Selasa, 29 April 2014

AKU INGIN MENCINTAIMU SEPERTI KUKU



“Ayaah, aku ingin mencintaimu seperti kuku” tiba-tiba si bundaa berkata sambil sesekali nyabutin bulu keteknya. Nyabutin bulu ketek adalah salah satu rutinitas si bundaa dikala senggang. Saya yang saat itu sedang tiduran di ranjang sambil maenin Gembi (boneka beruang milik Riry) langsung tertawa.

“hahahaha”

“Kok ayah ketawa sih?”

“Ya abis lucu. Masa mencintai seperti kuku” kata saya

“Ya iya doong. Kuku kan tiap kali dipotong akan terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Jadi cinta bundaa juga akan terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi”

“Hahahaha” saya kembali tertawa. Romantis sekaligus polos. Saya menyukai kepolosannya itu

“Kalau begitu, ayah juga ingin mencintai bunda seperti bulu ketek” balas saya

“Ih kok bulu ketek sih?”

“Ya iya lah. Itu bulu ketek bundaa tiap hari dicabutin tapi terus tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Cinta ayah juga gitu. Tumbuh lagi tumbuh lagi seperti bulu ketek. Hahaha”

Itulah salah satu contoh percakapan kami. Terkadang apa yang kami perbincangkan atau perdebatkan adalah suatu hal yang amat sangat tidak penting. Contoh lainnya seperti ini,

“Ayaaah jam 3 itu dibawah jam 1”

“Bukan bundaaa, jam 3 itu ya diatas jam 1”

“Ihh ayah gimana sih, coba liat jam dinding. Angka 3 itu dibawah angka 1!!”

“Bundaa mah aneh. Angka 3 kan diatas angka 1. Jam 1 dulu terus jam 2 baru jam 3. Jadi jam 3 itu diatas jam 1”

“Ayah yang aneh diih”

Begitulah. Jika kalian mengenal kami berdua maka kalian akan tahu bahwa kami adalah pasangan yang berbeda hampir dalam segala hal. Atau kami sama dalam suatu hal tapi berbeda dengan orang lain. Contoh yang paling sederhana adalah si bundaa orang yang sangat mencintai kebersihan. Kegiatan menyapu rumah bisa diulangi sampai beberapa kali. Sementara saya adalah tipe orang yang sangat cuek dengan kebersihan. Alhasil setiap mau bobo kami selalu terlibat masalah. Seperti ini,

“Ayah kalo mau naik ranjang cuci kaki dulu”

“Udah bundaa tadi pas ayah mau pipis”

“Tapi tadi kan ayah ke dapur dulu. Cuci kaki lagi”

“Yaaa ke dapur Cuma beberapa langkah ko, ngapain cuci kaki lagi”

“Tetep aja kotor lagi. Ayo cuci kaki lagi”

Pada akhirnya salah satu diantara kami harus ada yang saling mengalah. Jadi bisa dibayangkan betapa keras kepalanya si Riry bukan?

***

Ya itulah si bundaa, istri saya yang paling sabar. Yang suka minta dibeliin buku tapi tidak pernah dibaca. Yang sukanya malah baca Majalah Misteri atau Majalah Hidayah. Yang tidak mengizinkan buku biografi Kurt Cobain saya bawa, padahal tidak pernah dia baca juga.

Itulah si bundaaa, istri saya yang selalu curiga dan cemburu.

“Ayaah, Bu Siti itu siapa?”

“Itu bossnya ayah, Bund”

“Ko minta dibeliin soto segala?”

“Ya namanya juga boss, bund. Sukanya nyuruh anak buah”

“Bundaa gak suka”

“Yaaa masa cemburu sama Bu Siti? Umurnya aja sepantaran sama si Mamah”

Yaa memang itulah si bundaa. Yang suka cemburu apalagi kalo sama Rini. 

“Ayah pasti lagi mikirin Rini”

“Apaan sih bund? Ayah lagi mikirin utang nih. Uang asuransi Riry belum bayar”

“Boong aah. Bundaa tau ayah lagi mikirin Rini”

“Aiih gak percayaan. Bundaa kan tau uang lauk-pauk ayah gak cair mulai bulan ini”

Yaa begitulah si bundaa. Suka bertanya hal-hal yang tidak ada hubungannya. Dan suka bertanya hal-hal yang tidak ada jawabannya.

“Ayaah. Apa alasan ayah mencintai bundaa?”

“Gak tau, Bund”

“Ko gak tau sih?”

“Yaa cinta kan gak butuh alasan, Bund?”

“Pokoknya harus ada dih”

“Yaa gak ada bundaa. Kata orang bijak juga cinta adalah ketika kau mencintai seseorang tapi tidak tahu karena apa kau mencintainya”

“Ah boong. Buktinya ayah cinta sama Rini karena dia pinter dan bercandanya nyambung”

“Ayah gak cinta sama Rini, Bundaaaa”

“Dulu”

“Iya dulu, sekarang kan udah gak. Lagian kok ujung-ujungnya Rini lagi Rini lagi sih, Bund?

“Ya abis ayah gak punya alasan kenapa bisa cinta sama bundaa?”

“Kan tadi ayah bilang, cinta itu gak butuh alasan bundaa. Kalo udah punya alasan berarti itu bukan cinta lagi, Bund”

“Huuh”

Dan begituah si bundaaa dengan segala kepolosannya. Dan sampe sekarang pun saya masih belum menemukan alasan kenapa saya bisa mencintainya. Kalo si bundaa nanya lagi, jawabannya pun akan selalu tetap sama. Cinta itu adalah ketika kita mencintai seseorang tanpa pernah kita tahu alasan kenapa kita bisa mencintainya. Sederhananya adalah cinta itu tidak butuh alasan, bundaaa.

Kampung Melayu, 29 April 2014
Di kamar kost dan saya yang disuruh si bundaa buat segera memposting tulisan ini


Catatan :
1. Riry =  nama anak kami. Nama lengkapnya Oryza Sativa
2. Gembi = nama boneka beruang milik Riry. Terinspirasi dari musisi free jazz nasional, Gembira Putra Agam
3. Bunda = panggilan kesayangan untuk istri saya
4. Ayah = panggilan kesayangan saya dari si bundaa
5. Mamah = sebutan untuk mama mertua saya  

Minggu, 20 April 2014

Making Melody In My Heart



Aku bangun. Keadaan masih gelap, mungkin diluar mendung atau mungkin masih pagi. Aku ambil jam tangan yang aku simpan disebelahku. Sudah hampir jam 7. Ada buku-buku dan pakaian yang berserakan dimana-mana. Aku baru ingat, ini kamar kostku. Aku sudah tidak berada lagi di kamar Anggrek 306. Ah pantas saja tidurku terasa lebih nyenyak. Tidak ada senam dan apel pagi lagi.

Kuteguk habis air minum yang tersisa di dalam botol dan segera mengorek-ngorek isi tas. Mencari sebungkus rokok kenang-kenangan dari Pak Edi. Pak Edi bukan perokok, tapi tiap habis pulang dari rumahnya dia selalu membawa beberapa bungkus rokok dan memberikannya kepadaku, juga pada teman-temanku yang lain yang juga perokok (nanti aku ceritakan).

Aku ambil sebatang rokok dan bersiap membakarnya. Kemudian kriiik kriiik kriiik. . . sialan! Koreknya tidak ada! Aku lupa dimana menyimpannya. Mungkin tertinggal di asrama. Mungkin diambil Alif, atau Andre atau Clys atau mungkin Pak Dayat? Entahlah. Yang jelas rokok itu hanya menggantung saja di bibirku. Kemudian aku malah tersenyum mengingat mereka.

Perkenalkan. Mereka adalah jemaah Al-Hisap. Kelompok perokok lintas usia di Diklat Prajab Golongan 2 Angkatan 1. Yang paling sepuh adalah Pak Dayat. Paling sepuh sekaligus paling pendiam. Lama di Aussie, entah jadi perawat atau beternak kangguru.Sudah punya 2 anak. Kemaren buru-buru pulang karena anaknya masuk RS. Semoga cepet sembuh, Pak Dayat.

Yang paling gila adalah Alif.Gila dan tua sih.  Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Jadi gila, maksudku. Kadang aku sendiri suka merasa aneh tentang si Alif ini, dia bisa menjadi konyol dan serius dalam waktu yang hampir bersamaan. Mungkin dia mempunyai kemampuan untuk memutus nyambungkan saraf gila dan normalnya. Kalian tahu kakek kura-kura yang jadi gurunya Goku di film Dragon Ball? Nah Alif sedikit tidaknya mirip sekali sama kakek-kakek itu.

Yang paling sensitif? Ah tentu saja Clys Ramadhan Pramadipta. Seperti yang pernah dia katakan padaku, “muka boleh Limp Bizkit, hati sih Jikustik” atau kalau mengutip perkataan Yulli sih, “bodi security, hati Hello Kitty”. Clys memang yang paling sensitif. Mungkin aku adalah korban yang paling sering kena semprotnya. Sampai hari terakhir pun doi masih sempet marah-marah kepadaku. Tapi diluar sisi melankolis dan kelembutan hatinya, doi adalah seseorang yang dalam beberapa hal mempunyai visi dan misi yang sama denganku. Bahkan di hari-hari terakhir diklat Prajab kita berdua sama-sama dikutuk lagu Stand By Me milik Oasis. 

Untung saja Andre tidak sesensitif dan semelankolis Clys. Kalau tidak bisa-bisa dia langsung putus asa mengejar cintanya Fitri. Aiih, seperti sinetron sekali judul kisah cinta Andre ini. Tapi aku yakin sebagai perawat kesehatan jiwa, mental dan jiwa Andre sudah teruji. Semoga Andre tetap semangat mengejar cinta Fitri. Tjieee tjieee.

Nah mereka semua adalah jemaah Al-Hisap. Kadang si Ajay dan Sandi suka ikutan, hanya saja mereka bukan jemaah resmi. Mereka ikutan hanya ketika mereka merasa galau. Ajay mungkin galau kala gagal modusin Lita buat cari tempat kost yang bebas. Sandi sudah galau dari awal karena gagal jadi anak buah Ahok. Tambah galau karena selama Prajab dia dimonitoring terus. Hahahaha

 Hari sudah mulai siang. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi. Lalu pergi ke burjo. Karena tak ada sarapan pagi gratis lagi. Dilantai bawah ketemu ibu kost dan nagih uang kosan. Aku ingat belum bayar kost. Ternyata sudah 2 minggu kamar ini aku tinggalkan. Pantas saja berantakan. 

Aku memesan segelas kopi hitam dan menyalakan rokok kenangan dari Pak Edi. Kemudian aku teringat pada kematian Gabriel Garcia Marquez, seorang jurnalis sekaligus penulis, yang meninggal 2 hari yang lalu. Beliau pernah berkata seperti ini, “yang paling bermakna dalam kehidupanmu bukanlah apa yang terjadi pada dirimu. Tapi apa yang kamu ingat dan bagaimana cara kamu mengingatnya”. Ahhh ikut diklat Prajab ini mungkin adalah salah satu pengalaman yang paling bermakna dalam hidupku. Karena itu aku akan selalu mengingatnya.

Hidup memang menyenangkan bukan?

Kampung Melayu, 20 April 2014
Di kamar kost yang berantakan dan aku yang sekarang lagi mendengarkan lagu Don’t Go Away milik Oasis

Jumat, 27 Desember 2013

Catatan Kecil Akhir Tahun



Selasa, 24 Desember 2013

Diluar hujan mulai turun. Untung aku sudah berada di rumah. Tadi sehabis memperpanjang SIM aku sempat mampir ke rumah Egie, kawan dekatku sejak zaman SMP. Ayahnya meninggal minggu lalu. Pak Yaya, biasa aku memanggilnya. Beliau adalah kawan dekat ayahku juga, seperti aku dan Egie. Entahlah, ketika mendengar kabar duka itu aku merasa sedikit aneh. Meskipun aku tidak begitu dekat dengan Pak Yaya tapi aku selalu teringat wajah dan senyum khasnya tiap kali aku mampir ke rumah Egie. Aneh saja ketika kini menyadari beliau sudah tiada. Wajah dan senyumnya pun tidak lagi menyambutku yang hari ini mampir ke rumahnya. Selamat tinggal dan sampai jumpa, Pak Yaya.

Egie terlihat sudah tidak terlalu sedih lagi, meskipun kata si Rasblo dia sempat menangis ketika dia telepon. Wajar saja, Egie pasti merasa sangat kehilangan. Aku juga pasti begitu. Kita sempat berbincang selama beberapa saat, ngopi bareng dan menghabiskan beberapa batang rokok. Sebelum kemudian aku disuruh cepat pulang oleh si bunda (panggilan sayang buat istriku).

Begitulah, kemudian aku tiba di rumah dan hujan turun. Si Mamah (kalau ini panggilan sayang buat ibuku) masak tempe goreng, pete goreng, sambal juga segelas susu hangat. Aku makan dengan lahap. Ah, sungguh nikmat sekali rasanya. 

Sementara aku makan, si Riry (nama lengkapnya Oryza Sativa, anakku) terus mondar mandir tanpa kenal lelah. Dari ruang tamu jalan ke dapur, balik lagi ke ruang tamu, terus ke gudang. Berantakin beras, berantakin pakaian kotor. Dan tidak capek-capek! Mungkin dia lagi senang, soalnya dia baru bisa berjalan. Meskipun kami sekeluarga harus bergantian mengawasinya. Yaah kalian tahu sendiri kalau anak yang baru bisa jalan bagaimana? Minggu ini saja dia sudah 2 kali jatuh yang mengakibatkan benjol di jidat, lecet di hidung, dan memar di pipi. Hebatnya, dia cuma nangis bentar lalu jalan lagi dan ketawa-tawa lagi. Lucu sekali bocah yang satu itu. Saking aktifnya aku kadang menyebutnya si hebring. Hahaha.

Desember ini Riry sudah 15 bulan, si bunda sudah 21 tahun. Waktu berjalan tanpa terasa. Aku sendiri sudah berumur 23 tahun, meninggalkan angka favoritku, 22. Kata orang sih umur segitu masih muda. Tapi aku merasakan apa yang disebut oleh Rizky Akbar sebagai identity crisis. Krisis identitas. Di tempat kerja kebanyakan isinya bapak-bapak dan ibu-ibu. Jadi jangan heran kalau suatu saat kalian mendengarku berbicara tentang kisah pernikahan Ayu Ting Ting atau Asmirandah, atau sengketa Adiguna Soetowo dengan Flo dan Piyu. Ibu-ibu punya kemampuan luar biasa menyampaikan analisis mendalam tentang kasus-kasus tadi. Dan aku mau tidak mau harus ikut mendengarkannya, hampir tiap hari.

Tapi ngomong-ngomong tentang Rizky Akbar, tadi aku menemukan bukunya yang aku pinjam tahun lalu. Madre karya Dee Lestari. Aku mengenal Rizky Akbar pada tahun 2011, beberapa bulan setelah lulus kuliah. Dikenalkan oleh Jemi Alpian, di sebuah warung kopi depan SMA 7 Cirebon. Sebenarnya sebelum itu juga aku sudah pernah bertemu dengannya sekali. Proyek foto kelas waktu itu. Cuma proyeknya gagal. Lalu bertemu lagi di depan SMA 7 Cirebon. Proyek zine. Kali ini berhasil. Tidak terasa juga peristiwa itu sudah berlalu 2 tahun. 

Untuk mengenangnya aku kembali membaca Madre. Padahal kemarin aku baru saja membeli 2 buah buku di kedai buku Bookmarks milik Um Alam. Kedai buku kecil tapi bukunya bagus-bagus. Um Alam memang pecinta buku, cocok juga dia jadi pemilik kedai buku. Dibandingkan dengan para pedagang buku bekas di Pasar Senen atau di Blok M yang tidak ngerti dan cinta buku tapi pasang harga mahal untuk beberapa bukunya.

Diluar hujan masih turun. Aku bisa bersantai sejenak membaca buku, karena tugas menjaga si Riry sedang dijalani sama si bunda. Tahun 2013 sebentar lagi berakhir. Kalau mengurainya satu per satu mungkin banyak peristiwa yang aku lupakan daripada yang aku ingat. Entahlah apakah hal itu penting atau tidak. Yang jelas diluar masih hujan dan aku terpaksa menghentikan kegiatan membaca bukunya karena sekarang giliranku menjaga Riry. 

Ayoo Riry kita main ciluk baa ciluk baa-an

Rabu, 23 Oktober 2013

YOU'RE SO GREAT DAN MISTERI HILANGNYA RESQIOSO

Tiba-tiba Resqioso menghilang. Aku kaget, tentu saja, karena dia adalah salah satu kawan dekatku. Meski pada awalnya aku menanggapinya biasa saja saat Bram, kawanku yang lain, mengabarkan berita itu. Karena kami punya kesibukan masing-masing dan tidak ada aturan di antara kami untuk saling memberi kabar setiap hari. Aku kadang menghubunginya, kadang dia sendiri yang berkunjung ke tempatku.

Tapi cerita itu menjadi lain saat Bram berhipotesis bahwa Resqioso menghilang beberapa saat setelah dia mengirimkan sebuah mixtape dan zine untuk seorang gadis! Ini menarik. Aku tahu Resqioso menyukai gadis itu tapi aku tidak tahu sampai di mana hubungan mereka. Apakah si gadis juga mengetahui perasaan Resqioso? Atau mereka sudah sama-sama saling mengetahui perasaan masing-masing? Atau mungkin Resqioso membawa misi tersembunyi lewat kiriman mixtape dan zinenya? Aku tidak tahu pasti karena Resqioso selalu bungkam mengenai masalah asmaranya kepadaku.

Namun justru di situlah letak hipotesis Bram berpusat. Resqioso, menurut Bram, tidak hanya mengirim mixtape dan zine saja  kepada gadis itu melainkan juga perasaanya. Dengan kata lain, Resqioso menyatakan cintanya kepada gadis itu lewat mixtape!! Dan ini yang membuatku takut, cinta itu bertepuk sebelah tangan dan Resqioso menghilang karenanya.

Aku tahu terkadang cinta bisa membuat seseorang berbuat gila. Tapi aku ragu jika Resqioso sampai harus berbuat nekat karena cintanya ditolak. Aku membuang jauh-jauh semua pikiran buruk yang beterbangan di kepalaku. Meski akhir-akhir ini aku banyak mendengar kabar bunuh diri yang menghampiriku dari berbagai berita di internet maupun surat kabar. Ada siswi SMP yang bunuh diri karena tidak tahan menghadapi pengumuman kelulusan ujian nasional. Ada juga berita tentang lelaki yang menabrakan diri ke arah kereta api yang sedang lewat. Aku berusaha untuk tidak membayangkan kejadian itu menimpa Resqioso. Sungguh merinding membayangkannya.

Aku mencoba memastikan kabar dari Bram tersebut. Aku kirim pesan kontak BBMnya, hasilnya tanda silang, BBMnya tidak aktif. Kemudian aku kirim sms juga, tetap tidak berbalas. Akhirnya aku mencoba menelponnya, dan ponselnya tidak aktif! Aaah aku menjadi benar-benar khawatir. Apalagi mendengar kata-kata Bram yang terus terngiang di telinga, "lalu apalagi yang hendak dicapai jika keinginan terbesarnya sudah terpenuhi?". Aku tahu maksud kata-kata Bram tersebut, keinginan terbesar Resqioso adalah melihat konser Blur di Lapangan D Senayan kemarin. Dan aku ingat betapa bahagianya seorang Resqioso karena bisa melihat idolanya secara langsung. Bahkan aku sampai terharu ketika mendengar dia bercerita bagaimana dia meminjam uang 200 ribu kepada ibunya sebagai tambahan untuk membeli tiket. "Sekali ini saja, Bu, untuk seumur hidup" begitulah pinta dia pada sang ibu. Sang ibu pun luluh dan memberinya uang.

Sekali lagi aku berusaha mencari kabarnya melalui dunia maya, tempat di mana dia selalu aktif berkeliaran di dalamnya. Tapi kemudian aku menemukan hal yang membuat bulu kuduk kembali berdiri. Kicauan terakhirnya di twitter, 3 hari yang lalu, adalah seperti ini, "jendela, kursi, atau pistol di meja~ ". Anjiiing! Aku semakin kalut. Aku menjadi teringat Kurt Cobain, aku merasa seperti Krist Novoselic saat menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Kurt Cobain sebelum bunuh diri. Aku bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu kabar darinya.

Sebenarnya aku ingin sekali pergi ke rumahnya. Tapi sial, aku lupa jalan menuju rumahnya. Aku hanya pernah sekali berkunjung ke rumahnya, waktu itu malam hari sehingga aku tidak bisa mengingat tempatnya.

Sekali lagi aku meyakinkan diriku untuk berpikir positif. Aku tahu kadang cinta memang bisa berjalan di luar nalar manusia. Menjungkir balikkan logika. Tapi aku tidak pernah setuju, jika hanya karena cinta dia harus mengakhiri hidupnya. Itu tindakan bodoh menurutku. Sangat bodoh.

Tetapi tetap saja aku tidak bisa tenang. Aku malah kembali teringat pada cerita Resqioso tentang afterconcert-nya Blur. Dia merasa sedikit kecewa, karena You're So Great tidak dibawakan pada konser malam itu. Padahal itu adalah lagu yang sangat ingin sekali dia dengar.

Aku tidak tahu alasan Resqioso menyukai lagu itu.  Tapi mungkin itu adalah nyanyiannya sendiri untuk gadis yg dikiriminya sebuah mixtape. Lagu yang dalam harapan Resqioso akan dibawakan oleh Blur untuknya suatu saat nanti secara personal. Atau mungkin juga lagu yang akan dia nyanyikan juga untuk gadis penerima mixtape di altar pernikahan mereka nanti, atau di pernikahan gadis itu dgn seseorang yang bukan Resqioso. Aku tiba-tiba teringat nyanyian Graham Coxon itu.

And I feel the light in the night and in the day
And I feel the light
When the sky's just mud and grey
And I feel the night when you tell me it's OK
Coz you're so great and I love you


Tiba-tiba aku menangis mendengarnya . .

RSCM, 30 Mei 2013

Rabu, 04 September 2013

Orang-orang Gendut dalam Kehidupan Saya

Saya gak pernah gendut. Dari kecil sampe segede sekarang badan saya gak pernah sekalipun gendut. Mungkin karena gak ada keturunan gendut yang mengalir dalam gen saya. Ibu dan ayah saya gak gendut. Pun begitu sama kedua kakek dan nenek saya. Gak ada yang gendut.

Kadang saya suka heran banyak orang gendut yang ingin sekali kurus. Padahal menurut saya gendut itu anugerah lho, ya ini sih opini dari luar saja sih soalnya saya gak pernah gendut jadi gak tau rasanya. Maksud saya dalam kalimat gendut itu anugerah adalah karena orang dengan tubuh yang gendut menurut saya rata-rata lucu dan menggemaskan. Meskipun sifat dan kelakuannya gak lucu tapi sepintas kelihatan lucu dari luar.

Saya sendiri sepertinya mempunyai kecenderungan suka sama orang-orang yang gendut. Saya suka karakter Po yg gendut di film Kung Fu Panda, juga Patrick Star dalam serial kartun Spongebob. Karena yaa itu tadi, menurut saya mereka itu lucu-lucu dan menggemaskan.

Dan ternyata tanpa saya sadari selama usia kehidupan saya di dunia, saya selalu dikelilingi oleh orang-orang gendut. Hampir di setiap masa selalu saja ada orang gendut yang seolah-olah "being around" begitu saja dalam hidup saya. Berikut adalah daftar orang-orang gendut dalam kehidupan saya yang berhasil saya susun :

1. Egie Praditya Mulyana.

Zaman saya TK sampai lulus SD saya gak punya temen deket yang gendut. Karena teman-teman sekelas saya waktu SD gak ada yang gendut. Ada sih kakak kelas saya yang gendut, misalnya Iyus anak Pak Emon sama si Riki Yakub tapi saya gak terlalu dekat dengan keduanya. Jadi orang gendut yang pertama kali dekat dengan saya jatuh kepada Egie Praditya Mulyana. Teman saya ketika SMP. Jomblo akut yang susah move on. Sebenernya saya sudah kenal Egie sejak kecil karena kebetulan orang tua saya dan orang tua Egie berteman, tapi saya baru dekat dengan Egie saat saya duduk di bangku SMP. Saya 2 kali sekelas bareng Egie, ketika kelas 2 dan kelas 3.
Egie adalah teman seperjuangan ketika di masa-masa percintaan monyet saya. Saya selalu minjem motor dia buat ngapel, atau biasanya minta dianter ngapel sama dia. Kadang sampai jam 2 malem. Tapi si Egie gak pernah protes. Cukup ngasih kopi + rokok aja, Egie langsung diem.
Selain itu Egie juga teman pertama ketika saya awal-awal suka ngeband. Dia maenin bass, meskipun gak profesional kayak bapaknya (pemaen bass di grup dangdut), meskipun juga selera musiknya gak sesuai sama tampangnya yang serem dan brewokan. Tapi lumayanlah. Yang penting ada pemaen bassnya.
Lalu Egie juga adalah teman maen PS bareng, dan dia cuma bisa maenin Chelsea doang. Terus gampang ngalahinnya. Makanya saya seneng sekali kalau maen PS sama Egie, soalnya bisa sambil ngecengin dia. Hahaha
Dulu, terkadang saat saya lagi suntuk atau lagi sedih saya biasanya maen ke rumah Egie. Saya tidak perlu cerita masalah apa-apa sama dia. Cuma dateng terus tiduran di kamarnya. Biasanya saya akan merasa seneng sendiri. Kata orang, itulah yang disebut keajaiban seorang teman. Terimakasih, Egie !

2. Ricky Leo Hardy

Namanya sama dengan saya. Tapi saya sering manggilnya Ucul, karena ya dia memang ucul sekali orangnya. Saya sudah tahu dia sejak SD karena pernah ikut lomba cerdas cermat bareng. Bahkan saya tau dia pernah pingsan saat lomba tersebut. Tapi saya mulai dekat dengannya saat duduk di bangku SMA. Padahal kami tidak pernah sekelas, tapi karena 1 kosan terus selama 3 tahun jadilah hubungan kami begitu dekat.
Jika ada diantara kalian yang menilai saya seorang pendiam, maka si Ucul ini jauh lebih pendiam daripada saya. Tapi diam-diam gitu otaknya encer luar biasa. Saya ingat pernah membuat sebuah stensilan (cerita porno gitu) bareng dia saat kelas 2 SMA. Judulnya BDJ (Belum Dikasih Judul). Hahaha
Si Ucul juga adalah salah satu teman yang selera musiknya lumayan keren untuk ukuran saat itu. Dia sering ngenalin saya sama band-band yang lumayan keren hasil dari beli MP3 bajakannya. Tapi sayang rencana kami untuk membuat sebuah band belum sempat terlaksana sampai saat ini. Terakhir saya ketemu dia pas lebaran kemaren. Ternyata dia tambah genduuuuuut ! Tapi masih tetap ucuuuuul.

3. Rahkmat Zaelani.

Atau sering menyebut dirinya Raza. Tapi karena iseng saya sering nambahin kata Coli dibelakangnya, jadilah Raza Coli. Tapi saya lebih senang memanggilnya Bang Mamat. Lebih akrab dan nyaman di kuping. Bang Mamat adalah orang gendut yang dekat dengan kehidupan saya ketika kuliah. Orangnya baik minta ampun deh. Karena itu dengan penuh hormat saya berikan gelar Bang Mamat Yang Baik kepadanya. Diantara kebaikannya adalah sering minjemin saya motor (lagi-lagi buat dipake ngapel), juga karena kita berdua adalah sama-sama penggemar Manchester United. Bang Mamat juga sering memberi nasihat yang baik, anter jemput kalau lagi dines, minjemin leptop (kecuali baju, ga pernah dipinjemin karena pasti kegedean). Setelah saya kerja dan berpisah dengan Bang Mamat pun terkadang saya masih sering mengajaknya makan bakso bareng di tempatnya Pak Kumis.
Terakhir saya dengar Bang Mamat sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ahh, semoga Bang Mamat cepat sembuh dan kita bisa ngebaks bareng lagi.

4. Rezky Aditya Perdana

Nama akun twitternya @pemotolkontong. Dia adalah teman gendut di masa ketika saya lulus kuliah dan menganggur. Entah kenapa saya merasa kalau di kehidupan yang dulu saya dan Kontong adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di Candi Borobudur. Betapa tidak? Saya hampir mempunyai guratan nasib yang sama dengannya, diantaranya :
1. Disuruh jadi PNS oleh orang tua
2. Sering ngambil (baca maling) komik/novel dari tempat penyewaan buku
3. Gak suka musik metal
4. Gak suka Radiohead pasca OK Computer
5. Pernah cek in di Tidar Hotel
6. Fans Oasis
7. Sama-sama bertitit mungil
Oke, poin 7 saya belum tau pasti karena belum pernah liat tititnya Kontong. Yang jelas dengan berbagai kesamaan nasib tersebut sudah sepantasnya kita berdua mabok bareng untuk merayakannya. Tanpa bertemu Kontong mungkin saya tidak akan sesemangat ini menjalani rutinitas hidup dan pekerjaan. Karena dari dia juga kemudian saya banyak bertemu teman-teman lainnya yang punya satu kesamaan hobi dan selera. Dan ya, Kontong adalah satu-satunya teman yang hadir dan menyaksikan secara langsung akad pernikahan saya. :'')
I love pemotolkontong.

5. Arief Rahma Hidayat

Nama bekennya adalah Mbeb. Saya sudah kenal sejak zaman kuliah. Tapi waktu itu hubungan diantara kita belum terlalu instens. Kita satu angkatan cuma beda kelas. Bahkan saya inget pertama kali melihatnya saat OSPEK. Gayanya aduhai sekali, poni miring ala emo, kaos putih Superman, skinny jeans item dipadupadankan sneakers Converse. Absolutelyfuckingcoooool. Saya semakin ngefans lagi setelah tau kalau dia juga (mungkin satu-satunya) mahasiswa di angkatan saya yang suka My Chemical Romance!!
Sewaktu kuliah kami tidak begitu deket sih. Tapi malah deket-deket sekarang ini karena kerja di tempat yang sama, meskipun beda divisi. Kebaikannya terlihat dari betapa seringnya dia meminjamkan uang kepada seorang ayah yang kere ini, yang sering luntang-lantung di kota Jakarta yang kejam ini tanpa punya uang. Yang bikin seneng lagi Mbeb ini adalah orang yang gampang diajak jalan, terutama urusan kuliner!  Dia biasanya selalu bersemangat jika diajak jalan.  Dedikasinya terhadap pekerjaan pun patut diacungi 4 jempol! Shift pagi-sore sikat terus. Saat saya tanya,

"Pakbeeb, ko gak pernah protes sih?"

"Gimana ya? Saya seneng sih ngejalaninnya"

Beuuuuuh jawaban dari seorang perawat sejati yang mencintai pekerjaannya. Dedikasi seperti itu hanya bisa ditandingi oleh Spongebob yang mencintai pekerjaannya sebagai koki.
Untuk Pakbeb dan "antonio"-nya, i salute youuuu !!


*honorable mention :

Dibawah ini juga ada beberapa orang gendut yang dekat dengan saya hanya mereka sedikit kalah bersaing. Karena pemilihannya berdasarkan masa ketika saya sekolah-kuliah-kerja, maka tidak bisa ada 2 orang yang bisa menempati posisi sama. Berikut diantaranya,

1. Agiet Septian
Temen kosan ketika kuliah. Sama gendutnya dengan Bang Mamat tapi mukanya lebih mirip kayak om-om. Bujang lapuk, pujangga, dan mesum. Oh iya tititnya diberi nama Popo, for your info aja sih.

2. Yosie Rivanto.
Sebenarnya agak susah menggolongkan Yosie ke dalam kriteria gendut. Dibilang gendut ya gak terlalu gendut, tapi dibilang kurus juga keliatannya dia gendut. Perutnya juga buncit, tititnya mungil. Jadi ya sudah saya masukin ke honorable mention aja.

3. Difa Syahmania Azhar
Teman satu kosan waktu kuliah. Berandal sejati. Semangat kalau diajak maksiat, tapi susah diajak sholat. Gendut, bulat, lucu. Sekilas mirip karakter Pinguin di film Batman. Satu lagi, suaranya juga merdu mirip Bams. Kuat mabok, kuat ngerokok tapi jarang keliatan makan tapi masih gendut dan masih hidup. Ken666eriaaaaan !!!

4. Prabu Wijaya
Bukan! Dia bukan Prabu Wijaya di sinetron Putri Yang Tertukar. Saya juga sempat kaget kalau nama Prabu Wijaya ternyata ada di dunia nyata. Tapi saya pastikan dia bukanlah Prabu Wijaya yang ada dalam sinetron. Dia adalah teman saya ketika awal-awal masuk kerja. Orangnya baik, sama seperti Mbeb, Pak Prabu sering minjemin saya uang kalo lagi kere. Maklum waktu awal-awal kerja saya selalu kere (sekarang juga gitu sih). Selain itu dia juga adalah partner sholat Jum'at saya di mesjid UI, yang selalu datang pas khotib udah selese khotbah !