Ini adalah sebuah tulisan lama saya. Entah kenapa saya tiba-tiba saja ingin mengunggahnya. Mungkin karena merasa bosan sehabis makan sahur sementara mata tidak mengantuk untuk ditidurkan. Atau mungkin saya sedang merindukan orang yang ditulis dalam tulisan ini? Entahlah, yang jelas sebelum mulai menulisnya saya mengambil gitar dan memainkan sepotong lagu. Lagu itu berjudul "Cacing Lovers".
"Kembali merokok lagi, hapuskan penat di hati. Berteman segelas kopi, aku menjadi pahlawan mimpi. ."
Itu adalah lirik awal lagu Cacing Lovers. Tentu saja kalian tidak akan mengetahui lagu tersebut, karena lagu itu tidak pernah direkam. Tapi saya selalu mengingat lagu itu. Lirik dan kord gitarnya pun masih saya ingat sampai sekarang.
Aslinya lagu itu dibuat oleh teman saya yang biasa saya panggil Cacing. Saya sendiri cuma memberi kord gitar saja di lagu itu karrna pada saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar. Meskipun saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar tapi uniknya si Cacing suka menyenandungkan nada-nada sendiri. Seperti lagu ini, saat itu si Cacing seringkali bersenandung Cacing Lovers aaaaa.. cacing lovers aaaa..
Karena enak didengar saya pun mencoba memasukkan kord gitar kedalamnya dan ternyata makin asik lagunya. Lalu terciptalah reffrain untuk lagu itu. Dari situlah kemudian saya dan Cacing ber-brainstorming mencari lirik lagu dan melidi awalnya. Setelah akhirnya selesai lagu itu pun kami sepakati diberi judul "Cacing Lovers".
Saya tidak ingat persis hari dan tanggal saat lagu itu dibuat. Saya hanya ingat waktunya adalah malam hari. Larut malam malah. Dan bagi Cacing dan anak kost seperti saya malam hari adalah waktu-waktu yang sangat membosankan. Rutinitas kami setiap malam hanya merokok, ngopi, maen gitar, kadang maen PS, dan sisanya ngobrol hal-hal yang tidak jelas. "Obrolane wong kempong" kalau istilah orang Cirebonnya sih. Mungkin malam-malam itu akan lebih berguna jika kami pakai untuk belajar, tapi sayang sekali pilihan untuk belajar rasanya kami singkirkan jauh-jauh.
Begitulah rutinitas kehidupan kuliah kami. Hingga terkadang saya sering bertanya sama Cacing, "Cing lu bosen gak hidup kayak gini terus?". Si Cacing kadang hanya tertawa kecil atau tersenyum menjawab pertanyaan itu, sesekali sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Wajahnya tampan.
Justru kebosanan itulah yang menjadi inti dari lagu Cacing Lovers. Dengan jenius si Cacing menangkap kebosanan itu dan menjadikannya sebuah lirik dalam lagu ini. Lirik lagu yang saya kutip diawal tulisan ini dengan gamblang menceritakan suasana kebosanan itu. Terpikir dengan segelas kopi dan rokok bahwa penat yang kami rasakan akan hilang, tapi nyatanya tidak.
"Kadang kumerasa jenuh menyiksa diri, otak penuh fantasi, ku jadi horny kembali ooooooooo" Cacing lanjut bernyanyi.
Sebenarnya kami juga bosan tiap hari seperti itu. Begadang, ngopi, ngerokok atau "menyiksa diri" dalam istilah Cacingnya. Tapi jika tidak seperti itu pikitan malah jadi tidak beres, bawaannya horny melulu. Apalagi koleksi bokep di komputer si Kempot (kawan kost lainnya) lumayan lengkap.
"Kepulan asap kian pekat. Udara semakin pengap. Waktuku semakin dekat. Melayang bersama asapnya"
Mungkin hal inilah yang kami harapkan dari setiap asap rokok yang kami hisap. Melayang bersama asapnya. Maksudnya, semua kebosanan ini akn lenyap bersama asap rokok yang hilang di udara.
Tapi Cacing sadar bukan itu jalan keluar dari semua kebosanan ini. Cacing berasumsi semua kebosanan dan semua hal yang terjadi ini adalah buah pikiran kita sendiri. Kita yang membuatnya, kita yang menciptakan kondisi tersebut. Dari situlah kemudian lagu ini ditutup dengan lirik yang paling keren dari seorang Cacing,
"Dan tersadar pikiranku ini yang mengundang cerita di hidupku"
Menjelmalah kemudian seluruh elemen itu kedalam lagu Cacing Lovers. Pada awalnya saya buat lagu ini dalm versi punk rock, karena saat itu saya sedang hobi-hobinya dengerin Sex Pistols. Tapi saat mencoba menyanyikannya secara akustik justru sensasinya lebih terasa. Begitu intim dan cenderung putus asa.
Dan begitulah akhirnya. Jadi terkadang kalau malam-malam saya merasa jenuh dan kesepian saya akan mengambil gitar, membakar rokok dan menyanyikan lagu ini. Tidak selalu sukses memang, tapi terkadang bisa membuat saya merada lebih baik.
"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"
Untuk sesaat saya merasa seperti Thom Yorke dan No Surprise-nya.
Kampung Melayu, 06 Agustus 2013
Senin, 05 Agustus 2013
Senin, 08 Juli 2013
(cerpen) Kesialan Di Ruang Makan
Suasana di ruang makan siang itu terasa lebih ramai dari siang-siang sebelumnya. Selain karena jam segitu adalah waktu istirahat bagi beberapa karyawan juga karena hari itu adalah hari ulang tahun (entah siapa saya lupa lagi) sehingga ada jatah makan gratis untuk karyawan. Hal ini tentu tidak akan disia-siakan oleh semua karyawan, termasuk saya.
Saya mengambil jatah makan gratis saya lalu duduk di pojok meja makan. Didepan saya ada Pak Bambang (Jibeng), sedangkan beberapa kursi dari samping saya terlihat Pak Cecep juga sudah mengambil jatah makanannya dan bersiap-siap untuk makan.
Sambil makan saya perhatikan gerak-gerik Pak Cecep dari kursi tempat saya duduk. Wahhh, ternyata Pak Cecep adalah orang yang baik sekali, setiap orang yang lewat dan duduk disekitarnya ditawari makan semua.
"Makan, Dok" kata Pak Cecep kepada dokter yang lewat
"Makan, Mang" kata Pak Cecep kepada Mang Didin yang sedang membereskan meja makan.
"Makan, Bu" kata Pak Cecep kepada ibu-ibu yang ada di sekitar meja makannya.
"Makan, Wan" kata Pak Cecep kepada Bang Ikhwan, anak buahnya yang paling setia, yang hari itu duduk disampingnya.
Saya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Pak Cecep. Saya lihat Pak Bambang (Jibeng) juga ikut senyum-senyum. setelah puas menawari makan ke tiap orang Pak Cecep pun segera membuka kotak makanannya. Tapi sejurus kemudian saya melihat Pak Cecep tampak keheranan, kepalanya celingak-celinguk ke arah orang-orang yang ada di depan dan sampingnya. Sesekali dia melihat kotak makanannya dan membandingkannya dengan kotak makan orang di sekitarnya..
"Wan. ko makanan gue gak ada lauknya? cuma nasinya doang??" tanya Pak Cecep dengan penuh keheranan.
"Tau??" Bang Ikhwan yang ditanyanya hanya menjawab cuek seperti itu lalu melanjutkan menyantap dada ayam goreng berukuran 34 B.
Sementara di pojok meja makan, saya dan Pak Bambang (Jibeng) tidak bisa berhenti tertawa melihat kejadian itu.
Saya mengambil jatah makan gratis saya lalu duduk di pojok meja makan. Didepan saya ada Pak Bambang (Jibeng), sedangkan beberapa kursi dari samping saya terlihat Pak Cecep juga sudah mengambil jatah makanannya dan bersiap-siap untuk makan.
Sambil makan saya perhatikan gerak-gerik Pak Cecep dari kursi tempat saya duduk. Wahhh, ternyata Pak Cecep adalah orang yang baik sekali, setiap orang yang lewat dan duduk disekitarnya ditawari makan semua.
"Makan, Dok" kata Pak Cecep kepada dokter yang lewat
"Makan, Mang" kata Pak Cecep kepada Mang Didin yang sedang membereskan meja makan.
"Makan, Bu" kata Pak Cecep kepada ibu-ibu yang ada di sekitar meja makannya.
"Makan, Wan" kata Pak Cecep kepada Bang Ikhwan, anak buahnya yang paling setia, yang hari itu duduk disampingnya.
Saya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Pak Cecep. Saya lihat Pak Bambang (Jibeng) juga ikut senyum-senyum. setelah puas menawari makan ke tiap orang Pak Cecep pun segera membuka kotak makanannya. Tapi sejurus kemudian saya melihat Pak Cecep tampak keheranan, kepalanya celingak-celinguk ke arah orang-orang yang ada di depan dan sampingnya. Sesekali dia melihat kotak makanannya dan membandingkannya dengan kotak makan orang di sekitarnya..
"Wan. ko makanan gue gak ada lauknya? cuma nasinya doang??" tanya Pak Cecep dengan penuh keheranan.
"Tau??" Bang Ikhwan yang ditanyanya hanya menjawab cuek seperti itu lalu melanjutkan menyantap dada ayam goreng berukuran 34 B.
Sementara di pojok meja makan, saya dan Pak Bambang (Jibeng) tidak bisa berhenti tertawa melihat kejadian itu.
(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor Bag. II
Sore itu, seperti biasa setelah selesai operasi saya langsung menuju ruang makan untuk beristirahat dan menyantap makanan. Kebetulan ketika saya tiba di ruang makan Pak Cecep terlihat sudah berada disana. tapi kali ini saya lihat Pak Cecep tidak sedang berbincang-bincang dengan Pak Bambang (Jibeng) melainkan dengan Bang Ikhwan.
Bang Ikhwan sendiri adalah anak buah Pak Cecep. Selain sebagai anak buah Pak Cecep jabatan lain Bang Ikhwan adalah sebagai penjual pulsa. Sebut saja usahanya ini dengan Ikhwan Cell. Untuk semua karyawan di kantor saya bisa saya pastikan pasokan pulsa mereka berasal dari Bang Ikhwan. Saya sendiri termasuk karyawan yang sering berhutang pulsa kepada Bang Ikhwan. Saya curiga bahwa penghasilan Bang Ikhwan dari berjualan pulsa malah lebih besar dari gaji yang didapat oleh Bang Ikhwan sendiri.
Sore itu, saya memesan teh botol dingin kepada Mang Didin karena kopi sudah habis jika sore hari. Sambil minum teh botol saya duduk di depan Bang Ikhwan dan Pak Cecep. Bang Ikhwan tampak sedang fokus menghitung pendapatan dari berjualan pulsanya hari ini, sementara disampingnya Pak Cecep terlihat fokus menghabiskan satu porsi nasi padang dengan rendang sebagai lauknya.
"10 rebu..12 rebu.. 24 rebu..26 rebu.." saya dengarkan Bang Ikhwan mnghitung lembar demi lembar uang hasil penjualan pulsanya hari ini.
"50 rebuu..56 rebuu..72 rebu.." Bang Ikhwan masih terus berkonsentrasi menghitung dengan presisi yang sangat teliti. Tiba-tiba,
"Lu ngitungin duit mulu, Wan. Sekali-kali bagi-bagi sama gue dooong" Pak Cecep nyeletuk sembari monyong (karena ternyata nasi padangnya belum habis).
Sekali lagi, saya hampir tersedak teh botol karena tertawa mendengarnya
Bang Ikhwan sendiri adalah anak buah Pak Cecep. Selain sebagai anak buah Pak Cecep jabatan lain Bang Ikhwan adalah sebagai penjual pulsa. Sebut saja usahanya ini dengan Ikhwan Cell. Untuk semua karyawan di kantor saya bisa saya pastikan pasokan pulsa mereka berasal dari Bang Ikhwan. Saya sendiri termasuk karyawan yang sering berhutang pulsa kepada Bang Ikhwan. Saya curiga bahwa penghasilan Bang Ikhwan dari berjualan pulsa malah lebih besar dari gaji yang didapat oleh Bang Ikhwan sendiri.
Sore itu, saya memesan teh botol dingin kepada Mang Didin karena kopi sudah habis jika sore hari. Sambil minum teh botol saya duduk di depan Bang Ikhwan dan Pak Cecep. Bang Ikhwan tampak sedang fokus menghitung pendapatan dari berjualan pulsanya hari ini, sementara disampingnya Pak Cecep terlihat fokus menghabiskan satu porsi nasi padang dengan rendang sebagai lauknya.
"10 rebu..12 rebu.. 24 rebu..26 rebu.." saya dengarkan Bang Ikhwan mnghitung lembar demi lembar uang hasil penjualan pulsanya hari ini.
"50 rebuu..56 rebuu..72 rebu.." Bang Ikhwan masih terus berkonsentrasi menghitung dengan presisi yang sangat teliti. Tiba-tiba,
"Lu ngitungin duit mulu, Wan. Sekali-kali bagi-bagi sama gue dooong" Pak Cecep nyeletuk sembari monyong (karena ternyata nasi padangnya belum habis).
Sekali lagi, saya hampir tersedak teh botol karena tertawa mendengarnya
Jumat, 21 Juni 2013
(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor
Saya baru saja duduk di ruang makan ketika 2 orang lelaki yg sedang
menghadapi krisis paruh baya terlihat berbincang dengan serius. Lelaki
itu adalah Pak Haji Bambang (biasa dipanggil Jibeng) dan Pak Cecep
(biasa dipanggil Cepot). Saya tidak tahu awal perbincangan mereka. Tapi
saya menyimak beberapa bagian.
"Masih mending gak ada listrik daripada gak ada air sih, Cep" Pak Jibeng berbicara dengan penuh wibawa.
"Iya sih bener juga, Beng" Pak Cecep menjawab dengan serius juga sambil mulutnya monyong (karena saat itu sedang makan nasi uduk). Saya sedang minum kopi waktu itu. Kemudian Pak Cecep lanjut bicara,
"Tapi di rumah gue sih gak ada listrik gak ada air, Beng" kata Pak Cecep dengan mukanya yang masih serius, mulutnya masih monyong. Bedanya saya hampir tersedak minum kopi karena tertawa mendengarnya.
08 : 25 A.M
21 Juni 2013
"Masih mending gak ada listrik daripada gak ada air sih, Cep" Pak Jibeng berbicara dengan penuh wibawa.
"Iya sih bener juga, Beng" Pak Cecep menjawab dengan serius juga sambil mulutnya monyong (karena saat itu sedang makan nasi uduk). Saya sedang minum kopi waktu itu. Kemudian Pak Cecep lanjut bicara,
"Tapi di rumah gue sih gak ada listrik gak ada air, Beng" kata Pak Cecep dengan mukanya yang masih serius, mulutnya masih monyong. Bedanya saya hampir tersedak minum kopi karena tertawa mendengarnya.
08 : 25 A.M
21 Juni 2013
Rabu, 01 Mei 2013
Tentang Album Rekaman Yang Pertama Kali Saya Beli (tadinya sih diniatkan untuk ditulis pada saat Record Store Day tapi baru sempat sekarang pas May Day. Sialun)
Awalnya gara-gara ikutan hype
Record Store Day terus baca blognya Om Budi Warsito tentang album rekaman apa
yang pertama kali dibeli, jadilah saya tertarik juga untuk ikut-ikutan menulis
cerita dibalik album rekaman apa yang pertama kali saya beli.
Sebagai pembukaan harus saya akui dulu kalau saya tidak
terlahir dari keluarga pemusik ataupun pecinta musik. Ibu saya, meskipun senang bernyanyi bukanlah
seorang biduan yang referensi musiknya paling mentok hanya mencapai lagu-lagu
pop Sunda dan dangdut, terutama dangdutnya Bang Haji Rhoma Irama (Ibu pernah
bercerita bahwa dulu beliau mempunyai koleksi kaset Soneta dari volume 1 sampai
dengan 9 yang sayangnya koleksinya itu hilang entah kemana). Dan ayah saya, meskipun
saya pernah melihat di raportnya tertera angka 10 untuk pelajaran Ilmu Bumi
tetapi untuk pelajaran Seni nilainya hanya sanggup menyentuh 6,5. Itu artinya
ayah saya tidak berbakat dalam bidang seni, apapun jenisnya termasuk musik.
Jadi kesimpulannya, raison d’etre saya kepada dunia musik hanya berasal dari faktor
pergaulan dan hasil membaca majalah-majalah musik yang berisi kord-kord
gitar di tempat tongkrongan (untuk kasus
yang terakhir rasanya saya memang pantas berterima kasih kepada majalah-majalah
musik tersebut karena dari sanalah saya pertama kali mengetahui tentang Nirvana, meskipun lagunya belum pernah saya
dengar saat itu).
Sebenarnya momen-momen terbaik saya dengan musik hanya ada 2
. Pertama adalah ketika saya menemukan album American Idiot milik Green Day dan yang kedua adalah intro 10 detik
pertama dari Smells Like Teen Spirit milik
Nirvana yang saya dengar di sebuah pom bensin. Tapi justru album rekaman yang
pertama kali saya beli (dalam bentuk kaset) bukan berasal dari kedua band yang
saya sebutkan barusan, melainkan dari sebuah band yang berasal dari Yogyakarta
yang statusnya kini menurut saya sudah sah jika dianggap sebagai legenda hidup.
Betul sekali, band tersebut adalah Sheila On 7.
Jika mungkin kebanyakan orang sudah mengenal Sheila On 7
sejak debut album pertama mereka, maka saya adalah orang yang pertama kali
mengenal Sheila On 7 lewat album keduanya yang fenomenal itu, Kisah Klasik
Untuk Masa Depan. Dan ya album itulah yang menjadi album rekaman pertama yang
saya beli (lebih tepatnya lagi dibeliin si mama).
Ceritanya tidak bisa terlepas dari teman cewek saya sewaktu
SD yang bernama Indri. Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD dan si Indri
ini adalah teman sekelas saya. Jadi saya sering bermain dan mengerjakan PR
bersama dengannya (tentu dengan teman-teman SD saya yang lain). Indri mungkin
sudah mengenal Sheila On 7 sejak album debut mereka dan langsung menggemarinya,
sehingga tidak heran jika di dalam buku dan kamarnya dipenuhi dengan
poster-poster Sheila On 7 yang tampaknya dia gunting dari berbagai koran dan
tabloid. Ditambah juga pada saat itu popularitas Sheila On 7 sudah mulai
menanjak, karena seingat saya video klip Sephia sering sekali diputar di
stasiun tv dan bahkan sampai ada sinetronnya segala. Saya ingat hal ini karena
seringnya melihat video klip tersebut sesaat sebelum saya berangkat ngaji ke
mesjid. Bermodal lagu Sephia yang saya hapal ditambah rasa penasaran saya karena
Indri begitu menggilai mereka maka saya beranikan diri untuk meminta Ibu
membelikan kaset Sheila On 7. Tidak dalam rangka apa-apa tapi pastinya disaat
orang tua saya gajian. Karena kemungkinan keinginan saya dipenuhi lebih besar
pada saat orang tua saya gajian.
Lucunya, album ini tidak saya beli di toko musik melainkan
di sebuah toko elektronik. Toko musik memang sangat jarang di kota kecil tempat
saya tinggal. Dan adalah hal yang lazim pada waktu itu jika sebuah toko elektronik
juga menjual kaset dan CD musik meskipun tentu kaset dan CD yang ada hanyalah musik-musik
popular yang sedang ngetop saat itu, selain rekaman dakwah Zaenudin MZ dan wayang
golek.
Akhirnya dengan modal 18.000 rupiah, album bersampul
merah-jingga itupun berpindah ke tangan seorang anak kelas 5 SD yang baru saja
mengenal cinta monyet pertamanya. Dan begitu album itu selesai saya dengarkan,
saya langsung jatuh cinta kepadanya. (ini adalah cinta pertama saya kepada
sebuah band Indonesia sebelum Dewa 19 dan Peterpan). Semua lagu yang ada di
album tersebut melekat dalam ingatan dan membawa saya tenggelam didalamnya. Dari mulai
lagu Sahabat Sejati yang penuh
semangat, intro gitar Bila Kau Tak
Disampingku yang sangat gurih dan renyah hingga Tunjuk Satu Bintang yang begitu syahdu. Entah sudah berapa kali
kaset itu saya putar. Dan jika saat ini dengan secara tidak sengaja maupun
sengaja saya mendengar salah satu lagu yang ada pada album tersebut, maka secara
otomatis ingatan saya akan melemparkan saya kembali ke masa kelas 5 SD. Bahkan suara
gemericik air hujan pada lagu Tunggu Aku
Di Jakartamu selalu mengingatkan saya pada hujan di sore hari ketika saya
bermain sepeda sambil hujan-hujanan, lengkap dengan aroma belimbing busuk yang
jatuh di pekarangan sekolah saya dulu.
Saya lupa riwayat terakhir dari kaset Sheila On 7 tersebut,
tapi dari beberapa fragmen ingatan yang berhasil saya susun terakhir kali kaset
itu saya pinjamkan kepada seorang kawan yang bernama Zian. Dia adalah kawan
baru saya ketika pertama kali masuk SMP. Setelah itu saya tidak pernah ingat lagi
riwayat kaset Sheila On 7 tersebut. Mungkin si Zian tidak pernah
mengembalikannya lagi kepada saya. Entahlah, tapi saya yakin si Zian juga pasti
jatuh cinta sama album tersebut. Dan akhirnya si Zian mengakhiri kisah klasik saya tentang album rekaman yang
pertama kali saya beli.
***
Record Store Day hanyalah sebuah perayaan, seperti halnya
Lebaran. Membeli rilisan fisik toh bisa dilakukan setiap hari, sebagaimana
bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan ketika hari Lebaran saja. Meskipun saya
bukanlah penggila musik fanatik, apalagi menjadi seorang pemadat vinyl yang
kini semakin hip (untuk seorang ayah by
accident seperti saya, pilihan untuk menjadi seorang pemadat vinyl memang
harus dipikir ulang ribuan kali) tapi saya pastikan saya adalah seorang yang
entah kenapa selalu dan lebih tertarik untuk membeli rilisan fisik dari sebuah
karya, baik itu dalam bentuk kaset ataupun CD. Dan saya percaya kalau orang-orang
sejenis saya ini akan selalu ada dimana pun dan kapan pun. Jadi boleh saja
dibilang kalau era digital ini semakin menggerus kejayaan rilisan dalam bentuk
fisik (kaset/CD/vinyl) tapi saya selalu yakin rilisan dalam bentuk fisik ini
tidak akan pernah menemukan hari kiamatnya. Selalu saja ada momen-momen yang
membahagiakan ketika kita membuka segel plastik yang membungkusnya, memutar
cakram CD atau menekan tombol play pada tape recorder, menikmati artwork pada sleeve album , membaca liner notes dan
credit titlenya sambil menikmati musik yang ada didalamnya. Bagi saya
momen-momen seperti ini tidak akan pernah bisa tergantikan. Sungguh mistis,
bahkan bisa saya bilang sampai pada taraf relijius.
Happy Record Store Day. (iyee iyeee tau udah telaaat tapi ya gak apa-apa juga kaliii??)
Jumat, 05 April 2013
Green Day Dalam Uno, Dos dan Tre
Kata Bob Dylan –yang saya kutip dari salah satu essai Taufiq
Rahman- sebelum menyanyikan Blowin’ In The Wind untuk pertama kalinya, “this here ain’t a protest song”. Mungkin
memang benar apa yang dikatakan Dylan, sebenarmya tidak ada lagu protes sosial
atau yang kita sebut juga dengan protest
song. Mungkin lebih tepat untuk menyebut protest song seperti pernyataan Barry McGuire (yang masih saya kutip dari essainya Taufiq
Rahman*)
sebagai berikut, “it’s not exatcly a
protest song. It’s merely song about current event”. Green Day adalah salah
satu contoh yang paling tepat dari pernyataan tersebut.
Kesuksesan American Idiot memang tidak hanya terletak dari
musiknya yang terdengar lebih ambisius dan megah untuk band seukuran Greeen Day
(jika dibandingkan dengan album-album Green Day sebelumnya), tetapi lebih
karena American Idiot berhsil menangkap moment yang tepat kondisi politik
Amerika saat itu. Terutama setelah Bush memutuskan untuk menginvasi Afganishtan
dan Irak sebagai dalih untuk menegakkan keamanan dunia dari teroris pasca
peristiwa 11 September. Dengan lirik yang lebih politis, American Idiot seakan
menjadi corong bagi suara rakyat Amerika yang tersisihkan, yang begitu
suksesnya sehingga American Idiot pun diangkat ke panggung Broadway.
5 tahun berlalu setelah kesuksesan American Idiot, era
pemerintahan Bush digantikan dengan pemerintahan Obama yang katanya memberikan
harapan yang lebih baik. Tapi Green Day masih gusar, moment transisi itu kemudian mereka abadikan lewat
album 21st Century Breakdown, sebuah album yang lebih terkonsep
dibandingkan dengan American Idiot, menceritakan sepasang kekasih dalam sosok
Christian dan Gloria dalam menghadapi abad yang sedang menuju kehancuran.
Selain berisi balada-balada megah penuh keputus asaan (21 Guns, Heart Restless Syndrome) album ini juga masih menyimpan
daya ledak kritikannya buat pemerintahan Obama lewat lagu-lagu seperti 21st Century Breakdown, Before
The Lobotomy maupun Horseshoes And
Handgrenades. Juga kritikan untuk para kaum religius konservatif melalui East Jesus Nowhere dan Christian’s Inferno.
Kini kita sudah sampai di penghujung tahun 2012 dan memasuki
tahun 2013. Obama kembali terpilih sebagai presiden Amerika untuk kedua
kalinya. Tapi apakah Green Day masih gusar terhadap pemerintahan kedua dibawah
Barrack Obama? Sayang sekali, jawabannya adalah tidak. Mereka hanya ingin
bersenang-senang. Merilis 38 lagu yang terbagi menjadi 3 album dan dirilis
dalam waktu kurang dari 6 bulan , inilah Green Day dalam Uno, Dos dan Tre. Dan
bagi mereka yang kagum pada pencapaian Green Day di album American Idiot
bersiap-siaplah untuk kecewa.
Uno, Dos dan Tre adalah proyek hura-hura Billie Joe
Armstrong dkk. Mereka hanya ingin bersenang-senang, entah karena pemerintahan kedua Obama ini
sudah tidak perlu diprotes lagi atau karena issue-issue semacam Occupy Wall
Street dan perdagangan senjata api bukanlah issue yang menarik disajikan lewat
lagu, yang jelas kita tidak akan lagi disuguhi nyanyian ketus Billi Joe
semisal, I’m not a part of the redneck
agenda. Mereka lebih memilih untuk berhura-hura sambl sesekali bernostalgia
ke masa ketika mereka berumur 22.
Trilogi pertama, Uno, secara musikal memang memakai
pendekatan sound di era Dookie hingga Warning, dengan suara gitar yang riang
dan dentuman bass yang khas dari Mike Dirnt. Seperti pada lagu pembuka, Nuclear Family. Nada-nada riang juga
bisa didengar pada lagu semisal Carpe
Diem atau Let Yourself Go dengan
sedikit lebih ngebut. Singel pertama Oh
Love juga terdengar manis dengan suara gitar patah-patahnya, tetapi sayang
liriknya (dan di kebanyakan lagu) terasa sangat cheesy untuk band sekelas Green Day.
Memasuki trilogi kedua, Dos, kali ini tensi sedikit
meningkat. Dos adalah garage rock versi Green Day. Secara eksplisit juga Dos
mengesankan kesan nakal yang ingin Green Day tunjukkan lewat trilogi ini. Hal
itu bisa didengar lewat lagu Fuck Time,
Make Out Party dan Lady Cobra. Jika pada album Uno lagu
tentang pesta diwakili oleh Kill The DJ,
maka pada Dos lagu itu ada pada Nighlife,
pendekatannya sama, beat disco ecek-ecek versi Green Day.
Jika dibandingkan dengan 2 album sebelumnya, trilogi ketiga,
Tre, saya anggap masih lebih baik. Tre mewarisi balada-balada megah warisan
dari album 21st Century Breakdown, lewat lagu pembuka Brutal Love. Hobi Gren Day yang suka
menggabung-gabungkan lagu ala Jesus Of
Suburbia juga bisa didengar dalam Tre. Contohnya pada Dirty Rotten Bastard yang riang. Sisa lagu lainnya sama saja.
Lagu-lagu cinta dan nostalgia yang bertebaran dari Uno hingga Tre.
Secara keseluruhan sebenarnya trilogi ini tidak berisi lagu-lagu yang
buruk, apalagi jika anda memang penggemar Green Day pra-American Idiot. Saya
pastikan anda akan menyukai Stray Heart
dari album Dos, atau Amy (masih dari
album Dos) lagu penghormatan untuk almarhum Amy Winehouse yang memakai
pendekataan seperti lagu Good Riddance
(Time Of Your Life). Tapi selebihnya, bagi telinga saya pribadi tidak
berkesan istimewa. Bukan hanya karena saya merasa kehilangan lirik-lirik
politis dari Billie Joe Armstrong, tapi karena mendengar dia bernyanyi seperti
pada Fell For You maupun membayangkan
ketiga pria yang sudah masuk kepala 4 seolah-olah masih remaja berumur 22
adalah hal yang sangat menggelikan. Memang ada juga momen-momen menghanyutkan
saat Billie Joe bernyanyi pada lagu The
Forgotten, lagu penutup trilogi ini, sebuah himne untuk orang-orang yang
terlupakan dimana Billie Joe bernyanyi “sometimes
you’re better lost than to be seen” dengan diiringi dengan dentingan piano.
Sesaat momen itu memang terdengar sangat mengaharukan (terutama bagi anda yang
merasa sebagai orang-orang yang “terlupakan”) sebelum kemudian momen penuh haru
itu berganti dengan kecewa, karena saya tahu lagu itu pula yang menjadi salah
satu soundtrack film vampir-Tje-Fuk-sejuta-umat-paling-overrated-sepanjang-tahun-2012.
Ya, Breaking Dawn.
Ahhhh ternyata memang benar apa yang dibilang Bob Dylan.
*essai Taufiq Rahman yang berjudul Protest Song bisa dibaca
di buku kumpulan essai milik Taufiq Rahman yang berjudul Lokasi Tidak Ditemukan
Jumat, 22 Maret 2013
Jilbab : Antara Kewajiban, Tren Atau Sebuah Topeng Belaka
Maraknya fenomena remaja perempuan yang memutuskan untuk
berjilbab dalam beberapa tahun belakangan ini menarik perhatian saya terhadap
persoalan jilbab. Terutama karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas
penduduk yang beragama Islam tetapi bukan negara yang memberlakukan hukum Islam
di dalamnya, sehingga negara tidak berhak mengatur warganya untuk berjilbab.
Meskipun ternyata dalam Islam sendiri kewajiban berjilbab ini masih menjadi
pertentangan diantara para ulama dan cendikiawan muslim didalamnya (untuk lebih
jelasnya bisa baca buku karya M. Quraish Shihab yang berjudul Jilbab : Pakaian Wanita Muslimah. Pandangan
Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontemporer).
Saya kemudian melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa
teman perempuan saya tentang alasan mereka tidak berjilbab meskipun mereka
seorang muslim. Beberapa diantaranya menyatakan bahwa dirinya belum siap untuk
berjilbab (karena baginya persoalan jilbab bukan hanya persoalan pakaian
semata), ada juga yang menyatakan keputusannya tidak berjilbab karena
menurutnya jilbab itu terkesan kaku, “kuno”, dan tidak sesuai mode, atau bahkan
pernyataan bombastis nan narsistis dari temannya teman saya seperti berikut, “saya merasa lebih cantik nggak pake kerudung
karena kata orang rambut saya bagus, apalagikalau kena angin berasa mirip artis
Luna Maya”.
Oke, apapun alasan mereka survei tadi hanyalah sebuah survei
kecil-kecilan yang tentunya memerlukan penelitian lebih lanjut untuk bisa
menganalisis faktor-faktor penyebab perempuan Muslim tidak berjilbab. Tapi saya
kira pernyataan yang menyatakan kalau berjilbab itu terkesan kuno dan tidak
sesuai mode sudah kurang relevan lagi sekarang. Apalagi jika mencermati
perkembangannya beberapa tahun belakangan ini. Indikasinya bisa terlihat dari
banyaknya buku/majalah yang berisi panduan-panduan dan model-model jilbab yang
mudah kita temui di toko buku. Video tutorial berjilbab pun bisa dengan mudah
kita cari di Youtube. Bahkan kini komunitas perempuan berjilbab (hijabers)
sudah mulai ramai terbentuk, seperti saat ramainya komunitas Stand Up Comedy yang terbentuk di beberapa kota saat Stand Up Comedy mulai booming di Indonesia. Hal ini
mengindikasikan jilbab sebagai sebuah pakaian sudah mengalami modifikasi
sedemikian rupa sehingga kini bisa dikatakan berjilbab menjadi sebuah tren
tersendiri, tidak lagi kuno dan ketinggalan mode.
Selain beberapa gambaran tadi, ada juga fenomena lain yang
menarik mengenai jilbab ini. Munawar Azis dalam tulisannya di harian Tempo
tanggal 3 Februari 2013 menyebutnya dengan fenomena “mendadak saleh”. Fenomena
mendadak saleh ini terkait dengan fenomena dimana seseorang (entah itu pejabat
publik atau warga sipil) yang tersandung kasus hukum lalu tiba-tiba saja
berjilbab, padahal dalam kesehariannya individu tersebut bukanlah seseorang
yang biasa berjilbab. Munawar Azis memberikan 3 contoh kasus yang lekat dengan
ingatan publik mengenai fenomena mendadak saleh ini. Neneng Sri Wahyuni (kasus
korupsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya), Nunun Nurbaeti (kasus cek pelawat
Gubernur Bank Indonesia) dan Afriyani Susanti (pelaku tabrakan maut di Tugu
Tani). Ketiganya mendadak memakai jilbab saat tampil di gelanggang pengadilan
(Neneng bahkan sampai menggunakan cadar), padahal dalam dokumentasi
kesehariannya, ketiga orang tersebut tidak pernah terlihat berjilbab. Fenomena
mendadak saleh inilah, lanjut Munawar Azis, yang dalam diskursus identitas
sosial disebut sebagai politic of piety (politik
kesalehan). Dimana politik kesalehan ini menjadi suatu strategi untuk
mengkonstruksi citra yang baru dengan merobohknan citra lama yang kejam dan
jahat. Citra lama yang coba mereka robohkan sebagai seorang pesakitan hukum
yang kemudian direkonstruksikan lewat
jilbab atau kerudung sebagai bagian dari penanda kesalehan. Dalam
khasanah sosial Indonesia, jilbab memang sudah kadung identik dengan kesan
saleh dan agamis.
Sebenarnya tanpa harus memahami makna politic of piety dan segala tetek bengeknya pun kita sudah maklum
dengan negara ini yang gemar dan mudah memberi stigma seenaknya terhadap
sesuatu. Seperti terhadap seseorang bertatto yang lekat dengan stigma negatif.
Atau betapa menakutkannya stigma yang melekat pada kata Komunis, yang
seolah-olah tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat kita. Hal demikian juga
berlaku untuk jilbab. Para perempuan berjilbab akan terkesan sebagai individu
yang saleh, agamis dan religius. Meskipun sikap mengeneralisasi seperti ini
adalah sebuah tindakan yang sembarangan dan terkesan bodoh. Karena kita tidak
pernah tahu individu seperti apa yang bersembunyi dibalik tatto maupun
jilbabnya?
Jadi pada akhirnya akumulasi dari berbagai fenomena dan gambaran tentang jilbab tadi membawa saya (dan seharusnya juga
mereka) kepada sebuah pertanyaan, apakah keputusan mereka berjilbab itu murni
karena panggilan agama, mengikuti arus tren semata atau mungkin hanya sebagai
topeng dan sarana pencitraan belaka?
Langganan:
Postingan (Atom)


