Jumat, 22 Maret 2013

Jilbab : Antara Kewajiban, Tren Atau Sebuah Topeng Belaka


Maraknya fenomena remaja perempuan yang memutuskan untuk berjilbab dalam beberapa tahun belakangan ini menarik perhatian saya terhadap persoalan jilbab. Terutama karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam tetapi bukan negara yang memberlakukan hukum Islam di dalamnya, sehingga negara tidak berhak mengatur warganya untuk berjilbab. Meskipun ternyata dalam Islam sendiri kewajiban berjilbab ini masih menjadi pertentangan diantara para ulama dan cendikiawan muslim didalamnya (untuk lebih jelasnya bisa baca buku karya M. Quraish Shihab yang berjudul Jilbab : Pakaian Wanita Muslimah. Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontemporer).

Saya kemudian melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa teman perempuan saya tentang alasan mereka tidak berjilbab meskipun mereka seorang muslim. Beberapa diantaranya menyatakan bahwa dirinya belum siap untuk berjilbab (karena baginya persoalan jilbab bukan hanya persoalan pakaian semata), ada juga yang menyatakan keputusannya tidak berjilbab karena menurutnya jilbab itu terkesan kaku, “kuno”, dan tidak sesuai mode, atau bahkan pernyataan bombastis nan narsistis dari temannya teman saya seperti berikut, “saya merasa lebih cantik nggak pake kerudung karena kata orang rambut saya bagus, apalagikalau kena angin berasa mirip artis Luna Maya”.

Oke, apapun alasan mereka survei tadi hanyalah sebuah survei kecil-kecilan yang tentunya memerlukan penelitian lebih lanjut untuk bisa menganalisis faktor-faktor penyebab perempuan Muslim tidak berjilbab. Tapi saya kira pernyataan yang menyatakan kalau berjilbab itu terkesan kuno dan tidak sesuai mode sudah kurang relevan lagi sekarang. Apalagi jika mencermati perkembangannya beberapa tahun belakangan ini. Indikasinya bisa terlihat dari banyaknya buku/majalah yang berisi panduan-panduan dan model-model jilbab yang mudah kita temui di toko buku. Video tutorial berjilbab pun bisa dengan mudah kita cari di Youtube. Bahkan kini komunitas perempuan berjilbab (hijabers) sudah mulai ramai terbentuk, seperti saat ramainya  komunitas Stand Up Comedy yang terbentuk  di beberapa kota saat Stand Up Comedy mulai booming di Indonesia. Hal ini mengindikasikan jilbab sebagai sebuah pakaian sudah mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga kini bisa dikatakan berjilbab menjadi sebuah tren tersendiri, tidak lagi kuno dan ketinggalan mode.

Selain beberapa gambaran tadi, ada juga fenomena lain yang menarik mengenai jilbab ini. Munawar Azis dalam tulisannya di harian Tempo tanggal 3 Februari 2013 menyebutnya dengan fenomena “mendadak saleh”. Fenomena mendadak saleh ini terkait dengan fenomena dimana seseorang (entah itu pejabat publik atau warga sipil) yang tersandung kasus hukum lalu tiba-tiba saja berjilbab, padahal dalam kesehariannya individu tersebut bukanlah seseorang yang biasa berjilbab. Munawar Azis memberikan 3 contoh kasus yang lekat dengan ingatan publik mengenai fenomena mendadak saleh ini. Neneng Sri Wahyuni (kasus korupsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya), Nunun Nurbaeti (kasus cek pelawat Gubernur Bank Indonesia) dan Afriyani Susanti (pelaku tabrakan maut di Tugu Tani). Ketiganya mendadak memakai jilbab saat tampil di gelanggang pengadilan (Neneng bahkan sampai menggunakan cadar), padahal dalam dokumentasi kesehariannya, ketiga orang tersebut tidak pernah terlihat berjilbab. Fenomena mendadak saleh inilah, lanjut Munawar Azis, yang dalam diskursus identitas sosial disebut sebagai politic of piety (politik kesalehan). Dimana politik kesalehan ini menjadi suatu strategi untuk mengkonstruksi citra yang baru dengan merobohknan citra lama yang kejam dan jahat. Citra lama yang coba mereka robohkan sebagai seorang pesakitan hukum yang kemudian direkonstruksikan lewat  jilbab atau kerudung sebagai bagian dari penanda kesalehan. Dalam khasanah sosial Indonesia, jilbab memang sudah kadung identik dengan kesan saleh dan agamis.

Sebenarnya tanpa harus memahami makna politic of piety dan segala tetek bengeknya pun kita sudah maklum dengan negara ini yang gemar dan mudah memberi stigma seenaknya terhadap sesuatu. Seperti terhadap seseorang bertatto yang lekat dengan stigma negatif. Atau betapa menakutkannya stigma yang melekat pada kata Komunis, yang seolah-olah tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat kita. Hal demikian juga berlaku untuk jilbab. Para perempuan berjilbab akan terkesan sebagai individu yang saleh, agamis dan religius. Meskipun sikap mengeneralisasi seperti ini adalah sebuah tindakan yang sembarangan dan terkesan bodoh. Karena kita tidak pernah tahu individu seperti apa yang bersembunyi dibalik tatto maupun jilbabnya?

Jadi pada akhirnya akumulasi dari berbagai  fenomena dan gambaran tentang jilbab  tadi membawa saya (dan seharusnya juga mereka) kepada sebuah pertanyaan, apakah keputusan mereka berjilbab itu murni karena panggilan agama, mengikuti arus tren semata atau mungkin hanya sebagai topeng dan sarana pencitraan belaka?

Rabu, 19 Desember 2012

Ketika Engkau Kecup Hangat Selangkangan Ini



Kamis malam itu ketika rintikan hujan membasahi bumi Kuningan asri, Ipong memberi kabar bahwasanya dia kesepian dikosan yang dia tempati...

Terbesit dipikranku, untuk segera menemuinya, sekedar bertukar cangkir, berbagi rokok ataupun melakukan aktivitas selayaknya malam jumat...

Tak perlu berpikir dua kali gumamku... segeralah aku membawa perbekalan satu bungkus rokok tanpa cukai, dan sebotol Insto untuk berjaga jika Ipong berontak...

Ku panaskan kuda besi ku... dan segera pamit pada suami ibuku untuk mengerjakan dengan dalih tugas kuliah...
Kian lama, rintikan hujan semakin membesar menemani puluhan kilometer yang kulalui ini...
Dinginnya hujan, tebalnya kabut, dan embun yang menghalangi kaca helm hanya secuil batu yang krikil yang menghalangi pertemuanku malam ini...
Hanya lamunanku yang terus memotivasi mengalahkan dinginnya malam...
Lamunan ketika aku tiba dikosannya, Ipong menyambutku dengan lingrie seksinya, kasur dengan sprei ungu motifmawar, taburan bunga melati dikasur, lilin, cambuk, lantunan musik post-rock dan obat nyamuk bakar yang tertata rapih disudut kamarnya...
Tiba-tiba muncul bis berwarna kuning bernama Luragung Jaya jurusan Jakarta-Kuningan dari arah berlawanan membuyarkan lamunanku...
Aku tersontak, segeralah kuda besiku ku belokan, namun badan bis kuning keparat itu terlalu besar...
Dengan  kecepatan 130 km/jam bis kuning itu sukses mencium selangkanganku yang berusaha menghindarinya... roboh pun tak bisa dihindar...
Hanya berjarak 6 meter saja, aku dan motorku terpisah, sementara bis kuning tersebut pergi meninggalkan kami dengan angkuhnya...
Aku tak kuat bangkit lagi, pandangan mataku mulai kacau... aku membayangkan Ipong menungguku disana mulai mencari timun untuk  pengganti diriku...
Entahlah... hanya Tuhan dan obat nyamuk bakar saksinya...

Selasa, 23 Oktober 2012

Dibawah Bendera Revolusi


Coba ketikkan kata kunci “Dibawah Bendera Revolusi” di beranda Google maka kita akan menemukan sebuah buku yang dijual dengan harga yang cukup tidak masuk akal. Terakhir saya melihat di sebuah  toko jual beli online yang mematok harga 60 juta untuk 2 jilid buku ini, dengan dalih sebagai mahar untuk pendirian sebuah yayasan. Entah benar atau tidak? Saya sendiri cukup beruntung ketika salah seorang kakek di toko buku bekas langganan saya menawarkan buku ini dengan harga yang cukup murah, bahkan lebih murah dibanding tiket konser Lady Gaga. Dengan segera buku ini pun berpindah kepemilikan ke tangan saya.
Kondisi bukunya sendiri bisa dibilang masih sangat bagus, mengingat buku itu sendiri diterbitkan tahun 1963, satu umur dengan ibu saya sendiri. Dan seperti halnya ibu saya, buku itu masih terlihat cantik. Dengan cover berwarna biru gelap dan tulisan emas yang dicetak diatasnya, minimalis tapi begitu ikonik. Isinya? Setelah membaca buku ini saya menjadi begitu bergairah, sekaligus merasa pilu. Begitu cintanya seorang Bung Karno pada bangsa ini, dan jika beliau saat ini masih hidup mungkin akan merasa sangat sedih melihat cinta yang diperjuangkannya menjadi seperti ini, bahkan seorang bocah ababil bernama Justin Bieber dengan seenaknya menyebut negeri ini random country.
 Buku ini merangkum beberapa tulisan Bung Karno di berbagai harian seperti Suluh Indonesia Muda, Fikiran Rakyat, Pandji Islam, Pemandangan dan Pembangunan dalam rentang waktu 1926-1941. Termasuk beberapa surat beliau ketika diasingkan di Endeh, serta satu tulisan tangan beliau yang berjudul “Mendjadi Guru dimasa Kebangunan” yang sayang sekali tidak bisa saya baca. (mohon bantuannya, apoteker).
Membaca buku ini seperti menyelami isi kepala seorang Ir. Soekarno, inilah pemikiran beliau yang paling menggairahkan, bergelora dan menantang. Masa ketika Bung Karno masih rebel-rebelnya, yang tidak ada kompromi sama sekali dengan kaum penjajah, istilahnya non-kooperasi, bahwa hanya dengan aksi massa yang radikal dan revolusioner dan tanpa kompromilah yang bisa mengusir penjajah dari bumi nusantara ini.
Saya membagi isi buku ini secara garis besar menjadi 3 bagian pemikiran Bung Karno. Yang pertama tentang nasionalisme, kedua tentang Islam dan ketiga tentang pandangannya mengenai politik luar negeri yang sedang terjadi saat itu. Dari ketiga garis besar pemikiran Bung Karno tersebut terdapat satu kesamaan nafas dari setiap tulisannya, menggugat, atau kalau meminjam iklan Top Kopinya Iwan Fals, yaitu BONGKAR!
Sebagai seorang kutu buku yang buas dan rakus tentu saja pemikiran Bung Karno tidak terlepas dari pengaruh setiap bacaan yang beliau baca tapi seperti yang saya sebutkan diatas beliau tidak serta merta menelan bulat-bulat semua hal yang dibacanya, isi buku tersebut akan beliau refleksilkan sebelum kemudian beliau bongkar dan gugat sebelum pemikirannya merasa puas dan cocok. Contohnya, Bung Karno adalah seorang umat Marxis sejati, tetapi beliau menyadari bahwa kaum buruh proletar di Indonesia tidak sama seperti di Eropa, karena itu beliau tidak serta merta menyamakan kondisi kaum proletar Indonesia dengan Eropa tetapi mengambil irisan-irisan Marxisme yang disesuaikannya dengan kondisi kaum proletar di Indonesia, kita kemudian akan mengenalnya dengan Marhaenisme. Bung Karno juga mengagung-agungkan Revolusi Prancis yang berujung pada lahirnya demokrasi liberal di Prancis. Tetapi lagi-lagi Bung Karno menolak demokrasi tersebut bisa dijalankan di Indonesia, menurutnya Indonesia tidaklah menganut Demokrasi Liberal, demokrasinya kaum borjuis yang pada ujung-ujungnya tetap menyengsarakan kaum buruh.
Tidak hanya itu, di tulisan pertama pembuka buku ini yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” beliau dengan tegas mengkritik para penganut isme-isme tersebut yang dianggapnya hanya memecah persatuan bangsa. Menurut beliau seharusnya kaum nasionalis, Islam dan Marxis tersebut bisa bersatu untuk menghancurkan kolonialisme. Bahkan di tulisan yang lainnya yang berjudul “Menjadi Pembantu Pemandangan”, Bung Karno menyatakan bahwa dirinya sendiri adalah gabungan dari paham Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Simak tulisannya berikut,
“Apakah Sukarno itu? Nasionaliskah? Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca. .  Sukarno adalah campuran dari semua isme-isme itu!”
Tidak ada yang meragukan kadar Nasionalisme seorang Bung Karno, dan dari Nasionalisme inilah keyakinan Bung Karno kepada Islam semakin kuat karena menurutnya kecintaan kepada tanah air adalah sebagian dari iman juga. Islam dalam pandangan Bung Karno adalah agama yang menjunjung tinggi kecintaan terhadap tanah air, kecintaan yang bukan berujung pada chauvinisme tentunya.
Dan Marxisme sendiri, meminjam perkataan dr. Cipto Mangunkusumo, adalah sebuah paham yang “membakar Soekarno punya jiwa”. Menurut Bung Karno teori Marxisme inilah yang dianggapnya cocok dan kompeten dalam menyelesaikan  dan memecahkan soal-soal sejarah, politik dan kemasyarakatan. Dan Marxisme sendirilah yang menanamkan kebencian Bung Karno terhadap fasisme, kolonialisme dan kapitalisme.
Yang paling menarik lagi dari buku ini adalah pandangan Bung Karno tentang Islam. Bung Karno bukanlah penganut Islam kacangan. Beliau membaca Qur’an dan berbagai literatur tentang Islam dengan tekun, khususnya ketika beliau diasingkan di Endeh. Hal ini bisa dibaca melalui surat-menyurat beliau dengan T. A Hassan, guru Persatuan Islam di Bandung. Menurut Bung Karno apa yang menjadi kemunduran Islam adalah pemahaman yang kolot dan kaku terhadap Qur’an dan Hadist, yang menyebabkan umat Islam ketinggalan zaman. Tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan terlalu lama berdebat tentang haram dan halal, meskipun hal yang menjadi perdebatan tersebut tidak pernah ada dalam Qur’an dan Hadist.  Kita tidak bisa menyamakan Islam zaman sekarang dengan Islam zaman Nabi, atau kata Bung Karno Masyarakat Zaman Onta dengan Masyarakat Zaman Kapal Udara. Coba perhatikan tulisan Bung Karno dibawah ini,
Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air didalam panci di dekat sumur.
Saya punya anak Ratna Djuami berteriak :
“Papi, papi, si Ketuk menjilat air di dalam panci!”
Saya jawab : “buanglah air itu dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin”
Ratna termenung sebentar, kemudian ia menanya : “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini mesti dicuci tujuh kali, antaranya satu kali dengan tanah?”
Saya menjawab : “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin. Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin”
Muka Ratna menjadi tenang kembali. Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.
Maha Besarlah Allah Ta’ala, Maha Mulialah Nabi yang Ia suruh!
Dengan jenius sekali Bung Karno memberikan sebuah contoh bagaimana Islam seharusnya bisa menyesuaikan dir dengan perkembangan zaman. Pemikiran seperti inilah yang diperjuangkan Bung Karno dalam Islam, Islam yang tidak hanya terus-terusan berdzikir dan hanya tepekur di mesjid tetapi tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Hal ini hanya akan membuat umat Islam semakin tertinggal,Bung Karno menyebutnya “Islam Bersorban” atau “Islam Bercelek”, Islam yang tidak bisa menyesuaikan diri dan ketinggalan zaman. Bung Karno sudah menyadarinya lebih dari 50 tahun yang lalu, tapi sayang sekali umat Islam yang dikritiknya kini menjadi semakin banyak dan tumbuh subur. (Hallo FPI. .)
Dengan deretan pemikiran-pemikiran yang penuh gairah dan gelora tersebut wajar saja jika pada masa Orde Baru buku ini menjadi sebuah buku terlarang dan tidak pernah dicetak lagi. Paham-paham Soekarnois seolah ditekan dan dimusnahkan karena bagi Orde Baru semua hal yang dianggap menganggu kemapanan adalah sebuah hal terlarang dan berbahaya. Sebuah paranoid tingkat akut terhadap  setiap semangat yang menggugat, memberontak dan membongkar status quo. Hasilnya lumayan berhasil. Kita bisa menyaksikan sebuah negara yang sedang menuju pada bentuk kleptokrasi. Kita bisa melihat generasi yang lupa pada sejarah, yang diracuni Philip Morris, televisi dan Justin Bieber!  

Jumat, 05 Oktober 2012

Untuk Yossie Dan Wiwin Dan Kisah Cintanya Yang Melegenda

Mas ini opik, punten kata si wiwin, tulisannya mas itu buat wiwin risi, udah ganggu privasinya dia katanya, punten diapus mas. Jangan ganggu privasi wiwin.

Jadi terpaksa deh para pemirsa tidak bisa membaca catatannya karena sudah saya hapus. Terimakasih atas pengertiannya. D

Jumat, 27 Juli 2012

Jemmy Oh Jemmy 5 : Saking Menjiwai Kisah Ini Sehingga Membuat Saya Lupa Harus Memberi Judul Apa Untuk Episode Kali Ini ?


Teretetetet tet. .tetet. .tetet. .
(Maaf suara diatas bukanlah suara petasan, meskipun kisah ini ditulis di Bulan Ramadhan yang selalu ramai dengan suara petasan). 

Lalu suara apakah itu?? Itu adalah suara knalpot motor, dalam media berbentuk tulisan seperti ini memang sangat susah sekali mendeskripsikan suatu bunyi menjadi sangat jelas dan bisa dipahami. 

Lalu kenapa suara knalpot motor bunyinya seperti itu? Kenapa tidak brum. .brum . .brum . .? atau grung. .grung . .grung . .? biar terdengar suaranya lebih gagah? Supaya orang yang membaca tulisan ini secara tidak langsung membayangkan suara itu berasal dari mesin Ducati? Karena memang suara knalpot yang saya dengar bunyinya seperti itu, teretetet tet tet tet. . 

Lalu motor siapakah yang suara knalpotnya seperti itu? Tidak lain dan tidak bukan suara itu berasal dari sepeda motor milik saudara Dudu Rochendi. (yeaaaahhhh.. selamat datang Mas Duu di semesta Jemmy Oh Jemmy. Hahaha)

Untuk kisah Jemmy Oh Jemmy part 5 ini saya mengawalinya bukan dari Jemmy tetapi dari Dudu, lebih tepatnya lagi dari sepeda motor miliknya yang saya bayangkan sedang melintasi debu jalanan kota Cirebon yang gersang, yang pohon-pohonnya kini berganti menjadi tembok beton yang dengan bangga disebut oleh walikotanya sebagai mall.

Dudu tidak sendirian. Dia membonceng lagi seorang temannya yang berperawakan tinggi jangkung layaknya seorang Peter Crouch, hanya saja bedanya Peter Crouh yang ini bukan berasal dari daratan Britania melainkan dari daratan yang juga tak kalah gersang dengan Cirebon, yaitu Arab Saudi. Fickar Mustafa Basamalah namanya. Mahasiswa jurusan manajemen yang sudah berencana jika lulus nanti akan membuka klinik Tong Fang yang insya alloh akan membantu kaum lelaki bertambah panjang setidaknya 5 cm. Silahkan tafsirkansendiri apanya yang bertambah panjang tersebut.

Berdua mereka menembus terik siang demi memenuhi panggilan seorang teman tercinta, Yang Mulia Jemmy. Karena Jemmy dalam kisah ini bukanlah seorang fotografer maka untuk memenuhi eksistensinya di dunia kampus maka dia berencana untuk membentuk sebuah band yang tujuannya tidak pernah jauh-jauh dari modus untuk menggaet para kimcil beserta para SPG dan sebagian mahasiswi tingginya bertambah (bukan karena klinik Tong Fang) tetapi karena memakai wedges. Maka dipanggilah Dudu dan Fickar, 2 teman sekelasnya, yang menurut Jemmy bisa bermain musik setidaknya satu level dengan Armada. Tanpa bisa menolak Dudu dan Fickar pun langsung mengiyakan ajakan Jemmy. Lalu teretet tet tet tet. . . melajulah motor Dudu bersama imajinasi saya.

Memasuki daerah Perumnas Cirebon, yang admin dari akun twitternya masih menjadi misteri sampai sekarang, tiba-tiba Dudu menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah rumah.

“Ko berhenti, Mas Duu?” kata si Fickar penasaran.
“Bentar Rab, kayaknya ada yang aneh deh”
“Hah? Apaan Mas Duu?”
“Tadi ane liat sesuatu yang janggal Rab?”
“Ahh ente jangan aneh-aneh Mas Duu? Masa siang-siang gini liat setan??”
“Bukan setan, Rab. Tapi janggal aja gitu ane liatnya?”
“Apaan sih Mas Duu? Jangn bikin ane ketakutan sih?”
“Ahh cemen ente, titit aja gede tapi penakut”
“Waah jangan bawa-bawa titit Mas Duu, gak ada hubungannya antara besar titit sama besar rasa takut”
“Ahh kita ko jadi ngomongin titit sih Rab? Bahlul ente”
“Ente yang mulai sih,  bilang liat hal-hal yg aneh segala?”

Kemudian Dudu memundurkan motornya beberapa meter ke belakang, ke dekat sebuah rumah gedong.
“Coba deh Rab ente perhatiin tulisan itu?” kata Dudu sambil menunjuk sebuah tulisan di sebuah papan di depan rumah gedong. Fickar kemudian menoleh mengikuti arah telunjuk Dudu. Matanya tertuju pada tulisan seperti yang dituduhkan oleh Dudu, 

Notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah
Rezky Aditya Perdana S.E

“Waah bener Mas Duu, kayaknya ada yang aneh dengan tulisan tersebut?” 
“Bener kan kata ane, makanya tadi pas lewat ane langsung berhenti.”
“Tapi apanya yang aneh ya Mas Duu?”
“Nah itu dia, Rab. Ane juga bingung!!”
Fickar memandangi kembali tulisan tadi. Pikirannya mencoba menerawang keanehan tulisan tersebut. Tetapi rupanya mentok, pikirannya tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan. Selalu mentok kepada bayangan paha Mamah Rista.
“ Astagfirullah” gumam Fickar.
“Kenapa, Rab?”
“Aneh ko ane malah kepikiran pahanya Mamah Rista ya?”
“Subhanallah, Rab!! Kok sama ya??!!”
“Ya ampuuun Mas Duu, ternyata kita memang benar-benar sehati. Ane jadi terharu” kata Fickar. Matanya terlihat berkaca-kaca, kemudian mereka berdua berpelukan. (anjiis geuleuh pisan haha)

Ditengah adegan yang menajiskan tersebut lewatlah si tukang cukur Idham dengan sepeda motornya. Biar beda suaranya dengan sepeda motor Dudu maka suaranya saya buat seperti ini, breuum . .breuumm. .breumm. . 

Idham berhenti di depan adegan pelukan yang menajiskan tadi.

10 menit kemudian. .

Ehhhh. . nanaonan ieu??” dengan logat Sundanesse yang kental. Kaget mendengar ada suara yang menegurnya, adegan  peluk-pelukan Dudu-Fickar pun berakhir.

“Ehhh. .hehe. .biasa A, romansa masa muda” jawab Dudu sambil tersipu malu. Mukanya memerah seperti tomat matang tapi busuk.
“Jangan disini atuh adegannya, malu sama yang baca”
“Gak tau atuh A, da penulisnya kok bikin adegan kayak gitu segala?” kata Fickar yang kumisnya basah gara-gara menangis elakukan adegan pelukan tadi yang ternyata sangat mengaharu biru sehingga membuat sisi hello kittynya keluar.
“A Idham sendiri ngapain lewat kesini, libur nyukur rambutnya?” giliran Dudu yang bertanya.
“Sama atuh, saya juga ga tau da penulis ceritanya ko bikin adegan saya lewat sini dan harus menyaksikan pelukan paling romantis nan najis selama 10 menit” jawab Idham yang bagian sleting celananya terlihat agak mancung setelah menyaksikan adegan pelukan Dudu-Fickar.

Ahhh beungeut su’uk ieu mah anu nulis caritana” kata Fickar yang berbodi Arab tapi berlidah Sunda.
“Ah lieur saya mah. Ya sudah saya mau balik lagi ke pangkalan untuk menunaikan tugas wajib mencukur rambut” kata Idham seraya menyalakna mesin motornya. Tapi kemudian Dudu mencegahnya.
“bentar dulu A, coba liat itu. Ada yang aneh gak sih?” kata Dudu sambil menunjukkan papan nama yang tadi dilihatnya.
Idham pun melihatnya,

Notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah
Rezky Aditya Perdana S.E

“Betul euy, kayak ada yang aneh ya? Berasa kurang sreg di hati” Idham juga merasa kebingungan.
“ coba sebentar saya pikirkan dulu” Idham pun merenung.

15 menit kemudian. .

“Astagfirullah !!” Idham tersentak kaget.
“Kenapa A!!” Dudu dan Fickar juga ikutan kaget. (“iya kenapa sih A?!!” penulis juga ikutan kaget)
“Aneh ko saya jadi kepikiran pahanya Ipong yaa?? Kata Idham datar.
Dudu dan Fickar muntah. Penulis juga.

Setelah selesai muntah. .

Ipong yang dimaksud oleh Idham adalah Irfan Hermawan yang pernah bermain di filem James Bloon agen gas elpiji 13 kg, juga pernah menjuarai ajang Jakarara untuk kategori pria termaho, dan yang terakhir pernah jatuh cinta sama Ivana tapi kemudian tidak jatuh cinta lagi sama Ivana karena Ivana suka sama Armada.

“Ini masalah ideologi, Bung!!” jawab Ipong tegas saat ditanya kenapa lebih memilih untuk tidak jatuh cinta sama Ivana yang suka Armada. Akhirnya Ipong jatuh cinta sama Idham karena Idham suka sama Suede. Dan saya, Dudu serta Fickar pun muntah lagi.

Setelah selesai muntah yang kedua. .

Idham pun menghubungi Ipong untuk segera datang ke tempatnya berada. Idham merasa bahwa Ipong bisa menjawab keanehan yang terjadi pada sebuah papan tulisan tadi. 

“Say. . bisa kesini gak?” kata Idham melalui handphonenya.

Diseberang telepon terdengar sebuah jawaban,
“Maaf pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan isi ulang terlebih dahulu”
“Ehh Ipong. . ko suara kamu jadi kayak robot gituh??”
Tidak terdengar jawaban dari Ipong selain suara tuuuut tuuut tuuut. Telepon terputus.
Wajah Idham tampak muram. Ia mengira Ipong berubah. Suaranya tidak mesra lagi. Malah berubah menjadi seperti robot. Idham takut perasaan Ipong ikut berubah seperti suaranya. Melihat Idham tiba-tiba berubah murung, Dudu dan Fickar pun menjadi penasaran.

“ A kenapa atuh jadi kusem gitu mukanya?” 

“Gak tahu eyy, tiba-tiba aku merasa Ipong berubah!! Apakah perasaanya kepadaku pun ikutan berubah?? Aku tanpa Ipong bagaikan butiran tai embe anu jiga sukro tea geuning!!” Idham mendeklamasikan kegundahannya di hadapan Dudu-Fickar yang segera saja ikut terhanyut ke dalamnya. Tanpa dikomando siapapa pun mereka bertiga pun saling berpelukan, dihadapan sebuah papan nama yang masih menjadi misteri buat mereka bertiga, sama misteriusnya dengan admin @InfoPerum yang sekarang sedang duduk dibalik layar komputernya sambil tertawa xixixixixixixi. Di kepalanya keluar tanduk iblis.Tentu saja adminnya bukan saya karena saya sedang mengetik kisah ini yang ternyata baru saya sadari belum menceritakan tentang Jemmy sedikitpun, padahal judulnya Jemmy Oh Jemmy Part 5. Saya rasa saya dikutuk oleh Armada karena sering ngomongin mereka, jadinya mau dibawa kemana kisah ini? 

To Be Continued dulu biar keren . . .