Senin, 05 Agustus 2013

The Good Old Days : Cacing Lovers dan Ode Untuk Seorang Kawan

Ini adalah sebuah tulisan lama saya. Entah kenapa saya tiba-tiba saja ingin mengunggahnya. Mungkin karena merasa bosan sehabis makan sahur sementara mata tidak mengantuk untuk ditidurkan. Atau mungkin saya sedang merindukan orang yang ditulis dalam tulisan ini? Entahlah, yang jelas sebelum mulai menulisnya saya mengambil gitar dan memainkan sepotong lagu. Lagu itu berjudul "Cacing Lovers".

"Kembali merokok lagi, hapuskan penat di hati. Berteman segelas kopi, aku menjadi pahlawan mimpi. ."

Itu adalah lirik awal lagu Cacing Lovers. Tentu saja kalian tidak akan mengetahui lagu tersebut, karena lagu itu tidak pernah direkam. Tapi saya selalu mengingat lagu itu. Lirik dan kord gitarnya pun masih saya ingat sampai sekarang.

Aslinya lagu itu dibuat oleh teman saya yang biasa saya panggil Cacing. Saya sendiri cuma memberi kord gitar saja di lagu itu karrna pada saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar. Meskipun saat itu si Cacing belum bisa bermain gitar tapi uniknya si Cacing suka menyenandungkan nada-nada sendiri. Seperti lagu ini, saat itu si Cacing seringkali bersenandung Cacing Lovers aaaaa.. cacing lovers aaaa..

Karena enak didengar saya pun mencoba memasukkan kord gitar kedalamnya dan ternyata makin asik lagunya. Lalu terciptalah reffrain untuk lagu itu. Dari situlah kemudian saya dan Cacing ber-brainstorming mencari lirik lagu dan melidi awalnya. Setelah akhirnya selesai lagu itu pun kami sepakati diberi judul "Cacing Lovers".

Saya tidak ingat persis hari dan tanggal saat lagu itu dibuat. Saya hanya ingat waktunya adalah malam hari. Larut malam malah. Dan bagi Cacing dan anak kost seperti saya malam hari adalah waktu-waktu yang sangat membosankan. Rutinitas kami setiap malam hanya merokok, ngopi, maen gitar, kadang maen PS, dan sisanya ngobrol hal-hal yang tidak jelas. "Obrolane wong kempong" kalau istilah orang Cirebonnya sih. Mungkin malam-malam itu akan lebih berguna jika kami pakai untuk belajar, tapi sayang sekali pilihan untuk belajar rasanya kami singkirkan jauh-jauh.

Begitulah rutinitas kehidupan kuliah kami. Hingga terkadang saya sering bertanya sama Cacing, "Cing lu bosen gak hidup kayak gini terus?". Si Cacing kadang hanya tertawa kecil atau tersenyum menjawab pertanyaan itu, sesekali sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Wajahnya tampan.

Justru kebosanan itulah yang menjadi inti dari lagu Cacing Lovers. Dengan jenius si Cacing menangkap kebosanan itu dan menjadikannya sebuah lirik dalam lagu ini. Lirik lagu yang saya kutip diawal tulisan ini dengan gamblang menceritakan suasana kebosanan itu. Terpikir dengan segelas kopi dan rokok bahwa penat yang kami rasakan akan hilang, tapi nyatanya tidak.

"Kadang kumerasa jenuh menyiksa diri, otak penuh fantasi, ku jadi horny kembali ooooooooo" Cacing lanjut bernyanyi.

Sebenarnya kami juga bosan tiap hari seperti itu. Begadang, ngopi, ngerokok atau "menyiksa diri" dalam istilah Cacingnya. Tapi jika tidak seperti itu pikitan malah jadi tidak beres, bawaannya horny melulu. Apalagi koleksi bokep di komputer si Kempot (kawan kost lainnya) lumayan lengkap.

"Kepulan asap kian pekat. Udara semakin pengap. Waktuku semakin dekat. Melayang bersama asapnya"

Mungkin hal inilah yang kami harapkan dari setiap asap rokok yang kami hisap. Melayang bersama asapnya. Maksudnya, semua kebosanan ini akn lenyap bersama asap rokok yang hilang di udara.

Tapi Cacing sadar bukan itu jalan keluar dari semua kebosanan ini. Cacing berasumsi semua kebosanan dan semua hal yang terjadi ini adalah buah pikiran kita sendiri. Kita yang membuatnya, kita yang menciptakan kondisi tersebut. Dari situlah kemudian lagu ini ditutup dengan lirik yang paling keren dari seorang Cacing,

"Dan tersadar pikiranku ini yang mengundang cerita di hidupku"

Menjelmalah kemudian seluruh elemen itu kedalam lagu Cacing Lovers. Pada awalnya saya buat lagu ini dalm versi punk rock, karena saat itu saya sedang hobi-hobinya dengerin Sex Pistols. Tapi saat mencoba menyanyikannya secara akustik justru sensasinya lebih terasa. Begitu intim dan cenderung putus asa.

Dan begitulah akhirnya. Jadi terkadang kalau malam-malam saya merasa jenuh dan kesepian saya akan mengambil gitar, membakar rokok dan menyanyikan lagu ini. Tidak selalu sukses memang, tapi terkadang bisa membuat saya merada lebih baik.

"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"
"Cacing lovers oooooo"

Untuk sesaat saya merasa seperti Thom Yorke dan No Surprise-nya.


Kampung Melayu, 06 Agustus 2013

Senin, 08 Juli 2013

(cerpen) Kesialan Di Ruang Makan

Suasana di ruang makan siang itu terasa lebih ramai dari siang-siang sebelumnya. Selain karena jam segitu adalah waktu istirahat bagi beberapa karyawan juga karena hari itu adalah hari ulang tahun (entah siapa saya lupa lagi) sehingga ada jatah makan gratis untuk karyawan. Hal ini tentu tidak akan disia-siakan oleh semua karyawan, termasuk saya.

Saya mengambil jatah makan gratis saya lalu duduk di pojok meja makan. Didepan saya ada Pak Bambang (Jibeng), sedangkan beberapa kursi dari samping saya terlihat Pak Cecep juga sudah mengambil jatah makanannya dan bersiap-siap untuk makan.

Sambil makan saya perhatikan gerak-gerik Pak Cecep dari kursi tempat saya duduk. Wahhh, ternyata Pak Cecep adalah orang yang baik sekali, setiap orang yang lewat dan duduk disekitarnya ditawari makan semua.

"Makan, Dok" kata Pak Cecep kepada dokter yang lewat

"Makan, Mang" kata Pak Cecep kepada Mang Didin yang sedang membereskan meja makan.

"Makan, Bu" kata Pak Cecep kepada ibu-ibu yang ada di sekitar meja makannya.

"Makan, Wan" kata Pak Cecep kepada Bang Ikhwan, anak buahnya yang paling setia, yang hari itu duduk disampingnya.

Saya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Pak Cecep. Saya lihat Pak Bambang (Jibeng) juga ikut senyum-senyum. setelah puas menawari makan ke tiap orang Pak Cecep pun segera membuka kotak makanannya. Tapi sejurus kemudian saya melihat Pak Cecep tampak keheranan, kepalanya celingak-celinguk ke arah orang-orang yang ada di depan dan sampingnya. Sesekali dia melihat kotak makanannya dan membandingkannya dengan kotak makan orang di sekitarnya..

"Wan. ko makanan gue gak ada lauknya? cuma nasinya doang??" tanya Pak Cecep dengan penuh keheranan.

"Tau??" Bang Ikhwan yang ditanyanya hanya menjawab cuek seperti itu lalu melanjutkan menyantap dada ayam goreng berukuran 34 B.

Sementara di pojok meja makan, saya dan Pak Bambang (Jibeng) tidak bisa berhenti tertawa melihat kejadian itu.




(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor Bag. II

Sore itu, seperti biasa setelah selesai operasi saya langsung menuju ruang makan untuk beristirahat dan menyantap makanan. Kebetulan ketika saya tiba di ruang makan Pak Cecep terlihat sudah berada disana. tapi kali ini saya lihat Pak Cecep tidak sedang berbincang-bincang dengan Pak Bambang (Jibeng) melainkan dengan Bang Ikhwan.

Bang Ikhwan sendiri adalah anak buah Pak Cecep. Selain sebagai anak buah Pak Cecep jabatan lain Bang Ikhwan adalah sebagai penjual pulsa. Sebut saja usahanya ini dengan Ikhwan Cell. Untuk semua karyawan di kantor saya bisa saya pastikan pasokan pulsa mereka berasal dari Bang Ikhwan. Saya sendiri termasuk karyawan yang sering berhutang pulsa kepada Bang Ikhwan. Saya curiga bahwa penghasilan Bang Ikhwan dari berjualan pulsa malah lebih besar dari gaji yang didapat oleh Bang Ikhwan sendiri.

Sore itu, saya memesan teh botol dingin kepada Mang Didin karena kopi sudah habis jika sore hari. Sambil minum teh botol saya duduk di depan Bang Ikhwan dan Pak Cecep. Bang Ikhwan tampak sedang fokus menghitung pendapatan dari berjualan pulsanya hari ini, sementara disampingnya Pak Cecep terlihat fokus menghabiskan satu porsi nasi padang dengan rendang sebagai lauknya.

 "10 rebu..12 rebu.. 24 rebu..26 rebu.." saya dengarkan Bang Ikhwan mnghitung lembar demi lembar uang hasil penjualan pulsanya hari ini.

"50 rebuu..56 rebuu..72 rebu.." Bang Ikhwan masih terus berkonsentrasi menghitung dengan presisi yang sangat teliti. Tiba-tiba,

"Lu ngitungin duit mulu, Wan. Sekali-kali bagi-bagi sama gue dooong" Pak Cecep nyeletuk sembari monyong (karena ternyata nasi padangnya belum habis).

Sekali lagi, saya hampir tersedak teh botol karena tertawa mendengarnya

Jumat, 21 Juni 2013

(cerpen) Sebuah Percakapan Di Ruang Makan Kantor

Saya baru saja duduk di ruang makan ketika 2 orang lelaki yg sedang menghadapi krisis paruh baya terlihat berbincang dengan serius. Lelaki itu adalah Pak Haji Bambang (biasa dipanggil Jibeng) dan Pak Cecep (biasa dipanggil Cepot). Saya tidak tahu awal perbincangan mereka. Tapi saya menyimak beberapa bagian.

"Masih mending gak ada listrik daripada gak ada air sih, Cep" Pak Jibeng berbicara dengan penuh wibawa.

"Iya sih bener juga, Beng" Pak Cecep menjawab dengan serius juga sambil mulutnya monyong (karena saat itu sedang makan nasi uduk). Saya sedang minum kopi waktu itu. Kemudian Pak Cecep lanjut bicara,

"Tapi di rumah gue sih gak ada listrik gak ada air, Beng" kata Pak Cecep dengan mukanya yang masih serius, mulutnya masih monyong. Bedanya saya hampir tersedak minum kopi karena tertawa mendengarnya.

08 : 25 A.M
21 Juni 2013

Rabu, 01 Mei 2013

Tentang Album Rekaman Yang Pertama Kali Saya Beli (tadinya sih diniatkan untuk ditulis pada saat Record Store Day tapi baru sempat sekarang pas May Day. Sialun)


Awalnya gara-gara ikutan hype Record Store Day terus baca blognya Om Budi Warsito tentang album rekaman apa yang pertama kali dibeli, jadilah saya tertarik juga untuk ikut-ikutan menulis cerita dibalik album rekaman apa yang pertama kali saya beli.
Sebagai pembukaan harus saya akui dulu kalau saya tidak terlahir dari keluarga pemusik ataupun pecinta musik.  Ibu saya, meskipun senang bernyanyi bukanlah seorang biduan yang referensi musiknya paling mentok hanya mencapai lagu-lagu pop Sunda dan dangdut, terutama dangdutnya Bang Haji Rhoma Irama (Ibu pernah bercerita bahwa dulu beliau mempunyai koleksi kaset Soneta dari volume 1 sampai dengan 9 yang sayangnya koleksinya itu hilang entah kemana). Dan ayah saya, meskipun saya pernah melihat di raportnya tertera angka 10 untuk pelajaran Ilmu Bumi tetapi untuk pelajaran Seni nilainya hanya sanggup menyentuh 6,5. Itu artinya ayah saya tidak berbakat dalam bidang seni, apapun jenisnya termasuk musik. Jadi kesimpulannya, raison d’etre  saya kepada dunia musik hanya berasal dari faktor pergaulan dan hasil membaca majalah-majalah musik yang berisi kord-kord gitar  di tempat tongkrongan (untuk kasus yang terakhir rasanya saya memang pantas berterima kasih kepada majalah-majalah musik tersebut karena dari sanalah saya pertama kali mengetahui tentang  Nirvana, meskipun lagunya belum pernah saya dengar saat itu).
Sebenarnya momen-momen terbaik saya dengan musik hanya ada 2 . Pertama adalah ketika saya menemukan album American Idiot milik Green Day dan yang kedua adalah intro 10 detik pertama dari Smells Like Teen Spirit milik Nirvana yang saya dengar di sebuah pom bensin. Tapi justru album rekaman yang pertama kali saya beli (dalam bentuk kaset) bukan berasal dari kedua band yang saya sebutkan barusan, melainkan dari sebuah band yang berasal dari Yogyakarta yang statusnya kini menurut saya sudah sah jika dianggap sebagai legenda hidup. Betul sekali, band tersebut adalah Sheila On 7.
Jika mungkin kebanyakan orang sudah mengenal Sheila On 7 sejak debut album pertama mereka, maka saya adalah orang yang pertama kali mengenal Sheila On 7 lewat album keduanya yang fenomenal itu, Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Dan ya album itulah yang menjadi album rekaman pertama yang saya beli (lebih tepatnya lagi dibeliin si mama).
Ceritanya tidak bisa terlepas dari teman cewek saya sewaktu SD yang bernama Indri. Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD dan si Indri ini adalah teman sekelas saya. Jadi saya sering bermain dan mengerjakan PR bersama dengannya (tentu dengan teman-teman SD saya yang lain). Indri mungkin sudah mengenal Sheila On 7 sejak album debut mereka dan langsung menggemarinya, sehingga tidak heran jika di dalam buku dan kamarnya dipenuhi dengan poster-poster Sheila On 7 yang tampaknya dia gunting dari berbagai koran dan tabloid. Ditambah juga pada saat itu popularitas Sheila On 7 sudah mulai menanjak, karena seingat saya video klip Sephia sering sekali diputar di stasiun tv dan bahkan sampai ada sinetronnya segala. Saya ingat hal ini karena seringnya melihat video klip tersebut sesaat sebelum saya berangkat ngaji ke mesjid. Bermodal lagu Sephia yang saya hapal ditambah rasa penasaran saya karena Indri begitu menggilai mereka maka saya beranikan diri untuk meminta Ibu membelikan kaset Sheila On 7. Tidak dalam rangka apa-apa tapi pastinya disaat orang tua saya gajian. Karena kemungkinan keinginan saya dipenuhi lebih besar pada saat orang tua saya gajian.
Lucunya, album ini tidak saya beli di toko musik melainkan di sebuah toko elektronik. Toko musik memang sangat jarang di kota kecil tempat saya tinggal. Dan adalah hal yang lazim pada waktu itu jika sebuah toko elektronik juga menjual kaset dan CD musik meskipun tentu kaset dan CD yang ada hanyalah musik-musik popular yang sedang ngetop saat itu, selain rekaman dakwah Zaenudin MZ dan wayang golek.
Akhirnya dengan modal 18.000 rupiah, album bersampul merah-jingga itupun berpindah ke tangan seorang anak kelas 5 SD yang baru saja mengenal cinta monyet pertamanya. Dan begitu album itu selesai saya dengarkan, saya langsung jatuh cinta kepadanya. (ini adalah cinta pertama saya kepada sebuah band Indonesia sebelum Dewa 19 dan Peterpan). Semua lagu yang ada di album tersebut melekat dalam ingatan dan  membawa saya tenggelam didalamnya. Dari mulai lagu Sahabat Sejati yang penuh semangat, intro gitar Bila Kau Tak Disampingku yang sangat gurih dan renyah hingga Tunjuk Satu Bintang yang begitu syahdu. Entah sudah berapa kali kaset itu saya putar. Dan jika saat ini dengan secara tidak sengaja maupun sengaja saya mendengar salah satu lagu yang ada pada album tersebut, maka secara otomatis ingatan saya akan melemparkan saya kembali ke masa kelas 5 SD. Bahkan suara gemericik air hujan pada lagu Tunggu Aku Di Jakartamu selalu mengingatkan saya pada hujan di sore hari ketika saya bermain sepeda sambil hujan-hujanan, lengkap dengan aroma belimbing busuk yang jatuh di pekarangan sekolah saya dulu.
Saya lupa riwayat terakhir dari kaset Sheila On 7 tersebut, tapi dari beberapa fragmen ingatan yang berhasil saya susun terakhir kali kaset itu saya pinjamkan kepada seorang kawan yang bernama Zian. Dia adalah kawan baru saya ketika pertama kali masuk SMP.  Setelah itu saya tidak pernah ingat lagi riwayat kaset Sheila On 7 tersebut. Mungkin si Zian tidak pernah mengembalikannya lagi kepada saya. Entahlah, tapi saya yakin si Zian juga pasti jatuh cinta sama album tersebut. Dan akhirnya si Zian mengakhiri  kisah klasik saya tentang album rekaman yang pertama kali saya beli.

***

Record Store Day hanyalah sebuah perayaan, seperti halnya Lebaran. Membeli rilisan fisik toh bisa dilakukan setiap hari, sebagaimana bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan ketika hari Lebaran saja. Meskipun saya bukanlah penggila musik fanatik, apalagi menjadi seorang pemadat vinyl yang kini semakin hip (untuk seorang ayah by accident seperti saya, pilihan untuk menjadi seorang pemadat vinyl memang harus dipikir ulang ribuan kali) tapi saya pastikan saya adalah seorang yang entah kenapa selalu dan lebih tertarik untuk membeli rilisan fisik dari sebuah karya, baik itu dalam bentuk kaset ataupun CD. Dan saya percaya kalau orang-orang sejenis saya ini akan selalu ada dimana pun dan kapan pun. Jadi boleh saja dibilang kalau era digital ini semakin menggerus kejayaan rilisan dalam bentuk fisik (kaset/CD/vinyl) tapi saya selalu yakin rilisan dalam bentuk fisik ini tidak akan pernah menemukan hari kiamatnya. Selalu saja ada momen-momen yang membahagiakan ketika kita membuka segel plastik yang membungkusnya, memutar cakram CD atau menekan tombol play pada tape recorder, menikmati artwork pada sleeve album , membaca liner notes dan credit titlenya sambil menikmati musik yang ada didalamnya. Bagi saya momen-momen seperti ini tidak akan pernah bisa tergantikan. Sungguh mistis, bahkan bisa saya bilang sampai pada taraf relijius.

Happy Record Store Day. (iyee iyeee tau udah telaaat tapi ya gak apa-apa juga kaliii??)

Jumat, 05 April 2013

Green Day Dalam Uno, Dos dan Tre

Kata Bob Dylan –yang saya kutip dari salah satu essai Taufiq Rahman- sebelum menyanyikan Blowin’ In The Wind untuk pertama kalinya, “this here ain’t a protest song”. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Dylan, sebenarmya tidak ada lagu protes sosial atau yang kita sebut juga dengan protest song. Mungkin lebih tepat untuk menyebut protest song seperti pernyataan Barry McGuire  (yang masih saya kutip dari essainya Taufiq Rahman*) sebagai berikut, “it’s not exatcly a protest song. It’s merely song about current event”. Green Day adalah salah satu contoh yang paling tepat dari pernyataan tersebut.
Kesuksesan American Idiot memang tidak hanya terletak dari musiknya yang terdengar lebih ambisius dan megah untuk band seukuran Greeen Day (jika dibandingkan dengan album-album Green Day sebelumnya), tetapi lebih karena American Idiot berhsil menangkap moment yang tepat kondisi politik Amerika saat itu. Terutama setelah Bush memutuskan untuk menginvasi Afganishtan dan Irak sebagai dalih untuk menegakkan keamanan dunia dari teroris pasca peristiwa 11 September. Dengan lirik yang lebih politis, American Idiot seakan menjadi corong bagi suara rakyat Amerika yang tersisihkan, yang begitu suksesnya sehingga American Idiot pun diangkat ke panggung Broadway.
5 tahun berlalu setelah kesuksesan American Idiot, era pemerintahan Bush digantikan dengan pemerintahan Obama yang katanya memberikan harapan yang lebih baik. Tapi Green Day masih gusar, moment  transisi itu kemudian mereka abadikan lewat album 21st Century Breakdown, sebuah album yang lebih terkonsep dibandingkan dengan American Idiot, menceritakan sepasang kekasih dalam sosok Christian dan Gloria dalam menghadapi abad yang sedang menuju kehancuran. Selain berisi balada-balada megah penuh keputus asaan (21 Guns, Heart Restless Syndrome) album ini juga masih menyimpan daya ledak kritikannya buat pemerintahan Obama lewat lagu-lagu seperti 21st Century Breakdown, Before The Lobotomy maupun Horseshoes And Handgrenades. Juga kritikan untuk para kaum religius konservatif melalui East Jesus Nowhere dan Christian’s Inferno.
Kini kita sudah sampai di penghujung tahun 2012 dan memasuki tahun 2013. Obama kembali terpilih sebagai presiden Amerika untuk kedua kalinya. Tapi apakah Green Day masih gusar terhadap pemerintahan kedua dibawah Barrack Obama? Sayang sekali, jawabannya adalah tidak. Mereka hanya ingin bersenang-senang. Merilis 38 lagu yang terbagi menjadi 3 album dan dirilis dalam waktu kurang dari 6 bulan , inilah Green Day dalam Uno, Dos dan Tre. Dan bagi mereka yang kagum pada pencapaian Green Day di album American Idiot bersiap-siaplah untuk kecewa.
Uno, Dos dan Tre adalah proyek hura-hura Billie Joe Armstrong dkk. Mereka hanya ingin bersenang-senang,  entah karena pemerintahan kedua Obama ini sudah tidak perlu diprotes lagi atau karena issue-issue semacam Occupy Wall Street dan perdagangan senjata api bukanlah issue yang menarik disajikan lewat lagu, yang jelas kita tidak akan lagi disuguhi nyanyian ketus Billi Joe semisal, I’m not a part of the redneck agenda. Mereka lebih memilih untuk berhura-hura sambl sesekali bernostalgia ke masa ketika mereka berumur 22.
Trilogi pertama, Uno, secara musikal memang memakai pendekatan sound di era Dookie hingga Warning, dengan suara gitar yang riang dan dentuman bass yang khas dari Mike Dirnt. Seperti pada lagu pembuka, Nuclear Family. Nada-nada riang juga bisa didengar pada lagu semisal Carpe Diem atau Let Yourself Go dengan sedikit lebih ngebut. Singel pertama Oh Love juga terdengar manis dengan suara gitar patah-patahnya, tetapi sayang liriknya (dan di kebanyakan lagu) terasa sangat cheesy untuk band sekelas Green Day.
Memasuki trilogi kedua, Dos, kali ini tensi sedikit meningkat. Dos adalah garage rock versi Green Day. Secara eksplisit juga Dos mengesankan kesan nakal yang ingin Green Day tunjukkan lewat trilogi ini. Hal itu bisa didengar lewat lagu Fuck Time, Make Out Party dan Lady Cobra. Jika pada album Uno lagu tentang pesta diwakili oleh Kill The DJ, maka pada Dos lagu itu ada pada Nighlife, pendekatannya sama, beat disco ecek-ecek versi Green Day.
Jika dibandingkan dengan 2 album sebelumnya, trilogi ketiga, Tre, saya anggap masih lebih baik. Tre mewarisi balada-balada megah warisan dari album 21st Century Breakdown, lewat lagu pembuka Brutal Love. Hobi Gren Day yang suka menggabung-gabungkan lagu ala Jesus Of Suburbia juga bisa didengar dalam Tre. Contohnya pada Dirty Rotten Bastard yang riang. Sisa lagu lainnya sama saja. Lagu-lagu cinta dan nostalgia yang bertebaran dari Uno hingga Tre.
Secara keseluruhan sebenarnya  trilogi ini tidak berisi lagu-lagu yang buruk, apalagi jika anda memang penggemar Green Day pra-American Idiot. Saya pastikan anda akan menyukai Stray Heart dari album Dos, atau Amy (masih dari album Dos) lagu penghormatan untuk almarhum Amy Winehouse yang memakai pendekataan seperti lagu Good Riddance (Time Of Your Life). Tapi selebihnya, bagi telinga saya pribadi tidak berkesan istimewa. Bukan hanya karena saya merasa kehilangan lirik-lirik politis dari Billie Joe Armstrong, tapi karena mendengar dia bernyanyi seperti pada Fell For You maupun membayangkan ketiga pria yang sudah masuk kepala 4 seolah-olah masih remaja berumur 22 adalah hal yang sangat menggelikan. Memang ada juga momen-momen menghanyutkan saat Billie Joe bernyanyi pada lagu The Forgotten, lagu penutup trilogi ini, sebuah himne untuk orang-orang yang terlupakan dimana Billie Joe bernyanyi “sometimes you’re better lost than to be seen” dengan diiringi dengan dentingan piano. Sesaat momen itu memang terdengar sangat mengaharukan (terutama bagi anda yang merasa sebagai orang-orang yang “terlupakan”) sebelum kemudian momen penuh haru itu berganti dengan kecewa, karena saya tahu lagu itu pula yang menjadi salah satu soundtrack film vampir-Tje-Fuk-sejuta-umat-paling-overrated-sepanjang-tahun-2012. Ya, Breaking Dawn.
Ahhhh ternyata memang benar apa yang dibilang Bob Dylan.


*essai Taufiq Rahman yang berjudul Protest Song bisa dibaca di buku kumpulan essai milik Taufiq Rahman yang berjudul Lokasi Tidak Ditemukan

Jumat, 22 Maret 2013

Jilbab : Antara Kewajiban, Tren Atau Sebuah Topeng Belaka


Maraknya fenomena remaja perempuan yang memutuskan untuk berjilbab dalam beberapa tahun belakangan ini menarik perhatian saya terhadap persoalan jilbab. Terutama karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam tetapi bukan negara yang memberlakukan hukum Islam di dalamnya, sehingga negara tidak berhak mengatur warganya untuk berjilbab. Meskipun ternyata dalam Islam sendiri kewajiban berjilbab ini masih menjadi pertentangan diantara para ulama dan cendikiawan muslim didalamnya (untuk lebih jelasnya bisa baca buku karya M. Quraish Shihab yang berjudul Jilbab : Pakaian Wanita Muslimah. Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontemporer).

Saya kemudian melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa teman perempuan saya tentang alasan mereka tidak berjilbab meskipun mereka seorang muslim. Beberapa diantaranya menyatakan bahwa dirinya belum siap untuk berjilbab (karena baginya persoalan jilbab bukan hanya persoalan pakaian semata), ada juga yang menyatakan keputusannya tidak berjilbab karena menurutnya jilbab itu terkesan kaku, “kuno”, dan tidak sesuai mode, atau bahkan pernyataan bombastis nan narsistis dari temannya teman saya seperti berikut, “saya merasa lebih cantik nggak pake kerudung karena kata orang rambut saya bagus, apalagikalau kena angin berasa mirip artis Luna Maya”.

Oke, apapun alasan mereka survei tadi hanyalah sebuah survei kecil-kecilan yang tentunya memerlukan penelitian lebih lanjut untuk bisa menganalisis faktor-faktor penyebab perempuan Muslim tidak berjilbab. Tapi saya kira pernyataan yang menyatakan kalau berjilbab itu terkesan kuno dan tidak sesuai mode sudah kurang relevan lagi sekarang. Apalagi jika mencermati perkembangannya beberapa tahun belakangan ini. Indikasinya bisa terlihat dari banyaknya buku/majalah yang berisi panduan-panduan dan model-model jilbab yang mudah kita temui di toko buku. Video tutorial berjilbab pun bisa dengan mudah kita cari di Youtube. Bahkan kini komunitas perempuan berjilbab (hijabers) sudah mulai ramai terbentuk, seperti saat ramainya  komunitas Stand Up Comedy yang terbentuk  di beberapa kota saat Stand Up Comedy mulai booming di Indonesia. Hal ini mengindikasikan jilbab sebagai sebuah pakaian sudah mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga kini bisa dikatakan berjilbab menjadi sebuah tren tersendiri, tidak lagi kuno dan ketinggalan mode.

Selain beberapa gambaran tadi, ada juga fenomena lain yang menarik mengenai jilbab ini. Munawar Azis dalam tulisannya di harian Tempo tanggal 3 Februari 2013 menyebutnya dengan fenomena “mendadak saleh”. Fenomena mendadak saleh ini terkait dengan fenomena dimana seseorang (entah itu pejabat publik atau warga sipil) yang tersandung kasus hukum lalu tiba-tiba saja berjilbab, padahal dalam kesehariannya individu tersebut bukanlah seseorang yang biasa berjilbab. Munawar Azis memberikan 3 contoh kasus yang lekat dengan ingatan publik mengenai fenomena mendadak saleh ini. Neneng Sri Wahyuni (kasus korupsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya), Nunun Nurbaeti (kasus cek pelawat Gubernur Bank Indonesia) dan Afriyani Susanti (pelaku tabrakan maut di Tugu Tani). Ketiganya mendadak memakai jilbab saat tampil di gelanggang pengadilan (Neneng bahkan sampai menggunakan cadar), padahal dalam dokumentasi kesehariannya, ketiga orang tersebut tidak pernah terlihat berjilbab. Fenomena mendadak saleh inilah, lanjut Munawar Azis, yang dalam diskursus identitas sosial disebut sebagai politic of piety (politik kesalehan). Dimana politik kesalehan ini menjadi suatu strategi untuk mengkonstruksi citra yang baru dengan merobohknan citra lama yang kejam dan jahat. Citra lama yang coba mereka robohkan sebagai seorang pesakitan hukum yang kemudian direkonstruksikan lewat  jilbab atau kerudung sebagai bagian dari penanda kesalehan. Dalam khasanah sosial Indonesia, jilbab memang sudah kadung identik dengan kesan saleh dan agamis.

Sebenarnya tanpa harus memahami makna politic of piety dan segala tetek bengeknya pun kita sudah maklum dengan negara ini yang gemar dan mudah memberi stigma seenaknya terhadap sesuatu. Seperti terhadap seseorang bertatto yang lekat dengan stigma negatif. Atau betapa menakutkannya stigma yang melekat pada kata Komunis, yang seolah-olah tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat kita. Hal demikian juga berlaku untuk jilbab. Para perempuan berjilbab akan terkesan sebagai individu yang saleh, agamis dan religius. Meskipun sikap mengeneralisasi seperti ini adalah sebuah tindakan yang sembarangan dan terkesan bodoh. Karena kita tidak pernah tahu individu seperti apa yang bersembunyi dibalik tatto maupun jilbabnya?

Jadi pada akhirnya akumulasi dari berbagai  fenomena dan gambaran tentang jilbab  tadi membawa saya (dan seharusnya juga mereka) kepada sebuah pertanyaan, apakah keputusan mereka berjilbab itu murni karena panggilan agama, mengikuti arus tren semata atau mungkin hanya sebagai topeng dan sarana pencitraan belaka?