Rabu, 27 Juni 2012
Cinta Melulu
Oh God let it end, I cannot go on
I fall to my knees, my frail is will gone
my frail is will gone!
I've been sleeping for so long
At last I see..
What you did behind me!
Perhatikan penggalan lirik diatas. Jika saja yang menyanyikan lirik itu adalah band sekelas VOP atau Setia band mungkin saya tidak akan terlalu peduli. Tapi yang menyanyikan lirik diatas adalah pasukan melodic death metal paling beracun di Cirebon, Poison Nova. Lirik diatas adalah penggalan dari lagu milik Poison Nova yang berjudul Forsaken. Dan setelah saya menyimak dan mendengarkan beberapa materi dari band-band yang berasal dari Cirebon, hampir semuanya (tidak semuanya) masih bernyanyi dengan tema yang sama, cinta. Dan yang membuat saya gelisah adalah band-band yang bernyanyi tentang cinta itu bukanlah band-band sekelas Setia Band dan sejenisnya, melainkan band-band yang biasa menyebut dirinya punk, melodic, death metal, dan sejenisnya yang berada di luar jalur mainstream atau indie (itu pun jika kata indie masih relevan untuk digunakan)
Memang tidak ada aturan yang mengatakan jika band-band dengan aliran tersebut tidak boleh bernyanyi tentang cinta dan patah hati. Tapi jika kita mau menengok sejarahnya, mungkin kita pun akan mengernyitkan dahi? Entah apa yang akan dikatakan almarhum Joe Strummer kalau tahu jika punk mendadak menjadi ngepop dan bernyanyi tentang cinta-cintaan para kimcil? Atau betapa terkejutnya kita jika tahu dibalik serang brutal musik death metal dan suara growl vokalisnya mereka sebenarnya sedang bernyanyi tentang patah hati karena diselingkuhin pacarnya? Aneh sekali, bukan? Tapi bukan hal ini yang akan saya kometari lebih lanjut.
Sebelum saya melanjutkan tulisan ini saya tegaskan bahwa menulis lirik tentang cinta dan patah hati itu tidak salah dan tidak haram sama sekali, mungkin hanya sejenis Habib Rizieqan yang akan menyebutnya haram. Saya juga tidak akan menyalahkan mereka yang menulis lirik tentang cinta-cintaan. Saya juga tidak akan mengajari bagaimana mereka seharusnya menulis lirik, karena mengajari seseorang dalam menulis lirik itu seperti mengajari bagaimana seseorang berpikir. Menulis lirik bukanlah skill yang bisa dilatih, hal itu sudah tertanam dalam diri setiap manusia yang dibentuk dari pengalaman dan cara pandangnya terhadap lingkungan dan sekitarnya. Jadi yang bisa saya tuliskan disini hanyalah “menyayangkan” mereka yang masih menulis lirik tentang cinta.
Kenapa saya bisa “menyayangkan” sebuah hal yang mungkin bisa dianggap sepele? Hal ini mungkin sepele untuk sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Saya setuju dengan filsuf dan sastrawan Prancis, Jean-Paul Sartre yang menolak adagium art for art’s sake, seni untuk seni sendiri. Jika Sartre berpendapat bahwa sastra harusnya bisa membangkitkan keberanian pada manusia untuk mengubah dunia hidupnya dan menolak gagasan bahwa sastra tidak perlu terlibat dalam masalah sosial, maka begitupun halnya dengan musik. Saya setuju kalau musik bisa terlibat dalam permasalahan sosial ditempatnya dan bisa sangat berpengaruh terhadap seseorang. Jika para sastrawan menggunakan puisi sebagai senjata mereka, maka bagi sebuah band lagulah yang menjadi senjatanya. Dan elemen yang sangat penting dari sebuah lagu adalah liriknya. Sebuah band bisa menjadi motivator yang sangat hebat melebihi Mario Teguh bagi para fans dan pendengarnya melalui lirik lagu mereka. Sebagai contoh Ozzy Osborne pernah dikritik karena lagunya yang berjudul Suicide Solution karena dianggap “menyesatkan”. Jika lirik lagu yang dianggap “menyesatkan” seperti itu saja bisa mempengaruhi seseorang, bagaimana dengan lirik lagu yang misalnya berisi ajakan atau pesan-pesan yang positif seperti menjaga lingkungan dan alam?
Dalam film Inception, kita tahu jika sekali sebuah ide terlintas maka ide itu tidak akan pernah hilang dan jika sudah semakin menyebar maka ide itu akan berpengaruh terhadap tindakan-tindakan kita. Ide itu bisa datang dari mana saja, dari hasil pengamatan kita, hasil perenungan, dari sebuah buku yang kita baca dan tentu saja dari sebuah lirik lagu yang kita dengar. Tapi sayangnya band-band disini (Cirebon) masih saja berkutat dengan lirik cinta dan patah hati, meskipun tidak secara terang-terangan karena sebagian masih disamarkan lewat lirik berbahasa Inggris seperti penggalan lirik yang saya tulis pada awal tulisan ini. Seorang kawan yang pernah saya wawancara sempat mengetweet di akun twitternya, “musisi Cutting Edge tidak dekat dengan buku dan Turba, itulah salah satu sebab musik mereka terdengar banal”. Entahlah hal itu benar atau tidak? Setidaknya hal itu lebih baik daripada mereka terlalu apatis dan tidak peduli dengan sekitarnya.
Cinta dan patah hati memang bukan hanya milik Aurel Hermansyah seorang, setiap orang mungkin pernah merasakannya, mau dia itu seorang tukang becak, sopir angkot, atau seorang metalhead sekalipun. Mungkin karena itu pula menulis lirik tentang cinta menjadi lebih mudah, karena hampir setiap orang pernah merasakan dan mengalaminya. Tapi tidak semua orang merasakan efek langsung karena korupsi, sehingga mungkin karena itu menulis lirik tentang korupsi menjadi lebih sulit. Tapi sayang sekali jika kita yang hidup di Indonesia ini hanya menulis lagu tentang cinta dan patah hati, karena sebenarnya kita beruntung hidup di Negara yang kata si Justin Bieber, random country. Karena ada begitu banyak masalah di negara yang geje ini. Jangankan untuk ukuran Indonesia, untuk ukuran Cirebon pun masih banyak masalah yang setidaknya menuntut kita untuk peduli. Apakah kita harus menjadi korban dari geng motor terlebih dahulu untuk bisa peduli kalau geng motor itu sangat meresahkan dan harus dibumihanguskan dari dunia ini? Atau kita harus ditilang terlebih dahulu oleh polisi hanya untuk menyadarkan kalau mereka hanyalah para bajingan yang bersembunyi dibalik seragam??
Terlepas dari semua itu, menulis lirik memang hak dan kewenangan penulisnya sendiri.Apapun temanya, mau cinta atau patah hati tidak ada yang bisa menyalahkan dan mengharamkannya. Dan memang yang paling penting dari semua itu adalah pelaksanaannya. Bagaimana kita mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis? Karena akan menjadi percuma dan memalukan jika kita bernyanyi-nyanyi tentang anti korupsi kalau ternyata kita sendiri korupsi. Atau kata kawan saya tadi, bersembunyi dibalik label PEMBERONTAKAN tapi tidak melakukan aksi apa-apa. Mengutip sebuah penggalan puisi dari W.S Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata.”
Selasa, 29 Mei 2012
Asam-manis dibalik ajang JAKARARA 2012
Demi nama Damon Albarn dan Brett Anderson saya berhutang budi yang sangat besar kepada orang yang sudah dengan senang hati membocorkan sedikit kebusukan yang tidak pernah tercium publik dibalik ajang Jakarara 2012. Kebusukan yang lebih rumit dan misterius dibandingkan dengan kasus Wisma Atlet dan Hambalang, kebusukan yang melibatkan jepretan kamera dan tentunya sejuta modus yang tersembunyi dibalik mata yang menyorot tajam melalui lensa. Tapi ini bukanlah kebusukan untuk dicaci maki, namun sepatutnyalah kita apresiasi. Karena tanpa hal ini hidup para pelaku tidak akan pernah menjadi sebuah drama. Dan apalah artinya hidup tanpa drama? Bukankah Ahmad Albar sudah menyanyikannya bertahun silam bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara? untuk itu renungkanlah karena hidup itu selamanya drama.
Tengah malam itu tiba-tiba hp saya bergetar, PING!. Dari seseorang yang selama ini saya kenal meskipun tidak dekat. Tanpa diminta tiba-tiba dia menawarkan diri untuk diwawancara, tentu saja saya kaget? karena selama ini dia selalu menolak saya wawancara. Dan tiba-tiba sekarang dia malah meminta untuk diwawancara, sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Ternyata dugaan saya benar.
"Saya punya cerita mengenai keterlibatan Jemi, Kibot dan Kontong di Jakarara" bunyi bbm dari dia. Saya pun langsung menyimak dan mempersilahkan dirinya bercerita tanpa harus takut apapun.
beginilah kisahnya :
Semuanya berawal dari Jakarara. Tahun ini Jakarara dipegang oleh paguyuban (alumni) dan saya termasuk panitianya. Kebetulan saya dipercaya untuk menghandle bidang dokumentasi, art design dan visual. Dan untuk urusan dokumentasi entah kenapa saya terbesit dengan nama Jemi Alpian. Lalu saya hubungilah beliau untuk saya gandeng dalam mendokumentasikan seluruh rangkaian acara Jakarara (foto). Beliau pun menyetujuinya. Hingga sampailah pada agenda pertama yaitu tehnikal meeting para peserta. Beliau dokumentasikan dengan baik sampai hari itu.
Namun ditengah perjalanan beliau kepincut dengan salah 2 panitia. Namanya sebut saja Mawar dan Melati. Kedua wanita tersebut berparas rupawan. (nama asli keduanya tidak bisa penulis sebutkan karena perjanjian dengan si sumber berita). Beliau bersikeras untuk menggali informasi sedalamnya dari saya tentang kedua wanita tersebut. Namun naas ketika beliau mencoba menggali info tentang Melati, setau saya Melati sudah punya Monyet! Saya liat di DPnya dan bio twitternya. Tapi sebenarnya dari awal juga beliau lebih tertarik dengan Mawar. Mengetahui hal itu beliau menghentikan pencarian informasi tentang Melati. Jemi mulai bermanuver dan menggali informasi tentang Mawar. Sehingga pada akhirnya saya kasih PIN BB doi kepada Jemi. Beliau pun langsung invite. Sumringah tiada tara, bagai monyet merindukan durian. Tapi Jemi sempat putus asa siang itu, belum ada nama Mawar dikontak BBNya hingga tiba sore hari, yeaaahhhhh confirmed! Mawar tertulis dikontak BB Jemi.
Segera setelah resmi berteman dengan Mawar di BB, Jemi mulai maling-malimg untuk chat. Dengan say hai yang terkesan kampungan. Beliau galau setengah mampus walaupun cuma dibales dengan emoticon :). Setelah itu saya tidak tahu lagi apa sisi chat beliau dengan Mawar.
Semakin sering bertemu dengan Mawar di acara Jakarara, Jemi semakin galau kampungan. Cuma yang paling nyeleneh sih kemarin, saat si Mawar pasang personal message di BBNya, "besok kondangan sama siapa ya?". Saya pun langsung bbm Jemi, "Jem itu Jem kesempatan". Jemi langsung respon, "Mawar ya? :D"
"Sikat Jooon!!"
"wah besok juga saya ada kondangan ey"
"nah kan bisa sekalian? barangkali aja sama tempatnya (nebak-nebak)"
"emang Mawar SMA mana sih, Pong?"
"SMA 1 Jem"
"Anjiiing! jangan jangan sama beneran tempatnya. saya juga kondangan ke teman anak SMA 1!"
"Kumaha Jem? Sikat aja atuuuh"
"Ga tau ey, malu saya nya"
Esok harinya Jemi pun komdamgan. Saya sempat bbm Kibot malemnya, menceritakan semua kejadian Jemi dan Jakarara. Sorenya saya bertemu Jemi dan saya tanya,
"Jem kumaha kondangannya? Bareng ga?"
"Enggak euy, saya bareng Eki cuma tadi ketemu di tempat kondangan. Mawar sama cwo, tapi muka cowoknya kayak abis berantem. memar-memar gitu."
"haaaaah???"
Saya kaget !! Saya kaget bukan karena Mawar bawa cowok. Saya kaget karena Jemi kondangan sama Eki dan ketemu Mawar. Setau saya, Eki juga suka sama Mawar!! Eki sempat menggali informasi tentang Mawar juga, dulu pas acara Live Forever yang talentnya Jakarara juga. Mampus tuh.
Lalu dimanakah peran Kibot dalam cerita ini?
Saya gak cuma gandeng Jemi sebagai fotografer, saya dulu sempat ketemuan dengan segerombolan pria galau dengan ketertarikan pada foto. Pria-pria galau yang 10 tahun kemudian akan jadi bapak-bapak arisan tersebut adalah C*&#% Photography. Didalamnya ada Kakcil (Kibot), Rizal, Bulbul. Dan cerita dimulai lagi dari sini.
Salah satu rangkaian acara Jakarara adalah sesi pemotretan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari. Coba tebak apa yang konyol? Ternyata salah satu finalis Jakarara adalah mantan pacarnya Kibot!!! Saya sendiri tahu dari Jemi, 2 hari sebelumnya. Namanya Dhini. Katanya Kibot sempet ngambek gak mau motret pas sesi foto waktu siang itu. Tapi berkat bujukan Kimul dan Jemi akhirnya Kibot mau juga. Dengan dalih mengatasnamakan profesionalisme. Pas sesi pemotretan untuk Dhini kebetulan sekali giliran Kibot yang pegang kamera, yang sebelumnya dipegang Rizal. Kibot sampe keang badag kesang lembut pas harus motretin Dhini. Tapi selesai juga. Kemudian pas kita semua sedang kumpul-kumpul, nyeletuklah Rizal,
"Awas foto Rara yang satu itu bakal dicetak 2 deh sama Kibot". Semua anak-anak terbahak-bahak, puas memojokkan Kibot. Dan selsesailah cerita ini. Semua berawal dari Jakarara.
Tengah malam itu tiba-tiba hp saya bergetar, PING!. Dari seseorang yang selama ini saya kenal meskipun tidak dekat. Tanpa diminta tiba-tiba dia menawarkan diri untuk diwawancara, tentu saja saya kaget? karena selama ini dia selalu menolak saya wawancara. Dan tiba-tiba sekarang dia malah meminta untuk diwawancara, sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Ternyata dugaan saya benar.
"Saya punya cerita mengenai keterlibatan Jemi, Kibot dan Kontong di Jakarara" bunyi bbm dari dia. Saya pun langsung menyimak dan mempersilahkan dirinya bercerita tanpa harus takut apapun.
beginilah kisahnya :
Semuanya berawal dari Jakarara. Tahun ini Jakarara dipegang oleh paguyuban (alumni) dan saya termasuk panitianya. Kebetulan saya dipercaya untuk menghandle bidang dokumentasi, art design dan visual. Dan untuk urusan dokumentasi entah kenapa saya terbesit dengan nama Jemi Alpian. Lalu saya hubungilah beliau untuk saya gandeng dalam mendokumentasikan seluruh rangkaian acara Jakarara (foto). Beliau pun menyetujuinya. Hingga sampailah pada agenda pertama yaitu tehnikal meeting para peserta. Beliau dokumentasikan dengan baik sampai hari itu.
Namun ditengah perjalanan beliau kepincut dengan salah 2 panitia. Namanya sebut saja Mawar dan Melati. Kedua wanita tersebut berparas rupawan. (nama asli keduanya tidak bisa penulis sebutkan karena perjanjian dengan si sumber berita). Beliau bersikeras untuk menggali informasi sedalamnya dari saya tentang kedua wanita tersebut. Namun naas ketika beliau mencoba menggali info tentang Melati, setau saya Melati sudah punya Monyet! Saya liat di DPnya dan bio twitternya. Tapi sebenarnya dari awal juga beliau lebih tertarik dengan Mawar. Mengetahui hal itu beliau menghentikan pencarian informasi tentang Melati. Jemi mulai bermanuver dan menggali informasi tentang Mawar. Sehingga pada akhirnya saya kasih PIN BB doi kepada Jemi. Beliau pun langsung invite. Sumringah tiada tara, bagai monyet merindukan durian. Tapi Jemi sempat putus asa siang itu, belum ada nama Mawar dikontak BBNya hingga tiba sore hari, yeaaahhhhh confirmed! Mawar tertulis dikontak BB Jemi.
Segera setelah resmi berteman dengan Mawar di BB, Jemi mulai maling-malimg untuk chat. Dengan say hai yang terkesan kampungan. Beliau galau setengah mampus walaupun cuma dibales dengan emoticon :). Setelah itu saya tidak tahu lagi apa sisi chat beliau dengan Mawar.
Semakin sering bertemu dengan Mawar di acara Jakarara, Jemi semakin galau kampungan. Cuma yang paling nyeleneh sih kemarin, saat si Mawar pasang personal message di BBNya, "besok kondangan sama siapa ya?". Saya pun langsung bbm Jemi, "Jem itu Jem kesempatan". Jemi langsung respon, "Mawar ya? :D"
"Sikat Jooon!!"
"wah besok juga saya ada kondangan ey"
"nah kan bisa sekalian? barangkali aja sama tempatnya (nebak-nebak)"
"emang Mawar SMA mana sih, Pong?"
"SMA 1 Jem"
"Anjiiing! jangan jangan sama beneran tempatnya. saya juga kondangan ke teman anak SMA 1!"
"Kumaha Jem? Sikat aja atuuuh"
"Ga tau ey, malu saya nya"
Esok harinya Jemi pun komdamgan. Saya sempat bbm Kibot malemnya, menceritakan semua kejadian Jemi dan Jakarara. Sorenya saya bertemu Jemi dan saya tanya,
"Jem kumaha kondangannya? Bareng ga?"
"Enggak euy, saya bareng Eki cuma tadi ketemu di tempat kondangan. Mawar sama cwo, tapi muka cowoknya kayak abis berantem. memar-memar gitu."
"haaaaah???"
Saya kaget !! Saya kaget bukan karena Mawar bawa cowok. Saya kaget karena Jemi kondangan sama Eki dan ketemu Mawar. Setau saya, Eki juga suka sama Mawar!! Eki sempat menggali informasi tentang Mawar juga, dulu pas acara Live Forever yang talentnya Jakarara juga. Mampus tuh.
Lalu dimanakah peran Kibot dalam cerita ini?
Saya gak cuma gandeng Jemi sebagai fotografer, saya dulu sempat ketemuan dengan segerombolan pria galau dengan ketertarikan pada foto. Pria-pria galau yang 10 tahun kemudian akan jadi bapak-bapak arisan tersebut adalah C*&#% Photography. Didalamnya ada Kakcil (Kibot), Rizal, Bulbul. Dan cerita dimulai lagi dari sini.
Salah satu rangkaian acara Jakarara adalah sesi pemotretan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari. Coba tebak apa yang konyol? Ternyata salah satu finalis Jakarara adalah mantan pacarnya Kibot!!! Saya sendiri tahu dari Jemi, 2 hari sebelumnya. Namanya Dhini. Katanya Kibot sempet ngambek gak mau motret pas sesi foto waktu siang itu. Tapi berkat bujukan Kimul dan Jemi akhirnya Kibot mau juga. Dengan dalih mengatasnamakan profesionalisme. Pas sesi pemotretan untuk Dhini kebetulan sekali giliran Kibot yang pegang kamera, yang sebelumnya dipegang Rizal. Kibot sampe keang badag kesang lembut pas harus motretin Dhini. Tapi selesai juga. Kemudian pas kita semua sedang kumpul-kumpul, nyeletuklah Rizal,
"Awas foto Rara yang satu itu bakal dicetak 2 deh sama Kibot". Semua anak-anak terbahak-bahak, puas memojokkan Kibot. Dan selsesailah cerita ini. Semua berawal dari Jakarara.
Tentang Sebuah Hari
Aku
titip mimpi padamu
Malam
ini aku tak tidur
Gundah
berserakan di hatiku
Sisa
dari resah yang menghujaniku kemarin
Lalu
pagi beringsut datang
Kubuka
dengan segelas kopi dan birahi
Saat
kulihat tubuhmu terbaring
Dengan
senyum tersungging di wajah dan selangkanganmu
Mari
paksakan senyum untuk menyambut siang
Tempat
kebosanan merajam dan malas memperkosa
Arena
pertarungan bagi harga diri dan ambisi
Hingga
kau menawariku berbagai macam malam
Malam
yang sepi tanpa hiburan
Hanya
cerita dan lamunan
Malam
yang panas di pelukan pelacur
Malam
yang buas bagai labirin tak teratur
Malam
yang memaksa waktu untuk mundur
Hingga
aku titip mimpi padamu
Karena
malam ini aku tak bisa tidur. .
Cikaduwetan, 12
September 2011
Anak Laki-laki dan Bunga Mawar
Suatu hari. .
5 tahun yg lalu. .
Seorang anak laki laki sedang bermain di taman hatinya. .
Tiba-tiba dia melihat sebuah tanaman tumbuh disana. .
Tanaman itu belum berbunga. .
Kemudian anak laki laki itu menghampirinya. .
Dia menatapnya. .
Tersenyum. .
Dan pergi. .
Tetapi setiap hari anak laki laki itu selalu bermain di taman hatinya dan mengunjungi tanaman yg sedang tumbuh itu. .
Dia memupuknya dengan senyuman dan tatapan cinta yg dia bawa. .
Setiap hari. .
Hingga tanaman itu mulai berbunga. .
Mawar namanya. .
Anak laki laki terihat senang. . Dia menyentuh kuncup bunga itu dengan mesra, tapi dia ragu untk memetiknya. .
Sang mawar hanya tersipu malu. .
Merah. , dan berlalu. .
Suatu hari . .
Seperti biasanya, anak laki laki itu mengunjungi sang mawar. .
Tapi tidak seperti hari kemarin. .
Anak laki laki itu tidak membawa senyuman dan tatapan cintanya. .
Wajahnya seakan tertutup kabut kesedihan. .
Dia hanya diam, dan menatap kosong pada sang mawar.
Sang mawar tampak bingung. .
Dia mencoba menghiburnya dengan aroma wangi tubuhnya. .
Tetapi anak laki laki itu tetap diam. .
Kemudian dia pergi. .
Sang mawar begitu sedih. .
Dia berharap anak laki laki itu memetiknya dan membawanya di pelukan. .
Tapi anak laki laki itu terus berjalan. .
Perlahan. .
Dan hilang. .
Kini. .
5 tahun berlalu setelah itu. .
Sang mawar tampak sudah mekar dan sempurna. .
Meski warnanya tak semerah dulu. .
5 tahun yg lalu. .
Seorang anak laki laki sedang bermain di taman hatinya. .
Tiba-tiba dia melihat sebuah tanaman tumbuh disana. .
Tanaman itu belum berbunga. .
Kemudian anak laki laki itu menghampirinya. .
Dia menatapnya. .
Tersenyum. .
Dan pergi. .
Tetapi setiap hari anak laki laki itu selalu bermain di taman hatinya dan mengunjungi tanaman yg sedang tumbuh itu. .
Dia memupuknya dengan senyuman dan tatapan cinta yg dia bawa. .
Setiap hari. .
Hingga tanaman itu mulai berbunga. .
Mawar namanya. .
Anak laki laki terihat senang. . Dia menyentuh kuncup bunga itu dengan mesra, tapi dia ragu untk memetiknya. .
Sang mawar hanya tersipu malu. .
Merah. , dan berlalu. .
Suatu hari . .
Seperti biasanya, anak laki laki itu mengunjungi sang mawar. .
Tapi tidak seperti hari kemarin. .
Anak laki laki itu tidak membawa senyuman dan tatapan cintanya. .
Wajahnya seakan tertutup kabut kesedihan. .
Dia hanya diam, dan menatap kosong pada sang mawar.
Sang mawar tampak bingung. .
Dia mencoba menghiburnya dengan aroma wangi tubuhnya. .
Tetapi anak laki laki itu tetap diam. .
Kemudian dia pergi. .
Sang mawar begitu sedih. .
Dia berharap anak laki laki itu memetiknya dan membawanya di pelukan. .
Tapi anak laki laki itu terus berjalan. .
Perlahan. .
Dan hilang. .
Kini. .
5 tahun berlalu setelah itu. .
Sang mawar tampak sudah mekar dan sempurna. .
Meski warnanya tak semerah dulu. .
Seperti permulaan waktu, anak laki laki itu kembali. .
Dia tersenyum, berusaha mengobati. .
Kemudian dia menyentuh sang mawar dan berusaha memetiknya. .
Tapi kini tangannya terluka dan berdarah semerah mawar. .
Lalu dia tersadar. .
Kekecewaan dan kerinduan telah membuat mawar itu indah namun berduri. .
Laki laki itu kemudian berdiri. .
Dan kembali pergi. .
Kali ini dia tidak akan pernah kembali. .
Didedikasikan untuk Imam
Taufik, seorang sahabat akan tetap selamanya menjadi sahabat. .
Senin, 30 April 2012
Interview With Alam Darusalam
Membicarakan
scene musik Cirebon tentu tidak akan bisa terlepas dari kata Paramonster.
Diantara minimnya gigs, tanpa harus menghamba pada sponsor, mereka tetap
bergerilya melangsungkan gigs. Dan Alam Darusalam adalah salah satu nama
dibalik terbentuknya kolektif Paramonster. Pada awalnya wawancara ini
dijadwalkan pada hari Jumat, tanggal 30 Maret 2012, tetapi karena tiba-tiba
saya harus pergi ke ibukota Jakarta untuk sebuah urusan sehingga akhirnya
dengan terpaksa wawancara harus dilangsungkan lewat fasilitas YM. Ditemani
sebatang rokok Samsu yang dibawa dari acara tahlilan tetangga dan koneksi
internet yang terkadang busuk, semoga wawancara ini tidak mengurangi
ledakan-ledakan yang dimuntahkan dari isi kepala dan mulut seorang Alam
Darusalam.
·
29 Mar 18:39
kancut Meong: Ping
·
29 Mar 18:39
·
29 Mar 18:40
kancut Meong: Sibuk apa
Um? Ikutan demo tak?
·
29 Mar 18:40
·
29 Mar 18:40
·
29 Mar 18:41
·
29 Mar 18:42
kancut Meong: Sampe kpn
itu um aksi turun ke jlnnya?
·
29 Mar 18:43
·
29 Mar 18:45
kancut Meong: Haha ud
dlu itu basa basi. Mari kita mulai dng pertanyaan pertama.
·
29 Mar 18:45
·
29 Mar 18:45
kancut Meong: Menurut
pengamatan um nih perkembangan scene musik Crb sampai saat ini gimana?
·
29 Mar 18:47
·
29 Mar 18:48
kancut Meong: Lumayan
itu seperti apa um penjelasan detilnya?
·
29 Mar 18:48
·
29 Mar 18:51
kancut Meong: Maksudnya
diliat dr frekuensi gigs, rilisan band, dan bahkan dr band-band yg ada sendiri
gimana Um?
·
29 Mar 18:58
kancut Meong: Ping
·
29 Mar 18:58
·
29 Mar 18:59
kancut Meong: Haha kita
ge sambil udud ah Um
·
29 Mar 19:00
larauparau@ymail.com:
Frekuensi
gigs mah sangat kurang ya..kamu bisa liat sendirilah, frekuensi gigs berbanding
jumlah scene yang ada di Cirebon, rilisan mah parah bgt,bandnya masih gitu2 aja
(menawarkan konsep yang hampir sama semua)
·
29 Mar 19:02
kancut Meong: Menurut um
apa sih kendala/minimnya gigs-gigs kya gitu di Crb? Tempat? Perizinan? Ato hal
lain?
·
29 Mar 19:11
larauparau@ymail.com:
Kemauan
untuk bikin gigs secara mandiri (kolektif) dari scene itu sendiri, mereka tidak
pernah berfikir kalo Cirebon itu kota kecil, untuk mengharap sponsor melirik ke
sebuah event kemungkinanya kecil, dan event yang ditawarkan sma sekali tidak
menarik, selain itu krna di Cirebon itu semuanya kantor cabang, dan butuh waktu
lama untuk meng-ACC proposal eventnya...Hal lainnya scene di Cirebon masih
mengedepankan kuantitas gigs bukan kualitas, mereka masih berbangga dengan
venue yang besar dan deretan band yang nangkring di pamfletnya, alhasil mereka
(penyelenggara) sering mengalami kerugian, SDM di cirebon untuk datang ke Event
musik masih sangat terbelakang..dan band yang memiliki fanbase besar tidak
pernah menghimbau untuk massanya untuk dapat melek terhadap musik atau menjaga
sebuah event
·
29 Mar 19:12
larauparau@ymail.com:
dan
hal lain lagi tentunya APARAT ANJING HARAM JADDAH yang membatasi kreativitas
remaja, entah apa maksudnya, mereka terus membatasi ruang kreativitas anak muda
di Cirebon.
·
29 Mar 19:16
kancut Meong: Ada
pengaruh mungkin dr kejadian seringnya konser yg rusuh di Crb? Sehingga aparat
menjadi parno dengan acara-acara musik yg ada?
·
29 Mar 19:19
larauparau@ymail.com:
Ya
itu tadi kaya yang saya bilang diatas, penonton yang datang ke venue pada acara
musik masih sngat terbelakang, lalu baku hantam sering terjadi dan membuat
parno...tapi masalah Parno untuk APARAT sepertinya kurang pantas, mereka kan
bertugas mengamankan, mengayomi masyarakatnya juga, bukan membatasi apalagi
menghalang-halangi anak muda untuk membuat sebuah event kreatif apapun itu
·
29 Mar 19:21
kancut Meong: Lalu
seberapa besar pengaruh dr frekuensi gigs td terhadap perkembangan dan
kelangsungan scene musik di daerahnya??
·
29 Mar 19:24
larauparau@ymail.com:
Jelas
berpengaruh lah, setidaknya ada ruang untuk berkerativitas, dan harapanya
tumbuh kompetisi yang positif untuk para pelaku dunia kreatif..ah menurut saya
di semua daerah gitu, kalo ga ada space mana mungkin lahir manusia2 kreatif di
Cirebon, ibarat Ngentot mah kalo semua tempat di Cirebon ada larangan DILARANG
NGENTOT kira2 bakal ada ga Bayi yang lahir ? pikir deh
·
29 Mar 19:27
kancut Meong: Haha
menarik. Apakah berangkat dr "kegelisahan-kegelisan" td hingga
akhirnya Paramonster terbentuk??
·
29 Mar 19:29
·
29 Mar 19:30
kancut Meong: Ud
berjalan berapa lama itu Um?
·
29 Mar 19:30
larauparau@ymail.com:
Paramonster
?
·
29 Mar 19:31
kancut Meong: Iyap
·
29 Mar 19:36
larauparau@ymail.com:
Paramonsternya
entah kapan, saya lupa, tidak juga berusaha mengingatnya..hahhaha...yang jelas
teman-teman berkumpul sejak 2006 untuk berkomitmen membuat sebuah iklim
tandingan, yang saat itu didominasi oleh Sebuah Radio bertagline HOTTEST RADIO
STATION, daripada pusing kita bikin aja sendiri gigs mandiri dengan
berkolektif..yah gitu deh
·
29 Mar 19:38
larauparau@ymail.com:
nama
Paramonster itu disepakati karena tidak ada opsi lain saat kami harus memiliki
nama untuk menggelar event yang dititahkan oleh aparat. Karna saya pribadi
sangat tidak mau di Labeli oleh apapun kecuali Agama dan Anak dari Org tua saya
·
29 Mar 19:44
kancut Meong: Jadi
memang itu bener-bener kolektif sendiri ya um? Tanpa embel-embel sponsor?
·
29 Mar 19:48
larauparau@ymail.com:
Alhamdulillah
masih seperti itu sejak awal. adapun produk yg pernah terpampang di pamflet
event yg kami buat itu semata mempromosikan micro bisnis kami...tapi ini bukan
kami Sok2an ber-D.I.Y itu sangat sakral, saya tidak akan mengatasnamakan itu
krena takut menjadi profan, dan pihak sponsor di Cirebon itu kebanyakan ASSHOLE
ANJING lah.. lebih banyak merugikan scene macam kami.
·
29 Mar 19:51
kancut Meong: Termasuk
waktu mendatangkan Up And Atom sama Video Nasty? Itu awalnya bagaimana Um bisa
datengin mereka? Untuk ukuran Crb kan bisa dibilang sebuah terobosan laah.
·
29 Mar 19:54
larauparau@ymail.com:
Ya..semua
berkolektif, termasuk tuan Rumah, awalnya karena kita berteman. Dikatakan
terobosan ga juga, karena sebelumnya scene2 lain sudah memulainya..
·
29 Mar 19:56
kancut Meong: Scene di
Crb jg maksudnya Um?
(percakapan terputus sebentar karena
sinyal yang sedang busuk)
·
29 Mar 19:58
larauparau@ymail.com:<ding>
·
29 Mar 19:58
kancut Meong: Lanjut
·
29 Mar 19:59
·
29 Mar 19:59
·
29 Mar 19:59
kancut Meong: Oke jd
skrg tiap minggu paramonster rutin ngadain gigs?
·
29 Mar 20:02
·
29 Mar 20:05
larauparau@ymail.com:
tapi
kita kadang ga berkala bikin gigs semaunya Mood aja, tak berperiodik seperti
mendapatkan Kimcil
·
29 Mar 20:07
kancut Meong: Lah klo
semaunya mood aja apa nantinya ga berpengaruh terhada eksistensi paramonster
sendiri?
·
29 Mar 20:08
larauparau@ymail.com:
PERSETAN
EKSISTENSI, yng menilai itu org lain, kami tidk pernah berusaha untuk itu, yg
penting Konsistensi
·
29 Mar 20:11
kancut Meong: Konsistensi
dlm pengertian meskipun tidak secara berkala tetapi paramonster tetap ada dan
bergerak? Apa seperti itu, um?
·
29 Mar 20:12
·
29 Mar 20:14
kancut Meong: Oke. Lalu
untuk para band yg tampil, apakah ada kriteria-kriteria tertentu ga, um? Apa
bebas aja?
·
29 Mar 20:15
larauparau@ymail.com:
Kriterianya
mau berkolektif dan tidak memiliki Rockstar syndrome itu aja...karena gigs itu
dibikin secara Swadaya jugaaa...
·
29 Mar 20:18
kancut Meong: Selain paramonster
sendiri, yg rutin ngadain gigs di crb itu siapa lg Um?
·
29 Mar 20:19
·
29 Mar 20:19
·
29 Mar 20:20
kancut Meong: Ada niatan
ga sih Um bikin kya semacam Bandung Berisik gituh?
·
29 Mar 20:21
larauparau@ymail.com:
Ga ada,
krna saya mah ngalir aja, cita2 saya mah mengedukasi pelaku musik di Cirebon
biar makin cerdas dalam bermusik. itu aja
·
29 Mar 20:22
·
29 Mar 20:26
kancut Meong: Bagaimana
caranya, Um?
·
29 Mar 20:27
·
29 Mar 20:34
kancut Meong: Hahaha tp
sepertinya minat membaca disini msh kurang Um (blm survey sih)?? Ada pendapat?
·
29 Mar 20:38
larauparau@ymail.com:
sederhana
mengenalkan, mendekatkan, dan mengajak mereka bergumul dengan dunia Literer
(percakapan kembali terputus akibat
sinyal di daerah Luragung sedang membusuk)
·
29 Mar 20:42
kancut Meong: Maaf Um
ada gangguan teknis
·
29 Mar 20:42
kancut Meong: Monggo
dilanjut pendapatnya td
·
29 Mar 20:44
·
29 Mar 20:47
kancut Meong: Mungkin
bisa jg paramonster nantinya jd kolektif literasi jg?
·
29 Mar 20:48
·
29 Mar 20:52
kancut Meong: Lagi baca
dan denger apa aja um minggu-minggu ini?
·
29 Mar 20:53
larauparau@ymail.com:
baca
buku Gempa Literasi, Soul Trader, sama kumpulan puisinya Rieke - Sumpah Saripah
·
29 Mar 20:53
·
29 Mar 20:54
kancut Meong: Oke deh
um, segitu dlu. Makasih nih ud menyempatkan waktunya. Nanti kita sambung lg. 
·
29 Mar 20:54
·
29 Mar 20:55
kancut Meong: Oh iya
satu pertenyaan lg nih, mending Charly apa Sobardi Um?
·
29 Mar 20:56
·
29 Mar 20:57
kancut Meong: Hahahaha.
Oke deh Um makasih dan semoga cita-citanya tercapai. Amiin.
·
29 Mar 20:57
Langganan:
Postingan (Atom)