya teringat kepada istrinya yang sedang menunggu ia pulang, pada calon bayinya yang belum sempat ia lihat wajahnya, pada Aceng Fikri yang mengajarinya bermain gitar, dan pada cita-citanya untuk mati di usia 27. Saat gaya gravitasi itu sudah kembali bekerja, kepalanya sudah menghantam aspal jalan. Bruuuk!


Tambun Selatan, 28 September 2015






Sabtu, 19 September 2015

Tentang si Bapak, Nabi Nuh, dan Derita Seekor Semut

Ini gara-gara si Raras yang memposting foto bapaknya di era kenakalan remaja, dahulu sebelum ketemu mamahnya si Raras lalu mereka menikah dan lahirlah Raras. Luar biasa betul kerennya, pikir saya. Saya jadi berpikir apa hal-hal keren yang pernah dilakukan oleh si bapak ya?

Saya yakin kalau si bapak bukan seseorang yang keren. Beliau bukan remaja kekinian pada zamannya. Bukan snobs atau hipster atau apalah itu yang terlihat keren di zamannya. Pengetahuan musiknya bahkan berbanding lurus dengan suaranya yang sumbang kalau bernyanyi (dan sialnya suara sumbangnya itu diwariskan kepada saya. Luar biasa betul).

Dari ceritanya yang sering beliau ceritakan kepada saya, saya yakin kalau si bapak adalah tipe anak baik yang berbakti kepada orang tua. Tabiatnya lurus. Tipe anak baik-baik yang ketakutan setengah mampus untuk bolos sekolah dan tidak pernah terlibat kenakalan-kenakalan khas remaja lainnya. Bukan pusat perhatian di sekolah dan tentu saja bukan tipe seorang siswa idola dedek-dedek gemes. Saya bahkan tidak tahu apakah si bapak pernah punya pacar sebelum menikah dengan si mamah?

Kalau pun sekarang bisa dibilang saya adalah seorang yang nakal dan brengsek saya yakin kalau hal itu bukan warisan dari si bapak, tapi warisan kakek dari pihak si mamah. Tentang kakek yang satu ini mungkin saya akan menuliskannya di kesempatan lain. 

Untuk kali ini, saya hanya akan menulis tentang si bapak.

Si bapak kerap kali bercerita kepada saya tentang masa kecilnya. Biasanya itu dilakukan ketika malam hari sepulangnya beliau melaksanakan sholat Isya di mushola dekat rumah. Sambil merokok (favoritnya adalah Gudang Garam Filter dan itu juga diwariskan kepada saya) beliau akan bercerita tentang masa kecilnya yang bisa dibilang memprihatinkan.

Beliau anak ke empat dari delapan bersaudara (sebenarnya malah 12 bersaudara, tapi empat sisanya mati ketika masih kecil). Kakek dan nenek saya hanya seorang petani biasa. Untuk menambah penghasilan mereka memelihara beberap ekor kambing. Ayah saya beserta saudara-saudaranya yang lain yang kerap kali diserahi tugas untuk memberi makan dan menggembalakan kambing.

"Dulu mah nih ya bapak sebelum berangkat sekolah harus ngambil rumput dulu di sawah buat makan kambing. Nanti sorenya pas pulang sekolah harus pergi lagi ke sawah buat gembalain kambing" katanya sambil menghembuskan asap rokoknya. Asap rokoknya akan mengepul dan bergoyang-goyang di udara sebelum lenyap.

"Kamu mah sekarang enak. Berangkat sekolah tinggal minta duit lalu pulang sekolah bisa main" lanjutnya.

Glek. Biasanya saya akan menelan ludah setelah mendengarnya.

Di lain kesempatan si bapak bercerita tentang pengalamannya menangkap monyet kabur. Ketika itu, di pasar ada sebuah pertunjukan topeng monyet. Entah karena malas atau lapar tiba-tiba saja si monyet itu kabur. Kontan saja para penonton langsung memburunya. Si bapak termasuk ke dalam salah seorang di antara mereka.

Selepas SMP si bapak melanjutkan sekolah ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Kota Kuningan. Sekarang sekolah itu sudah tidak ada dan digantikan oleh SMAN 3 Kuningan. Lucunya, saya juga bersekolah di bangunan bekas sekolah si bapak.

Sekolah itu juga pada zamannya bisa dibilang bukan sekolah pilihan. Sekolah kelas dua. Maklum saja, menjadi guru pada waktu itu adalah hal yang sangat dihindari oleh orang-orang. Jarang ada yang mau menjadi seorang guru. Gajinya kecil. Tidak seperti sekarang. Orang-orang lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke SMA.

Sampai di sini bisa dibilang si bapak tidak keren sama sekali. Tapi pernah suatu kali beliau bercerita, entah dalam rangka melucu atau apa, tentang Bahtera Nabi Nuh dan seekor semut. Saya memang sering didongengi oleh beliau tentang kisah-kisah para nabi tapi ceritanya tentang Nabi Nuh kali ini sungguh berbeda. Waktu itu saya masih kecil dan belum memahami leluconnya. Saya juga baru ingat kembali cerita itu belakangan ini ketika sedang mencoba menulis cerpen.

Ceritanya begini.

"Kamu tahu kenapa setiap seekor semut bertemu dengan sesamanya mereka sering terlihat bersalaman dan saling menyapa?" tanya si bapak. Saya menggeleng. Tidak tahu.

Semua berawal dari peristiwa banjir besar yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Seperti yang dikatakan dalam kitab suci, Tuhan pernah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat kapal yang luar biasa betul besarnya. Kapal itu harus bisa memuat semua orang juga makhluk hidup lainnya karena Tuhan akan mengirimkan sebuah banjir besar.

Nuh melaksanakan perintah Tuhannya. Dia mulai membangun kapalnya yang berukuran sangat besar. Tapi orang-orang di sekitarnya malah mencemoohnya. Menganggapnya sudah gila. Beberapa orang bahkan sengaja berak di kapalnya sebagai tanda ejekan kepada Nuh.

Nuh tetap sabar dan melanjutkan pembangunan kapal itu. Dia juga tetap tidak putus asa untuk mengajak orang agar nanti mau menaiki kapal tersebut. Agar semua orang percaya pada perintah Tuhan. Tapi hanya segelintir saja orang yang mau percaya.

Banjir besar yang diramalkan oleh Tuhan pada akhirnya terjadi juga. Sementara Nuh dan beberapa pengikutnya sudah berada aman di atas kapal, orang-orang yang dulu mencemoohnya tenggelam terbawa arus (termasuk istri dan anak Nuh sendiri).

Tapi rupanya muatan di kapal tersebut terlalu berat. Karena ternyata   semua binatang juga ikut menaiki kapal tersebut. Kapal itu pun oleng dan terancam tenggelam.

Seorang penumpang kapal kemudian bertanya kepada Nuh apa yang harus dilakukannya. Kemudian Nuh memerintahkan kepada mereka untuk membuang barang-barang yang tidak terlalu penting. Mereka mengikuti nasihatnya. Beberapa barang yang dianggap tidak penting mereka buang. Tapi kapal itu masih saja oleng.

Setelah hampir putus asa, akhirnya Nuh mendapat sebuah ide yang sangat brilian. Dia memerintahkan seluruh penumpang kapal tersebut (termasuk binatang) untuk melepaskan alat kelaminnya masing-masing lalu mengumpulkannya dalam karung dan membuangnya. Nanti saat banjir surut karung itu diambil kembali. Mereka mengikuti sarannya dan luar biasa betul kapal itu selamat dan tidak jadi karam.

Masalah baru muncul saat banjir surut dan semua penumpang kapal berebut mengambil alat kelaminnya masing-masing. Tentu saja yang paling sial adalah semut. Karena alat kelamin mereka berukuran sangat kecil jadi ada beberapa semut yang tidak berhasil mendapatkannya kembali. Maka sejak saat itu setiap kali seekor semut bertemu dengan sesamanya mereka terlihat seperti sedang saling menyapa. Padahal mereka bukan saling menyapa, mereka hanya bertanya,

"Eh, kontolmu masih ada nggak?"

Andai saja si bapak menceritakan kisah ini sekarang, saat saya sudah lebih dewasa, sudah tentu saya pasti akan tertawa terbahak-bahak. Tapi waktu itu saya masih kecil, masih belum paham leluconnya. Saya juga tidak yakin apakah waktu itu si bapak sengaja melucu atau sekedar ingin bercerita saja. Tapi sekarang setiap mengingat cerita itu saya selalu cengar-cengir sendiri. Saya tidak tahu dari mana si bapak dapat cerita itu. Tapi selera humornya luar biasa betul bangsatnya. Dan itu keren sekali.

Tidak, saya tidak pernah menyesal seandainya pun si bapak tidak pernah melakukan hal-hal yang bisa dibilang keren. Bagi saya, apa pun yang sudah dilakukannya untuk saya akan tetap saya anggap keren. Tidak peduli seculun apa pun si bapak di masa lalu dia akan tetap menjadi sosok yang paling keren. 

Saya pun berharap demikiam. Semoga di mata si Riry saya akan tetap terlihat sebagai ayah yang keren meskipun mungkin pada kenyataannya saya adalah seorang ayah yang payah.

Yah, semoga saja begitu. Ah, kenapa saya jadi sedih begini sih?


Tambun Selatan, 20 September 2015


Kamis, 27 Agustus 2015

10 Barang Yang Akan Kamu Bawa Jika Rumahmu Kebakaran

Aku baru saja membaca kumpulan tulisan tentang 10 Barang Yang Akan Kamu Bawa Jika Rumahmu Kebakaran di sebuah blog. Agak ironis sebenarnya karena baru seminggu yang lalu kamar kostku kebakaran dan aku tidak sempat memilih-milih barang apa saja yang bisa aku selamatkan. Meskipun tidak ada banyak barang di kamar kostku tapi tetap saja aku harus kehilangan beberapa buku dan beberapa CD musik yang aku suka. Jika saja aku membaca artikel itu sebelum peristiwa kebakaran terjadi mungkin saja barang-barang itu bisa aku selamatkan.

Seandainya saja peristiwa kebakaran itu belum terjadi dan aku harus menyusun daftar tentang 10 barang yang akan aku bawa jika rumahku kebakaran mungkin daftarnya akan menjadi seperti ini :

1. Tas Ransel Berwarna Hijau Lumut Merk Fido Dido

Sebenarnya itu bukan tas ransel juga. Hanya tas gendong biasa. Warnanya hijau serupa lumut dengan beberapa garis kuning dan biru di bagian tepinya. Aku membelinya di sebuah toko buku. Niat awalnya aku hendak membeli buku tapi begitu melihat tas itu aku langsung jatuh cinta. Ada yang bilang kalau kita akan membeli sebuah barang bukan hanya kita yang memilihnya tetapi barang itu juga. Rupanya tas ini memang memilihku. Sepertinya kita memang berjodoh karena tas ini berhasil aku bawa ketika kebakaran itu terjadi.

2. Sepatu Converse Berwarna Biru Navy yang Sudah Buluk

Alasan utamanya adalah karena sepatu ini adalah pemberian ibuku ketika aku berulang tahun yang ke 23. Itu artinya sudah dua tahun sepatu ini menemani kakiku. Bolong di bagian jari kelingking dan warnanya yang semakin buluk karena tidak pernah dicuci adalah bukti kesetiannya. Selain karena sebenarnya aku selalu kesulitan mendapatkan sepatu sesuai dengan ukuran kakiku yang terbilang kecil.

3. Novel Berjudul Kiss Me Again Karya Ciu Cahyono

Sebenarnya ada banyak buku yang ingin aku selamatkan, terutama karya Eka Kurniawan. Tapi buku ini spesial karena ini buku pertama yang aku beli. Aku ingat membelinya di sebuah toko buku kecil di kota lamaku sebelum aku pindah rumah. Tidak ada ekspektasi apa-apa terhadap novel ini. Aku hanya ingin membeli sebuah novel. Titik. Tapi setelah membacanya ternyata aku menyukai ceritanya. Tentang seorang pelacur bernama Pelangi yang jatuh cinta pada salah satu pelanggannya. Si pelanggan, namanya Zaman, cuma datang sekali dan membeli kening Pelangi. Ya, kening. Katanya, kau boleh memberikan semua bagian tubuhmu kepada setiap lelaki asal jangan kening. Menurutku itu lucu dan romantis sih. Tapi ceritanya berakhir tragis. Dan aku menyukai cerita-cerita yang berakhir tragis.

4. Album Longway To Nowhere dari Teenage Death Stars

Agak bingung juga menentukan album musik mana yang layak diselamatkan. Tapi aku memilih album ini. Meskipun lahir dari band yang mengaku nihilis album ini justru menyimpan makna yang sangat filosofis. Yah, setidaknya begitu menurutku.
Hidup ini mungkin saja sama seperti judul album ini, Longway To Nowhere, sebuah perjalanan jauh yang entah ke mana akhirnya dan apa tujuannya. Dan satu-satunya jalan untuk menikmatinya hanyalah dengan bersenang-senang. Seperti musik di album ini. Ugal-ugalan dan penuh hasrat bersenang-senang. Kamu merasa tidak bisa bernyanyi? Tertawalah. Kamu merasa hidup ini tai ucing? Tertawalah lagi.

5. Sebuah Cangkir Bergambar Garfield

Aku lupa menemukan dan membeli cangkir ini dari mana. Yang aku ingat hanyalah alasan membelinya. Aku membelinya karena gambarnya lucu. Seekor kucing. Dan belakangan aku tahu kucing itu bernama Garfield. Aku bukan seorang penggemar kucing, bahkan aku tidak pernah merasa tertarik untuk memelihara hewan (kecuali mungkin burung gagak). Cuma karena gambar kucing di cangkir itu lucu maka aku memutuskan untuk langsung membelinya. Lagipula untuk seorang pecandu kopi sepertiku, mempunyai sebuah cangkir khusus untuk minum kopi rasanya sudah menjadi suatu kewajiban.

6. Pemantik Api Bergambar Cover Album The Velvet Ubderground And Nico

Di dekat stasiun kereta api tempat aku biasa berangkat, terdapat beberapa tukang loak yang sering menggelar lapaknya setiap malam. Rasanya mereka menjual hampir berbagai jenis barang bekas pakai. Dari mulai lukisan, sepatu, alat elektronik hingga perlengkapan memasak. Salah satu barang yang berhasil aku dapatkan adalah sebuah pemantik api berwarna putih dengan gambar pisang di tengahnya. Warna putihnya sebagian sudah luntur, mungkin karena keseringan dipakai. Gambar pisang itu sendiri adalah logo album pertama The Velvet Underground yang dibuat oleh seniman pop art, Andy Warhol.

7. Sebuah Asbak dari Vietnam

Suatu kali, Bu Siti Rohimah, bosku mendapat kesempatan berlibur ke Vietnam. Dia berada di negara itu selama tiga hari. Sepulangnya dari sana beliau membawakanku sebuah asbak sebagai oleh-oleh karena teringat kalau aku seorang perokok. Padahal aku sempat berharap beliau akan membawakanku kaos bergambar palu arit.

8. Kacamata Minus

Tanpa kacamata ini aku tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan sekarang pun penglihatanku sudah mulai tidak jelas meskipun sudah memakai kacamata. Mungkin sudah saatnya berganti kacamata. Hanya saja sampai sekarang aku masih belum menemukan kacamata dengan frame yang cocok.

9. Topi Jerami

Aku selalu mengaku mendapatkan topi jerami ini dari seorang bajak laut. Cerita sebenarnya, aku mendapatkan topi ini dari sebuah toko cinderamata di Kalimantan. Mungkin akan sedikit lebih masuk akal jika aku mengaku mendapatkan topi ini dari salah seorang suku Dayak.

10. Kemeja Hawaii Bekas

Aku memang suka membeli barang-barang bekas. Selain pemantik api yang aku dapatkan di tukang loak di dekat stasiun, salah satu barang bekas yang berhasil aku dapatkan lagi adalah sebuah kemeja Hawaii. Aku mendapatkannya di sebuah toko pakaian bekas di sebuah pasar. Tadinya aku mencari jaket atau celana jins bekas tapi tidak ada. Aku malah tertarik kepada kemeja Hawaii ini dan langsung membelinya.

Itulah daftar dari 10 barang yang akan aku selamatkan jika rumahku kebakaran. Sayangnya daftar itu baru aku susun setelah kamar kost yang aku tempati benar-benar terbakar. Dari daftar yang aku sebutkan tadi hanya ada beberapa barang yang berhasil aku selamatkan, diantaranya adalah tas, sepatu, kemeja dan pemantik api. Sementara buku-buku dan CD musikku semuanya ludes terbakar. Termasuk cangkir bergambar Garfield dan asbak dari Vietnam oleh-oleh dari Bu Siti Rohimah. Aku ingat asbak itu pasti ikut terbakar. Sebelum aku jatuh tidur karena amat mengantuk, aku masih sempat merokok dan menaruhnya di asbak itu. Dan, ya, aku lupa mematikannya.

Kayu Manis, 27 Agustus 2015

Sabtu, 13 Juni 2015

Bagaimana Cholil Mahmud Membunuh Rasa Rindunya Kepada Seorang Perempuan?



Rindu itu mulai dirasakan Cholil Mahmud di hari ke tujuh setelah pertemuannya dengan seorang perempuan di Stasiun Senen. Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja. Sore itu, dia baru saja turun dari kereta yang membawanya ke ibukota saat hujan deras tiba-tiba turun dan menyambutnya. Terlalu deras untuk diterobos, pikirnya. Maka dia arahkan langkah kakinya ke sebuah minimarket. Cholil memutuskan untuk membeli sebungkus kretek, kacang, dan kopi panas untuk menemaninya menunggu hujan reda.

Di lantai 2 minimarket tersebut, sambil membakar kreteknya, Cholil menikmati pemandangan Stasiun Senen yang sedang diguyur hujan. Ada banyak hal yang sudah berubah dari stasiun ini sejak pertama kali dia datang ke sini,  3 tahun yang lalu. Area yang kini dijadikan lahan parkir untuk mobil dulunya penuh dengan para pedagang buku dan majalah, di belakangnya berjejer warung-warung nasi. Cholil ingat dulu dia pernah makan di salah satu warung nasi tersebut dan di sebuah pedagang buku Cholil membeli sebuah kamus bahasa Inggris seharga 30 ribu rupiah dan buku bajakannya Aku karya Syuman Jaya. Kini pedagang-pedagang buku tersebut sudah lenyap, dan sebuah tembok berdiri memisahkan lahan parkir dengan warung-warung penjual nasi. Cholil bingung apakah warung-wrung nasi tersebut masih berjualan atau tidak. 

Lalu matanya menangkap sekumpulan anak kecil yang sedang menawarkan jasa penyewaan payung kepada setiap orang yang lewat. Tapi daripada dibilang sedang menawarkan jasa penyewaan payung Cholil lebih melihat kalau anak-anak itu hanya sedang bermain-main dengan air hujan. Tidak ada raut muka kecewa meskipun tidak ada seorang pun yang berniat menyewa payung dari mereka. Hujan membuat anak-anak kecil itu terlihat lebih ceria daripada biasanya.

Hujan selalu membuat Cholil teringat akan kampung dan masa kecilnya. Rasanya tidak ada hal yang lebih menyenangkan baginya selain bermain ketika hujan turun. Biasanya dia akan bermain mengejar-ngejar perahu yang dibuatnya dari bahan apa saja yang bisa hanyut di got di depan rumahnya yang sering meluap setiap kali hujan turun. Perahu-perahuan yang dibuatnya akan mengalir mengikuti aliran air di got yang memanjang hingga ke ujung jalan. Cholil kecil akan berlari-lari mengejar dan menangkapnya sebelum perahu-perahuan itu hanyut ke sawah di pinggiran kampungnya.   

Atau di lain hujan dia akan bermain sepak bola bersama teman-temannya. Bermain bola saat hujan juga jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan ketika hari cerah. Apalagi jika lapang bermainnya adalah bekas sawah yang baru saja selesai dipanen. Hujan akan membuat lumpur-lumpur di sawah itu menjadi sangat licin sehingga setiap pemain akan kesulitan mengendalikan bola. Jangan harap akan ada pesta gol yang terjadi jika bermain di lapangan seperti itu.

Ingatan Cholil kemudian membawanya kepada sebuah peristiwa lucu yang terjadi pada dirinya dan teman-temannya sewaktu duduk di kelas 6 SD. Waktu itu, hujannya sama deras seperti hari ini. Suasana kelas mulai berisik karena Pak Emon, guru kelas 6, baru saja memberikan sebuah tugas matematika kemudian pergi meninggalkan kelas. Ditengah suasana berisik itu, salah seorang siswa – Cholil ingat namanya si Kutil – tiba-tiba berteriak memberikan sebuah pengumuman,

“woooy, cuang maen bal bae yuuuk?” katanya kepada anak laki-laki yang ada di kelas. Semua anak bengong mendengarnya, termasuk Cholil.

“geus tenang bae, hujan mah sakola ge bebas!” si Kutil berusaha meyakinkan teman-temannya agar menyetujui idenya.

Sampai hari ini pun Cholil masih berpikir kalau itu adalah salah satu ide tertolol yang pernah didengarnya. Sejak kapan sekolah menjadi bebas saat hujan turun? Kecuali mungkin kelas itu hancur tersambar petir. Tapi waktu itu, tidak ada seorang pun yang menolak ajakan Kutil. Hanya ada 2 anak laki-laki yang tidak ikut saat itu. Yang satu karena dia tidak suka sepak bola, yang satu lagi mengaku sedang sakit pada waktu itu. Sisanya, sebanyak 17 anak laki-laki setuju dengan ajakan si Kutil. Maka satu per satu anak keluar dari  kelas dan meloncati pagar sekolah menuju ke sebuah lapangan sepak bola.

Lapangan itu, tentu saja bukanlah lapangan sepak bola sesuai standar internasional, bahkan memenuhi standar nasional pun tidak. Lapangan itu sejatinya adalah sebuah kebun milik Pak Dedi. Ukurannya tidak simetris, panjang sebelah.  Tiang gawangnya adalah sebuah pohon mangga. Karena cuma ada satu, maka sisa satu tiang gawangnya dibuat dari batu atau sendal yang ditumpuk-tumpuk. Tidak ada mistar gawang. Maka jika bola yang meluncur ke arah gawang dianggap terlalu tinggi oleh kiper  hal itu tidak dianggap sebagai gol.

Pertandingan itu, seperti pertandingan bola lain saat hujan, selalu seru dan menyenangkan. Tapi hal yang lebih seru terjadi ketika pertandingan itu selesai dan hujan perlahan-lahan mulai berhenti. Dua anak laki-laki yang tidak ikut bermain saat itu, Cholil mengingat-ngingat namanya, oh iya si Husnan dan si Rudi tiba-tiba datang ke lapangan.

“diteangan siah ku Pak Emon!”  si Husnan berkata dengan muka serius.

“ah, nu bener maneh?” si Kutil tidak percaya dengan apa yang barusan Husnan sampaikan.

“Beneran aing mah” si Husnan menjawab masih dengan muka seriusnya.

“Daek kanjut maneh pindah kana tarang?” si Kutil masih saja tidak percaya.

“Daek sok, mun aing bohong kanjut maneh gede sabelah!” si Husnan balik nantangin sumpah si Kutil.

Semua anak mulai percaya dengan berita yang dibawa oleh Husnan, termasuk juga Cholil. Sepertiya si Husnan serius, tidak sedang bercanda. Semua mata kini tertuju kepada Kutil yang memberi ide awal untuk kabur dari kelas. Kutil kikuk, tidak berdaya membalas tatapan mata teman-temannya. Akhirnya semua anak sepakat untuk kembali ke sekolah, meskipun dengan tubuh yang kotor penuh dengan tanah.

Kisah itu kemudian ditutup dengan adegan dimana 17 anak laki-laki dengan tubuh penuh dengan tanah disuruh push up sebanyak 20 kali di lapangan upacara. 

Cholil tertawa kecil mengingat-ngingat peristiwa itu.

Lamunan tentang masa kecilnya buyar ketika seorang perempuan tiba-tiba menarik kursi yang ada di sampingnya lalu duduk di atasnya. 

“boleh kan duduk di sini?” katanya kepada Cholil setelah pantat kecilnya mendarat dengan mulus di atas kursi.

Wajah perempuan itu seperti anak kecil. Ada sebuah tahi lalat di dagunya. Lensa kacamatanya terlihat buram, mungkin mengembun karena air hujan. Sepatu dan ujung celana jinsnya terlihat basah, seperti juga ujung rambutnya. Ada air yang menetes dari ujung rambut ke wajahnya yang berbentuk bundar. Mungkin dia habis berlari menerobos hujan. Tapi nafasanya tidak terlihat ngos-ngosan.

“boleh kan duduk di sini?” perempuan itu kembali bertanya kepda Cholil. Kali ini dia bertanya sambil nyengir.

“i ii yaa, boleh” kata Cholil, pelan.

Perempuan itu meletakkan tasnya yang berwarna hijau lumut begitu saja di atas meja. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mungkin sedang mengecek beberapa pesan yang masuk, atau hanya sekedar memastikan kalau ponselnya tidak terkena air hujan.

Cholil kembali mengarahan pandangannya ke arah anak-anak kecil yang sedang menjajakan jasa penyewaan payungnya. Tapi kali ini ingatannya tidak kembali ke masa kecilnya. Dia malah memikirkan perempuan yang ada di sampingnya. Perempuan itu lucu, pikirnya. Bagi Cholil, perempuan hanya terdiri dari 2 jenis yaitu, perempuan yang cantik dan perempuan yang lucu. Perempuan cantik tidak selalu enak dilihat. Perempuan lucu, meskipun tidak cantik, pasti selalu enak untuk dilihat. Seperti perempuan yang sekarang duduk di sampingnya.

Cholil mulai berpikir bagaimana cara membuka percakapan dengannya.

“hai namamu siapa?” atau 

“aku Cholil Mahmud, kamu siapa?” atau

“mau kemana?” atau

“boleh pinjem korek api?” dan beberapa kalimat pembuka percakapan lain yang berseliweran di dalam kepalanya.

Tapi semua kalimat itu hanya berseliweran di dalam kepala Cholil. Tidak ada satu pun yang keluar dari mulutnya. Cholil mengutuk dirinya sendiri yang menjadi begitu pemalu. Bagaimana kalau ternyata saat itu Tuhan sedang mengirimkan calon jodoh untuknya. Tentu hal itu akan menjadi sebuah kisah romantis yang bisa Cholil ceritakan kepada anak dan cucunya, bagaimana dulu dia bisa bertemu dengan ibu dan nenek mereka.

“dulu ayah bertemu dengan ibumu saat hujan mengguyur Jakarta dengan mesra” begitu Cholil akan membuka kisah cintanya kepada anak-anaknya.

Tapi semua hanya terjadi dalam imajinasi Cholil. Kenyataannya Cholil masih saja berdiam diri. Hanya ada suara hujan dan asap yang mengepul dari kretek yang Cholil bakar. Sesekali Cholil melirik ke arah perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu masih asik dengan ponselnya. Sesekali ada senyum yang tersungging dari bibirnya. Aduh, manis sekali. Apalagi ada tahi lalat sebesar upil di dagunya.

Tapi Cholil ternyata lebih pemalu dari yang dia pikir sebelumnya. Menit-menit yang berlalu kemudian hanya diisi dengan kesunyian masing-masing. Tidak ada secuil keberanian pun yang keluar dari Cholil untuk sekedar menyapa perempuan yang duduk di sampingnya.

“Bego, ajak kenalan dong?!” diri Cholil yang lain mengutuknya.

Cholil malah semakin kikuk. Lagi-lagi dia melirik ke arah perempuan yang ada di sampingnya, berharap perempuan itu pun melakukan hal yang sama dengannya. Tetapi perempuan itu masih asik dengan ponselnya. Dan Cholil tetap kehilangan keberanian untuk bicara. Tenggorokannya malah terasa kering. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah hujan. Menggaruk-garuk kulit kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

“Tolol! Tolol! Tolol!” diri Cholil yang lain terus mengutuk ketidakberanianya.

Dia menyeruput kopinya yang sudah dingin. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa memunculkan keberanian untuk menyapa perempuan bertahi lalat di sampingnya.

“Aku suka bola mata anak kecil” tiba-tiba perempuan yang duduk di sampingnya bersuara.

Dengan agak ragu Cholil menoleh ke arahnya. Apakah dia sedang berbicara dengannya atau dengan orang lain? Tapi tidak ada orang lagi di situ selain mereka. Ada juga 3 orang laki-laki yang duduk agak jauh dari mereka. Tidak mungkin 3 orang itu akan mendengarnya. Cholil menaikkan alis matanya sebagai tanda kalau dia merasa bingung.

“Iya, aku ngomong sama kamu” kata perempuan itu sambil nyengir

“oh iya, maaf. Haha” Cholil tertawa pahit

“Aku suka bola mata anak kecil. Seperti anak-anak di bawah sana” katanya sambil menunjuk ke arah sekumpulan anak kecil yang dari tadi menyewakan payung.

Bola mata Cholil bergerak mengikuti arah yang ditunjukkan oleh perempuan itu. Dia sudah tahu dari tadi anak-anak kecil itu berkumpul di sana. Tapi dia bingung apa maksud ucapan perempuan itu barusan. Mulut Cholil masih terkunci tidak tahu harus menjawab apa.

“Tolol! Tolol! Tolol!”Cholil lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri. Ketololannya yang pertama adalah karena dia tidak berani memulai sebuah pembicaraan dengan perempuan itu. Ketololannya yang kedua adalah ketika perempuan itu sendiri yang membuka pembicaraan Cholil malah kebingungan harus menjawab apa. Ingin rasanya saat itu Cholil Mahmud menyundut tangannya sendiri dengan rokok yang sedang dihisapnya.

“Omonganku aneh ya?” perempuan itu kembali bertanya. Mungkin dia melihat kebingungan di mata Cholil.

“Ah, nggak kok.” Jawab Cholil sambil tersenyum. Oke, lumayan bisa jawab juga akhirnya, kata Cholil dalam hatinya.

“Oh  iya, kenapa suka dengan bola mata anak-anak?” akhirnya keberanian Cholil muncul. Kalimat itu meluncur dengan lancar dari mulutnya yang dari tadi selalu terkunci.

“Aku juga nggak tahu pasti. Cuma kalau dilihat-lihat bola mata anak kecil itu bening. Tiap melihat sesuatu selalu penuh dengan rasa ingin tahu. Seolah-olah bola matanya itu berkata “waaaw”. Apalagi bola mata bayi” perempuan itu menjelaskan alasannya dengan agak panjang.

Lalu hening. Bukan, Cholil tidak kehilangan keberaniannya. Kali ini dia memang benar-benar kehilangan kata-katanya.

“Ayo dong jawab lagi. Jangan diam, tolol” diri Cholil yang tukang mengutuk kembali muncul, mengejek Cholil yang kehilangan jawaban.

Cholil hanya mengangguk ragu. Dia meraih gelas kopi di sampingnya, berharap rasa kikuknya bisa disembunyikan dengan minum kopi.

“Temanku ada lho yang bisa baca kepribadian orang lewat matanya” kata perempuan itu. Suaranya terdengar antusias.

“Oh iya? Pasti ayahnya dukun ya?” Cholil berusaha menjawab sekaligus melucu. Sebuah lelucon yang garing, anjing! Tapi terpaksa karena tidak ada kalimat lain yang bisa diucapkan olehnya.

Tapi perempuan itu tertawa juga. Entah karena lelucon itu terdengar lucu atau karena Cholil yang berusaha keras melucu malah terlihat lucu olehnya.

“Hahaha. Ya, bukan lah. Dia orang biasa kok. Cuma dia pernah bercerita kalau si A itu tipe pengalah orangnya, atau si B tipe-tipe ambisius. Waktu aku tanya dia tahu darimana, dia jawab tahu dari matanya. Terus aku perhatikan orang-orang yang dia omongin, ternyata bener. Nggak jauh beda. Gitu” jawabnya dengan panjang  lebar, tapi masih penuh antusiasme.

“Keren ya kayak sulap. Hehehe” Cholil mulai bisa mencairkan rasa kikuknya.

“Ya, gitu. Awalnya aku juga nggak terlalu percaya”

“Eh, aku juga bisa sulap lho” kali ini Cholil mulai memberanikan diri untuk mengimbangi perbincangan.

“Ah, masa sih?” perempuan itu terlihat ragu

“Mau lihat?”

“Mau dong, mau dong” nada suaranya selalu terdengar antusias. Cholil merasa senang. Cholil memandang ke dalam bola mata perempuan itu yang berada di balik lensa kacamatanya. Bola matanya seperti anak kecil.

“Lihat baik-baik ya?”

Cholil kemudian menunjukan kedua telapak tangannya ke arah perempuan itu. Perempuan itu menyimaknya dengan serius.

“Lihat tanganku. Kosong kan? Kosong?” Cholil memperlihatkan kedua telapak tangannya.

“Iya kosong” kata perempuan itu. Ada garis-garis keseriusan yang melintas di wajahnya.

“Tanganku kosong. Yang ini juga kosong. Lihat kan? Kosong kan?”

Lalu Cholil diam sejenak,

“Terus?” perempuan itu semakin penasaran.

“Terus... Perutku juga kosong karena belum makan” kata Cholil 

“Hahahaha” perempuan itu tertawa. Cholil merasa luar biasa senang.

“Mana sulapnya?” dia kembali menagih sulap kepada Cholil.

“Iya, yang ini serius nih. Lihat kan kedua tanganku kosong?” 

“Iya, terus?”

“Terus....” kata Cholil menggantung.

“Terus apa?”

“Terus... Dompetku juga kosong karena nggak punya duit”

“Hahahahaha. Sialan ” lagi-lagi ada tawa meledak dari perempuan itu. 

“Tapi itu sih bukan sulap” kata perempuan itu mengejek. Cholil hanya nyengir mendengarnya. Dia memang tidak bermaksud bermain sulap. Itu hanya trik untuk mencuri perhatiannya.

Cholil baru saja berniat mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan ketika ponsel perempuan itu bergetar. Sepertinya ada sebuah panggilan masuk. Perempuan itu mengangkat ponselnya kemudian membelakangi Cholil. Dia berbicara selama beberapa saat. Cholil tidak bisa menyimak perbincangan itu dengan jelas. Hanya ada beberapa kata ya yang keluar dari mulut perempuan itu. Disertai beberapa anggukan kecil. Setelah itu pembicaran berhenti. Perempuan itu segera memasukakan ponselnya ke dalam tas. Dengan sedikit tergesa perempuan itu berdiri.

“Eh, duluan ya?” katanya sambil berlalu meninggalkan Cholil yang masih terbengong-bengong.
Cholil meraih gelas kopi di sampingnya. Anjing, kopinya habis. Dan perempuan itu meninggalkannya begitu  saja.

***

Di hari ke tujuh setelah pertemuannya dengan perempuan itu, Cholil Mahmud bermimpi bertemu kembali dengannya. Pertemuan itu persis seperti pertemuan mereka di Stasiun Senen. Dalam mimpinya mereka berbincang dengan asik sambil menikmati kacang rebus. Kali ini Cholil berhasil memperkenalkan dirinya kepada perempuan itu. Tapi sebelum perempuan itu menyebutkan siapa namanya, Choli keburu terbangun dari mimpinya. Bahkan dalam mimpi pun perempuan itu tidak mau menyebutkan namanya.

Cholil terbangun dengan gelisah. Setelah mimpi itu hatinya dipenuhi rasa gundah. Wajah perempuan itu selalu terbayang-bayang dalam kepalanya. Matanya menjadi sulit terpejam kembali. Sisa pagi itu hanya Cholil habiskan dengan berguling-guling di kasur tanpa bisa tertidur kembali.

Pagi itu semangat kerjanya menurun dengan drastis. Dia bangun dari tempat tidurnya dengan enggan. Setelah air mengguyur  kepala dan seluruh tubuhnya, rasa gundah itu masih tetap saja melekat.  Cholil berangkat kerja dengan malas-malasan. Wajahnya muramnya dia bawa terus sampai ke tempat kerja. 

Cholil memesan secangkir kopi hitam kepada tukang warung langganannya. Kepalanya masih dipenuhi oleh bayangan perempuan itu. Setelah mimpi itu rasanya ada sesuatu yang bolong dalam hatinya. Cholil sulit untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakannya. Rasanya baru kali ini dia merasa seperti ini. Apakah karena perempuan itu? Atau karena mimpi bertemu dengannya?

Seseorang menyapa Cholil dari arah jalan. Teman kantornya. Sapaan itu tidak Cholil jawab. Kemudian dia menghentikan laju motornya di depan warung. Setelah membuka helm dia duduk di depan Cholil dan memesan secangkir kopi hitam sama seperti Cholil.

“Mukamu kusut. Kalah taruhan ya?” katanya sambil membakar sebatang rokok.

Cholil tetap diam. Dia hanya menanggapinya dengan sebuah senyum yang sepertinya dia keluarkan dengan agak terpaksa juga. Temannya tidak terlalu ambil peduli. Dia mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel. Cholil memperhatikan ampas kopi yang mulai turun ke dasar cangkir. Dia masih mengingat perempuan yang ditemuinya di Stasiun Senen, seminggu yang lalu.

***

Malamnya Cholil kembali bertemu dengan perempuan itu dalam mimpi. Kali ini mereka bertemu di warung kopi langganan Cholil. Perempuan itu datang dari arah timur jalan. Mengendarai sebuah sepeda motor matic kemudian berhenti tepat di depan warung. Dia membuka helmnya. Tersenyum ke arah Cholil lalu berjalan menghampirinya.

Dia duduk di hadapan Cholil. Wajahnya cerah. Bola matanya selalu berbinar-binar.Bola mata seorang anak kecil. Cholil senang melihatnya.

“Mukamu kusut. Kalah taruhan ya?” kata perempuan itu. 

Cholil kaget. Rasanya tadi pagi seorang kawan juga menyapanya seperti itu. Cholil lalu memperhatikan wajah perempuan itu dengan seksama. Seperti ada yang berubah. Perempuan itu berkumis! Dan mirip kawannya yang tadi pagi ngopi bareng dengannya di warung. Cholil kaget lalu bangun dari tidurnya.
Setelah itu Cholil kembali tidak bisa tidur. Hatinya semakin bertambah gelisah. Pagi itu dia kembali berangkat kerja dengan dipenuhi perasaan malas.

***

Malam-malam selanjutnya mimpi Cholil selalu dipenuhi oleh perempuan itu. Di salah satu mimpinya mereka bertemu di tepi sebuah danau. Matahari sedang surut di ufuk barat. Lalu mereka berciuman di sana. Seingat Cholil, ada lagu Risalah Hati dari Dewa 19 yang mengalun mengiringi adegan ciuman itu. Tapi perempuan itu belum mau menyebutkan siapa namanya.

Setelah itu, pagi harinya Cholil terserang rasa gelisah yang luar biasa. Dia menjadi malas mandi, malas sarapan dan malas berangkat kerja. Pagi itu dia putuskan untuk tidak masuk kerja. Cholil mengurung diri di kamar kontrakannya. Dia hanya keluar untuk membeli makan dan rokok. Sisa waktunya dia habiskan di kamar memikirkan perempuan itu.

***

Di mimpinya yang lain akhirnya perempuan itu menyebutkan namanya. Tapi begitu Cholil terbangun dia lupa siapa nama perempuan itu. Entah Dini, Rini, atau Marni? Cholil tidak ingat sama sekali. 

Cholil masih tetap gelisah. Sudah 3 hari dia tidak mandi dan tidak berangkat kerja. Dia juga mulai malas makan. Tapi masih rajin merokok. Karena malas pergi keluar Cholil memutuskan membeli satu slop rokok sebagai bahan persedian. Dia akan melanjutkan diri mengurung di kamar. Siapa tahu di salah satu mimpinya perempuan itu akan memperkenalkan diri dan memberitahu dimana alamat rumahnya.

“Kau tidak pernah kelihatan, Bung. Sakit?” seorang tetangga kamar menyapanya ketika mereka berpapasan di pintu. Cholil baru saja pulang membeli kopi. Persediaan kopinya sudah habis.

“Ah, tidak Bung. Hanya sedang malas saja”

“Tapi kau terlihat tidak sehat. Ada masalah, Bung?”

“Tidak, Bung. Tidak ada apa-apa” Cholil meninggalkan tetangganya lalu kembali mengurung diri di kamar.

Malamnya, sesorang mengetuk pintu kamar Cholil. Orang itu adalah orang yang tadi menyapa Cholil. Cholil mempersilahkannya masuk. Tubuh Cholil terlihat lebih kurus. Matanya cekung. Mungkin dia kebanyakan begadang dan kurang makan.

“Aku hanya khawatir kepadamu, Bung” dia menjelaskan maksud kedatangannya.

“Tidak ada apa-apa, Bung” Cholil masih tidak mau bercerita apa pun.

“Cerita saja, Bung. Mungkin aku bisa membantumu?”

Awalnya Cholil merasa ragu untuk bercerita. Tapi kemudian lambat laun dia mulai bercerita tentang perempuan yang ditemuinya di Stasiun Senen. Lalu tentang mimpi-mimpinya yang selalu dihiasi oleh sosok perempuan itu.

“Kau sedang jatuh cinta, Bung!”

“Tidak. Aku hanya merasa rindu kepadanya”

“Rindu adalah tanda seorang sedang jatuh cinta, Bung!”

Cholil tidak peduli apakah dia sedang jatuh cinta atau tidak. Dia hanya merasa sangat rindu kepada perempuan itu. 

“Siapa namanya, Bung?”

“Aku tidak tahu”

“Temui saja langsung. Kau tahu di mana dia tinggal?”

Cholil kembali mengelengkan kepalanya.

“Kalau begitu hubungi saja nomer handphonenya. Kau pasti menyimpannya bukan?”

Cholil kembali menggeleng, “aku tidak punya”

Kawannya merasa heran.

“Kau tidak sedang jatuh cinta, Bung. Kau sakit jiwa” 

Cholil tetap tidak peduli apakah dia sedang jatuh cinta atau sakit jiwa. Yang dia inginkan hanyalah bertemu perempuan itu. Tapi dia tidak tahu di mana perempuan itu tinggal. Dia tidak tahu alamat mana yang harus dituju, dia juga tidak nomor handphone yang harus dihubungi. Bahkan namanya saja dia tidak tahu,  apakah Dini, Rini atau Marni? Atau mungkin bukan ketiganya karena nama-nama yang disebutkan itu hanya didengarnya dalam mimpi.

“Baiklah. Kau bertemu dengan perempuan itu di Stasiun Senen bukan?”

Cholil mengangguk.

“Kalau begitu, tunggu saja di sana. Barangkali perempuan itu kembali lagi ke sana” kawannya memberi sebuah nasihat.

Cholil mengangguk lagi. Nasihat yang cukup bijak.

***

Esoknya Cholil kembali tidak masuk kerja. Pagi-pagi setelah dia bangun, tentu setelah bermimpi bertemu dengan perempuan itu, dia segera mandi. Mengguyur badannya yang sudah satu minggu tidak pernah disiram air. Menggosok daki-daki yang mulai menempel di tubuhnya. Setelah selesai dia berangkat ke Stasiun Senen.

Cholil menunggu di sebuah minimarket di mana dia bertemu dengan perempuan itu untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Dia membeli sebungkus rokok kretek dan segelas kopi panas. Pagi-pagi dia sudah nongkrong dengan manis di lantai 2 minimarket tesebut dengan beberapa orang yang tanpaknya sedang menunggu jadwal pemberangkatan kereta api mereka.

1, 2, 3, 4, 5 jam berlalu dan perempuan itu masih tidak ada. Cholil sudah menghabiskan 3 gelas kopi dan 2 bungkus kretek. Dan orang-orang sudah berganti keluar masuk dan naik turun dari minimarket tersebut. Tapi tidak ada perempuan itu di antara mereka.

Cholil pulang kembali ke kontrakannya selepas lewat adzan Isya. Dia kelelahan. Perempuan itu tidak berhasil ditemuinya. Tapi besok dia akan kembali ke Stasiun Senen.

Besok dan besoknya lagi dan besoknya lagi lalu besoknya lagi Cholil Mahmud kembali menunggu di sebuah minimarket di Stasiun Senen. Tapi hasilnya selalu sama, perempuan itu tetap tidak terlihat. Kali ini Cholil mulai merasa putus asa.

*** 

Tubuh Cholil semakin kurus. Wajahnya terlihat semakin acak-acakan. Rambut dan kumisnya mulai memanjang tak terurus. Keadaanya terlihat semakin mengkhawatirkan. Sudah seminggu ini Cholil  bahkan tidak masuk kerja.

Tadi pagi atasannya menelepon. Cholil hanya berkata kalau dirinya sedang sakit. Mungkin dalam beberapa hari lagi akan sembuh, katanya. Tapi itu cuma alasan. Cholil tahu dia sudah tidak berniat bekerja. Dia kehilangan minat hampir dalam segala hal. Semua gara-gara seorang perempuan yang ditemuinya di Stasiun Senen dan dengan iseng selalu datang dalam mimpinya setiap malam. 

“Perempuan itu waktu kecilnya pasti suka mengisengi orang” kata kawannya.

“Kenapa memangnya, Bung?”

“Karena bahkan dalam mimpi pun dia tidak mau menyebutkan nama dan tempat tinggalnya”

“Asuuuu”

Si kawan, yang sudah 2 tahun tinggal satu kontrakan dengan Cholil mulai merasa khawatir juga dengan keadaan Cholil. Kurang dari sebulan lagi Cholil bisa mati kalau begini terus. Dan dia akan mati penasaran karena perempuan itu. Tidak baik membiarkan seseorang mati dengan membawa rasa penasaran karena hantunya pasti akan selalu gentayangan. Si kawan teringat kepada tetangganya yang pernah mati penasaran. Tetangganya, seorang fans berat Juventus suatu hari mati karena stroke. Sebelum mati dia sangat ingin melihat Juventus kembali juara Liga Champion. Tapi sampai hari ketika Izrail membawa nyawanya, Juventus masih belum juga menjuarai Liga Champions. Hingga hari ini hantu si tetangga masih sering muncul. Gentayangan setiap malam Jum’at memakai baju belang-belang mirip narapidana. Semua do’a dan usaha para pengusir hantu tidak bisa membuat hantu si tetangga tenang di alam kuburnya.

“Dia cuma akan tenang kalau Juventus juara Champions” tetangga yang lain berspekulasi.

“Ah, itu pasti azab. Si Fulan kan waktu hidup kerjanya cuma mengejek klub bola lain. Inter diejek, Milan diejek, MU diejek, Madrid diejek, semuanya dia ejek kecuali Juventus. Makanya pas hidup banyak yang doain jelek. Pas mati jadi nggak tenang di kuburnya” kata tetangga yang lainnya.

Si kawan hanya tidak ingin Cholil bernasib seperti tetangganya. Mati dengan membawa rasa penasaran. Apalagi rasa penasaran ini akibat seorang perempuan.

*** 

 Cholil mulai menulis puisi dan bermain gitar. Semua atas saran dari kawannya yang sudah mulai khawatir dengan keadaan Cholil. Sesungguhnya, mengharapkan Cholil untuk bertemu kembali dengan perempuan itu adalah perkara yang hampir mustahil. Nama dan alamat tinggalnya saja tidak tahu. Mungkin hanya sebuah mukjizat yang bisa mempertemukan mereka kembali. 

“Menulislah, Bung. Semua puisi dan lagu-lagu indah tercipta dari rasa rindu dan patah hati” begitu nasihat dari kawannya. 

“Barangkali, suatu saat perempuan itu akan membaca puisi dan mendengar lagu-lagumu” lanjutnya.

“Kalau tidak?”

“Yah, setidaknya kau bisa terkenal seperti Ahmad Dhani”

Maka Cholil pun mulai menulis puisi dan lagu. Dia mulai memainkan jari-jarinya di atas fret gitar. Meskipun kemampuan bermain gitarnya hanya sanggup bermain di level Em C G D. 

Paginya si kawan sudah menemukan berlembar-lembar kertas tergeletak di lantai kamar Cholil. Dia membaca salah satunya.

Sebuah puisi (mungkin) :
Ada yang rindu
Pada Hari Sabtu
Cuacanya seperti sekarang
Paginya cerah, sorenya hujan
Lalu malamnya aku tidur lelap sekali

“Puisi macam apa ini?” kata si kawan dalam hatinya.

Si Kawan kemudian membangunkan Cholil yang tertidur sambil memeluk gitar. Cholil membuka mata dengan malas. Mungkin dia sedang bermimpi bertemu dengan perempuan itu lagi dan pertemuan itu terganggu karena si kawan membangunkannya. Cholil mengucek-ngucek matanya dan menguap beberapa kali.

“Kau tidak kerja lagi, Bung?”

Cholil menggelengkan kepalanya. Dia meraih sebatang rokok kemudian membakarnya. 
Kawannya kemudian pergi meninggalkan Cholil yang masih menikmati rokok pertamanya.

“Mungkin kau harus ke psikiater, Bung” kata kawannya yang sudah berdiri di muka pintu lalu pergi.

***

Dalam seminggu Cholil sudah berhasil menulis puisi satu buku penuh. Juga beberapa buah lagu. Kadang dia nyanyikan lagu-lagu itu di depan kawannya,

“Ah, yang ini terdengar seperti lagu Armada” kata kawannya mengomentari salah satu lagu yang Cholil nyanyikan.

“Aku pikir seperti Coldplay”

Di lain lagu si kawan bilang kalau lagunya mirip lagu Noah. Yang lain mirip D’massiv. Ada juga yang dibilang mirip dengan lagu Geisha, versi suara cempreng laki-laki. Si kawan kemudian menyadari kalau Cholil tidak berbakat sama sekali dan menulis lagu atau pun bernyanyi.

Cholil sendiri sudah merasa kalau usahanya menulis lagu dan puisi terasa sia-sia. Karena semua yang dilakukannya tidak juga berhasil mengusir rindu kepada perempuan itu pergi dari hati dan kepalanya. Juga mimpinya. Di hari ke 10 Cholil sudah berhenti menulis lagu dan puisi. Dan dia kembali murung.

*** 

“Jika ide ini gagal, aku rela dikebiri!” kata si Kawan kepada Cholil dengan berapi-api.

Malam itu, sepeda motor yang mereka tumpangi sedang melaju menyusuri rel kereta api untuk menemukan sebuah tempat yang dipercaya oleh si kawan bisa menyembuhkan rindu yang diderita oleh Cholil. Awalnya Cholil menolak ajakan itu. Tapi si kawan terus menerus memaksanya. Dia tidak ingin jika Cholil Mahmud harus mati penasaran gara-gara seorang perempuan. Dan dia lebih tidak ingin lagi jika arwah Cholil yang penasaran akan mengganggu malam-malamnya. Cholil pun menuruti ajakan si kawan. Tapi sepanjang perjalanan dia lebih banyak diam.

Setelah menyusuri rel kereta api sepeda motor itu kemudian masuk ke gang-gang sempit. Cholil sudah tidak ingat lagi ada berapa belokan yang mereka lewati. Dirinya juga sudah tidak hapal sedang berada di daerah mana. Yang ada hanya sebuah jalan sempit di antara jejeran rumah yang saling menghimpit. Sepeda motor itu kemudian keluar gang dan melaju lurus di sebuah jalanan besar yang tidak terlalu ramai.  

Setelah 30 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di suatu tempat. Dari luar tempat itu terlihat seperti sebuah pondok indekost dengan pagar besi berwarna hitam yang menjulang tinggi sehingga kau tidak mungkin melompatinya. Tinggi pagar itu sejajar dengan tinggi tembok yang mengelilingi bangunan itu. Tepat di samping pintu gerbang berdiri sebuah gardu kecil. Seorang laki-laki berkumis tebal tampak berjaga di sana.

Si kawan kemudian menepikan motornya dan berjalan menghampiri laki-laki berkumis tebal tadi. Cholil tidak mengikutinya. Dia masih duduk di atas jok sepeda motor sambil menghisap rokoknya. Si kawan terlihat berbicara sebentar dengan laki-laki berkumis tebal tersebut. Laki-laki berkumis tebal itu kemudian membuka pintu gerbang. Si kawan kembali ke tempat Cholil berada dan menyalakan motornya memasuki tempat seperti pondok indekost tersebut.

*** 

 Cholil sedang berada di sebuah kamar di dalam bangunan yang mirip pondok indekost tadi. Kamar itu berukuran  tidak terlalu luas. Dindingnya dicat putih dengan sebuah kipas angin menempel. Di dalamnya hanya terdapat sebuah lemari kayu, sebuah meja tulis dan ranjang. Juga sebuah kamar mandi di samping kanan tempat Cholil duduk. Cholil sedang duduk di atas ranjang. Dia masih membiasakan diri berada di tempat itu. Terutama karena di sampingnya juga duduk seorang perempuan.

Rupanya bangunan seperti pondok indekost itu adalah sebuah rumah bordir. Letaknya memang jauh dari keramaian sehingga tidak terlihat terlalu mencolok. Bangunan itu terbagi menjadi 2 lantai dan beberapa buah kamar. Seorang ibu-ibu paruh baya, yang sempat Cholil dan kawannya temui ketika mereka masuk adalah induk semangnya. Ternyata ini ide yang yang dimaksud oleh kawannya tersebut, yang digadang-gadang bisa menyembuhkan rindu yang diderita oleh Cholil. Mengunjungi rumah bordir, ha! Cholil jadi bertanya-tanya sebenarnya dia atau kawannya yang sedang sakit jiwa.

“Biasanya orang yang datang ke sini selalu terburu-buru” kata perempuan di samping Cholil. Kalimat itu membuyarkan lamunan Cholil. Dia menoleh ke arah perempuan tersebut.

“Sebenarnya, aku nggak berniat ke sini” jawabnya.

“Jadi?” perempuan itu tampak heran.

Cholil diam sejenak.  Dia kemudian berdiri dan menarik sebuah kursi dari dekat meja dan duduk di atasnya. Kini matanya bertatapan langsung dengan mata perempuan yang berada di hadapannya. Cholil mengamati perempuan itu. Kulitnya bersih. Rambutnya panjang sebahu dan berwarna sedikit kecokelatan. Salah satu rambutnya dia jepit dengan jepitan rambut berwarna biru langit. Dan bola matanya bersinar seperti bola mata anak kecil. Kata induk semang yang tadi ditemuinya, perempuan ini adalah yang paling cantik di rumah bordir ini. Tidak, induk semang itu keliru, perempuan ini yang paling cantik sekaligus lucu. 

Cholil mengambil sebuah rokok dari saku celananya. Menawarkan sebatang rokok kepada perempuan yang ada di depannya, tapi perempuan itu menolaknya. Kemudian Cholil membakar rokoknya sendiri. Setelah hembusan asap rokok ketiga Cholil mulai menceritakan alasannya datang ke tempat itu.

“Jadi begitu lah” kata Cholil menutup ceritanya.

“Hahahahaha” perempuan yang ada di depannya tertawa. 

“Kamu lucu”

“Perempuan yang aku ceritakan barusan juga pernah berkata seperti itu”

“Oh iya?” perempuan itu terlihat senang.

“Siapa namamu?”

“Melati”

“Kenapa kerja di sini?”

“Ceritanya panjang”

“Aku punya banyak uang dan waktu luang untuk mendengar ceritamu”

Kali ini giliran Melati yang bercerita tentang masa lalunya kepada Cholil. Cholil menyimaknya dengan penuh perhatian. Menjadi seorang pelacur ternyata tidak sebusuk yang seperti dia bayangkan sebelumnya. Tentu, bisa saja Cholil menyebutnya tidak bermoral atau pun mengutuknya. Tapi jika dia pikir lebih jauh lagi, semuanya tetap berawal dari negara. Kenapa pendidikan begitu mahal? Kenapa lapangan kerja sempit? Lalu jika sudah seperti ini, di mana tanggung jawab negara terhadap warganya?

Lamunan Cholil lagi-lagi buyar oleh suara Melati.

“Menyedihkan ya?”

Cholil hanya tersenyum. Dia tidak bisa berkata apa-apa.

“Tapi rugi juga jika kamu ke sini hanya untuk ngobrol” bola mata Melati menggodanya.

“Aku baru pertama kali datang ke tempat seperti ini. Jadi nggak tahu juga harus ngapain?”

“Kalau begitu, biar aku ajarin” kata Melati sambil medekatkan tubuhnya lalu mencumbu Cholil Mahmud. Aroma tubuhnya seharum bunga melati.

*** 

Mimpi bertemu dengan perempuan di Stasiun Senen mendadak hilang setelah Cholil Mahmud bertemu dengan Melati. Seiring dengan hilangnya perempuan itu dari mimpi Cholil, rasa rindunya pun berkurang sedikit demi sedikit. Hatinya sudah tidak terasa bolong lagi. Mungkin ide kawannya kali ini berhasil.  

Tapi hanya bertahan beberapa minggu mimpi itu kembali lagi menghampiri Cholil dan demam rindunya kembali kambuh. Cholil Mahmud kembali uring-uringan dan gelisah. Dia pikir perempuan itu tidak akan kembali mengganggunya tapi ternyata dia datang lagi. Membawa rindu yang kembali membuat hati Cholil bolong-bolong.

Cholil Mahmud kemudian mengunjungi kembali Melati. Dan ajaib, setelah bercinta dengan Melati rindu itu hilang dan perempuan itu tidak pernah mengganggu mimpinya lagi. Cholil mulai merasa ada sesuatu dalam diri Melati yang mampu memadamkan rindunya kepada perempuan itu.

Selanjutnya menjadi seperti sebuah rutinitas. Jika Cholil sedang merindukan perempuan itu dia akan datang kembali ke tempat Melati dan bercinta dengannya sampai puas. Terus-menerus seperti itu sampai suatu hari Melati berkata kepadanya,

“Rasanya, aku mulai mencintaimu”

Cholil diam saja dan tetap melanjutkan kegiatan percintaan mereka.

Di lain waktu, di tengah percintaan mereka, Melati tetap berkata seperti itu kepadanya.

“Rasanya, aku mulai mencintaimu”

Cholil tetap menganggapnya sebagai sebuah angin lalu. Tapi Melati terus membatu dan terus menerus berkata seperti itu kepadanya.

“Rasanya, aku mulai mencintaimu”

Kali ini Cholil Mahmud menjawabnya,

“Aku tidak mencintaimu”

“Lalu kenapa kamu selalu datang ke sini?”

“Aku hanya merindukan perempuan itu”

“Kenapa setiap kali kamu merindukan perempuan itu kamu selalu datang kepadaku?”
 
Lagi-lagi Cholil diam. 

"Kenapa setiap kali kamu merindukan perempuan itu kamu selalu datang kepadaku?" Melati terus-menerus bertanya. Tapi mulut Cholil tetap bungkam.

Tapi pada suatu hari, entah pada adegan percintaan mereka yang ke berapa akhirnya Cholil Mahmud membuka mulut dan menjawab pertanyaan Melati.

“Perempuan itu pernah bilang, dia suka bola mata anak kecil. Dan bola matamu seperti anak kecil”

Ya, bola matamu seperti anak keci, ulang Cholil dalam hatinya. Dia mengulangnya sambil terus bercumbu dengan Melati. Terus dan terus sampai rasa  rindunya kepada perempuan itu hilang dan sampai suatu ketika, kamar itu ramai dipenuhi oleh orang-orang, juga polisi, setelah seorang ibu-ibu paruh baya menemukan mayat seorang perempuan teronggok di sana. Mayat Melati. Mayat itu masih bersih seolah bukan mati karena pembunuhan, kecuali kedua bola matanya yang sudah tidak berada lagi di tempatnya.

Kampung Melayu, 12 Juni 2015