Rabu, 29 Oktober 2014

Resensi Buku : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas



Bagaimana jalan kesunyian ala sufi dan perilaku manusia bisa ditemukan lewat kontol yang tidak bisa ngaceng? Jawabannya ada pada novel terbaru Eka Kurniawan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (selanjutnya saya singkat Seperti Dendam).

Anggap saja saya terlalu serius dengan kalimat pembuka diatas, tapi saya tidak sedang bercanda ketika menulis “kontol yang tidak bisa ngaceng”, karena novel ini memang bercerita tentang seorang laki-laki yang kontolnya tidak bisa ngaceng setelah menyaksikan 2 orang polisi memperkosa seorang perempuan gila. Terasa ganjil bukan? Sangat khas Eka Kurniawan, namun kali ini Eka Kurniawan mengeksekusinya dengan gaya penulisan serupa buku-buku stensilan karya Enny Arrow yang dicampur dengan cerita-cerita silat. Hanya saja Eka Kurniawan membawanya lebih jauh ke tataran filosofis.

Perlu waktu 10 tahun bagi Eka Kurniawan untuk kembali merilis novel, setelah terakhir kali dia merilis Lelaki Harimau. Jika mau dibandingkan, Seperti Dendam terlihat sangat sederhana jika daripada 2 novel pertama Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau). Tapi jika kita lihat secara lebih seksama novel ini sepertinya disusun dengan sebuah ketelitian tinggi. Silahkan perhatikan jumlah setiap bab yang terdiri dari 30 halaman (kecuali bab terakhir yang berjumlah 33 halaman). Jika menyimak proses kreatifnya yang sering dia publikasikan di jurnal ekakurniawan.com rasanya susunan halaman ini bukanlah sesuatu yang hadir dengan tidak sengaja. 

 Setiap bab juga kemudian dipotong-potong menjadi beberapa fragmen dengan plot maju-mundur yang memikat. Disini pun kita bisa melihat kejelian dan kelihaian Eka Kurniawan dalam mengatur ritme dan tempo dalam ceritanya. Eka Kurniawan dengan lihai bisa tahu kapan cerita ini harus mengisahkan masa lalu Ajo Kawir, si tokoh utama novel ini, atau kapan harus bercerita tentang pertemuan Ajo Kawir dengan si Iteung. Dengan kelihaian tersebut saya jamin kalian akan langsung terperangkap tepat disaat kalian pertama membacanya.

Lalu bagaimana ceritanya kontol yang tidak bisa ngaceng itu bisa membawa kita menuju jalan kesunyian yang lazim ditempuh oleh para sufi?

Baiklah, tapi pertama-tama kita harus melihat beberapa perilaku manusia yang bisa dijelaskan dari bagaimana cara mereka memperlakukan alat kelaminnya, terutama laki-laki. Seperti yang umum diketahui, bagi sebagian orang kelamin adalah otak kedua mereka. Bahkan mungkin bagi sebagian lainnya, kelamin adalah otak pertama mereka. Mereka lebih berpikir dengan kelaminnya. Kelamin identik dengan hawa nafsu, dengan ambisi. Jadi mereka yang lebih menggunakan kelaminnya untuk berpikir adalah mereka yang lebih mementingkan kepuasan nafsu dan ambisinya.

2 tokoh polisi yang memperkosa seorang perempuan gila secara bergiliran adalah gambaran dari sebuah perilaku yang korup (entah sengaja atau tidak, Eka Kurniawan memakai polisi untuk menggambarkan perliaku korup tersebut). Mereka tidak peduli kalau perempuan itu gila, yang penting bisa mereka “pake” dan memuaskan nafsunya. Sama seperti koruptor, mereka juga tidak akan peduli kalau yang mereka korupsi itu adalah pajak yang dibayar oleh rakyat ataupun dana haji milik umat. Yang penting kaya. Tai ucing dengan yang lain.

Tokoh Pak Toto, seorang guru yang mencabuli si Iteung di kelas adalah gambaran perilaku penguasa yang juga sebenarnya korup (menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan/kepuasan pribadi). Terkadang memang kekuasaan bisa membuat seseorang merasa bisa berbuat apa saja. Termasuk mencabuli (hierarki kekuasaan antara guru-murid), atau dalam hal lain seperti kasus-kasus pelanggaran HAM (menculik, membunuh atas nama stabilitas negara?)

Si Tokek, kawan sehidup-sesekarat Ajo Kawir, mempunyai karir asmara yang bisa dibilang tidak terlalu sukses. Meskipun dalam novel ini kisah percintaan si Tokek tidak diceritakan tapi dalam salah satu bagian si Tokek pernah bercerita kalau dia tidak akan pernah menggunakan kontolnya sebelum kontol Ajo Kawir bisa ngaceng lagi. Sebab musababnya adalah karena si Tokek merasa bersalah atas ke-tidakbisa-ngacengannya kontol Ajo Kawir. Untuk menebus rasa bersalahnya tersebut  si Tokek berikrar untuk tidak menggunakan kontolnya sebelum kontol Ajo Kawir bisa ngaceng. Si Tokek menunjukkan contoh perilaku kesetiakawanannya terhadap Ajo Kawir. Selain dengan selalu menemani Ajo Kawir berkelahi juga dengan tidak menggunakan kontolnya sampai kontol Ajo Kawir bisa ngaceng. Best Friend Forever laah kalau istilah cabe-cabeannya sih.

Lalu ada Ajo Kawir si tokoh utama yang kontolnya tidak bisa ngaceng. Gara-garanya suatu malam dia diajak si Tokek untuk mengintip Rona Merah, si perempuan gila yang sedang diperkosa secara bergiliran oleh 2 orang polisi. Sialnya mereka berdua malah ketahuan. Si Tokek beruntung bisa kabur, Ajo Kawir ketiban sial karena tidak sempat kabur. Dia harus rela menyaksikan (dengan pistol tertempel di jidatnya) bagaimana kedua orang polisi memperkosa Rona Merah secara bergiliran. Setelah peristiwa itu kontol Ajo Kawir tiba-tiba saja menjadi tidak bisa ngaceng. Berbagai upaya pernah dilakukan untuk membuatnya bisa ngaceng kembali tapi hasilnya sia-sia belaka. Bagi Ajo Kawir (dan para lelaki) perkara  ini adalah sebuah kiamat. Akibat frustasi Ajo Kawir jadi gemar berkelahi (tentu saja dengan ditemani si Tokek) sampai suatu saat dia bertemu dengan Paman Gembul yang memintanya untuk membunuh si Macan, preman yang sangat ditakuti reputasinya. Ajo Kawir tidak gentar, toh selama ini pun dia sudah merasakan kiamat dalam hidupnya. Meskipun sempat merasa ragu karena pada saat itu dia jatuh cinta kepada si Iteung dan berencana menikah tapi pada akhirnya si Macan bisa dibunuh juga (ini terjadi setelah si Iteung ketahuan hamil). Ajo Kawir masuk penjara setelah membunuh si Macan. Setelah keluar penjara Ajo Kawir berubah (meskipun masih tidak bisa ngaceng). Dia menjadi seorang supir truk dan mempunyai kenek seorang remaja bernama Mono Ompong. Tabiatnya pun berubah, Ajo Kawir menjadi lebih kalem, lebih pendiam seperti kontolnya. Ajo Kawir lebih bisa mengendalikan emosinya sendiri, seperti yang dikatakan oleh Pidi Baiq, “bukan orang lain yang menentukan kamu harus marah atau tidak tapi dirimu sendiri yang menentukan”. Ajo Kawir lebih memilih jalan kesunyian ala sufi setelah berdamai dengan kontolnya sendiri yang tidak bisa ngaceng. 

Aah, mungkin itu intinya, ditengah dunia yang semakin berisik ini terkadang kita harus menoleh kembali ke dalam diri kita sendiri. Seperti kontol Ajo Kawir yang selalu kalem meskipun dibombardir dengan berbagai godaan.

Novel ini memang kalah liar jika dibandingkan dengan Cantik Itu Luka.  Juga masih kalah muram dan depresif jika harus disandingkan dengan Lelaki Harimau. Tapi novel ini bisa melampaui keduanya jika dilihat dari bagaimana cara Eka Kurniawan menghancurkan plot bercerita yang konvensional. Dan mungkin ini adalah novelnya yang paling filosofis jika dibandingkan 2 novel sebelumnya.

Seperti dendam, novel ini pun harus dibaca tuntas.  

Sabtu, 03 Mei 2014

Beberapa Catatan Mengenai Cerpen "Tini Tak Bisa Menunggu"

1. Cerpen ini ditulis berdasarkan curhatan dari Mas Maung sendiri, suatu sore ketika saya sedang bermain ke pondok kostnya  di kosan Bang Udin.

2. Kisah cinta Mas Maung dan Tini adalah fakta, meskipun dalam cerpen itu beberapa hal sengaja saya lebay-lebaykan.

3. Mas Maung sendiri adalah nama panggilan untuk Cadila. Lucunya, panggilan Maung itu pada awalnya digunakan  sebagai sebutan untuk sepeda motor Supra-X tahun 97 yang sering dipakai oleh Cadila.

4. Motor Supra-X keluaran tahun 97 itu benar-benar ada. Motor itu menjadi saksi bisu untuk beberapa kisah cinta, selain kisah cinta Mas Maung dan Tini (termasuk kisah cinta saya sendiri)

5. Kini motor tersebut sudah tidak dipake lagi oleh Mas Maung, tapi masih sering digunakan oleh Bapak Ahmad Jair untuk menengok empang-empangnya.

6. Sebutan Maung atau Mas Maung pertama kali dicetuskan oleh Yosie Rivanto (kini mereka kost bareng di Kosan Bang Udin)

7. Dan kisah cinta Yosie Rivanto sendiri tidak jauh berbeda dengan kisah cinta Mas Maung dan Tini.

8. Cerpen Tini Tak Bisa Menunggu pertama kali dimuat di zine Nurse Station

9. Lagu Suck It And See dari Arctic Monkeys sengaja saya pilih karena ketika menulis cerpen ini saya sedang rutin mendengarkan album Suck It And See.

10. Kini Tini sudah menikah dan hidup bahagia bersama suaminya dan buah hati mereka

11. Sementara Mas Maung, selepas berpisah dari Tini sempat berpacaran beberapa kali sebelum kemudian memutuskan untuk menjadi jomblo dan berprinsip "berhenti pacaran, perbanyak gebetan!"

Tini Tak Bisa Menunggu



Didedikasikan untuk Mas Maung dan Tini yang kisah cintanya akan tetap menjadi legenda di hati sanubari saya

Bagaimana cara playboy bekerja? Menurut Omesh Maulana yang mengutip pernyataan Yoppy Dwi Hakiki, modalnya cuma ada dua, yaitu  muka polos dan kata-kata manis. Apakah itu berarti bahwa kaum wanita memang mudah dibohongi dan dirayu? Belum tentu. Saya sendiri tidak berani memastikannya demikian karena saya takut mendapat gelombang protes dari kaum wanita yang menganggap pernyataan tadi  merendahkan derajat mereka. Percayalah, wanita yang sedang marah itu lebih menyeramkan daripada lelaki yang sedang marah.

Mungkin sebaiknya kita ganti pertanyaannya. Apakah Mas Maung seorang playboy? Saya rasa bukan. Mas Maung bukanlah seorang playboy. Setahu saya Mas Maung tidak mempunyai pacar yang berserakan dimana-mana sebagaimana halnya Yoppy Dwi Hakiki. Juga yang paling jelas, Mas Maung tidak bermuka polos dan mengumbar kata-kata manis. Ralat, mungkin Mas Maung suka mengumbar kata-kata manis kepada gebetannya tetapi bisa saya pastikan kalau Mas Maung itu tidak bermuka polos. Jadi jika kita mengikuti pernyataan Omesh Maulana tentang bagaimana cara playboy bekerja maka Mas Maung bisa digolongkan kepada golongan lelaki non playboy. Karena Mas Maung tidak bermuka polos.

Tapi playboy atau bukan yang jelas pada hari itu, Kamis 22 September 2011 Mas Maung cuma terlihat sendiri di acara wisudanya. Maksud saya bukan “sendiri” dalam arti harfiah karena pada saat itu Mas Maung datang bersama 3 rombongan bus yang mengangkut keluarga besar Ahmad Jair. Sendiri disini artinya Mas Maung hadir di hari wisudanya tanpa ditemani oleh seorang gadis pendamping wisuda. Hanya sendiri. Tak ada gadis pendamping wisuda, tak ada seikat bunga, dan tak ada Tini untuk Mas Maung di hari itu.

***

Your love is like a studded leather headlock
Your kiss it put could creases in the road
You’re rarer than a can of dandelion and burdock
And those other girls are just post-mix lemonade

Jika di playlist handphone kalian ada lagu Suck It And See dari Arctic Monkeys silahkan putar lagu itu. Jika tidak ada, silahkan putar lagu apa saja yang menurut kalian mempunyai kadar kegalauan yang sangat tinggi. Karena kita akan berjalan mundur bersama waktu menuju ke hari yang dikenang Mas Maung sebagai hari-dimana-Tini-menanam-bom-waktu-di-hatinya. Juga sebuah sejarah awal kenapa di kalender hidup Mas Maung kelak akan ditemui Hari Tai Kucing Sedunia. Tapi nanti dulu. Itu akan diceritakan kemudian. Kini kita akan kembali ke hari dimana Tini menanamkan bom waktu di hati Mas Maung.

Itu terjadi 6 bulan sebelum Mas Maung diwisuda. Hari itu tidak akan pernah dilupakan oleh Mas Maung. Hari itu, di pinggir empang tempat biasa mereka bertemu dan memadu kasih, Tini datang dengan sebuah ultimatum yang menghantam kepala sekaligus hati Mas Maung. “NIKAHI AKU SEGERA! KALAU TIDAK AKU AKAN DIJODOHKAN!” Begitulah bunyi ultimatum yang dibawa Tini di siang itu. Bagai dihantam palu godam milik Thor, Mas Maung kaget bukan kepalang. Ultimatum itu bahkan lebih menyeramkan dibanding ultimatum Belanda yang memerintahkan warga Bandung meninggalkan wilayahnya. Peristiwa yang nantinya akan dikenang sebagai Bandung Lautan Api kini juga dihadapi oleh Mas Maung. Hanya kali ini lautan api itu bersarang tepat di hatinya. Bukan lagi di Bandung. Karena tanpa lautan api pun Bandung sekarang sudah panas.

Itu bukan ultimatum biasa. Dan bagi Mas Maung tuntutan itu hampir mustahil untuk diwujudkan. Bahkan lebih mustahil daripada tuntutan buruh yang meminta kenaikan upah minimum menjadi 3,6 juta rupiah. Restu sudah pasti tidak akan turun dari Bapak Ahmad Jair. Memaksa berarti dosa. Bersiaplah untuk menerima cap anak durhaka dan bergabung bersama Malin Kundang. Pilihannya antara dikutuk menjadi batu atau menjadi butiran debu.

Mas Maung tahu, Bapak Ahmad Jair tidak sedang buang-buang duit dengan menyekolahkannya tinggi-tinggi. Meskipun pada kenyataannya sekolah memang hanya buang-buang duit saja. Bagi Bapak Ahmad Jair, Mas Maung adalah sebuah harapan. Sebuah mimpi yang dulu tidak bisa diwujudkannya ketika muda. Kepada Mas Maunglah impian yang gagal itu disematkan. Biarlah Ahmad Jair muda hanya sekolah sampai kelas 3 SD, tapi tidak dengan keturunannya. Mereka harus sekolah tinggi. “Sekolah lah kau yang tinggi agar kau tidak mewarisi apa yang aku rasakan”. Begitulah pesan Bapak Ahmad Jair kepada Mas Maung. Mas Maung selalu ingat dengan pesan itu. Baginya pesan itu bagaikan sebuah mantra yang ampuh yang membantunya tetap bertahan kuliah meskipun seringkali tugas kuliah itu  brengsek dan kurang ajar.

Tapi kini keampuhan mantra Bapak Ahmad Jair itu sedang diuji oleh ultimatum Tini. Ahh Tini, cinta yang membuat dada terasa sesak. Gadis yang lengkung senyumnya hanya sanggup dibuat oleh surga, yang membuat tai kucing serasa cokelat dan cokelat serasa tai kucing. Tapi kini malah mendamprat Mas Maung kepada sebuah persimpangan yang akan sulit sekali untuk dipilihnya. Mantra ampuh Bapak Ahmad Jair vis-a-vis ultimatum Tini. Mas Maung harus memilih. Sayang sekali,tak ada golput disini.

Hari itu berakhir buruk untuk Mas Maung. Meskipun Tini bisa ditenangkan saat itu tapi tak pelak lagi bom waktu yang dibawanya sudah mulai menghitung mundur.

I poured my aching heart into a pop song
I couldn’t get the hang of poetry
That’s not a skirt girl thats a sawn off shoot gun
And i can only hope you’ve got it aimed at me

Hari demi hari terus berlalu. Mas Maung masih berharap Tini mau menunggunya, bahkan kalau bisa menolak perjodohan itu. Kini kuliah Mas Maung sudah memasuki tahap akhir, tinggal menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI). Itu artinya kuliah Mas Maung hanya menyisakan beberapa bulan lagi. Tapi rupanya bom waktu itu terus menghitung mundur. Ultimatum Tini pun tidak pernah mereda. Bahkan kerap kali mereka harus terlibat pertengkaran hebat. Di motor, di jalan raya, di pinggir empang, di atas ranjang sehabis bercinta, bahkan di telepon.

“DEMI TUHAN, NIKAHI AKU SEGERA MAS!!” Tini berteriak diseberang telepon

“DEMI LANGIT DAN BUMI DAN ABDUL QODIR JAELANI, MAS AKAN MENIKAHIMU BEGITU SELESAI KULIAH! TUNGGULAH!” Mas Maung balik berteriak

“AKU TIDAK BISA MENUNGGU, MAS!” Tini meledak lalu menutup telepon. Mas Maung kesal. Hampir saja dia banting hp yang dipegangnya ke lantai. Tapi hal itu urung dilakukannya. Dia ingat kalau dia tidak mempunyai hp lagi. Maka kekesalan itu dilampiaskannya kepada lembaran kertas hasil revisian dari dosen. Tai kucing! Tapi kali ini tai kucing itu tidak terasa seperti cokelat.

***

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah cinta bekerja? Jawaban untuk pertanyaan ini saya yakin akan jauh lebih rumit daripada jawaban tentang bagaimana cara playboy bekerja. Cinta bekerja dengan cara yang misterius dan tak terduga. Tidak cukup hanya dengan mengurainya menjadi rangkaian reaksi kimia, biologi bahkan fisik semata. Seolah-olah ada sebuah invisible hand yang bekerja dibaliknya. Tapi mungkin kita bisa setuju dengan satu hal, bahwa cinta bisa datang begitu saja dan pergi sesuka hati. Dia akan tumbuh sendiri ketika dia mau tumbuh. Begitu juga sebaliknya. Maka benarlah apa yang ditulis Kahlil Gibran dalam salah satu sajaknya, cinta adalah bunga yang tumbuh tanpa bantuan musim.

Sialnya, hal itulah yang kemudian terjadi pada Tini. Ada cinta lain yang mulai tumbuh dan bersemi di hatinya. Perlahan mulai menggeser cinta Mas Maung yang selama ini bertahta disana. Padahal saat itu kemarau sedang mengganas dan membuat bunga-bunga sulit mekar. Tapi di hati Tini, bunga-bunga cinta itu justru bermekaran dengan penuh warna-warni. 

Itu terjadi di minggu-minggu sebelum bom waktu itu meledak. Itu terjadi dikala Mas Maung semakin tenggelam dalam karya tulis ilmiahnya dan pertengkaran demi pertengkaran mulai rutin menghampiri hubungan mereka. Itu terjadi pada sebuah Sabtu sore yang cerah.

Meskipun Mas Maung sibuk dengan urusan KTInya dan jarang bertemu dengan Tini tetapi mereka mempunyai sebuah acara rutin sendiri. Mereka menyebutnya “Nine In The Afternoon”, diambil dari salah satu lagu Panic At The Disco. Acara jalan-jalan berdua di sore hari dengan mengendarai motor Supra-X keluaran tahun 97 milik Mas Maung. Biasanya mereka akan berjalan-jalan di jalan pinggir pantai hingga matahari sore terbenam. 

Hanya saja acara Nine In The Afternoon mereka berubah pada suatu Sabtu sore. Secara mendadak Tini membatalkan acara rutin mereka karena suatu alasan keluarga. Mas Maung sempat kecewa. Tapi apa mau dikata? Jadilah pada Sabtu sore itu Mas Maung berjalan-jalan sendirian dengan Supra-X kesayangannya. Menghirup udara sore pantai sekaligus merefresh pikirannya yang mulai jenuh dengan KTI. Ketika sedang asik melaju bersama si Supra kesayangannya melintaslah dari arah berlawanan sepasang lelaki dan perempuan yang sepertinya sedang asik dilanda badai asmara. Mungkin di mata  orang lain perempuan yang baru saja melintas itu bisa menjadi siapa saja, tetapi lain halnya dengan Mas Maung. Dia yakin perempuan yang dilihatnya dibonceng lelaki itu adalah Tini! Tidak salah lagi! Mas Maung hapal setiap inchi tubuh Tini, bukan hanya ukuran cup branya saja. Bahkan Mas Maung hapal berapa derajat lengkung senyuman Tini! Berapa derajat lentik bulu matanya hingga berapa helai bulu  keteknya! Perempuan yang dibonceng itu adalah Tini!

Benar saja, malamnya perang kembali meletus diantara mereka. Saling tuding mewarnai pertengkaran itu. Bagi Mas Maung Tini sudah berlaku tai kucing, bagi Tini justru Mas Maung yang seperti tai kucing. Entah siapa yang sebenarnya lebih tai kucing, tapi pertengkaran itu semakin membuat hubungan mereka menjadi serupa Israel dan Palestina. Tapi rupanya bom waktu itu belum meledak saat itu. Mas Maung masih terselamatkan.

2 minggu kemudian kejadian itu berulang. Tini membatalkan janji, Mas Maung jalan-jalan sendiri, Tini kembali dipergoki berboncengan dengan lelaki lain. Kejadian di malam harinya bisa gampang ditebak. Perang kembali meletus. Mas Maung jadi Palestina, Tini jadi Israel. Kepercayaan Mas Maung mulai rontok satu per satu. Tapi Tini masih bungkam mengenai lelaki yang memboncengnya. Rupanya takdir belum mau meledakkan bom waktunya pada saat itu. Sekali lagi, Mas Maung masih terselamatkan.

Tapi toh pada akhirnya bom waktu itu meledak juga. Itu terjadi pada tanggal 17 Agustus 2011. Tanggal dimana bangsa ini merdeka justru menjadi tanggal dimana cinta Mas Maung hancur lebur. Di hari itulah Tini, seperti Soekarno, memproklamirkan hubungannya dengan seorang lelaki yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Lelaki itu lah yang dipergoki Mas Maung ketika jalan-jalan di Sabtu sore.  Lelaki yang bisa membuat bunga-bunga cinta kembali tumbuh di hati Tini, seperti kata Gibran, tanpa bantuan musim.

Hari itu Mas Maung merasa hancur lebur tak bersisa. Dia mulai memaki setiap hal yang ada di sekitarnya. Tai kucing cinta! Tai kucing Arctic Monkeys! Tai kucing Soekarno! Tai kucing Gibran! Dan semua tai kucing yang berada di semesta ini. Itulah kemudian kenapa Mas Maung menamakan tanggal 17 Agustus itu sebagai Hari Tai Kucing Sedunia. Karena pada hari itu semesta seolah-olah bersikap tai kucing terhadapnya. Maka kelak di kemudian hari ketika sebagian besar rakyat di negeri ini merayakan 17 Agustus dengan kemeriahan maka Mas Maung akan mengenangnya dengan penuh kesedihan. Mas Maung akan mengunci diri di kamar, lalu menyetel lagu Suck It And See berulang-ulang hingga batre hpnya mati. Setelah itu dia akan pergi ke kamar mandi dan mencoba menangis di pojokan bak. Sayang, air matanya tidak pernah bisa keluar. 17 Agustus adalah Hari Tai Kucing Sedunia!

Suck it and see you never know
Sit next to me before i go

Begitulah waktu membawa Mas Maung datang sendiri di hari wisudanya. Maka yang bisa dilakukannya hanyalah mengenang Tini dengan penuh kesedihan. Meskipun pada hari itu Mas Maung tampak bahagia dan penuh senyum, tetapi di sudut hatinya ada sebuah ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh apapun, selain Tini. Ruang kosong itulah yang Mas Maung persiapkan untuk Tini. Hanya sayang sekali, Tini tidak bisa menunggu. Dan hari itu tidak pernah menjadi sempurna untuk Mas Maung. Karena satu keping puzzlenya tidak pernah kembali lagi. Keping puzzle yang hilang itu adalah Tini.

Maka ketika bus rombongan Bapak Ahmad Jair itu melaju meninggalkan Tasikmalaya, Mas Maung hanya bisa terduduk dengan pandangan mata kosong menyaksikan deretan bangunan yang terlewati. Pikirannya memang tidak berada disana. Tapi melayang mengenang Tini. Mengenang senyuman itu. Senyum yang hanya sanggup dibuat oleh surga. Senyum yang selalu mereka ikrarkan untuk dijaga, ketika mereka masih bersama. Seperti pesan Tini yang selalu diingatnya, “you’ve got that smile that only heaven can make it. And i pray to the God everyday, that you will keep that smile”

Mas Maung akhirnya bisa tersenyum juga,tapi kini dengan butir-butir air mata yang menetes di pipinya.

Suck it and see you never know
Sit next to me before i go
Jigsaw women with horror movie shoes
Be cruel to me cause i’m a fool for you

Kampung Melayu, 07-11 November 2013

Selasa, 29 April 2014

AKU INGIN MENCINTAIMU SEPERTI KUKU



“Ayaah, aku ingin mencintaimu seperti kuku” tiba-tiba si bundaa berkata sambil sesekali nyabutin bulu keteknya. Nyabutin bulu ketek adalah salah satu rutinitas si bundaa dikala senggang. Saya yang saat itu sedang tiduran di ranjang sambil maenin Gembi (boneka beruang milik Riry) langsung tertawa.

“hahahaha”

“Kok ayah ketawa sih?”

“Ya abis lucu. Masa mencintai seperti kuku” kata saya

“Ya iya doong. Kuku kan tiap kali dipotong akan terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Jadi cinta bundaa juga akan terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi”

“Hahahaha” saya kembali tertawa. Romantis sekaligus polos. Saya menyukai kepolosannya itu

“Kalau begitu, ayah juga ingin mencintai bunda seperti bulu ketek” balas saya

“Ih kok bulu ketek sih?”

“Ya iya lah. Itu bulu ketek bundaa tiap hari dicabutin tapi terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Cinta ayah juga gitu. Tumbuh lagi tumbuh lagi seperti bulu ketek. Hahaha”

Itulah salah satu contoh percakapan kami. Terkadang apa yang kami perbincangkan atau perdebatkan adalah suatu hal yang amat sangat tidak penting. Contoh lainnya seperti ini,

“Ayaaah jam 3 itu dibawah jam 1”

“Bukan bundaaa, jam 3 itu ya diatas jam 1”

“Ihh ayah gimana sih, coba liat jam dinding. Angka 3 itu dibawah angka 1!!”

“Bundaa mah aneh. Angka 3 kan diatas angka 1. Jam 1 dulu terus jam 2 baru jam 3. Jadi jam 3 itu diatas jam 1”

“Ayah yang aneh diih”

Begitulah. Jika kalian mengenal kami berdua maka kalian akan tahu bahwa kami adalah pasangan yang berbeda hampir dalam segala hal. Atau kami sama dalam suatu hal tapi berbeda dengan orang lain. Contoh yang paling sederhana adalah si bundaa orang yang sangat mencintai kebersihan. Kegiatan menyapu rumah bisa diulangi sampai beberapa kali. Sementara saya adalah tipe orang yang sangat cuek dengan kebersihan. Alhasil setiap mau bobo kami selalu terlibat masalah. Seperti ini,

“Ayah kalo mau naik ranjang cuci kaki dulu”

“Udah bundaa tadi pas ayah mau pipis”

“Tapi tadi kan ayah ke dapur dulu. Cuci kaki lagi”

“Yaaa ke dapur Cuma beberapa langkah ko, ngapain cuci kaki lagi”

“Tetep aja kotor lagi. Ayo cuci kaki lagi”

Pada akhirnya salah satu diantara kami harus ada yang saling mengalah. Jadi bisa dibayangkan betapa keras kepalanya si Riry bukan?

***

Ya itulah si bundaa, istri saya yang paling sabar. Yang suka minta dibeliin buku tapi tidak pernah dibaca. Yang sukanya malah baca Majalah Misteri atau Majalah Hidayah. Yang tidak mengizinkan buku biografi Kurt Cobain saya bawa, padahal tidak pernah dia baca juga.

Itulah si bundaaa, istri saya yang selalu curiga dan cemburu.

“Ayaah, Bu Siti itu siapa?”

“Itu bossnya ayah, Bund”

“Ko minta dibeliin soto segala?”

“Ya namanya juga boss, bund. Sukanya nyuruh anak buah”

“Bundaa gak suka”

“Yaaa masa cemburu sama Bu Siti? Umurnya aja sepantaran sama si Mamah”

Yaa memang itulah si bundaa. Yang suka cemburu apalagi kalo sama Rini. 

“Ayah pasti lagi mikirin Rini”

“Apaan sih bund? Ayah lagi mikirin utang nih. Uang asuransi Riry belum bayar”

“Boong aah. Bundaa tau ayah lagi mikirin Rini”

“Aiih gak percayaan. Bundaa kan tau uang lauk-pauk ayah gak cair mulai bulan ini”

Yaa begitulah si bundaa. Suka bertanya hal-hal yang tidak ada hubungannya. Dan suka bertanya hal-hal yang tidak ada jawabannya.

“Ayaah. Apa alasan ayah mencintai bundaa?”

“Gak tau, Bund”

“Ko gak tau sih?”

“Yaa cinta kan gak butuh alasan, Bund?”

“Pokoknya harus ada dih”

“Yaa gak ada bundaa. Kata orang bijak juga cinta adalah ketika kau mencintai seseorang tapi tidak tahu karena apa kau mencintainya”

“Ah boong. Buktinya ayah cinta sama Rini karena dia pinter dan bercandanya nyambung”

“Ayah gak cinta sama Rini, Bundaaaa”

“Dulu”

“Iya dulu, sekarang kan udah gak. Lagian kok ujung-ujungnya Rini lagi Rini lagi sih, Bund?

“Ya abis ayah gak punya alasan kenapa bisa cinta sama bundaa?”

“Kan tadi ayah bilang, cinta itu gak butuh alasan bundaa. Kalo udah punya alasan berarti itu bukan cinta lagi, Bund”

“Huuh”

Dan begituah si bundaaa dengan segala kepolosannya. Dan sampe sekarang pun saya masih belum menemukan alasan kenapa saya bisa mencintainya. Kalo si bundaa nanya lagi, jawabannya pun akan selalu tetap sama. Cinta itu adalah ketika kita mencintai seseorang tanpa pernah kita tahu alasan kenapa kita bisa mencintainya. Sederhananya adalah cinta itu tidak butuh alasan, bundaaa.

Kampung Melayu, 29 April 2014
Di kamar kost dan saya yang disuruh si bundaa buat segera memposting tulisan ini


Catatan :
1. Riry =  nama anak kami. Nama lengkapnya Oryza Sativa
2. Gembi = nama boneka beruang milik Riry. Terinspirasi dari musisi free jazz nasional, Gembira Putra Agam
3. Bunda = panggilan kesayangan untuk istri saya
4. Ayah = panggilan kesayangan saya dari si bundaa
5. Mamah = sebutan untuk mama mertua saya  

Minggu, 20 April 2014

Making Melody In My Heart



Aku bangun. Keadaan masih gelap, mungkin diluar mendung atau mungkin masih pagi. Aku ambil jam tangan yang aku simpan disebelahku. Sudah hampir jam 7. Ada buku-buku dan pakaian yang berserakan dimana-mana. Aku baru ingat, ini kamar kostku. Aku sudah tidak berada lagi di kamar Anggrek 306. Ah pantas saja tidurku terasa lebih nyenyak. Tidak ada senam dan apel pagi lagi.

Kuteguk habis air minum yang tersisa di dalam botol dan segera mengorek-ngorek isi tas. Mencari sebungkus rokok kenang-kenangan dari Pak Edi. Pak Edi bukan perokok, tapi tiap habis pulang dari rumahnya dia selalu membawa beberapa bungkus rokok dan memberikannya kepadaku, juga pada teman-temanku yang lain yang juga perokok (nanti aku ceritakan).

Aku ambil sebatang rokok dan bersiap membakarnya. Kemudian kriiik kriiik kriiik. . . sialan! Koreknya tidak ada! Aku lupa dimana menyimpannya. Mungkin tertinggal di asrama. Mungkin diambil Alif, atau Andre atau Clys atau mungkin Pak Dayat? Entahlah. Yang jelas rokok itu hanya menggantung saja di bibirku. Kemudian aku malah tersenyum mengingat mereka.

Perkenalkan. Mereka adalah jemaah Al-Hisap. Kelompok perokok lintas usia di Diklat Prajab Golongan 2 Angkatan 1. Yang paling sepuh adalah Pak Dayat. Paling sepuh sekaligus paling pendiam. Lama di Aussie, entah jadi perawat atau beternak kangguru.Sudah punya 2 anak. Kemaren buru-buru pulang karena anaknya masuk RS. Semoga cepet sembuh, Pak Dayat.

Yang paling gila adalah Alif.Gila dan tua sih.  Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Jadi gila, maksudku. Kadang aku sendiri suka merasa aneh tentang si Alif ini, dia bisa menjadi konyol dan serius dalam waktu yang hampir bersamaan. Mungkin dia mempunyai kemampuan untuk memutus nyambungkan saraf gila dan normalnya. Kalian tahu kakek kura-kura yang jadi gurunya Goku di film Dragon Ball? Nah Alif sedikit tidaknya mirip sekali sama kakek-kakek itu.

Yang paling sensitif? Ah tentu saja Clys Ramadhan Pramadipta. Seperti yang pernah dia katakan padaku, “muka boleh Limp Bizkit, hati sih Jikustik” atau kalau mengutip perkataan Yulli sih, “bodi security, hati Hello Kitty”. Clys memang yang paling sensitif. Mungkin aku adalah korban yang paling sering kena semprotnya. Sampai hari terakhir pun doi masih sempet marah-marah kepadaku. Tapi diluar sisi melankolis dan kelembutan hatinya, doi adalah seseorang yang dalam beberapa hal mempunyai visi dan misi yang sama denganku. Bahkan di hari-hari terakhir diklat Prajab kita berdua sama-sama dikutuk lagu Stand By Me milik Oasis. 

Untung saja Andre tidak sesensitif dan semelankolis Clys. Kalau tidak bisa-bisa dia langsung putus asa mengejar cintanya Fitri. Aiih, seperti sinetron sekali judul kisah cinta Andre ini. Tapi aku yakin sebagai perawat kesehatan jiwa, mental dan jiwa Andre sudah teruji. Semoga Andre tetap semangat mengejar cinta Fitri. Tjieee tjieee.

Nah mereka semua adalah jemaah Al-Hisap. Kadang si Ajay dan Sandi suka ikutan, hanya saja mereka bukan jemaah resmi. Mereka ikutan hanya ketika mereka merasa galau. Ajay mungkin galau kala gagal modusin Lita buat cari tempat kost yang bebas. Sandi sudah galau dari awal karena gagal jadi anak buah Ahok. Tambah galau karena selama Prajab dia dimonitoring terus. Hahahaha

 Hari sudah mulai siang. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi. Lalu pergi ke burjo. Karena tak ada sarapan pagi gratis lagi. Dilantai bawah ketemu ibu kost dan nagih uang kosan. Aku ingat belum bayar kost. Ternyata sudah 2 minggu kamar ini aku tinggalkan. Pantas saja berantakan. 

Aku memesan segelas kopi hitam dan menyalakan rokok kenangan dari Pak Edi. Kemudian aku teringat pada kematian Gabriel Garcia Marquez, seorang jurnalis sekaligus penulis, yang meninggal 2 hari yang lalu. Beliau pernah berkata seperti ini, “yang paling bermakna dalam kehidupanmu bukanlah apa yang terjadi pada dirimu. Tapi apa yang kamu ingat dan bagaimana cara kamu mengingatnya”. Ahhh ikut diklat Prajab ini mungkin adalah salah satu pengalaman yang paling bermakna dalam hidupku. Karena itu aku akan selalu mengingatnya.

Hidup memang menyenangkan bukan?

Kampung Melayu, 20 April 2014
Di kamar kost yang berantakan dan aku yang sekarang lagi mendengarkan lagu Don’t Go Away milik Oasis