Kamis, 09 April 2015

Glory Glory Bang Mamat Yang Baik



Ada beberapa nama Rahmat yang saya kenal dalam hidup. Pertama, Rahmat Zulfikar dari Kedawung. Akrab dipanggil Zameth. Dia adalah adik tingkat saya ketika kuliah. Hidungnya mancung seperti orang Arab tapi dia mengaku ukuran tititnya standar orang Asia. Saya tidak tahu pasti karena tidak pernah melihatnya secara langsung. Biarlah urusan ukuran titit Zameth menjadi rahasia antara dia, Tuhan dan pacarnya saja.

Zameth juga mempunyai daya observasi yang aduhai-sangat-jeli-sekali. Bahkan dengan bangga dia menyebut kemampuannya itu dengan sebutan haki observasi. Salah satu kehebatan haki observasi yang dimiliki oleh Zameth adalah dia bisa dengan jeli melihat kalau ukuran payudara Megan Fox di film Teenage Mutan Ninja Turtles lebih kecil dari biasanya. Rasanya, selain saya seorang baru Zameth yang bisa melihat hal remeh-temeh seperti itu.

Saya tidak tahu kenapa saya bisa mengenal Zameth padahal kami berdua tidak pernah ngobrol secara langsung. Sejak saya kuliah sampai sekarang. Saya hanya tahu kalau orang berhidung mancung seperti Arab itu bernama Rahmat Zulfikar yang sering dipanggil Zameth. Hanya itu. Tititk. Komunikasi yang kemudian terjadi diantara kami berdua hanya berlangsun g lewat dunia maya. Meskipun begitu saya merasa sangat akrab dengannya seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisah. Mungkin karena kami sama-sama menggemari komik One Piece, juga memuja Nico Robin.

Tapi sebagai manusia yang normal, kami berdua pun memiliki banyak perbedaan. Zameth adalah penggemar Juventus. Saya sendiri lebih suka Inter Milan. Selain itu, suatu hari saya pernah memberikan sebuah pertanyaan filosofis kepadanya,

“Meth, milih mana : payudara gede dengan pentil kecil atau pentil gede tapi payudaranya kecil?”

Dan Zameth memilih yang pertama. Dia ternyata lebih mementingkan ukuran payudara daripada pentilnya. Saya sendiri lebih suka payudara yang biasa saja (artinya tidak terlalu gede) asal pentilnya gede. Itu favorit saya.

Eh, tapi entah kenapa tulisan  tentang Zameth ini selalu mengarah kepada payudara, payudara dan payudara saja. Sepertinya tulisan tentang Zameth harus saya akhiri sebelum sisa tulisan ini dipenuhi dengan kata-kata yang lebih binal daripada payudara.

Kita beralih kepada Rahmat yang kedua. Namanya Rahmat Solihin. Biasa dipanggil Rahmat. Tapi karena di tempat kerja saya sudah ada seseorang yang bernama Rahmat, maka Rahmat yang ini jadi mempunyai panggilan lain, yaitu Solihin. Tapi saya tetap memanggilnya Rahmat. Pak Rahmat.

Pak Rahmat ini adalah pegawai baru di IBP (Instalasi Bedah Pusat), tempat saya bekerja. Sebelumnya beliau bertugas di Gedung A RSCM. Saya tidak tahu di lantai berapa.

Kedekatan saya dengan Pak Rahmat terjadi karena saya sering ngopi dan merokok bareng di Ruang Kancil. Ruang Kancil adalah sebuah gudang yang disulap menjadi tempat merokok, juga ngopi oleh para petugas cleaning service. Selain tempat para petugas cleaning service berkumpul, Ruang Kancil juga menjadi tempat favorit bagi beberapa orang dokter dan perawat yang mencuri waktu untuk merokok di sela-sela jeda operasi. Saya juga sering mampir ke sana jika sedang menunggu instrumen operasi selesai dicuci.

Di sanalah saya sering bertemu dengan Pak Rahmat. Saya biasanya meminta segelas kopi kepadanya. Istilahnya “kopi boleh minta”. Seperti kata pepatah, “tidak ada kopi yang lebih nikmat selain kopi rasa gratis”.

Tapi kini Ruang Kancil sudah ditutup dan tidak bisa dipergunakan lagi sebagai tempat merokok. Para pelanggan setianya menjadi uring-uringan, termasuk saya dan Pak Rahmat (terutama Bang Anto karena setiap hari dia pasti ngopi dan merokok di sana). Sisi positifnya, hubungan saya dengan Pak Rahmat menjadi semakin akrab. Karena Ruang Kancil ditutup, maka jika kami berdua pulang lebih awal, kami akan menyempatkan diri mampir ke warung kopi untuk sekedar menikmati kopi di sore hari. Di warung kopi pun Pak Rahmat masih saja tetap mentraktir saya kopi. Duuh, saya jadi enak.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, di IBP, selain Pak Rahmat Solihin ada seorang lagi yang bernama Rahmat. Pak Rahmat yang satu ini bisa dibilang sesepuhnya IBP. Panggilannya juga khusus, si Abah, mengingat usianya yang sudah tua. Mungkin sebentar lagi pensiun. Si abah adalah Rahmat ketiga yang saya kenal.

Saya tidak terlalu akrab dengan Pak Rahmat yang satu ini. Mungkin karena perbedaan usia kita yang terlampau jauh sekali. Tapi saya kasih sedikit info, Si Abah baru saja pulang melaksanakan ibadah Umroh. Makanya kemarin saya (juga pegawai IBP yang lain) dikasih oleh-oleh buah kurma oleh si Abah. Sekali lagi, duuuh saya jadi enak. Oh iya, tadinya malah saya mau minta air Zam Zam. Tapi niat itu saya urungkan karena takut air Zam Zamnya KW. 

Rahmat yang terakhir adalah Rahmat Zaelani dari Desa Balerante. Saya sudah sangat akrab sekali dengan Rahmat yang satu ini karena dia adalah teman sekelas saya ketika kuliah. Nomor absennya persis sebelum nomor absen saya. Motornya ketika kuliah adalah Yamaha Mio berwarna hitam yang bersuara nguiiiiiiiiing kalau berjalan. Setelah bekerja motornya berganti menjadi Yamaha Vixion. Pacarnya ketika kuliah adalah Ayu Si Jane. Setelah bekerja dia ditinggal kawin oleh Ayu Si Jane. Tapi tak masalah, sebab sebentar lagi Bang Mamat juga akan menikah. Sepertinya, Rahmat Zaelani bukanlah tipe laki-laki yang susah move on seperti Yosie Rivanto.

Karena sebentar lagi Rahmat Zaelani akan menikah, maka catatan ini saya khususkan untuk dirinya. 

Meskipun bangga dengan namanya, tapi tidak ada seorang pun teman sekelasnya yang memanggil Rahmat Zaelani. Bagi kami di kelas hanya ada satu nama panggilan buat Rahmat Zaelani, yaitu Bang Mamat. Bagi saya pribadi, namany a malah menjadi lebih khusus lagi. Karena dia adalah orang yang baik (definisi baik menurut saya adalah orang yang suka membantu orang lain) maka saya memanggilnya Bang Mamat Yang Baik. Tapi namanya juga manusia, Bang Mamat Yang Baik pun terkadang suka bersikap menyebalkan, maka namanya pun berubah lagi menjadi Bang Mamat Yang Baik Tapi Brengsek. Itulah nama lengkapnya. Setelah membaca tulisan ini, kau bisa memanggilnya dengan panggilan Bang Mamat atau Bang Mamat Yang Baik atau Bang Mamat Yang Baik Tapi Brengsek.

Kau akan sangat mudah mengenali Bang Mamat. Badannya gemuk. Tinggi besar. Suaranya  tidak kalah berat seperti badannya. Seperti suara Sinchan. Saya bahkan curiga Bang Mamat adalah pengisi suara Sinchan yang kartunnya suka saya lihat setiap hari Minggu jam 10 pagi. Yang juga khas dari Bang Mamat adalah tahi lalat yang menempel di dagunya. Tahi lalat segede upil.

Setahu saya, Bang Mamat memeluk 3 agama selama hidupnya. Islam, Persib Bandung dan Manchester United. Saya tidak tahu manakah dari ke 3 agama tersebut yang paling diimani oleh Bang Mamat. Hanya saja, barangkali suatu saat kau bertemu seseorang bertubuh gemuk dan bertahi lalat segede upil di dagu sedang memakai jersey Persib atau Manchester United harap disapa saja. Barangkali itu adalah Bang Mamat. Siapa tahu setelah menyapanya kau akan diberi duit karena dia adalah Bang Mamat Yang Baik. Kalau pun tidak diberi duit ya tidak apa-apa juga karena dia adalah Bang Mamat Yang Baik Tapi Brengsek.

Tapi yang paling melekat dalam benak saya tentang Bang Mamat adalah motor Yamaha Mionya. Motor itu, entah memakai teknik apa, jika berjalan akan mengeluarkan bunyi nguiiiiiing yang bisa kau dengar dari radius 500 meter. Jika sedang duduk-duduk di parkiran kampus lalu saya mendengar suara nguiiiiing dari kejauhan maka bisa saya pastikan itu adalah tanda kedatangan Bang Mamat. Jika binatang menandai teritori kekuasaannya dengan kencing, maka Bang Mamat menandai kedatangannya dengan suara nguiiiiiiing.

Sebenarnya, pemandangan Bang Mamat sedang mengendarai Yamaha Mio itu kurang cocok untuk dilihat. Bayangkan saja, motor Mio yang berukuran mungil ditumpangi oleh Bang Mamat yang segede kebo. Tidak pas. Tapi Bang Mamat bisa bertahan dengan motor itu selama 3 tahun lebih.

Pernah suatu kali saya melihat Bang Mamat dengan motor Mionya melaju dari kejauhan menuju ke tempat saya berada. Dari jauh saya hanya melihat Bang Mamat seorang yang sedang mengendarai motornya. Tapi setelah sampai di hadapan saya, saya baru tahu kalau Bang Mamat sedang membonceng si Cacing. Sialan, badan Bang Mamat yang besar bahkan bisa menyembunyikan badan kurus si Cacing yang diboncengnya.

Motor Mio Bang Mamat adalah salah satu contoh kebaikan yang diberikan olehnya kepada saya. Juga kepada beberapa orang teman saya yang lain yang suka meminjam motornya. Waktu saya kuliah memang hanya ada 2 orang yang motornya seringkali dipinjam. Pertama motornya Mas Maung. Dan yang kedua adalah motornya Bang Mamat. Sebenarnya ada satu motor lagi tapi sulit sekali untuk meminjamnya. Motor itu adalah motor milik A Wowo. Motor milik A Wowo sulit sekali untuk dipinjam. Bukan karena A Wowo pelit tapi karena setiap malam A Wowo selalu pergi berkencan dengan pacarnya memakai motor itu. Saya yang saat itu masih jomblo dan baru ditolak oleh Lilis sering gugulunuk sendiri dalam hati kala melihat A Wowo melintas bersama pacarnya.

“tai ucing. Belagu nih orang mentang-mentang punya pacar” begitu kata saya dalam hati karena iri sama A Wowo.

Kebaikan Bang Mamat yang lain yang bisa saya tuliskan di sini adalah tentang laptopnya. Laptop itu, suatu kali ketika kami sedang praktek Keperawatan Jiwa di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, pernah dipakai untuk bermain play station. 

Waktu itu kami merasa bosan karena tidak ada hiburan di asrama tempat kami menginap. Karena laptop Bang Mamat yang paling kompatibel saat itu, maka diputuskan untuk menginstal game Pro Evolution Socer di laptopnya. Lazimnya game itu dimainkan di perangkat play station tapi karena tidak ada yang mempunyai play station maka game itu cukup diinstal di laptop milik Bang Mamat.

Awalnya semua terjadi biasa saja. Tapi karena setiap malam laptop itu dipakai terus-terusan maka suatu hari laptop itu pun rusak. Tidak bisa menyala lagi. Mati total. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Bang Mamat saat itu. Mungkin saja dia tidak marah dan bersikap biasa-biasa saja karena dia adalah Bang Mamat Yang Baik. Tapi mungkin saja dia marah dan gugulunuk dalam hati karena dia juga adalah Bang Mamat Yang Baik Tapi Brengsek. Tapi waktu itu saya tidak terlalu merasa bersalah kepadanya, karena toh yang ikut bermain bukan hanya saya seorang. Bahkan Bang Mamat sendiri pun ikut bermain.

Satu-satunya yang membuat saya merasa berdosa kepada Bang Mamat adalah sebuah peristiwa yang juga terjadi ketika saya praktek di RSJ Marzoeki Mahdi Bogor. Peristiwa itu terjadi di malam hari. Saya dengan sengaja dan penuh kesadaran diri pernah mencoret-coret kolor putih milik Bang Mamat. Dan itu bukan coret-coret biasa. Saya menggambar penis tepat di bagian kolor yang menutupi penis Bang Mamat.

Malam itu, ketika Bang Mamat tertidur lelap saya diam-diam mendekatinya. Di tangan saya sudah ada sebuah spidol hitam. Target saya bukan muka atau bagian perut Bang Mamat. Tapi kolor putih yang saat itu dipakainya. Dengan jiwa seni yang adiluhung kemudian saya mulai berkonsentrasi menggambar penis di kolor itu. Sreeet sreeet sreeet. Kun faya kun, maka jadilah gambar sebuah penis lengkap dengan peler (nama ilmiahnya : skrotum) dan sedikit bulu-bulunya. Dalam hati saya tertawa puas. Hahahaha 

Yang tidak saya sadari adalah spidol yang saya gunakan adalah spidol permanen. Gambar penis itu tidak bisa hilang berapa kali pun dicuci.  Bang Mamat pun sampai merasa putus asa. Saya merasa berdosa. Dan lebih berdosa lagi ketika membayangkan apa reaksi mamahnya Bang Mamat ketika mencuci kolor tersebut. Semoga saja mamahnya Bang Mamat tidak merasa menyesal sudah menguliahkan Bang Mamat di akper tapi kerjanya hanya bisa menggambar penis di kolor. (Maafkan saya, Mamahnya Bang Mamat).

Akhirnya kolor putih itu harus pensiun dini. Setelah gambar penis itu tidak bisa dihapus kolor itu tidak pernah Bang Mamat pakai lagi (ya malu juga keleeeuuuuus make kolor yang ada gambar tititnya).

Itulah 2 contoh kebaikan yang pernah Bang Mamat berikan kepada saya. Kau pun jika sudah mengenalnya mungkin akan menemukan kebaikan-kebaikan lainnya.

Jika memikirkan kembali peristiwa kolor itu saya selalu tersenyum-senyum sendiri. Hidup memang lucu. Tuhan pasti Maha Woles.

Yang juga lucu adalah ketika saya menulis catatan ini saudara Mul mengabarkan kalau Bang Mamat akan melaksanakan akad nikahnya besok. Tapi ketika saya konfirmasi ulang kepada Bang Mamat ternyata itu bukan akad nikah, hanya sebuah acara syukuran saja. Syukuran karena mungkin akhirnya Bang Mamat bisa nikah juga. Dulu juga saya sempat ragu apakah Bang Mamat masih berhasrat melanjutkan hidup setelah ditinggal kawin oleh Ayu Si Jane.

Ah, tapi rupanya saya tak perlu merasa khawatir. Sebab tanggal 5 Mei nanti Bang Mamat akan mempersunting seorang gadis pengganti Ayu si Jane.  Sebagai bentuk balas budi terhadap kebaikan Bang Mamat yang suka meminjamkan motornya kepada saya, saya akan berusaha keras untuk hadir di acara resepsi pernikahannya. Meskipun itu artinya saya harus bolos kerja dan siap-siap menerima omelan dari Mpok Ati dan Bu Uci.

Tapi hari ini, saya rasa  cukup dengan mengirim tulisan ini khusus buat Bang Mamat.

Glory Glory Bang Mamat Yang Baik.




Kampung Melayu, 08 April 2015


Catatan :

Gugulunuk : dari Bahasa Sunda artinya menggerutu

Jumat, 20 Februari 2015

Untuk Kurt Cobain di Alam Kubur dan Gus Ipunk di samping Kamar



Untuk Kurt Cobain di alam kubur.

Halo, Kurt? Apa kabar? Gimana rasanya di alam kubur? Kata ibuku kalau kau tidak pernah ngaji maka di alam kubur tidak akan ada cahaya, gelap gulita. Bener gak? Wah bisa bahaya nih kalau beneran. Soalnya, pertama aku tidak pernah ngaji. Kedua, kemungkinan besar kau tidak akan membaca suratku dari dalam kubur sana karena gelap. Tapi kau kan sudah jadi hantu, masa gak bisa baca surat ini dari alam kubur sana? Atau jangan-jangan ketika aku mengetik surat ini pun kamu sedang duduk di belakangku dan ikut membacanya? (kebetulan sekali pas aku lihat ke belakang ada postermu sedang merokok, hai Kurt).

Kurt, taukah kau ketika singel Smells Like Teen Spirit pertama kali dirilis, usiaku baru 1 tahun 5 bulan. Juga, ketika mayatmu ditemukan dengan luka tembak di kepala (sebenernya kau bunuh diri apa ditembak sih?) usiaku masih 4 tahun kurang sebulan. Jadi baru bertahun-tahun kemudian aku tahu dan mendengar lagu-lagumu. Tepatnya aku lupa. Mungkin sekitar kelas 1 atau 2 SMA. Waktu itu aku sedang berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Mobil itu berhenti di sebuah pom bensin di depan SMP 4 Kuningan untuk mengisi bensin. Dari radio yang menyala di pom bensin itulah aku lamat-lamat mendengar intro Smells Like Teen Spirit. Lagunya nempel di kepala, tapi aku belum tahu kalau itu adalah lagumu yang paling terkenal. Sebenernya, sebelum peristiwa di pom bensin itu pun aku sering sekali melihat nama dan bandmu, biasanya dalam bentuk stiker atau kaos. Di jendela rumah Om ku ada stiker bergambar logo smile yang lagi teler dan tulisan nama bandmu, Nirvana. Atau di kaos temenku si Jaja, ada tulisan Kurt Cobain, lagi-lagi dengan logo smile yang lagi teler. Tapi pengetahuanku cukup sampai disitu, aku terlalu malas untuk mencari-cari apa itu Nirvana dan siapa itu Kurt Cobain. Hingga suatu hari aku membaca sebuah artikel tentang Nirvana di sebuah majalah musik yang berisi kord-kord gitar dan tanpa sengaja mendengar Smells Like Teen Spirit di pom bensin.

Dari situlah aku akhirnya memutuskan untuk membeli kaset Nirvana. Tapi sebelum membeli kasetnya aku membeli sebuah vcd bajakan yang berisi konser-konser Nirvana. Aku mencari-cari Smells Like Teen Spirit tapi hanya nemu sepotong, itu pun ketika bandmu bermain lypsinc di sebuah acara. Kau bernyanyi dengan suara aneh. Belakangan aku tahu kalau waktu itu kau sedang meniru cara bernyanyi Morrisey. Pantas saja suaramu berbeda. Waktu kuliah aku membeli dvd original dari konser-konsermu itu, judulnya Live! Tonight! Sold Out!.

Tapi kemudian kaset Nirvana yang pertama kali aku beli bukanlah album Nevermind, melainkan album great hits Nirvana yang memuat lagu terakhir yang kau rekam, You Know You’re Right. Tapi dari situ pun aku sudah terpesona. Smells Like Teen Spirit sukses mebuatku berujar, “anjiiiiiiing aing kudu ngeben nih!”. 

Aku pun mulai ngeband, Kurt. Dengan skill dan suara yang ala kadarnya, aku bermain bersama 2 orang kawan SMPku, Egie Praditya Mulyana dan Yudi Yudistira. Egie pemain bass. Sengaja aku pilih karena aku tahu ayahnya adalah seorang pemain bass profesional di sebuah orkes dangdut. Lalu si Yudi adalah drummernya. Main drumnya keren kayak Dave Grohl, padahal dia otodidak. Tapi band itu tidak berumur panjang. Bubar gitu aja pas aku kuliah.

Pas kuliah aku masih tetap suka ngeband. Kali ini rada serius, nama bandnya The Awas Angkot. Nama itu terinspirasi ketika aku sedang naik angkot D7 yang ugal-ugalan. Personilnya adalah aku, Cacing, Omesh, Bayu dan Urank. Tapi kemudian si Urank digantiin posisinya sama si Obeth. Dia adek kelas waktu kuliah, tapi untuk urusan musik dia sangat jago sekali. Makanya terkadang aku suka memanggilnya Om Guru. The Awas Angkot tercatat pernah 2 kali manggung. Pertama di sebuah acara di Grage Mall, yang aku lupa lagi apa nama acaranya. Kedua, di acara perpisahan kelas waktu aku mau lulus kuliah. Seperti namanya, mainnya juga ugal-ugalan. Udah disuruh berhenti sama panitia karena waktunya abis tapi terus aja maen. Tapi The Awas Angkot gak pernah bawain lagu-lagu Nirvana, Kurt. Vokalisnya, si Cacing anak britpop baget, jalannya aja udah kayak Liam Gallagher.

Tapi  yah akhirnya The Awas Angkot bubar juga pas aku lulus kuliah. Dan sampe sekarang aku belum punya band lagi. Pernah sih nngajakin si Arap Paong buat ngeband lagi, sampe bikin iklannya segala. Tapi gak ada yang mau tampaknya. Urip terkadang memang mengkenen temen, Kurt. Mungkin sama seperti hidupmu.
Ngomongin masa-masa kuliah aku jadi ingat kepada kawanku yang lain, yang ternyata tanggal lahirnya sama dengan tanggal lahirmu. Dia adalah Moch. Saeful Arief. Kawan-kawan yang lain memanggilnya Ipul. Tapi aku lebih suka memanggilnya Ipunk. Biar terdengar seperti anak punk. Kalau kau mengenalnya kau juga pasti akan memanggilnya  Ipunk. Kau suka punk juga kan? Dari yang pernah aku baca sih katanya kau suka Sex Pistols, band punk kesohor asal Inggris sono. Meskipun begitu, si Ipunk ini aku kira lebih cocok menjadi seorang ulama daripada menjadi seorang anak punk. Sholatnya rajin. Karena itu di depan namanya aku tambahain kata Gus, biar jadi lebih mantap. Gus Ipunk.

Kurt, dalam beberapa hal sepertinya aku punya bakat untuk merepotkan orang lain. Salah satu caranya adalah dengan menginap di rumah orang lain. Waktu kuliah, rumah yang paling sering aku hinggapi untuk menginap adalah rumahnya Gus Ipunk. Karena lokasi rumahnya adalah yang terdekat dari tempatku ngekost. Kadang, kalau aku sedang merasa bosan di kosan aku akan pergi dan menginap di rumah Gus Ipunk.  Paginya, biasanya aku sudah disuguhi sepiring nasi kuning oleh Gus Ipunk yang selalu bangun lebih awal dari pada aku.

Punya teman itu menyenangkan, Kurt. Kalau sedang sumpek, rumah Gus Ipunk adalah tempat untuk menenangkan pikiran. Kau tak perlu bercerita apa-apa, Kurt. Cukup datang dan rasanya masalahmu akan hilang sendiri. 

Aku pernah bertanya kepada Gus Ipunk, “Punk, jodoh itu orang yang kita nikahi dan hidup selamanya bersama kita ataukah orang yang selalu kita cintai sepanjang hayat?” . Kau tahu apa jawabnya, Kurt? Gus Ipunk menjawab, “jodoh adalah orang yang kita nikahi dan habiskan waktunya bersama kita sepanjang hidup”. Lalu dia melanjutkan, “orang yang kita cintai di dunia tapi tak bisa kita miliki akan menjadi jodoh kita di akherat”. Entah saat itu dia sedang menghiburku atau menghibur dirinya sendiri (kita mempunyai nasib yang tidak jauh berbeda soal asmara) tapi yang jelas kalimat itu cukup menghibur perasaanku. Meskipun untuk keberadaan akherat sendiri aku masih ragu. 

Gus Ipunk sendiri sekarang sudah menikah dan kini kost tepat di samping kamarku. Sekarang dia bekerja di Kedutaan Besar Amerika. Jam kerjanya terdiri dari 2 shift, pagi dan malam. Shift pagi dimulai dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore, shift malam dari jam 5 sore sampe jam 2 pagi. Setiap 1 minggu dari sebulan dia akan kebagian shift pagi. Dan setiap 1 minggu dalam sebulan juga aku akan bangun pagi bukan karena bunyi alarm, tetapi bunyi ketukan di pintu kamar dan sebuah suara yang memanggil-manggil,

“Cruuut, udah bangun belum? Mau berangkat bareng gak?”

Itu adalah suara dari Gus Ipunk, Kurt. Kalau sudah mendengar suara itu biasanya aku akan segera bangun dan langsung meluncur ke kamar mandi. Lalu kami akan berangkat kerja bersama-sama.

Tapi momen-momen itu mungkin akan segera berlalu, Kurt. Gus Ipunk sudah berencana untuk pindah kosan. Kosan ini memang sengaja Gus Ipunk gunakan untuk program bikin dede saja, karena di kosan sebelumnya program bikin dede itu sulit untuk terlaksana. Kini setelah program bikin dedenya sukses Gus Ipunk akan kembali meninggalkan kosan ini. Itu tandanya aku harus kembali berpisah dari Gus Ipunk.

Punya teman itu menyenangkan, Kurt. Meskipun yah kita juga sama-sama tahu, terkadang sendiri itu lebih asyik. Tapi menurutku ada saat dimana kita juga membutuhkan teman untuk berbagi. Entah cerita atau hanya sebatas canda atau hanya sebatas untuk hadir.

Tapi mungkin itu hal yang sangat sulit buatmu. Hingga akhirnya kau memutuskan untuk bunuh diri. Aku tidak akan menyalahkanmu sih,karena memang aku tidak tahu rasanya hidup sepertimu. Kau pun juga tidak akan tahu rasanya hidup sepertiku. 

Hidup terkadang memang menyebalkan sih. Atau kalau dalam istilahku, urip mengkenen temen. Apalagi membayangkan hidup sepertimu, yang pernah aku baca dari biografimu yang berjudul Heavier Than Heaven tulisannya Charles R. Cross. Disitu kadang aku merasa sedih. 

Tapi Kurt, sebenernya kalau kau tahu aku sendiri lebih suka melihat dirimu yang ceria, senang dan penuh senyum. Seperti saat Nirvana bermain di acara MTV Unpludged New York. Atau seperti Gus Ipunk. Selama kenal dengan Gus Ipunk aku perhatikan dia tidak pernah terlihat sedih. Kelihatannya selalu senang saja. Kadang aku suka iri juga, gimana caranya bisa merasa senang terus setiap hari ya?

Mungkin itu hal yang sangat sulit buatmu, Kurt. Apakah setelah kamu bunuh diri kamu merasa lebih baik? 

Tapi yah sudahlah, bener seperti yang pernah Dave Grohl bilang, lebih mudah mengingatmu ketika duduk berlama-lama membuat musik daripada mengingatmu dengan bersedih. Tadi malam aku sengaja menonton videomu di Youtube ketika Nirvana mengcover lagu milik Terry Jacks, Season In The Sun ketika kau bermain drum sambil bernyanyi, sementara Krist bermain gitar dan Dave Grohl bermain bass. Itu juga salah satu favoritku. Alasannya hanya satu, di video itu entah kenapa kau terlihat bergembira sekali. Aku dan Arap Paong, sebagai fans beratmu (juga sebagai laki-laki lemah), selalu meneteskan air mata setiap kali melihat video itu. 

Dan untuk menutup surat ini, izinkan aku menyanyikan bagian reffnya untukmu,

We had joy, we had fun, we had seasons in the sun
But the hills that we climbed were just seasons out of time

Selamat ulang tahun, Kurt Cobain dan Gus Ipunk

Kampung Melayu, 20 Februari 2015

Senin, 26 Januari 2015

Cholil Mahmud dan Seekor Kucing yang Tidak Bisa Ereksi



Tepat pada malam ke 20 di Bulan Ramadhan, Cholil Mahmud datang ke rumahku. Dan dia akan rutin datang di tujuh hari seterusnya. Tidak peduli apakah malam itu aku sedang berada di rumah atau masih melaksanakan sholat taraweh di mesjid, Cholil Mahmud pasti datang, dengan sebungkus Marlboro merah dan Teh Botol kemasan pastik yang dibelinya di Alfamart atau di warung Mbip. Jika Teh Botolnya habis kadang aku menyuguhinya secangkir kopi. Tapi lebih sering dia akan meminjam motorku untuk membeli lagi Teh Botol. Dia mengaku sudah kecanduan Teh Botol. Gejalanya mirip seperti Hasief Ardiasyah yang kecanduan Coca Cola.

Jika aku belum tiba di rumah dia akan menunggu sambil duduk-duduk di teras dan bermain-main dengan Ocil, kucingku yang ternyata impoten. Aku tahu Ocil impoten karena setiap kali didekati kucing betina dia selalu uring-uringan, seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Setelah aku periksa ternyata kemaluannya tidak bisa ereksi. Mungkin karena pertarungannya dengan kucing kampung milik tetangga tempo hari. Urusannya sepele. Si kucing tetangga itu masuk rumah dan mengambil kepala ikan. Ocil yang melihat kejadian itu merasa tidak bisa tinggal diam. Pertarungan antara keduanya pun tak bisa terelakan lagi. Saling cakar mewarnai pertarungan tersebut. Tapi dasar kucing rumahan Ocil pun kalah. Kemaluannya terluka kena cakar. Dia sempat menjerit keras sekali. Setelah itu aku tahu kemaluannya tidak bisa ereksi. Aku sebagai tuannya merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu ada dokter hewan tapi aku tidak pernah mendengar ada On-Clinic khusus hewan. Untuk membantu menghilangkan kesedihannya kadang aku memberinya jatah makan yang lebih banyak. Juga membeli banyak judul dvd film horor di pasar untuk kita tonton bersama. Aku harap dengan itu kesedihan Ocil bisa berkurang. Setidaknya dia masih punya kepercayaan diri untuk bisa mendekati kucing betina. Semoga.

Tapi semenjak Cholil Mahmud dengan rutin datang ke rumahku Ocil terlihat kembali bersemangat untuk menjalani hidup. Setiap kali Cholil datang Ocil pasti akan mendekat ke arahnya. Mungkin nalurinya mengatakan kalau mereka menanggung beban kepedihan yang sama. Meski aku tidak pernah melihat mereka mengobrol tapi aku yakin mereka sedang berbagi porsi kesedihannya masing-masing. Cholil yang terluka karena patah hati, Ocil yang berduka karena tidak bisa ereksi. Lalu mereka berdua (Cholil dan Ocil) akan mendengarkan lagu dari speaker Mito milik Cholil bersama-sama. Favoritnya di bulan ini adalah lagu Benang Biru dari Meggy Z. Itu aku tebak secara sembarangan saja karena lagu itu yang paling sering diputar olehnya. On heavy rotation, istilah yang agak kerennya.

Aku sendiri sudah mengenal Cholil sejak kecil. Sebenarnya dia lebih tua tiga tahun dibanding denganku. Cuma karena rumahku yang dulu (sekarang sudah pindah ke rumah yang baru) berdekatan kami jadi sering bermain bersama. Dari Cholil juga aku tahu pertama kali tentang coli. Dari Cholil juga aku tahu rasanya Anggur Merah Cap Orang Tua. Di rumah Cholil juga aku pertama kali menonton film bokep. Judulnya Tarzan-X. Scene yang aku suka ketika si Tarzan ngewe di kandang kuda. Dari Cholil aku mendapat banyak pelajaran berharga. Cholil memang seorang senior yang baik.

“Nih enak nih, Ki” katanya kepadaku di belakang mushola sepulang mengaji. Dia kemudian mengeluarkan sebuah majalah berisi foto-foto cewek telanjang sambil mengusap-ngusap tititnya. Aku pun disuruh mencobanya. Awalnya terasa aneh. Makin lama makin enak dan tiba-tiba saja aku merasa ada serbuan cairan yang mendobrak ingin keluar dari tititku. Setelah itu aku merasa lemas. Juga ketagihan. Itu pertama kali aku coli. Dibawah bimbingan langsung Cholil Mahmud. Itu terjadi kira-kira 12 tahun yang lalu.

Tepat pada malam ke 17 di Bulan Ramadhan Cholil Mahmud mengirimiku sebuah pesan singkat. Isinya mengabarkan kalau kisah asmaranya dengan Rohimah kandas. Rohimah, pacar Cholil selama 3 tahun ini rela meninggalkannya demi lelaki lain. Lelaki yang lebih menyukai David Guetta dibandingkan dengan Meggy Z. Lelaki yang lebih menykai clubbing daripada menonton orkes dangdut pimpinan Bapak Didi Supardi Spd. Begitulah yang Cholil ceritakan kepadaku. Dan itulah salah satu alasan kenapa di minggu terakhir Ramadhan ini dia rutin menyambangi rumahku.

Rohimah yang aku kenal adalah seorang gadis manis anaknya Pak Emon. Dia adik kelasku ketika SD. 2 tahun dibawahku.  Sebenarnya kami masih tinggal di satu desa, hanya saja berbeda blok. Aku dan Cholil di Blok Wage. Rohimah di Blok Pahing. Tapi semua warga desa seharusnya mengenal Rohimah, ayahnya adalah salah seorang tokoh yang disegani di desaku. Pak Emon pernah menjadi anggota legislatif daerah. Jalan lingkungan yang diaspal plus gapura megah di setiap pintu masuk gang adalah salah satu persembahan Pak Emon ketika beliau menjabat sebagai anggota dewan.

Aku tidak begitu dekat dengan Rohimah. Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolahnya di luar kota. Aku hanya kadang bertemu dengannya apabila dia sedang pulang kampung. Itu pun hanya sebatas bertegur sapa saja. Maka aku merasa kaget ketika Cholil cerita bahwa dia sudah jadian dengan Rohimah.

Cholil cerita kalau awal kedekatannya dengan Rohimah terjadi ketika ada pagelaran orkes dangdut. Waktu itu di acara sunatannya Kabir Ghufron, adiknya Rizky Akbar, anaknya Pak Jojo Hermawan, kepala desaku. Sebagai salah satu tokoh terpenting di desa orang tua Kabir Ghufron ingin acara sunatan anaknya meriah. Maka diundanglah orkes dangdut pimpinan Didi Supardi Spd untuk mentas. Di seantero kecamatan bahkan mungkin kabupaten orkes dangdut pimpinan Bapak Didi Supardi SPd bisa dibilang memiliki reputasi yang bagus. Bahkan mungkin yang terbaik. Deretan biduannya, wuiiiih. Terutama sosok yang bernama Ayu si Mata Roda. Tak ada lelaki yang tak ereksi jika melihat dan mendengar suaranya. 

Aku ingat waktu acara itu berlangsung aku diajak mabok oleh Bendot di rumahnya. Katanya dia baru saja menang taruhan. Dia taruhan lomba coli dengan si Tri Wibowo, siapa cepat dia dapat. Bendot menang karena ternyata dia yang lebih dulu keluar. Dia merasa sangat bangga dengan kemenangannya itu. Katanya, biarpun tititku kecil tapi soal coli aku lebih cepat daripada si Tri Wibowo. Dia tertawa bangga. Kemudian kami berdua mabok bareng sampai jekpot dan melewatkan kejadian rame yang terjadi di arena dangdut.

Kejadian rame yang aku maksud itu adalah sebuah keributan besar yang terjadi ketika pagelaran dangdut baru dimulai. Kejadian itu menyebabkan acara goyang dangdut massal menjadi terhenti untuk beberapa saat. Mang Dodo sebagai komandan hansip yang bertugas malam itu sampai harus turun tangan untuk melerai perkelahian. Tapi usahanya tidak berhasil. Keributan semakin membesar. Maklum, acara itu saking ramenya sampe mendatangkan para penonton dari luar desa. Banyak teori konspirasi yang muncul terkait kejadian ini.  Ada yang bilang keributan itu berawal karena ada segerombolan pemuda dari luar desa yang ngegodain kembang desa sini. Ada yang bilang keributan itu terjadi karena ada sejumlah pemuda yang beli sorabi tapi tidak bayar. Yang lain lagi bilang kalau itu terjadi gara-gara pemuda yang lagi teler tapi reseh jadi pada digebukin oleh orang-orang di sekitarnya. Yang lainnya malah bilang itu adalah sebuah upaya coup yang gagal terhadap kepemerintahan Bapak Jojo Hermawan. Tapi yang paling absurd adalah yang bilang kalau biang keladi keributan itu adalah oknum Komunis yang sedang mencoba bangkit dan membalas dendam kepada negara Indonesia. Teori terakhir dicetuskan oleh Mang Kimul yang pasti pada malam itu sedang mabok ciu.

Tapi tak ada yang tahu kalau sebelum keributan terjadi Cholil dan Rohimah sempat bertemu sebentar.Mereka bertemu di tukang sorabi. Cholil waktu itu sedang menikmati sorabinya yang kedua dan gorengannya yang kelima, tapi kepada Bi Kesih penjualnya dia mengaku baru makan sorabi satu dan gorengan dua. Saat itu Rohimah datang untuk memesan sorabi.

“Bi, meser 5 sorabina. Gorenganna 10 muhun?” suaranya begitu merdu terdengar di telinga Cholil. Begitu dia cerita.

“Mangga geulis, diantosnya?” 

“Muhun, Bi” 

Ketika menunggu sorabi matang itulah tatapan Cholil dan Rohimah bertemu. Keduanya saling tersenyum tersipu malu. Kata Cholil, itu senyuman cewek paling manis yang pernah diterima olehnya seumur hidup. Satu menit. Dua menit. Tatapan mereka kembali bertemu. Senyum kembali tersungging dari bibir Rohimah dan Cholil. Satu menit. Dua menit. Kembali mereka saling bertatapan. Ah, ternyata ada tahi lalat di ujung bibirnya, begitu Cholil bercerita kepadaku sambil tersenyum malu-malu. Lalat mana yang beruntung bisa boker disitu dan hasilnya malah membuat wajah Rohimah menjadi tambah manis. 

Adegan romantis dan malu-malu kucing itu harus berakhir ketika sorabi pesanan Rohimah sudah matang. Setelah menyelesaikan pembayaran Rohimah berbalik untuk pulang.

“Hatur nuhun, Bi” katanya kepada Bi Kesih dan suara merdu itu kembali terdengar di telinga Cholil.

“Muhun, neng geulis” Bi Kesih menimpali.

“Punten A, mayunan” tiba-tiba suara merdu itu tertuju langsung ke arah Cholil. Aduh, sesak nafas. Aduh aduh aduh. Cholil tak berdaya. Hanya bisa senyum lalu sisanya bengong melihat wajah itu memandang dirinya kemudian berlalu pergi.

Baru saja langkah Rohimah  berjalan beberapa meter meninggalkan lapak Bi Kesih sekelompok pemuda mulai menggodanya. 

“Ceweeek. Prikitiwwww”

“Neng ojeg, Neng?”

Ada yang bersiul-siul, ada yang tepuk tangan bahkan ada yang tepuk Pramuka segala. Mungkin waktu SMPnya pemuda itu ikutan kegiatan eskul Pramuka.

“Proook proook proook, proook proook proook proook proook prook proook” (tentu saja dalam irama tepuk Pramuka).

Cholil cerita dia tidak bisa merima perlakuan seperti itu kepada Rohimah. Sorabi yang masih tersisa setengah di tangannya pun dia buang. Dia langsung berdiri menghampiri para pemuda yang sedang ngegodain Rohimah.

“Eh beungeut su’uk, nanahaan sia euweuh gawe kalah kareprok. Gandeng nyaho teu?!” kata si Cholil ke arah para pemuda. Dia ngakunya sih berkata seperti itu. Aku tidak tahu pasti soalnya waktu kejadian berlangsung aku sedang mabok sama si Bendot.

Tentu saja para pemuda tidak terima.

“Ai sia naha kunyuk?” kata salah seorang pemuda yang Cholil ceritakan bertubuh kekar.

“Teu tarima, Nyet?” seorang pemuda ikut menimpali lagi. Cholil juga cerita kalau pemuda ini juga bertubuh kekar.

“Teu, kuya! Sia tong ngayah uget lah di lembur batuh. Monyet teh!” si Cholil makin emosi.

“Ngajak ribut sia? Ageh dieu?”

Tanpa dikomando Cholil langsung menyerbu gerombolan pemuda itu. Dia tidak ingat ada berapa orang, yang jelas katanya lebih dari 3 orang. Seorang dia hajar tepat di hidungnya. Tapi temannya berhasil menghantam Cholil tepat di matanya. Teman yang satunya lagi berhasil mendaratkan tendangan di perutnya. Teman yang satunya lagi sukses meninju pipinya. Teman yang satunya lagi agak kurang beruntung, tinjunya Cuma mengenai rambut Cholil.

“Anjing, nyeri monyeet” Cholil berteriak. 

Buuuuk. Baru juga selesai berteriak sebuah tinju sudah mendarat di mulutnya. Bibirnya robek, berdarah. Buuuuuk. Satu lagi tinju kena di pipinya. Satu giginya rontok. Buuuuk. Satu tunju lagi di mendarat mulus di matanya. Sekarang kedua matanya bengkak. Bak bik buk bak bik buk bak bik buk bak bik buk bak bik buk bak bik buk bak bik buk bak bik bukbak bik buk. Sisanya yang terdengar hanya suara itu. Dan semuanya mengarah ke tubuh Cholil. Penderitaan Cholil ditutup dengan sebuah tendangan maut yang mengarah tepat ke selangkangannya. Braaaak. Setelah itu Cholil roboh dan tidak ingat apa-apa lagi.

Keributan itu sendiri akhirnya bisa dilerai setelah sang primadona Ayu si Mata Roda berorasi dari atas panggung. Dia mengultimatum kalau masih saja ribut maka dia tidak akan bernyanyi. Ternyata ancaman itu berhasil. Orang-orang tidak rela jika Ayu si Mata Roda yang mereka tunggu-tunggu malah tidak bernyanyi sama sekali. Akhirnya keributan pun mereda. Dangdut bisa berjalan kembali. Sementara Cholil akhirnya masuk  rumah sakit.

Aku baru bisa menjenguknya di hari kedua Cholil masuk rumah sakit. Di hari pertama aku malah sakit sehabis mabok bareng si Bendot. Mencret-mencret. Sepertinya anggur merah yang dibeli dari uang hasil judi tidak barokah. Malah bikin mencret.

Ibuku yang mengabari kalau Cholil masuk rumah sakit karena babak belur dihajar orang. Aku langsung pergi menengoknya. Aku melihat wajahnya memang babak belur abis. Kedua matanya bengkak. Pipinya lebam. Tapi anehnya Cholil malah terlihat bahagia. Waktu itu dia tidak bercerita kenapa dia bisa terlihat sebahagia itu. Aku baru tahu beberapa waktu kemudian alasan kenapa dia bisa sebahagia itu meskipun babak belur. Ternyata di hari pertama Rohimah datang menjenguk dan menemaninya. Pantesan. Dari situlah hubungan Cholil dan Rohimah menjadi semakin dekat. Dan pada akhirnya mereka pun jadian.

***

“Tadi aku mendengar ceramah di mesjid..” kata Cholil sambil menghembuskan asap Marlboro merah kesukaannya. Aku menyimaknya dengan seksama. Ocil juga, sesekali dia ikut menimpali dengan bersuara meoong meooong. 

“Ustadznya bilang gini, bulan Ramadhan itu seperti seorang kekasih. Pas kita lagi sayang-sayangnya ehhh dia malah pergi. Kampreet tuh ustadz ceramah apa nyindir?” umpat Cholil.

Aku tertawa mendengar umpatannya. Sepertinya memang begitulah gejala orang yang sedang patah hati. Menjadi lebih sensitif. Semua hal dikaitkan dengan perasaan sendiri. Seolah-olah semuanya itu terhubung kepada dirinya.

“Udah, Lil ikhlasin aja” aku mencoba menghiburnya.

“Udah, Ki. Tapi susah. Kemarin waktu beres-beres kamar aku nemu tiket konser ST 12. Aku inget nonton konser itu bareng Rohimah di Stadion Bima. Dulu mau kau buang aja itu tiket. Tapi aku mikir lagi, ah buat kenang-kenangan ah. Jadi aku simpen. Eh taunya malah kayak gini. Assuuuu!” lagi-lagi Cholil mengumpat. Dan lagi-lagi aku tertawa mendengar umpatannya.

Selain lebih sensitif gejala lain orang yang sedang patah hati adalah menjadi lebih sering mengumpat. Seperti itulah Cholil. Jika tidak sedang mengumpat dia akan membaca kembali chat-chat mesranya bersama Rohimah dulu. Atau memandangi foto-foto mereka berdua yang masih tersimpan di ponsel Mitonya. Setelah selesai, dipastikan dia akan kembali mengumpat.

“Juancuuuuk!” 

“Kenapa lagi sih?”

“Teh botolnya abis, Ki. Minjem motor dong mau beli lagi”

“Dasar kuya” kataku sambil melemparkan kunci motor dengan gantungan kepala monyet ke arahnya.

***

Tepat pada malam ke 27 Bulan Ramadhan , Cholil Mahmud kembali datang ke rumahku. Ini sudah malam ketujuhnya secara berturut-turut. Aku sudah jarang pergi ke mesjid karena sholat Taraweh sudah semakin sepi menjelang Lebaran. Aku menunggunya di teras rumah. Bersama Ocil tentunya, kucingku yang tidak bisa ereksi. Dia selalu terlihat senang jika Cholil datang ke rumah. Meskipun tidak selalu tetap jamnya Cholil pasti tetap datang. Dengan sebungkus Marlboro merah dan Teh Botol. Dan mukanya yang masih tetap terlihat menyedihkan.

Urutan selanjutnya sudah bisa aku tebak. Rohimah lalu David Guetta lalu konser ST 12 balik lagi ke Rohimah lalu ke laki-laki penyuka David Guetta lalu ke konser ST 12 yang pernah mereka tonton di Stadion Bima lalu balik lagi ke Rohimah. Sisanya adalah berbagai macam umpatan dari bahasa Cerbon , Sunda, Indonesia sampai Inggris. Kirik, monyet, asuuu, babi, fuck, bitch. Lengkap.

 Kadang aku bosan juga mendengar curhatannya. Tapi aku sendiri tidak tega melihatnya terus-terusan seperti itu. Biar bagaimana pun Cholil sudah aku anggap sebagai orang yang paling berjasa karena pernah mengajariku coli. Sesekali aku menyarankan untuk mencari pacar baru sebagai pengganti Rohimah. Cobalah buka hati untuk cewek lain, saranku. Tapi Cholil menolak, dia tetap keukeuh hanya ingin sama Rohimah. Dengan sok-sok bijak aku bilang padanya kalau sudah jodoh nanti pasti balik lagi. Tapi Cholil kadung pesimis duluan. Dia tetap merasa bahwa Rohimah tidak akan balik lagi ke pangkuannya. Bahkan Ocil pun sepertinya ikut memberi saran juga kepada Cholil.

“Meooong meooong meooong”

Aku tidak mengerti apa yang Ocil katakan, tapi sepertinya Cholil paham.

“Sudahlah Cil, kamu kucing mana tahu perasaanku sebagai manusia?” begitu kata Cholil kepada Ocil. Luar biasa pikirku. Aku saja yang sudah 5 tahun menjadi majikan Ocil tidak pernah bisa sekalipun mengerti bahasanya. Kalau Ocil sudah mulai meong meong kadang aku memberinya makan. Kalau masih tetap meong-meong kadang aku memperdengarkannya musik (biasanya lagu-lagu Blur). Kalau masih saja tetap meong meong aku bawa dia ke depan tv dan nonton infotainment bareng-bareng. Biasanya dia tenang kalau sudah lihat beritanya Nazar-Muzdalifah.

“Tuh Cil liat Cil, si Nazar katanya diguna-guna sama orang tuanya Muzdalifah” kataku pada Ocil sambil melihat berita terbaru dari Nazar. Aku lihat Ocil memperhatikan dengan serius.

Begitulah komunikasiku dengan Ocil sehari-hari.  Tapi sepatah kata yang Ocil ucapkan pun aku tidak pernah mengerti apa artinya. Berbeda sekali dengan Cholil yang bisa langsung mengerti. Padahal dia baru rutin main ke rumahku selama seminggu ini. Aku bingung apakah Cholil patah hati atau gila.

Jika nasehat-nasehat sok bijak ala Mario Teguh yang sudah aku keluarkan tidak pernah bisa menghibur Cholil biasanya aku membiarkan dia diam. Biar saja dia dengan kesedihannya. Menikmati suasana malam sambil mendengarkan lagu yang Cholil putar dari ponselnya. 

Kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain, buat ap sih benang biru kau sulam menjadi kelambu?

Lagu Benang Biru dari Meggy Z mengalun dengan syahdu. Menyulap suasana teras rumahku menjadi warung burjo. Aku perhatikan Cholil begitu menghayati lagu itu. Matanya terpejam sambil mulutnya bergumam mengikuti lirik lagu. Mungkin untuk saat ini hanya lagu itulah yang bisa menjadi penghiburnya. 

Cholil akan memutar lagu itu sampai beberapa kali. Sampai mungkin dia bosan atau mengantuk. Lalu setelah itu dia akan pamit pulang. Meninggalkan bekas Teh Botol dan beberapa puntung rokok. Lalu berjalan gontai menuju ke arah gerbang pagar rumahku. Aku dan Ocil biasanya menemani dia sampai keluar pagar. Melihat langkah kakinya satu per satu membawanya menjauh meninggalkanku dan Ocil. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Mungkin yang ada di kepalanya hanya Rohimah. Jika bukan, mungkin si laki-laki sialan pecinta David Guetta.

Kampung Melayu, 26 Januari 2015