Senin, 02 September 2013

Menuju Bandung Zine Fest 2013 bersama Sang Musisi !!


Sabtu, 31 Agustus 2013

Pagi itu adalah hari terakhir di bulan Agustus. Masih jam 5 pagi, saya sudah mandi padahal masih mengantuk. Biasanya hari Sabtu saya pergunakan dengan baik untuk bobo sepuasnya tapi tidak pada pagi itu. Semua saya lakukan demi Bandung Zine Fest yang digelar siang harinya.

Saya naik angkot 04 menuju terminal Depok. Tentu saja saya tidak sendirian. Saya berangkat bersama kawan saya yang seorang Musisi (dengan M besar) bernama Resqioso, yg beberapa bulan lalu merilis split album perdananya yang sayangnya luput dari pantauan radar media-media musik tanah air dari mulai Rolling Stone sampai Jakartabeat.

Tapi tidak apa-apa. Resqioso masih tetap terlihat gagah di mata saya, apalagi dengan tulisan "Saya Seorang Musisi" di kaosnya yang makin memantapkan kegagahannya.

Sekitar jam 6.30 kami berdua sudah tiba di terminal Depok. Sebelum naik bus MGI jurusan Bandung kami jajan dulu beberapa buah cemilan + susu biar sehat. Kami mengambil deretan kursi di belakang dan mulai memakan cemilan yang kami beli. Perbincangan saat itu masih berkutat seputar "Kenapa Ukuran Beng Beng Semakin Kecil?". Dan mereka gak bilang-bilang dulu, tau-tau udah kecil aja.

Ditengah panasnya perbincangan pagi itu kemudian masuklah ke dalam bis seseorang yang terlihat biasa saja dan menggendong ransel. Tapi kami berdua tidak bisa tidak peduli karena kaos yang dipakenya. Dia pake kaos CRASS, band punk nan legendaris itu. Kemudian dia duduk di samping tempat duduk kami. Tapi kami tidak menyapanya karena kami kembali terlarut ke dalam perbincangan soal Beng Beng.

Bus pun kemudian berangkat. Saya memilih untuk bobo selama perjalanan. Sembari mendengarkan Sarita Fraya yang disetel oleh kawan saya dari disc-man yang dibawanya, yang kerapkali mati karena optiknya sudah mulai tidak beres. Tapi perjalanan baru dimulai setelah kami tiba di Longriver Bus Station (terjemahan bebas : Terminal Leuwipanjang)

Sebelum turun saya sempat bertanya kepada sopir busnya,

"Pak, kalo mau ke Jalan Perintis Kemerdekaan naik apa yah?"

"Jalan Kemerdekaan?"

"Jalan Perintis Kemerdekaan, Pak"

"Oh, naik Damri jurusan Ledeng-Leuwipanjang"


Setelah mendapat petunjuk dari supir bus MGI itu akhirnya kami berdua pun bergegas mencari mobil Damri yang dimaksudkannya. Tapi si Resqioso malah berputar-putar kemana-mana sampai kami keluar terminal dan pusing. Karena pusing saya tanya lagi bapak-bapak penjual es doger. Si bapak terlihat senang ketika saya berjalan ke arahnya. Mungkin dikiranya saya mau beli es doger padahal mah enggak.

"Pak, tau Jalan Perintis Kemerdekaan gak?"

"Gak tau"

"Kalau bus Damri lewat sini gak, Pak?"

"Oh, bus Damri mah ga lewat sini"

"Yaudah makasih, Pak"

"Iya sama-sama"

Saya perhatikan wajahnya kecewa karena saya gak beli es dogernya.

Untuk memastikan lagi saya kemudian bertanya kepada satpam yang terlihat ada disitu. Sementara di sisi lain Resqioso sedang sibuk nelpon.

"Lapor Pak Satpam, saya mau bertanya"

"Silahkan"

"Klo bus Damri lewat sini gak?"

"Wah gak lewat"

"Terus lewat mana dong?"

"Lewat belakang sana" katanya sambil menunjuk ke suatu arah.

"Jadi saya harus kesana, Pak?"

"Iya"

"Yaudah makasih Pak Satpam. Selamat bertugas"

Kemudian saya meninggalkannya dan menuju ke arah yang tadi ditunjukan olehnya. Resqioso sudah berhenti menelpon. Kemudian berkata,

"Kata Kontong (nama lengkapnya Pemotolkontong-red), kita naik Damri jurusan Cicaheum nanti turun di BNI nanti dijemput sama panitia"

Kami jadi bingung. Naik Damri jurusan Ledeng apa Cicaheum yg bener??

Selang beberapa saat menunggu lewatlah Damri jurusan Ledeng dan bertanyalah saya sama keneknya.

"Pak, lewat jalan Perintis Kemerdekaan gak?"

"Iya lewat"

Kemudian kami pun naik. Setelah di dalam saya baru sadar orang yg tadi saya tanya ternyata bukan kenek busnya, melainkan penumpang biasa. Ketika si kenek asli lewat dan menagih ongkos, si Resqioso bertanya lagi,

"Pak ini lewat Braga kan?"

"Wah enggak. Salah naik, cepet turun"

Waduh saya dan Resqioso bingung dan salting karena salah naik jurusan.

"Yaudah Pak saya mau turun" kata Resqioso.

"Yaudah sana turun" jawab si kenek tanpa ekspresi sementara mobil masih melaju kencang. Anjis nih kenek horor banget dikiranya saya sama Resqioso bisa akrobat turun gitu aja dari bus yang masih melaju?

Setelah turun kami berdua celingak-celinguk gak puguh. Resqioso nanya ke tukang parkir disitu, katanya disuruh naik Damri jurusan Cicaheum. Ya sudah sambil menunggu saya dan Resqioso membeli cimol yang kata Resqioso rasanya hambar tapi tetep abis dimakan, karena lapar.

Beberapa menit kemudian Damri jurusan Cicaheum pun lewat. Masih kosong. Kami pun bisa duduk dengan tenang. Mobil kembali melaju. Kemudian si Resqioso bilang ke sopirnya,

"Pak nanti turun di Bank Indonesia ya?"

"Bank Indonesia? Oh iya iya" kata Pak Supir yang rambutnya sudah beruban itu.

Mobil melaju dengan santai sambil mencari penumpang. Di perjalanan saya melewati RS Immanuel dan teringat kepada Panji temannya Pak Wapres yang katanya kerja disitu. Katanya mesin absensi di rumah sakit itu canggih. Kalau karyawannya absen disitu si mesin bisa ngomong sendiri.

"Selamat datang Panji Nugraha. Kamu datang jam 6.45"

Kalau ulang tahun secara otomatis mesin absensi itu juga akan mengucapkan selamat,

"Selamat ulang tahun, Panji Nugraha"

Kalu sering telat,

"Selamat datang Panji Nugraha. Kamu kok datangnya telat terus sih?"

Begitulah yang dikisahkan oleh Pak Wapres. Saya mengingatnya sembari menikmati perjalanan.

Kemudian setelah belokan melewati Mesjid Raya Bandung tiba-tiba bus itu berhenti.

"Eh tadi ada yang mau turun di Bank Indonesia ya? Itu banknya" kata Pak Supir sambil menunjuk ke sebuah bangunan.

Saya dan Resqioso yang lagi santai-santainya pun bergegas turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.

"Makasih, Pak" kata kami berdua penuh senyuman.

Kami pun berjalan ke arah bangunan yang tadi ditunjukkan oleh Pak Supir. Jreeeng jreeeng jreeeeng, terus saya lihat nama bangunan itu yang tercetak besar, BANK RAKYAT INDONESIA.

"Anyiiiing itu mah Bank Rakyat Indonesia anyiiiing bukan Bank Indonesia anyiiing supir Damri anyiiiiing!!" kata saya kesal (dalam hati).

Dalam keadaan hampir putus asa kami pun bertanya kepada pak polisi yang kebetulan berjaga di pos di dekat situ. Setelah Pak Polisi menjelaskan panjang lebar kami memutuskan untuk berjalan kaki saja karena takut kembali nyasar. Dan anyiiiiing ternyata jauh juga anyiiiing dari situ sampe ke Gedung Indonesia Menggugat. Kami kelelahan dan lapar karena belum makan.

Setelah berjalan jauh (ditambah bertanya kepada 1 tukang parkir, 1 kasir Circle K yang ga tau apa-apa, sama 1 tukang siomay) akhirnya kami tiba di tempat tujuan! Yes !

Setelah disambut oleh entah-siapa-namanya-saya-lupa-lagi, kami pun segera diantar ke meja nomer 36, tempat dimana si Pemotolkontong sudah tiba duluan. Disana nampak sudah berjejer Papernoise Zine dan sosok Pemotolkontong dengan rambut-kelimis-gemesnya (untuk Bagongtempur dan Korongmentah, sepertinya kalian mempunyai 1 lagi sodara kembar).

Saya pipis dulu karena dari tadi kebelet. Dan beberapa kejadian di Bandung Zine Festnya saya skip. Pokoknya menyenangkan sekali. Saya beli funzine Muchos Libre dan menemukan pesan sayang saya dimuat disana. (Makasih Muchos Libre, barakallah). Juga bertemu zinemaker Cirebon, um Alam dengan rambut barunya. Ada juga Kak Manan, editor Primitif Zine yang sayangnya hari itu gak bawa Primitif Zine, juga bertemu dengan Fanny (konon dia ini gebetannya Pemotolkontong, tapi ssst kita diam-diam saja ya?) Juga temennya Fanny yaitu Darlin dan 1 lagi siapa-namanya-saya-gak-tau yg bawa-bawa papan skate aja (saya suka janggutnya, serius). Juga akhirnya Pak Pinred Papernoise datang beserta Bu Pinred. Juga a Idham. Sayangnya Pemotolwansky (temennya a Idham) gak datang. Tidak lupa saya lihat ada Kak Gembi. Dan seorang gadis berkerudung yang dengan sangat antusias bertanya,

"Waaaw ini zinenya Mas Dudu yaa?"

Saya dan Bu Pinred yg kebetulan saat itu lagi jaga stand terkesima seketika. Dudu semakin ngetop! Dudu yang dulu bukanlah Dudu yang sekarang! Dan masih banyak lagi dan pokoknya menyenangkan sekali dan saya bawa banyak zine (bisa lebih banyak lagi sih tapi ngantri motocopynya).

Sementara itu di sela waktu ketika saya dan si Musisi Resqioso sedang asik duduk, berkatalah ia kepada saya.

"Cruut, lu liat orang di depan kita itu"?

Saya melihat ke depan, ke meja tempatnya Paper Zine. Saya perhatikan orang yang ditunjuk Resqioso. Saya lihat dia pake kaos CRASS! Wah itu orang yang tadi pagi saya liat di bus MGI! Ternyata dia juga bertujuan ke Bandung Zine Fest!

"Bego lu Tot, klo tau dia kesini sih tadi kita bareng aja biar gak nyasar"

"Elu bego !"

***

Segera setelah diskusi yang diselenggarakan oleh panitia berakhir kami pun segera membereskan barang-barang. Sambil menunggu Bu Pinred yang akan menjemput, kami memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu. Akhirnya kami menemukan tukang nasi goreng di depan Bank BNI. Saya pesen 3 porsi, 1 gak pedes, 1 sedeng, 1 lagi pedes. Setelah nasgor tandas kami tidak langsung bayar, karena si tukang nasgornya terlihat sedang asyik-masyuk menelpon. Tiba-tiba ada tukang bakpao lewat dan si Pemotolkontong teriak.

"Mang, masih ada gak bakpaonya?"

"Masih"

Si Kontong segera menghampirinya. Rupanya dia masih lapar. Saya kemudian menyusul karena ternyata masih lapar juga.

"Berapaan Mang" kata si kontong

"6 rebu"

"10 rebu 2 ya?"

Si mamang diem aja. Diem berarti tandanya tidak setuju. Jadilah si kontong cuma beli 1, rasa sapi. Saya juga beli 1, rasa kacang. Kami balik lagi ke tempat semula.

Bu Pinred belum nyampe juga. Katanya jalanan macet. Maklum malam minggu.
Tiba-tiba Bagongtempur dan Korongmentah dkk datang menyambangi tukang nasgor. Tapi saat itu tukang nasgornya sedang tidak ada.

"Mamang nasgornya lagi nyuci piring dulu" kata saya ke si Bagongtempur. (Sebenarnya saya belum bisa membedakan mana Bagongtempur dan mana Korongmentah). Untunglah mereka bisa sabar menunggu. Setelah tukang nasgornya kembali mereka pun memesan nasi goreng dengan porsi ekstra. Tetapi kayaknya si tukang nasgor tidak mendengarnya jadi dikasih porsi biasa.

Sembari menunggu jemputan, saya dan Resqioso tiduran di trotoar. Mengingatkan saya pada lagu Morfem, Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun. Hari itu memang melelahkan sekali. Saya hampir tertidur ketika si Kontong ngasih tahu kalau jemputan sudah datang. Kami pun segera membayar nasgor yang tadi kami beli. Dan berpamitan kepada kawan-kawan dari Muchos Libre yang saat itu sedang menyantap nasi goreng.

***

Dalam perjalanan menuju kosan Kinung untuk numpang bobo kami mampir sebentar di pom bensin. Saya mau transfer ke si bundaaa. Lalu berhenti lagi di Indomart. Saya beli soda susu, rokok, sama Snifer yang kata si Resqioso kalo beli 2 gratis 1 dan ternyata dia benar! Dan beli teh botol kotak. Benar sekali, teh botol dalam kotak. Ajaib!

Lalu tibalah kami di kosan Kinung. Si Kinung tampak sedang bermain balap mobil F1 di depan komputernya. Saya segera berganti baju dan cuci kaki. Bersiap-siap untuk bobo. Kemudian kehebohan terjadi. Dompet si Resqioso hilaaaaaang!! Semua kaget. Kami segera mencari di sekitar kamar, nihil. Lalu kembali ke mobil Bu Pinred, cari disana masih nihil juga! Saya ingat-ingat lagi. Wah terakhir si Resqioso ngeluarin dompet itu waktu di tukang nasgor, jangan-jangan ketinggalan disana! Segera diputuskan Resqioso, Pemotolkontong, Bu Pinred beserta Pak Pinred kembali mengecek ke tempat kejadian perkara. Saya dan Kinung tidak ikut. Karena amat mengantuk saya sempat tertidur sebentar dan tanpa sadar ketika terbangun sudah ada Kimul dan Apoy disana. Juga Resqioso dan Pemotolkontong sudah kembali. Saya memutuskan untuk bobo kembali karena amat mengantuk. Lamat-lamat saya dengar kalau dompet itu ditemukan di depan gerbang kosan Kinung. Juga terdengar kata-kata Pemotolkontong, "eh gue keinget aja temen si Fanny tadi. Lucu ya? Gayanya lolita-lolita gitu". Lalu saya tidak ingat apa-apa lagi dan bobo dengan pulas. Sungguh hari yang menyenangkan.

Kampung Melayu, 1 September 2013

Rabu, 21 Agustus 2013

TERIMA KASIH, DENDI! DAN JANGAN TENGGELAM DALAM BIRAHI!


Hari itu adalah hari Kamis 22 September 2011, hari ketika saya wisuda. Tanpa terasa hari itu sudah berlalu hampir 2 tahun. Banyak hal yang sudah berubah. Terutama saya yang sudah menjadi seorang ayah. Wulan yang seminggu lagi mau nikah tapi bukan sama Iwang. Anita Cheerleader sudah jadi seorang ibu. Sama kayak Dessy. Sementara si Mbul belum kawin juga padahal pacarannya paling lama di angkatan kami. Ipoel sudah bertunangan dengan seorang gadis yang ternyata dulunya satu SMP sama saya (ah dunia memang sempit). Wastika sudah terbang ke Jepang dan Imam Taufik berhasil membuktikan kepada Agit bahwa dirinya juga bisa punya pacar dan bukan seorang bujang lapuk lagi. Dan jangan lupa Sumedi sudah berancang-ancang mau mencari pacar baru (hah!).
Praktis dalam kurun waktu tersebut saya sudah jarang bertemu lagi dengan teman-teman semasa kuliah. Hanya beberapa orang saja yang sering saya temui, itupun karena tempat  kerja kami yang sama. Selebihnya saya jarang sekali bertemu dengan mereka.
Diantara teman-teman yang jarang saya temui tersebut salah satunya adalah Dendi Nugraha. Ya, Dendi Nugraha si juara kelas yang pada waktu wisuda IPnya paling tinggi se-civitas akademi. Dendi yang rajin bertanya dan menjadi idola para dosen. Seingat saya bahkan saya belum pernah bertemu lagi dengan dia selepas perpisahan kelas. Dia seakan menghilang begitu saja dari radar kehidupan saya. Tanpa ada kabar berita sama sekali.
Tapi sekalinya ada kabar tentang Dendi selalu saja kabar jelek dan tidak enak untuk didengar. Kabarnya Dendi pernah menjadi buronan salah satu rumah sakit karena kabur begitu saja tanpa pamitan sama sekali. Terakhir saya malah mendengar kalau Dendi sedang kebelet kawin dan lagi getol-getolnya nelponin teman-teman cewek di kelas saya dahulu untuk diajak nikah. Salah satu korban yang berhasil saya ketahui adalah Ropikoh, si toge kelas. Beuuuh (oke Den, seleramu tidak terlalu buruk laah).
Meskipun begitu saya selalu ingat kalau saya pernah mempunyai hutang kepada Dendi. Hutang budi lebih tepatnya. Dan saya masih mengingatnya sampai sekarang. Karena itu, kepada Dendi saya persembahkan tulisan ini sebagai bentuk balas budi saya. Mungkin tulisan ini tidak akan pernah cukup membalas budi baikmu, tapi percayalah tulisan ini saya tulis dengan hati yang tulus, setulus ketika saya mengucapkan ijab qabul di depan penghulu , 1 tahun yang lalu.

***
Saat itu saya masih duduk di tingkat 2 akhir, menjelang naik ke tingkat 3. Tingkat 3 saat itu sebentar lagi lulus. Kebetulan untuk acara perpisahan tingkat 3 saat itu setiap kelas diwajibkan mengirimkan apresiasi seninya untuk acara perpisahan. Awalnya kelas kami sudah sepakat untuk menampilkan band The Awas Angkot untuk acara perpisahan tersebut. Tapi kemudian ada seseorang yang mengusulkan untuk menampilkan drama saja. Karena kadung sudah mengirim The Awas Angkot untuk tampil maka sesuai kesepakatan bersama kelas kami akan menampilkan sebuah drama musikal versi ecek-ecek nan kacrut.
Saya ingat malam harinya saya langsung menulis naskah drama tersebut di sebuah binder berwarna ungu yang sekarang entah dimana keberadaannya. Tapi sayang saya lupa lagi judul dari drama tersebut. Sialan. Besoknya saya dan teman-teman segera berembuk untuk mencari para aktor dan aktris untuk bermain didalamnya. Tokoh utama yang rencananya akan diperankan oleh Cadila terpaksa diganti karena Cadila menolak. Lalu Sumedi yang seharusnya berperan sebagai preman juga ikut-ikutan menolak. Saya sempat bingung karena kekurangan pemain. Disinilah kemudian saya berhutang budi yang pertama kapada Dendi.  Ketika Sumedi menolak ikut dalam drama maka peran itu saya tawarkan kepada Dendi . Dendi sangat antusias sekali dan langsung menyetujuinya.
Ada banyak orang yang terlibat dalam drama ini. Eko, Yossie, Ocha, Obet, Bayu, Cacing, Lilis, Bang Mamat, Agiet, Apip, Anita, Ipoel, Mbol dan hampir semua teman-teman di kelas ikut mengapresiasinya.
Drama itu sendiri sebenarnya hanya sebuah drama yang sederhana dan cenderung acak-adul. Tidak memerlukan banyak properti yang mahal maupun rumit, kecuali satu hal yaitu sepeda. Dan ini hal yang sangat krusial, tanpa sepeda drama itu tidak akan berjalan dengan sempurna. Karena itu dari jauh-jauh hari saya sudah mem-booking sepeda milik Nurlela yang sering dibawanya ke kampus. Sampai H-1 Nurlela masih setuju sepedanya dipinjam buat drama. Tapi semua berubah pas hari H. beberapa jam sebelum acara dimulai Nurlela masih belum kelihatan batang handphonenya (maklum Nurlela terlihat sering menelpon). Saya kemudian samperin ke kelasnya. Waktu itu sedang kuliahnya Pak Komar. Saya tanya mana sepedanya? Nurlela hanya menjawab kalau dia tidak membawa sepedanaya (padahal di hari biasa dia selalu membawa sepeda). Saya kemudian menyuruhnya untuk mengambil dahulu sepedanya di tempat dia kos yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kampus. Tapi dia tidak  mau. Saya kemudian menawarkan diri untuk mengambilnya sendiri ke tempat kosnya. Dia tetap tidak mau juga. Alasannya banyak, sepedanya mau dipinjam sama saudaranya lah, kunci kosannya dibawa bapak kos lah, ban sepedanya kempes lah, entut lah, tai ucing lah,  silit lah,  ngentot lah. Pokoknya semenjak saat itu saya memutuskan untuk mendendam kepada Nurlela. Go to hell with your fucking bike, Nurlela!!
Saya sempat kelabakan waktu itu. Campur aduk antara perasaan kesal kepada Nurlela dan bingung mencari sepeda. Sementara waktu pementasan drama semakin dekat. Akhirnya, berdua dengan Dendi saya putuskan untuk mencari langsung sepeda penggantinya di seputaran Karang Jalak.
Ternyata pencarian sepeda itu tidak mudah dan sangat pelik, sepelik ustadz pelik siauw. Model sepedanya memang harus seperti model sepeda Nurlela yang bisa distandar dua seperti motor sehingga bisa diduduki. Setelah berkeliling beberapa lama akhirnya sepeda model itu bisa ditemukan. Di sebuah rumah tukang jahit di dekat warung Mbak Nana.
Kebingungan kedua kemudian melanda saya. Saya adalah tipe orang yang sulit berdiplomasi dengan orang lain. Bagaimana saya harus menjelaskan ke pemilik sepeda itu bahwa sepedanya mau dipijam untuk pementasan drama? Apakah saya harus member imbalan untuk mereka? Syukur kalau tidak, tapi gak enak juga. Kalu pun iya ngasih, berapa yang harus saya kasih? Ketika kebingungan itulah kemudian Dendi tampil ke depan dan bilang kepada saya, “udah, Ky. Biar saya yang ngomong”. Dengan mantap dan penuh keyakinan Dendi kemudian berdiplomasi dengan pemilik sepeda tersebut. Dan berhasil! Kami diizinkan untuk meminjam sepeda itu. Syaratnya hanya satu, “jangan pulang lebih dari jam 2 ya? Sepedanya mau dipake jemput anak di sekolah”.  Saya merasa plong seketika. Dan itulah hutang budi kedua saya kepada Dendi.

***
                Saya tidak tahu bagaimana penilaian penonton terhadap drama yang kelas kami pentaskan. Tapi menurut saya drama itu keren sekali. Bukan karena saya menulis lakonnya sendiri, tapi karena semua yang terlibat dalam drama ini berperan dengan sempurna dan terlihat senang. Eko berperan sebagai dalang dengan konyol, Yossie dan Ocha men-dubbing suara dengan pas, Bayu dan Obet dan The Awas Angkot memainkan musiknya dengan serius, Lilis tampil manis sekali hari itu. Sementara Bang Mamat dan Agiet menari dengan imut dan sangat menggelikan. Oh iya, Dendi pun tampil gagah dengan jaket jins buluk yang dipinjam dari Obet. Dan jangan dilupakan peran Imam Taufik yang sangat brilian sebagai seorang kakek-kakek. Meskipun kita ketahui bersama ditengah adegan beliau kembali lupa skrip, seperti ketika latihan. Tapi justru hal itulah yang membuat drama ini menjadi lebih hidup. Puncaknya adalah ketika drama itu selesai dan The Awas Angkot memainkan lagu Arti Sahabat dari Nidji sebagai penutup semua teman-teman naik ke atas panggung dan menciptakan sebentuk chaos. Saya yakin saat itu sambil bernyanyi na. . na. . na. . na. . na. . na . . na. , saya merasa benar-benar bahagia. The best day ever lah kalau mengutip salah satu episode Spongebob mah.
Saya senyum-senyum sendiri seperti orang gila di sisa hari itu. Dan tentu saja senyuman itu tidak akan pernah menghiasi wajah saya tanpa bantuan dari teman-teman semua. Tanpa keikhlasan si pemilik sepeda yang meminjamkan sepedanya, dan tanpa Dendi Nugraha yang sudah berdiplomasi sehingga  sepeda itu bisa kami pinjam.
Pokoknya untuk Dendi dimana pun kamu berada saat ini. Saya tidak peduli kamu sekarang sudah punya mobil. Pun saya tidak peduli kalau kamu sudah punya rumah dan jadi PNS. Saya juga tidak peduli kalau kamu kebelet kawin dan nelponin setiap teman-teman cewek di kelas untuk diajak nikah. Saya makin tidak peduli kalau nanti kamu mau nikah sama siapa (asal jangan sama istri dan anak saya aja sih). Pokoknya terima kasih, Dendi! Saya pernah berhutang budi kepadamu. Sekali lagi, TERIMA KASIH, DENDI!!! DAN  JANGAN TENGGELAM DALAM BIRAHI!!!!


Kampung Melayu, 18 Agustus 2013

Senin, 05 Agustus 2013

The Good Old Days : Cacing Lovers dan Ode Untuk Seorang Kawan

Ini adalah sebuah tulisan lama saya. Entah kenapa saya tiba-tiba saja ingin mengunggahnya. Mungkin karena merasa bosan sehabis makan sahur sementara mata tidak mengantuk untuk ditidurkan. Atau mungkin saya sedang merindukan orang yang ditulis dalam tulisan ini? Entahlah, yang jelas sebelum mulai menulisnya saya mengambil gitar dan memainkan sepotong lagu. Lagu itu berjudul "Cacing Lovers".

"Kembali merokok lagi, hapuskan penat di hati. Berteman segelas kopi, aku menjadi pahlawan mimpi. ."

Itu adalah lirik awal lagu Cacing Lovers. Tentu saja kalian tidak akan mengetahui lagu tersebut, karena lagu itu tidak pernah direkam. Tapi saya selalu mengingat lagu itu. Lirik dan kord gitarnya pun masih saya ingat sampai sekarang.

Aslinya lagu itu dibuat oleh teman saya yang biasa saya panggil Cacing. Saya sendiri cuma memberi kord gitar saja di lagu itu karrna pada saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar. Meskipun saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar tapi uniknya si Cacing suka menyenandungkan nada-nada sendiri. Seperti lagu ini, saat itu si Cacing seringkali bersenandung Cacing Lovers aaaaa.. cacing lovers aaaa..

Karena enak didengar saya pun mencoba memasukkan kord gitar kedalamnya dan ternyata makin asik lagunya. Lalu terciptalah reffrain untuk lagu itu. Dari situlah kemudian saya dan Cacing ber-brainstorming mencari lirik lagu dan melidi awalnya. Setelah akhirnya selesai lagu itu pun kami sepakati diberi judul "Cacing Lovers".

Saya tidak ingat persis hari dan tanggal saat lagu itu dibuat. Saya hanya ingat waktunya adalah malam hari. Larut malam malah. Dan bagi Cacing dan anak kost seperti saya malam hari adalah waktu-waktu yang sangat membosankan. Rutinitas kami setiap malam hanya merokok, ngopi, maen gitar, kadang maen PS, dan sisanya ngobrol hal-hal yang tidak jelas. "Obrolane wong kempong" kalau istilah orang Cirebonnya sih. Mungkin malam-malam itu akan lebih berguna jika kami pakai untuk belajar, tapi sayang sekali pilihan untuk belajar rasanya kami singkirkan jauh-jauh.

Begitulah rutinitas kehidupan kuliah kami. Hingga terkadang saya sering bertanya sama Cacing, "Cing lu bosen gak hidup kayak gini terus?". Si Cacing kadang hanya tertawa kecil atau tersenyum menjawab pertanyaan itu, sesekali sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Wajahnya tampan.

Justru kebosanan itulah yang menjadi inti dari lagu Cacing Lovers. Dengan jenius si Cacing menangkap kebosanan itu dan menjadikannya sebuah lirik dalam lagu ini. Lirik lagu yang saya kutip diawal tulisan ini dengan gamblang menceritakan suasana kebosanan itu. Terpikir dengan segelas kopi dan rokok bahwa penat yang kami rasakan akan hilang, tapi nyatanya tidak.

"Kadang kumerasa jenuh menyiksa diri, otak penuh fantasi, ku jadi horny kembali ooooooooo" Cacing lanjut bernyanyi.

Sebenarnya kami juga bosan tiap hari seperti itu. Begadang, ngopi, ngerokok atau "menyiksa diri" dalam istilah Cacingnya. Tapi jika tidak seperti itu pikitan malah jadi tidak beres, bawaannya horny melulu. Apalagi koleksi bokep di komputer si Kempot (kawan kost lainnya) lumayan lengkap.

"Kepulan asap kian pekat. Udara semakin pengap. Waktuku semakin dekat. Melayang bersama asapnya"

Mungkin hal inilah yang kami harapkan dari setiap asap rokok yang kami hisap. Melayang bersama asapnya. Maksudnya, semua kebosanan ini akn lenyap bersama asap rokok yang hilang di udara.

Tapi Cacing sadar bukan itu jalan keluar dari semua kebosanan ini. Cacing berasumsi semua kebosanan dan semua hal yang terjadi ini adalah buah pikiran kita sendiri. Kita yang membuatnya, kita yang menciptakan kondisi tersebut. Dari situlah kemudian lagu ini ditutup dengan lirik yang paling keren dari seorang Cacing,

"Dan tersadar pikiranku ini yang mengundang cerita di hidupku"

Menjelmalah kemudian seluruh elemen itu kedalam lagu Cacing Lovers. Pada awalnya saya buat lagu ini dalm versi punk rock, karena saat itu saya sedang hobi-hobinya dengerin Sex Pistols. Tapi saat mencoba menyanyikannya secara akustik justru sensasinya lebih terasa. Begitu intim dan cenderung putus asa.

Dan begitulah akhirnya. Jadi terkadang kalau malam-malam saya merasa jenuh dan kesepian saya akan mengambil gitar, membakar rokok dan menyanyikan lagu ini. Tidak selalu sukses memang, tapi terkadang bisa membuat saya merada lebih baik.

"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"

Untuk sesaat saya merasa seperti Thom Yorke dan No Surprise-nya.


Kampung Melayu, 06 Agustus 2013

Senin, 08 Juli 2013

(cerpen) Kesialan Di Ruang Makan

Suasana di ruang makan siang itu terasa lebih ramai dari siang-siang sebelumnya. Selain karena jam segitu adalah waktu istirahat bagi beberapa karyawan juga karena hari itu adalah hari ulang tahun (entah siapa saya lupa lagi) sehingga ada jatah makan gratis untuk karyawan. Hal ini tentu tidak akan disia-siakan oleh semua karyawan, termasuk saya.

Saya mengambil jatah makan gratis saya lalu duduk di pojok meja makan. Didepan saya ada Pak Bambang (Jibeng), sedangkan beberapa kursi dari samping saya terlihat Pak Cecep juga sudah mengambil jatah makanannya dan bersiap-siap untuk makan.

Sambil makan saya perhatikan gerak-gerik Pak Cecep dari kursi tempat saya duduk. Wahhh, ternyata Pak Cecep adalah orang yang baik sekali, setiap orang yang lewat dan duduk disekitarnya ditawari makan semua.

"Makan, Dok" kata Pak Cecep kepada dokter yang lewat

"Makan, Mang" kata Pak Cecep kepada Mang Didin yang sedang membereskan meja makan.

"Makan, Bu" kata Pak Cecep kepada ibu-ibu yang ada di sekitar meja makannya.

"Makan, Wan" kata Pak Cecep kepada Bang Ikhwan, anak buahnya yang paling setia, yang hari itu duduk disampingnya.

Saya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Pak Cecep. Saya lihat Pak Bambang (Jibeng) juga ikut senyum-senyum. setelah puas menawari makan ke tiap orang Pak Cecep pun segera membuka kotak makanannya. Tapi sejurus kemudian saya melihat Pak Cecep tampak keheranan, kepalanya celingak-celinguk ke arah orang-orang yang ada di depan dan sampingnya. Sesekali dia melihat kotak makanannya dan membandingkannya dengan kotak makan orang di sekitarnya..

"Wan. ko makanan gue gak ada lauknya? cuma nasinya doang??" tanya Pak Cecep dengan penuh keheranan.

"Tau??" Bang Ikhwan yang ditanyanya hanya menjawab cuek seperti itu lalu melanjutkan menyantap dada ayam goreng berukuran 34 B.

Sementara di pojok meja makan, saya dan Pak Bambang (Jibeng) tidak bisa berhenti tertawa melihat kejadian itu.




(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor Bag. II

Sore itu, seperti biasa setelah selesai operasi saya langsung menuju ruang makan untuk beristirahat dan menyantap makanan. Kebetulan ketika saya tiba di ruang makan Pak Cecep terlihat sudah berada disana. tapi kali ini saya lihat Pak Cecep tidak sedang berbincang-bincang dengan Pak Bambang (Jibeng) melainkan dengan Bang Ikhwan.

Bang Ikhwan sendiri adalah anak buah Pak Cecep. Selain sebagai anak buah Pak Cecep jabatan lain Bang Ikhwan adalah sebagai penjual pulsa. Sebut saja usahanya ini dengan Ikhwan Cell. Untuk semua karyawan di kantor saya bisa saya pastikan pasokan pulsa mereka berasal dari Bang Ikhwan. Saya sendiri termasuk karyawan yang sering berhutang pulsa kepada Bang Ikhwan. Saya curiga bahwa penghasilan Bang Ikhwan dari berjualan pulsa malah lebih besar dari gaji yang didapat oleh Bang Ikhwan sendiri.

Sore itu, saya memesan teh botol dingin kepada Mang Didin karena kopi sudah habis jika sore hari. Sambil minum teh botol saya duduk di depan Bang Ikhwan dan Pak Cecep. Bang Ikhwan tampak sedang fokus menghitung pendapatan dari berjualan pulsanya hari ini, sementara disampingnya Pak Cecep terlihat fokus menghabiskan satu porsi nasi padang dengan rendang sebagai lauknya.

 "10 rebu..12 rebu.. 24 rebu..26 rebu.." saya dengarkan Bang Ikhwan mnghitung lembar demi lembar uang hasil penjualan pulsanya hari ini.

"50 rebuu..56 rebuu..72 rebu.." Bang Ikhwan masih terus berkonsentrasi menghitung dengan presisi yang sangat teliti. Tiba-tiba,

"Lu ngitungin duit mulu, Wan. Sekali-kali bagi-bagi sama gue dooong" Pak Cecep nyeletuk sembari monyong (karena ternyata nasi padangnya belum habis).

Sekali lagi, saya hampir tersedak teh botol karena tertawa mendengarnya

Jumat, 21 Juni 2013

(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor

Saya baru saja duduk di ruang makan ketika 2 orang lelaki yg sedang menghadapi krisis paruh baya terlihat berbincang dengan serius. Lelaki itu adalah Pak Haji Bambang (biasa dipanggil Jibeng) dan Pak Cecep (biasa dipanggil Cepot). Saya tidak tahu awal perbincangan mereka. Tapi saya menyimak beberapa bagian.

"Masih mending gak ada listrik daripada gak ada air sih, Cep" Pak Jibeng berbicara dengan penuh wibawa.

"Iya sih bener juga, Beng" Pak Cecep menjawab dengan serius juga sambil mulutnya monyong (karena saat itu sedang makan nasi uduk). Saya sedang minum kopi waktu itu. Kemudian Pak Cecep lanjut bicara,

"Tapi di rumah gue sih gak ada listrik gak ada air, Beng" kata Pak Cecep dengan mukanya yang masih serius, mulutnya masih monyong. Bedanya saya hampir tersedak minum kopi karena tertawa mendengarnya.

08 : 25 A.M
21 Juni 2013

Rabu, 01 Mei 2013

Tentang Album Rekaman Yang Pertama Kali Saya Beli (tadinya sih diniatkan untuk ditulis pada saat Record Store Day tapi baru sempat sekarang pas May Day. Sialun)


Awalnya gara-gara ikutan hype Record Store Day terus baca blognya Om Budi Warsito tentang album rekaman apa yang pertama kali dibeli, jadilah saya tertarik juga untuk ikut-ikutan menulis cerita dibalik album rekaman apa yang pertama kali saya beli.
Sebagai pembukaan harus saya akui dulu kalau saya tidak terlahir dari keluarga pemusik ataupun pecinta musik.  Ibu saya, meskipun senang bernyanyi bukanlah seorang biduan yang referensi musiknya paling mentok hanya mencapai lagu-lagu pop Sunda dan dangdut, terutama dangdutnya Bang Haji Rhoma Irama (Ibu pernah bercerita bahwa dulu beliau mempunyai koleksi kaset Soneta dari volume 1 sampai dengan 9 yang sayangnya koleksinya itu hilang entah kemana). Dan ayah saya, meskipun saya pernah melihat di raportnya tertera angka 10 untuk pelajaran Ilmu Bumi tetapi untuk pelajaran Seni nilainya hanya sanggup menyentuh 6,5. Itu artinya ayah saya tidak berbakat dalam bidang seni, apapun jenisnya termasuk musik. Jadi kesimpulannya, raison d’etre  saya kepada dunia musik hanya berasal dari faktor pergaulan dan hasil membaca majalah-majalah musik yang berisi kord-kord gitar  di tempat tongkrongan (untuk kasus yang terakhir rasanya saya memang pantas berterima kasih kepada majalah-majalah musik tersebut karena dari sanalah saya pertama kali mengetahui tentang  Nirvana, meskipun lagunya belum pernah saya dengar saat itu).
Sebenarnya momen-momen terbaik saya dengan musik hanya ada 2 . Pertama adalah ketika saya menemukan album American Idiot milik Green Day dan yang kedua adalah intro 10 detik pertama dari Smells Like Teen Spirit milik Nirvana yang saya dengar di sebuah pom bensin. Tapi justru album rekaman yang pertama kali saya beli (dalam bentuk kaset) bukan berasal dari kedua band yang saya sebutkan barusan, melainkan dari sebuah band yang berasal dari Yogyakarta yang statusnya kini menurut saya sudah sah jika dianggap sebagai legenda hidup. Betul sekali, band tersebut adalah Sheila On 7.
Jika mungkin kebanyakan orang sudah mengenal Sheila On 7 sejak debut album pertama mereka, maka saya adalah orang yang pertama kali mengenal Sheila On 7 lewat album keduanya yang fenomenal itu, Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Dan ya album itulah yang menjadi album rekaman pertama yang saya beli (lebih tepatnya lagi dibeliin si mama).
Ceritanya tidak bisa terlepas dari teman cewek saya sewaktu SD yang bernama Indri. Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD dan si Indri ini adalah teman sekelas saya. Jadi saya sering bermain dan mengerjakan PR bersama dengannya (tentu dengan teman-teman SD saya yang lain). Indri mungkin sudah mengenal Sheila On 7 sejak album debut mereka dan langsung menggemarinya, sehingga tidak heran jika di dalam buku dan kamarnya dipenuhi dengan poster-poster Sheila On 7 yang tampaknya dia gunting dari berbagai koran dan tabloid. Ditambah juga pada saat itu popularitas Sheila On 7 sudah mulai menanjak, karena seingat saya video klip Sephia sering sekali diputar di stasiun tv dan bahkan sampai ada sinetronnya segala. Saya ingat hal ini karena seringnya melihat video klip tersebut sesaat sebelum saya berangkat ngaji ke mesjid. Bermodal lagu Sephia yang saya hapal ditambah rasa penasaran saya karena Indri begitu menggilai mereka maka saya beranikan diri untuk meminta Ibu membelikan kaset Sheila On 7. Tidak dalam rangka apa-apa tapi pastinya disaat orang tua saya gajian. Karena kemungkinan keinginan saya dipenuhi lebih besar pada saat orang tua saya gajian.
Lucunya, album ini tidak saya beli di toko musik melainkan di sebuah toko elektronik. Toko musik memang sangat jarang di kota kecil tempat saya tinggal. Dan adalah hal yang lazim pada waktu itu jika sebuah toko elektronik juga menjual kaset dan CD musik meskipun tentu kaset dan CD yang ada hanyalah musik-musik popular yang sedang ngetop saat itu, selain rekaman dakwah Zaenudin MZ dan wayang golek.
Akhirnya dengan modal 18.000 rupiah, album bersampul merah-jingga itupun berpindah ke tangan seorang anak kelas 5 SD yang baru saja mengenal cinta monyet pertamanya. Dan begitu album itu selesai saya dengarkan, saya langsung jatuh cinta kepadanya. (ini adalah cinta pertama saya kepada sebuah band Indonesia sebelum Dewa 19 dan Peterpan). Semua lagu yang ada di album tersebut melekat dalam ingatan dan  membawa saya tenggelam didalamnya. Dari mulai lagu Sahabat Sejati yang penuh semangat, intro gitar Bila Kau Tak Disampingku yang sangat gurih dan renyah hingga Tunjuk Satu Bintang yang begitu syahdu. Entah sudah berapa kali kaset itu saya putar. Dan jika saat ini dengan secara tidak sengaja maupun sengaja saya mendengar salah satu lagu yang ada pada album tersebut, maka secara otomatis ingatan saya akan melemparkan saya kembali ke masa kelas 5 SD. Bahkan suara gemericik air hujan pada lagu Tunggu Aku Di Jakartamu selalu mengingatkan saya pada hujan di sore hari ketika saya bermain sepeda sambil hujan-hujanan, lengkap dengan aroma belimbing busuk yang jatuh di pekarangan sekolah saya dulu.
Saya lupa riwayat terakhir dari kaset Sheila On 7 tersebut, tapi dari beberapa fragmen ingatan yang berhasil saya susun terakhir kali kaset itu saya pinjamkan kepada seorang kawan yang bernama Zian. Dia adalah kawan baru saya ketika pertama kali masuk SMP.  Setelah itu saya tidak pernah ingat lagi riwayat kaset Sheila On 7 tersebut. Mungkin si Zian tidak pernah mengembalikannya lagi kepada saya. Entahlah, tapi saya yakin si Zian juga pasti jatuh cinta sama album tersebut. Dan akhirnya si Zian mengakhiri  kisah klasik saya tentang album rekaman yang pertama kali saya beli.

***

Record Store Day hanyalah sebuah perayaan, seperti halnya Lebaran. Membeli rilisan fisik toh bisa dilakukan setiap hari, sebagaimana bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan ketika hari Lebaran saja. Meskipun saya bukanlah penggila musik fanatik, apalagi menjadi seorang pemadat vinyl yang kini semakin hip (untuk seorang ayah by accident seperti saya, pilihan untuk menjadi seorang pemadat vinyl memang harus dipikir ulang ribuan kali) tapi saya pastikan saya adalah seorang yang entah kenapa selalu dan lebih tertarik untuk membeli rilisan fisik dari sebuah karya, baik itu dalam bentuk kaset ataupun CD. Dan saya percaya kalau orang-orang sejenis saya ini akan selalu ada dimana pun dan kapan pun. Jadi boleh saja dibilang kalau era digital ini semakin menggerus kejayaan rilisan dalam bentuk fisik (kaset/CD/vinyl) tapi saya selalu yakin rilisan dalam bentuk fisik ini tidak akan pernah menemukan hari kiamatnya. Selalu saja ada momen-momen yang membahagiakan ketika kita membuka segel plastik yang membungkusnya, memutar cakram CD atau menekan tombol play pada tape recorder, menikmati artwork pada sleeve album , membaca liner notes dan credit titlenya sambil menikmati musik yang ada didalamnya. Bagi saya momen-momen seperti ini tidak akan pernah bisa tergantikan. Sungguh mistis, bahkan bisa saya bilang sampai pada taraf relijius.

Happy Record Store Day. (iyee iyeee tau udah telaaat tapi ya gak apa-apa juga kaliii??)