Tiba-tiba
Resqioso menghilang. Aku kaget, tentu saja, karena dia adalah salah satu
kawan dekatku. Meski pada awalnya aku menanggapinya biasa saja saat
Bram, kawanku yang lain, mengabarkan berita itu. Karena kami punya
kesibukan masing-masing dan tidak ada aturan di antara kami untuk saling
memberi kabar setiap hari. Aku kadang menghubunginya, kadang dia sendiri
yang berkunjung ke tempatku.
Tapi cerita itu menjadi
lain saat Bram berhipotesis bahwa Resqioso menghilang beberapa saat
setelah dia mengirimkan sebuah mixtape dan zine untuk seorang gadis! Ini
menarik. Aku tahu Resqioso menyukai gadis itu tapi aku tidak tahu sampai
di mana hubungan mereka. Apakah si gadis juga mengetahui perasaan Resqioso? Atau
mereka sudah sama-sama saling mengetahui perasaan masing-masing? Atau
mungkin Resqioso membawa misi tersembunyi lewat kiriman mixtape dan
zinenya? Aku tidak tahu pasti karena Resqioso selalu bungkam mengenai masalah
asmaranya kepadaku.
Namun justru di situlah letak hipotesis Bram berpusat.
Resqioso, menurut Bram, tidak hanya mengirim mixtape dan zine saja kepada gadis itu melainkan juga perasaanya. Dengan kata lain, Resqioso menyatakan
cintanya kepada gadis itu lewat mixtape!! Dan ini yang membuatku takut, cinta
itu bertepuk sebelah tangan dan Resqioso menghilang karenanya.
Aku tahu terkadang cinta bisa membuat seseorang berbuat gila.
Tapi aku ragu jika Resqioso sampai harus berbuat nekat karena cintanya
ditolak. Aku membuang jauh-jauh semua pikiran buruk yang beterbangan di
kepalaku. Meski akhir-akhir ini aku banyak mendengar kabar bunuh diri
yang menghampiriku dari berbagai berita di internet maupun surat kabar.
Ada siswi SMP yang bunuh diri karena tidak tahan menghadapi pengumuman
kelulusan ujian nasional. Ada juga berita tentang lelaki yang menabrakan diri ke
arah kereta api yang sedang lewat. Aku berusaha untuk tidak membayangkan
kejadian itu menimpa Resqioso. Sungguh merinding membayangkannya.
Aku mencoba memastikan kabar dari Bram tersebut. Aku kirim pesan kontak BBMnya,
hasilnya tanda silang, BBMnya tidak aktif. Kemudian aku kirim sms juga,
tetap tidak berbalas. Akhirnya aku mencoba menelponnya, dan ponselnya tidak aktif! Aaah aku menjadi benar-benar khawatir. Apalagi
mendengar kata-kata Bram yang terus terngiang di telinga, "lalu apalagi
yang hendak dicapai jika keinginan terbesarnya sudah terpenuhi?". Aku
tahu maksud kata-kata Bram tersebut, keinginan terbesar Resqioso adalah melihat
konser Blur di Lapangan D Senayan kemarin. Dan aku ingat betapa
bahagianya seorang Resqioso karena bisa melihat idolanya secara
langsung. Bahkan aku sampai terharu ketika mendengar dia bercerita
bagaimana dia meminjam uang 200 ribu kepada ibunya sebagai tambahan untuk membeli tiket. "Sekali ini saja, Bu, untuk seumur hidup" begitulah pinta dia pada sang ibu. Sang ibu pun
luluh dan memberinya uang.
Sekali lagi aku berusaha mencari kabarnya melalui dunia maya, tempat di mana dia selalu aktif berkeliaran
di dalamnya. Tapi kemudian aku menemukan hal yang membuat bulu kuduk
kembali berdiri. Kicauan terakhirnya di twitter, 3 hari yang lalu,
adalah seperti ini, "jendela, kursi, atau pistol di meja~ ". Anjiiing!
Aku semakin kalut. Aku menjadi teringat Kurt Cobain, aku merasa seperti
Krist Novoselic saat menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Kurt
Cobain sebelum bunuh diri. Aku bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa
selain menunggu kabar darinya.
Sebenarnya aku ingin sekali pergi ke
rumahnya. Tapi sial, aku lupa jalan menuju rumahnya. Aku hanya pernah
sekali berkunjung ke rumahnya, waktu itu malam hari sehingga aku tidak
bisa mengingat tempatnya.
Sekali lagi aku meyakinkan diriku
untuk berpikir positif. Aku tahu kadang cinta memang bisa berjalan di
luar nalar manusia. Menjungkir balikkan logika. Tapi aku tidak pernah
setuju, jika hanya karena cinta dia harus mengakhiri hidupnya. Itu
tindakan bodoh menurutku. Sangat bodoh.
Tetapi tetap saja aku
tidak bisa tenang. Aku malah kembali teringat pada cerita Resqioso
tentang afterconcert-nya Blur. Dia merasa sedikit kecewa, karena You're
So Great tidak dibawakan pada konser malam itu. Padahal itu adalah lagu
yang sangat ingin sekali dia dengar.
Aku tidak tahu alasan
Resqioso menyukai lagu itu. Tapi mungkin itu adalah nyanyiannya sendiri
untuk gadis yg dikiriminya sebuah mixtape. Lagu yang dalam harapan
Resqioso akan dibawakan oleh Blur untuknya suatu saat nanti secara
personal. Atau mungkin juga lagu yang akan dia nyanyikan juga untuk
gadis penerima mixtape di altar pernikahan mereka nanti, atau di
pernikahan gadis itu dgn seseorang yang bukan Resqioso. Aku tiba-tiba
teringat nyanyian Graham Coxon itu.
And I feel the light in the night and in the day
And I feel the light
When the sky's just mud and grey
And I feel the night when you tell me it's OK
Coz you're so great and I love you
Tiba-tiba aku menangis mendengarnya . .
RSCM, 30 Mei 2013
Rabu, 23 Oktober 2013
Rabu, 04 September 2013
Orang-orang Gendut dalam Kehidupan Saya
Saya gak pernah gendut. Dari
kecil sampe segede sekarang badan saya gak pernah sekalipun gendut. Mungkin
karena gak ada keturunan gendut yang mengalir dalam gen saya. Ibu dan ayah saya
gak gendut. Pun begitu sama kedua kakek dan nenek saya. Gak ada yang gendut.
Kadang saya suka heran banyak
orang gendut yang ingin sekali kurus. Padahal menurut saya gendut itu anugerah
lho, ya ini sih opini dari luar saja sih soalnya saya gak pernah gendut jadi
gak tau rasanya. Maksud saya dalam kalimat gendut itu anugerah adalah karena
orang dengan tubuh yang gendut menurut saya rata-rata lucu dan menggemaskan.
Meskipun sifat dan kelakuannya gak lucu tapi sepintas kelihatan lucu dari luar.
Saya sendiri sepertinya
mempunyai kecenderungan suka sama orang-orang yang gendut. Saya suka karakter
Po yg gendut di film Kung Fu Panda, juga Patrick Star dalam serial kartun
Spongebob. Karena yaa itu tadi, menurut saya mereka itu lucu-lucu dan
menggemaskan.
Dan ternyata tanpa saya
sadari selama usia kehidupan saya di dunia, saya selalu dikelilingi oleh
orang-orang gendut. Hampir di setiap masa selalu saja ada orang gendut yang seolah-olah
"being around" begitu saja dalam hidup saya. Berikut adalah daftar
orang-orang gendut dalam kehidupan saya yang berhasil saya susun :
1. Egie Praditya Mulyana.
Zaman saya TK sampai lulus SD
saya gak punya temen deket yang gendut. Karena teman-teman sekelas saya waktu
SD gak ada yang gendut. Ada sih kakak kelas saya yang gendut, misalnya Iyus
anak Pak Emon sama si Riki Yakub tapi saya gak terlalu dekat dengan keduanya.
Jadi orang gendut yang pertama kali dekat dengan saya jatuh kepada Egie
Praditya Mulyana. Teman saya ketika SMP. Jomblo akut yang susah move on.
Sebenernya saya sudah kenal Egie sejak kecil karena kebetulan orang tua saya
dan orang tua Egie berteman, tapi saya baru dekat dengan Egie saat saya duduk
di bangku SMP. Saya 2 kali sekelas bareng Egie, ketika kelas 2 dan kelas 3.
Egie adalah teman
seperjuangan ketika di masa-masa percintaan monyet saya. Saya selalu minjem
motor dia buat ngapel, atau biasanya minta dianter ngapel sama dia. Kadang
sampai jam 2 malem. Tapi si Egie gak pernah protes. Cukup ngasih kopi + rokok
aja, Egie langsung diem.
Selain itu Egie juga teman
pertama ketika saya awal-awal suka ngeband. Dia maenin bass, meskipun gak
profesional kayak bapaknya (pemaen bass di grup dangdut), meskipun juga selera
musiknya gak sesuai sama tampangnya yang serem dan brewokan. Tapi lumayanlah.
Yang penting ada pemaen bassnya.
Lalu Egie juga adalah teman
maen PS bareng, dan dia cuma bisa maenin Chelsea doang. Terus gampang
ngalahinnya. Makanya saya seneng sekali kalau maen PS sama Egie, soalnya bisa
sambil ngecengin dia. Hahaha
Dulu, terkadang saat saya
lagi suntuk atau lagi sedih saya biasanya maen ke rumah Egie. Saya tidak perlu
cerita masalah apa-apa sama dia. Cuma dateng terus tiduran di kamarnya.
Biasanya saya akan merasa seneng sendiri. Kata orang, itulah yang disebut
keajaiban seorang teman. Terimakasih, Egie !
2. Ricky Leo Hardy
Namanya sama dengan saya.
Tapi saya sering manggilnya Ucul, karena ya dia memang ucul sekali orangnya.
Saya sudah tahu dia sejak SD karena pernah ikut lomba cerdas cermat bareng.
Bahkan saya tau dia pernah pingsan saat lomba tersebut. Tapi saya mulai dekat
dengannya saat duduk di bangku SMA. Padahal kami tidak pernah sekelas, tapi
karena 1 kosan terus selama 3 tahun jadilah hubungan kami begitu dekat.
Jika ada diantara kalian yang
menilai saya seorang pendiam, maka si Ucul ini jauh lebih pendiam daripada saya.
Tapi diam-diam gitu otaknya encer luar biasa. Saya ingat pernah membuat sebuah
stensilan (cerita porno gitu) bareng dia saat kelas 2 SMA. Judulnya BDJ (Belum
Dikasih Judul). Hahaha
Si Ucul juga adalah salah
satu teman yang selera musiknya lumayan keren untuk ukuran saat itu. Dia sering
ngenalin saya sama band-band yang lumayan keren hasil dari beli MP3 bajakannya.
Tapi sayang rencana kami untuk membuat sebuah band belum sempat terlaksana
sampai saat ini. Terakhir saya ketemu dia pas lebaran kemaren. Ternyata dia
tambah genduuuuuut ! Tapi masih tetap ucuuuuul.
3. Rahkmat Zaelani.
Atau sering menyebut dirinya
Raza. Tapi karena iseng saya sering nambahin kata Coli dibelakangnya, jadilah
Raza Coli. Tapi saya lebih senang memanggilnya Bang Mamat. Lebih akrab dan
nyaman di kuping. Bang Mamat adalah orang gendut yang dekat dengan kehidupan
saya ketika kuliah. Orangnya baik minta ampun deh. Karena itu dengan penuh
hormat saya berikan gelar Bang Mamat Yang Baik kepadanya. Diantara kebaikannya
adalah sering minjemin saya motor (lagi-lagi buat dipake ngapel), juga karena
kita berdua adalah sama-sama penggemar Manchester United. Bang Mamat juga
sering memberi nasihat yang baik, anter jemput kalau lagi dines, minjemin leptop
(kecuali baju, ga pernah dipinjemin karena pasti kegedean). Setelah saya kerja
dan berpisah dengan Bang Mamat pun terkadang saya masih sering mengajaknya
makan bakso bareng di tempatnya Pak Kumis.
Terakhir saya dengar Bang
Mamat sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ahh, semoga Bang Mamat
cepat sembuh dan kita bisa ngebaks bareng lagi.
4. Rezky Aditya Perdana
Nama akun twitternya
@pemotolkontong. Dia adalah teman gendut di masa ketika saya lulus kuliah dan
menganggur. Entah kenapa saya merasa kalau di kehidupan yang dulu saya dan
Kontong adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di Candi Borobudur.
Betapa tidak? Saya hampir mempunyai guratan nasib yang sama dengannya,
diantaranya :
1. Disuruh jadi PNS oleh
orang tua
2. Sering ngambil (baca maling)
komik/novel dari tempat penyewaan buku
3. Gak suka musik metal
4. Gak suka Radiohead pasca
OK Computer
5. Pernah cek in di Tidar
Hotel
6. Fans Oasis
7. Sama-sama bertitit mungil
Oke, poin 7 saya belum tau
pasti karena belum pernah liat tititnya Kontong. Yang jelas dengan berbagai
kesamaan nasib tersebut sudah sepantasnya kita berdua mabok bareng untuk
merayakannya. Tanpa
bertemu Kontong mungkin saya tidak akan sesemangat ini menjalani rutinitas
hidup dan pekerjaan. Karena dari dia juga kemudian saya banyak bertemu
teman-teman lainnya yang punya satu kesamaan hobi dan selera. Dan ya, Kontong
adalah satu-satunya teman yang hadir dan menyaksikan secara langsung akad
pernikahan saya. :'')
I
love pemotolkontong.
5.
Arief Rahma Hidayat
Nama
bekennya adalah Mbeb. Saya sudah kenal sejak zaman kuliah. Tapi waktu itu
hubungan diantara kita belum terlalu instens. Kita satu angkatan cuma beda
kelas. Bahkan saya inget pertama kali melihatnya saat OSPEK. Gayanya aduhai
sekali, poni miring ala emo, kaos putih Superman, skinny jeans item dipadupadankan
sneakers Converse. Absolutelyfuckingcoooool. Saya semakin ngefans lagi setelah tau
kalau dia juga (mungkin satu-satunya) mahasiswa di angkatan saya yang suka My
Chemical Romance!!
Sewaktu
kuliah kami tidak begitu deket sih. Tapi malah deket-deket sekarang ini karena
kerja di tempat yang sama, meskipun beda divisi. Kebaikannya terlihat dari
betapa seringnya dia meminjamkan uang kepada seorang ayah yang kere ini, yang
sering luntang-lantung di kota Jakarta yang kejam ini tanpa punya uang. Yang
bikin seneng lagi Mbeb ini adalah orang yang gampang diajak jalan, terutama
urusan kuliner! Dia biasanya selalu
bersemangat jika diajak jalan. Dedikasinya terhadap pekerjaan pun patut
diacungi 4 jempol! Shift pagi-sore sikat terus. Saat saya tanya,
"Pakbeeb,
ko gak pernah protes sih?"
"Gimana
ya? Saya seneng sih ngejalaninnya"
Beuuuuuh
jawaban dari seorang perawat sejati yang mencintai pekerjaannya. Dedikasi
seperti itu hanya bisa ditandingi oleh Spongebob yang mencintai pekerjaannya
sebagai koki.
Untuk
Pakbeb dan "antonio"-nya, i salute youuuu !!
*honorable
mention :
Dibawah
ini juga ada beberapa orang gendut yang dekat dengan saya hanya mereka sedikit
kalah bersaing. Karena pemilihannya berdasarkan masa ketika saya sekolah-kuliah-kerja,
maka tidak bisa ada 2 orang yang bisa menempati posisi sama. Berikut
diantaranya,
1.
Agiet Septian
Temen
kosan ketika kuliah. Sama gendutnya dengan Bang Mamat tapi mukanya lebih mirip kayak
om-om. Bujang lapuk, pujangga, dan mesum. Oh iya tititnya diberi nama Popo, for
your info aja sih.
2.
Yosie Rivanto.
Sebenarnya
agak susah menggolongkan Yosie ke dalam kriteria gendut. Dibilang gendut ya gak
terlalu gendut, tapi dibilang kurus juga keliatannya dia gendut. Perutnya juga
buncit, tititnya mungil. Jadi ya sudah saya masukin ke honorable mention aja.
3.
Difa Syahmania Azhar
Teman
satu kosan waktu kuliah. Berandal sejati. Semangat kalau diajak maksiat, tapi
susah diajak sholat. Gendut, bulat, lucu. Sekilas mirip karakter Pinguin di
film Batman. Satu lagi, suaranya juga merdu mirip Bams. Kuat mabok, kuat
ngerokok tapi jarang keliatan makan tapi masih gendut dan masih hidup.
Ken666eriaaaaan !!!
4. Prabu
Wijaya
Bukan!
Dia bukan Prabu Wijaya di sinetron Putri Yang Tertukar. Saya juga sempat kaget
kalau nama Prabu Wijaya ternyata ada di dunia nyata. Tapi saya pastikan dia
bukanlah Prabu Wijaya yang ada dalam sinetron. Dia adalah teman saya ketika
awal-awal masuk kerja. Orangnya baik, sama seperti Mbeb, Pak Prabu sering
minjemin saya uang kalo lagi kere. Maklum waktu awal-awal kerja saya selalu
kere (sekarang juga gitu sih). Selain itu dia juga adalah partner sholat Jum'at
saya di mesjid UI, yang selalu datang pas khotib udah selese khotbah !
Senin, 02 September 2013
Menuju Bandung Zine Fest 2013 bersama Sang Musisi !!
Sabtu, 31 Agustus 2013
Pagi itu adalah hari terakhir
di bulan Agustus. Masih jam 5 pagi, saya sudah mandi padahal masih mengantuk. Biasanya
hari Sabtu saya pergunakan dengan baik untuk bobo sepuasnya tapi tidak pada
pagi itu. Semua saya lakukan demi Bandung Zine Fest yang digelar siang harinya.
Saya naik angkot 04 menuju
terminal Depok. Tentu saja saya tidak sendirian. Saya berangkat bersama kawan
saya yang seorang Musisi (dengan M besar) bernama Resqioso, yg beberapa bulan
lalu merilis split album perdananya yang sayangnya luput dari pantauan radar media-media
musik tanah air dari mulai Rolling Stone sampai Jakartabeat.
Tapi tidak apa-apa. Resqioso
masih tetap terlihat gagah di mata saya, apalagi dengan tulisan "Saya
Seorang Musisi" di kaosnya yang makin memantapkan kegagahannya.
Sekitar jam 6.30 kami berdua
sudah tiba di terminal Depok. Sebelum naik bus MGI jurusan Bandung kami jajan
dulu beberapa buah cemilan + susu biar sehat. Kami mengambil deretan kursi di
belakang dan mulai memakan cemilan yang kami beli. Perbincangan saat itu masih
berkutat seputar "Kenapa Ukuran Beng Beng Semakin Kecil?". Dan mereka
gak bilang-bilang dulu, tau-tau udah kecil aja.
Ditengah panasnya
perbincangan pagi itu kemudian masuklah ke dalam bis seseorang yang terlihat
biasa saja dan menggendong ransel. Tapi kami berdua tidak bisa tidak peduli
karena kaos yang dipakenya. Dia pake kaos CRASS, band punk nan legendaris itu.
Kemudian dia duduk di samping tempat duduk kami. Tapi kami tidak menyapanya
karena kami kembali terlarut ke dalam perbincangan soal Beng Beng.
Bus pun kemudian berangkat.
Saya memilih untuk bobo selama perjalanan. Sembari mendengarkan Sarita Fraya
yang disetel oleh kawan saya dari disc-man yang dibawanya, yang kerapkali mati
karena optiknya sudah mulai tidak beres. Tapi perjalanan baru dimulai setelah
kami tiba di Longriver Bus Station (terjemahan bebas : Terminal Leuwipanjang)
Sebelum turun saya sempat
bertanya kepada sopir busnya,
"Pak, kalo mau ke Jalan Perintis
Kemerdekaan naik apa yah?"
"Jalan
Kemerdekaan?"
"Jalan Perintis
Kemerdekaan, Pak"
"Oh, naik Damri jurusan
Ledeng-Leuwipanjang"
Setelah mendapat petunjuk
dari supir bus MGI itu akhirnya kami berdua pun bergegas mencari mobil Damri
yang dimaksudkannya. Tapi si Resqioso malah berputar-putar kemana-mana sampai
kami keluar terminal dan pusing. Karena pusing saya tanya lagi bapak-bapak
penjual es doger. Si bapak terlihat senang ketika saya berjalan ke arahnya.
Mungkin dikiranya saya mau beli es doger padahal mah enggak.
"Pak, tau Jalan Perintis
Kemerdekaan gak?"
"Gak tau"
"Kalau bus Damri lewat
sini gak, Pak?"
"Oh, bus Damri mah ga
lewat sini"
"Yaudah makasih,
Pak"
"Iya sama-sama"
Saya perhatikan wajahnya
kecewa karena saya gak beli es dogernya.
Untuk memastikan lagi saya
kemudian bertanya kepada satpam yang terlihat ada disitu. Sementara di sisi
lain Resqioso sedang sibuk nelpon.
"Lapor Pak Satpam, saya
mau bertanya"
"Silahkan"
"Klo bus Damri lewat
sini gak?"
"Wah gak lewat"
"Terus lewat mana
dong?"
"Lewat belakang
sana" katanya sambil menunjuk ke suatu arah.
"Jadi saya harus kesana,
Pak?"
"Iya"
"Yaudah makasih Pak
Satpam. Selamat bertugas"
Kemudian saya meninggalkannya
dan menuju ke arah yang tadi ditunjukan olehnya. Resqioso sudah berhenti
menelpon. Kemudian berkata,
"Kata Kontong (nama
lengkapnya Pemotolkontong-red), kita naik Damri jurusan Cicaheum nanti turun di
BNI nanti dijemput sama panitia"
Kami jadi bingung. Naik Damri
jurusan Ledeng apa Cicaheum yg bener??
Selang beberapa saat menunggu
lewatlah Damri jurusan Ledeng dan bertanyalah saya sama keneknya.
"Pak, lewat jalan
Perintis Kemerdekaan gak?"
"Iya lewat"
Kemudian kami pun naik.
Setelah di dalam saya baru sadar orang yg tadi saya tanya ternyata bukan kenek
busnya, melainkan penumpang biasa. Ketika si kenek asli lewat dan menagih
ongkos, si Resqioso bertanya lagi,
"Pak ini lewat Braga
kan?"
"Wah enggak. Salah naik,
cepet turun"
Waduh saya dan Resqioso
bingung dan salting karena salah naik jurusan.
"Yaudah Pak saya mau
turun" kata Resqioso.
"Yaudah sana turun"
jawab si kenek tanpa ekspresi sementara mobil masih melaju kencang. Anjis nih
kenek horor banget dikiranya saya sama Resqioso bisa akrobat turun gitu aja
dari bus yang masih melaju?
Setelah turun kami berdua
celingak-celinguk gak puguh. Resqioso nanya ke tukang parkir disitu, katanya
disuruh naik Damri jurusan Cicaheum. Ya sudah sambil menunggu saya dan Resqioso
membeli cimol yang kata Resqioso rasanya hambar tapi tetep abis dimakan, karena
lapar.
Beberapa menit kemudian Damri
jurusan Cicaheum pun lewat. Masih kosong. Kami pun bisa duduk dengan tenang.
Mobil kembali melaju. Kemudian si Resqioso bilang ke sopirnya,
"Pak nanti turun di Bank
Indonesia ya?"
"Bank Indonesia? Oh iya
iya" kata Pak Supir yang rambutnya sudah beruban itu.
Mobil melaju dengan santai
sambil mencari penumpang. Di perjalanan saya melewati RS Immanuel dan teringat
kepada Panji temannya Pak Wapres yang katanya kerja disitu. Katanya mesin
absensi di rumah sakit itu canggih. Kalau karyawannya absen disitu si mesin
bisa ngomong sendiri.
"Selamat datang Panji
Nugraha. Kamu datang jam 6.45"
Kalau ulang tahun secara
otomatis mesin absensi itu juga akan mengucapkan selamat,
"Selamat ulang tahun,
Panji Nugraha"
Kalu sering telat,
"Selamat datang Panji
Nugraha. Kamu kok datangnya telat terus sih?"
Begitulah yang dikisahkan
oleh Pak Wapres. Saya mengingatnya sembari menikmati perjalanan.
Kemudian setelah belokan
melewati Mesjid Raya Bandung tiba-tiba bus itu berhenti.
"Eh tadi ada yang mau
turun di Bank Indonesia ya? Itu banknya" kata Pak Supir sambil menunjuk ke
sebuah bangunan.
Saya dan Resqioso yang lagi
santai-santainya pun bergegas turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Makasih, Pak" kata
kami berdua penuh senyuman.
Kami pun berjalan ke arah
bangunan yang tadi ditunjukkan oleh Pak Supir. Jreeeng jreeeng jreeeeng, terus
saya lihat nama bangunan itu yang tercetak besar, BANK RAKYAT INDONESIA.
"Anyiiiing itu mah Bank Rakyat Indonesia anyiiiing bukan Bank Indonesia anyiiing
supir Damri anyiiiiing!!" kata
saya kesal (dalam hati).
Dalam keadaan hampir putus
asa kami pun bertanya kepada pak polisi yang kebetulan berjaga di pos di dekat
situ. Setelah Pak Polisi menjelaskan panjang lebar kami memutuskan untuk
berjalan kaki saja karena takut kembali nyasar. Dan anyiiiiing ternyata jauh juga anyiiiing
dari situ sampe ke Gedung Indonesia Menggugat. Kami kelelahan dan lapar karena
belum makan.
Setelah berjalan jauh
(ditambah bertanya kepada 1 tukang parkir, 1 kasir Circle K yang ga tau
apa-apa, sama 1 tukang siomay) akhirnya kami tiba di tempat tujuan! Yes !
Setelah disambut oleh
entah-siapa-namanya-saya-lupa-lagi, kami pun segera diantar ke meja nomer 36,
tempat dimana si Pemotolkontong sudah tiba duluan. Disana nampak sudah berjejer
Papernoise Zine dan sosok Pemotolkontong dengan rambut-kelimis-gemesnya (untuk Bagongtempur
dan Korongmentah, sepertinya kalian mempunyai 1 lagi sodara kembar).
Saya pipis dulu karena dari
tadi kebelet. Dan beberapa kejadian di Bandung Zine Festnya saya skip. Pokoknya menyenangkan sekali. Saya
beli funzine Muchos Libre dan menemukan pesan sayang saya dimuat disana.
(Makasih Muchos Libre, barakallah). Juga bertemu zinemaker Cirebon, um Alam
dengan rambut barunya. Ada juga Kak Manan, editor Primitif Zine yang sayangnya
hari itu gak bawa Primitif Zine, juga bertemu dengan Fanny (konon dia ini
gebetannya Pemotolkontong, tapi ssst kita diam-diam saja ya?) Juga temennya
Fanny yaitu Darlin dan 1 lagi siapa-namanya-saya-gak-tau yg bawa-bawa papan
skate aja (saya suka janggutnya, serius). Juga akhirnya Pak Pinred Papernoise
datang beserta Bu Pinred. Juga a Idham. Sayangnya Pemotolwansky (temennya a
Idham) gak datang. Tidak lupa saya lihat ada Kak Gembi. Dan seorang gadis
berkerudung yang dengan sangat antusias bertanya,
"Waaaw ini zinenya Mas
Dudu yaa?"
Saya dan Bu Pinred yg
kebetulan saat itu lagi jaga stand terkesima seketika. Dudu semakin ngetop! Dudu
yang dulu bukanlah Dudu yang sekarang! Dan masih banyak lagi dan pokoknya
menyenangkan sekali dan saya bawa banyak zine (bisa lebih banyak lagi sih tapi
ngantri motocopynya).
Sementara itu di sela waktu
ketika saya dan si Musisi Resqioso sedang asik duduk, berkatalah ia kepada
saya.
"Cruut, lu liat orang di
depan kita itu"?
Saya melihat ke depan, ke
meja tempatnya Paper Zine. Saya perhatikan orang yang ditunjuk Resqioso. Saya
lihat dia pake kaos CRASS! Wah itu orang yang tadi pagi saya liat di bus MGI!
Ternyata dia juga bertujuan ke Bandung Zine Fest!
"Bego lu Tot, klo tau
dia kesini sih tadi kita bareng aja biar gak nyasar"
"Elu bego !"
***
Segera setelah diskusi yang
diselenggarakan oleh panitia berakhir kami pun segera membereskan
barang-barang. Sambil menunggu Bu Pinred yang akan menjemput, kami memutuskan
untuk mencari makan terlebih dahulu. Akhirnya kami menemukan tukang nasi goreng
di depan Bank BNI. Saya pesen 3 porsi, 1 gak pedes, 1 sedeng, 1 lagi pedes.
Setelah nasgor tandas kami tidak langsung bayar, karena si tukang nasgornya
terlihat sedang asyik-masyuk menelpon. Tiba-tiba ada tukang bakpao lewat dan si
Pemotolkontong teriak.
"Mang, masih ada gak
bakpaonya?"
"Masih"
Si Kontong segera
menghampirinya. Rupanya dia masih lapar. Saya kemudian menyusul karena ternyata
masih lapar juga.
"Berapaan Mang"
kata si kontong
"6 rebu"
"10 rebu 2 ya?"
Si mamang diem aja. Diem
berarti tandanya tidak setuju. Jadilah si kontong cuma beli 1, rasa sapi. Saya
juga beli 1, rasa kacang. Kami balik lagi ke tempat semula.
Bu Pinred belum nyampe juga.
Katanya jalanan macet. Maklum malam minggu.
Tiba-tiba Bagongtempur dan
Korongmentah dkk datang menyambangi tukang nasgor. Tapi saat itu tukang
nasgornya sedang tidak ada.
"Mamang nasgornya lagi
nyuci piring dulu" kata saya ke si Bagongtempur. (Sebenarnya saya belum
bisa membedakan mana Bagongtempur dan mana Korongmentah). Untunglah mereka bisa
sabar menunggu. Setelah tukang nasgornya kembali mereka pun memesan nasi goreng
dengan porsi ekstra. Tetapi kayaknya si tukang nasgor tidak mendengarnya jadi
dikasih porsi biasa.
Sembari menunggu jemputan, saya
dan Resqioso tiduran di trotoar. Mengingatkan saya pada lagu Morfem, Tidur
Dimanapun Bermimpi Kapanpun. Hari itu memang melelahkan sekali. Saya hampir
tertidur ketika si Kontong ngasih tahu kalau jemputan sudah datang. Kami pun
segera membayar nasgor yang tadi kami beli. Dan berpamitan kepada kawan-kawan
dari Muchos Libre yang saat itu sedang menyantap nasi goreng.
***
Dalam perjalanan menuju kosan
Kinung untuk numpang bobo kami mampir sebentar di pom bensin. Saya mau transfer
ke si bundaaa. Lalu berhenti lagi di Indomart. Saya beli soda susu, rokok, sama
Snifer yang kata si Resqioso kalo beli 2 gratis 1 dan ternyata dia benar! Dan
beli teh botol kotak. Benar sekali, teh botol dalam kotak. Ajaib!
Lalu tibalah kami di kosan
Kinung. Si Kinung tampak sedang bermain balap mobil F1 di depan komputernya.
Saya segera berganti baju dan cuci kaki. Bersiap-siap untuk bobo. Kemudian
kehebohan terjadi. Dompet si Resqioso hilaaaaaang!! Semua kaget. Kami segera
mencari di sekitar kamar, nihil. Lalu kembali ke mobil Bu Pinred, cari disana
masih nihil juga! Saya ingat-ingat lagi. Wah terakhir si Resqioso ngeluarin
dompet itu waktu di tukang nasgor, jangan-jangan ketinggalan disana! Segera
diputuskan Resqioso, Pemotolkontong, Bu Pinred beserta Pak Pinred kembali
mengecek ke tempat kejadian perkara. Saya dan Kinung tidak ikut. Karena amat
mengantuk saya sempat tertidur sebentar dan tanpa sadar ketika terbangun sudah
ada Kimul dan Apoy disana. Juga Resqioso dan Pemotolkontong sudah kembali. Saya
memutuskan untuk bobo kembali karena amat mengantuk. Lamat-lamat saya dengar
kalau dompet itu ditemukan di depan gerbang kosan Kinung. Juga terdengar
kata-kata Pemotolkontong, "eh gue keinget aja temen si Fanny tadi. Lucu
ya? Gayanya lolita-lolita gitu". Lalu saya tidak ingat apa-apa lagi dan
bobo dengan pulas. Sungguh hari yang menyenangkan.
Kampung Melayu, 1 September
2013
Rabu, 21 Agustus 2013
TERIMA KASIH, DENDI! DAN JANGAN TENGGELAM DALAM BIRAHI!
Hari itu adalah hari Kamis 22
September 2011, hari ketika saya wisuda. Tanpa terasa hari itu sudah berlalu hampir
2 tahun. Banyak hal yang sudah berubah. Terutama saya yang sudah menjadi
seorang ayah. Wulan yang seminggu lagi mau nikah tapi bukan sama Iwang. Anita
Cheerleader sudah jadi seorang ibu. Sama kayak Dessy. Sementara si Mbul belum
kawin juga padahal pacarannya paling lama di angkatan kami. Ipoel sudah
bertunangan dengan seorang gadis yang ternyata dulunya satu SMP sama saya (ah
dunia memang sempit). Wastika sudah terbang ke Jepang dan Imam Taufik berhasil
membuktikan kepada Agit bahwa dirinya juga bisa punya pacar dan bukan seorang
bujang lapuk lagi. Dan jangan lupa Sumedi sudah berancang-ancang mau mencari
pacar baru (hah!).
Praktis dalam kurun waktu tersebut
saya sudah jarang bertemu lagi dengan teman-teman semasa kuliah. Hanya beberapa
orang saja yang sering saya temui, itupun karena tempat kerja kami yang sama. Selebihnya saya jarang
sekali bertemu dengan mereka.
Diantara teman-teman yang jarang
saya temui tersebut salah satunya adalah Dendi Nugraha. Ya, Dendi Nugraha si
juara kelas yang pada waktu wisuda IPnya paling tinggi se-civitas akademi. Dendi
yang rajin bertanya dan menjadi idola para dosen. Seingat saya bahkan saya
belum pernah bertemu lagi dengan dia selepas perpisahan kelas. Dia seakan
menghilang begitu saja dari radar kehidupan saya. Tanpa ada kabar berita sama
sekali.
Tapi sekalinya ada kabar tentang
Dendi selalu saja kabar jelek dan tidak enak untuk didengar. Kabarnya Dendi
pernah menjadi buronan salah satu rumah sakit karena kabur begitu saja tanpa
pamitan sama sekali. Terakhir saya malah mendengar kalau Dendi sedang kebelet
kawin dan lagi getol-getolnya nelponin teman-teman cewek di kelas saya dahulu
untuk diajak nikah. Salah satu korban yang berhasil saya ketahui adalah
Ropikoh, si toge kelas. Beuuuh (oke Den, seleramu tidak terlalu buruk laah).
Meskipun begitu saya selalu ingat
kalau saya pernah mempunyai hutang kepada Dendi. Hutang budi lebih tepatnya. Dan
saya masih mengingatnya sampai sekarang. Karena itu, kepada Dendi saya
persembahkan tulisan ini sebagai bentuk balas budi saya. Mungkin tulisan ini
tidak akan pernah cukup membalas budi baikmu, tapi percayalah tulisan ini saya
tulis dengan hati yang tulus, setulus ketika saya mengucapkan ijab qabul di depan
penghulu , 1 tahun yang lalu.
***
Saat itu saya masih duduk di
tingkat 2 akhir, menjelang naik ke tingkat 3. Tingkat 3 saat itu sebentar lagi
lulus. Kebetulan untuk acara perpisahan tingkat 3 saat itu setiap kelas
diwajibkan mengirimkan apresiasi seninya untuk acara perpisahan. Awalnya kelas
kami sudah sepakat untuk menampilkan band The Awas Angkot untuk acara
perpisahan tersebut. Tapi kemudian ada seseorang yang mengusulkan untuk
menampilkan drama saja. Karena kadung sudah mengirim The Awas Angkot untuk
tampil maka sesuai kesepakatan bersama kelas kami akan menampilkan sebuah drama
musikal versi ecek-ecek nan kacrut.
Saya ingat malam harinya saya
langsung menulis naskah drama tersebut di sebuah binder berwarna ungu yang
sekarang entah dimana keberadaannya. Tapi sayang saya lupa lagi judul dari
drama tersebut. Sialan. Besoknya saya dan teman-teman segera berembuk untuk
mencari para aktor dan aktris untuk bermain didalamnya. Tokoh utama yang
rencananya akan diperankan oleh Cadila terpaksa diganti karena Cadila menolak. Lalu
Sumedi yang seharusnya berperan sebagai preman juga ikut-ikutan menolak. Saya sempat
bingung karena kekurangan pemain. Disinilah kemudian saya berhutang budi yang
pertama kapada Dendi. Ketika Sumedi
menolak ikut dalam drama maka peran itu saya tawarkan kepada Dendi . Dendi
sangat antusias sekali dan langsung menyetujuinya.
Ada banyak orang yang terlibat
dalam drama ini. Eko, Yossie, Ocha, Obet, Bayu, Cacing, Lilis, Bang Mamat,
Agiet, Apip, Anita, Ipoel, Mbol dan hampir semua teman-teman di kelas ikut mengapresiasinya.
Drama itu sendiri sebenarnya hanya
sebuah drama yang sederhana dan cenderung acak-adul. Tidak memerlukan banyak properti
yang mahal maupun rumit, kecuali satu hal yaitu sepeda. Dan ini hal yang sangat
krusial, tanpa sepeda drama itu tidak akan berjalan dengan sempurna. Karena itu
dari jauh-jauh hari saya sudah mem-booking sepeda milik Nurlela yang sering
dibawanya ke kampus. Sampai H-1 Nurlela masih setuju sepedanya dipinjam buat
drama. Tapi semua berubah pas hari H. beberapa jam sebelum acara dimulai
Nurlela masih belum kelihatan batang handphonenya (maklum Nurlela terlihat
sering menelpon). Saya kemudian samperin ke kelasnya. Waktu itu sedang
kuliahnya Pak Komar. Saya tanya mana sepedanya? Nurlela hanya menjawab kalau
dia tidak membawa sepedanaya (padahal di hari biasa dia selalu membawa sepeda).
Saya kemudian menyuruhnya untuk mengambil dahulu sepedanya di tempat dia kos
yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kampus. Tapi dia tidak mau. Saya kemudian menawarkan diri untuk
mengambilnya sendiri ke tempat kosnya. Dia tetap tidak mau juga. Alasannya banyak,
sepedanya mau dipinjam sama saudaranya lah, kunci kosannya dibawa bapak kos
lah, ban sepedanya kempes lah, entut lah, tai ucing lah, silit lah,
ngentot lah. Pokoknya semenjak saat itu saya memutuskan untuk mendendam
kepada Nurlela. Go to hell with your fucking
bike, Nurlela!!
Saya sempat kelabakan waktu itu. Campur
aduk antara perasaan kesal kepada Nurlela dan bingung mencari sepeda. Sementara
waktu pementasan drama semakin dekat. Akhirnya, berdua dengan Dendi saya
putuskan untuk mencari langsung sepeda penggantinya di seputaran Karang Jalak.
Ternyata pencarian sepeda itu tidak
mudah dan sangat pelik, sepelik ustadz pelik siauw. Model sepedanya memang
harus seperti model sepeda Nurlela yang bisa distandar dua seperti motor
sehingga bisa diduduki. Setelah berkeliling beberapa lama akhirnya sepeda model
itu bisa ditemukan. Di sebuah rumah tukang jahit di dekat warung Mbak Nana.
Kebingungan kedua kemudian melanda
saya. Saya adalah tipe orang yang sulit berdiplomasi dengan orang lain. Bagaimana
saya harus menjelaskan ke pemilik sepeda itu bahwa sepedanya mau dipijam untuk
pementasan drama? Apakah saya harus member imbalan untuk mereka? Syukur kalau
tidak, tapi gak enak juga. Kalu pun iya ngasih, berapa yang harus saya kasih? Ketika
kebingungan itulah kemudian Dendi tampil ke depan dan bilang kepada saya, “udah,
Ky. Biar saya yang ngomong”. Dengan mantap dan penuh keyakinan Dendi kemudian
berdiplomasi dengan pemilik sepeda tersebut. Dan berhasil! Kami diizinkan untuk
meminjam sepeda itu. Syaratnya hanya satu, “jangan pulang lebih dari jam 2 ya? Sepedanya
mau dipake jemput anak di sekolah”. Saya
merasa plong seketika. Dan itulah hutang budi kedua saya kepada Dendi.
***
Saya tidak
tahu bagaimana penilaian penonton terhadap drama yang kelas kami pentaskan. Tapi
menurut saya drama itu keren sekali. Bukan karena saya menulis lakonnya
sendiri, tapi karena semua yang terlibat dalam drama ini berperan dengan
sempurna dan terlihat senang. Eko berperan sebagai dalang dengan konyol, Yossie
dan Ocha men-dubbing suara dengan pas, Bayu dan Obet dan The Awas Angkot memainkan
musiknya dengan serius, Lilis tampil manis sekali hari itu. Sementara Bang
Mamat dan Agiet menari dengan imut dan sangat menggelikan. Oh iya, Dendi pun
tampil gagah dengan jaket jins buluk yang dipinjam dari Obet. Dan jangan
dilupakan peran Imam Taufik yang sangat brilian sebagai seorang kakek-kakek. Meskipun
kita ketahui bersama ditengah adegan beliau kembali lupa skrip, seperti ketika
latihan. Tapi justru hal itulah yang membuat drama ini menjadi lebih hidup. Puncaknya
adalah ketika drama itu selesai dan The Awas Angkot memainkan lagu Arti Sahabat
dari Nidji sebagai penutup semua teman-teman naik ke atas panggung dan
menciptakan sebentuk chaos. Saya yakin saat itu sambil bernyanyi na. . na. . na.
. na. . na. . na . . na. , saya merasa benar-benar bahagia. The best day ever
lah kalau mengutip salah satu episode Spongebob mah.
Saya senyum-senyum sendiri seperti orang
gila di sisa hari itu. Dan tentu saja senyuman itu tidak akan pernah menghiasi
wajah saya tanpa bantuan dari teman-teman semua. Tanpa keikhlasan si pemilik
sepeda yang meminjamkan sepedanya, dan tanpa Dendi Nugraha yang sudah
berdiplomasi sehingga sepeda itu bisa
kami pinjam.
Pokoknya untuk Dendi dimana pun
kamu berada saat ini. Saya tidak peduli kamu sekarang sudah punya mobil. Pun saya
tidak peduli kalau kamu sudah punya rumah dan jadi PNS. Saya juga tidak peduli
kalau kamu kebelet kawin dan nelponin setiap teman-teman cewek di kelas untuk
diajak nikah. Saya makin tidak peduli kalau nanti kamu mau nikah sama siapa
(asal jangan sama istri dan anak saya aja sih). Pokoknya terima kasih, Dendi! Saya
pernah berhutang budi kepadamu. Sekali lagi, TERIMA KASIH, DENDI!!! DAN JANGAN TENGGELAM DALAM BIRAHI!!!!
Kampung Melayu, 18
Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)